Oleh: edratna | Juli 13, 2009

Kembali, kunjungan lapangan ke SAU

Pada pelatihan kali ini, peserta mengunjungi dua jenis usaha. Kunjungan ke lokasi usaha dimaksudkan agar dapat memahami usaha dari sektor riil, berdiskusi dengan pemilik usaha, bagaimana mereka memulai usahanya, serta apakah mereka juga mengalami pasang surut dalam menjalankan usaha.

Hasil kunjungan nantinya akan dipresentasikan oleh kelompok, yang membahas dari berbagai hal, disini para peserta bebas beradu argumentasi agar lebih memahami bagaimana menilai sebuah usaha. Kali ini yang dikunjungi pertama kali adalah usaha peternakan sapi perah, di desa Cibogo, Kecamatan Lembang. Kunjungan kedua dilakukan setelah makan siang, adalah untuk yang kedua kalinya (bagi saya), namun pertama kalinya bagi peserta angkatan pelatihan kali ini, yaitu Saung Angklung Udjo.

Kemacetan kota Bandung saat liburan sekolah, benar-benar melelahkan, karena perjalanan dari Lembang ke arah Padasuka didaerah Bandung Timur nyaris menghabiskan waktu 2 (dua) jam. Peserta dari Ambon, yang memang agak kurang enak badan, sempat minta berhenti sebentar di pinggir jalan, karena mabuk. Syukurlah setelah minum air mineral dan digosok Vicks, perjalanan dapat dilanjutkan.

Seperti biasa para tamu mendapat “wellcome drink” yang terdiri dari minuman botol, bandrek, kue-kue kecil, kacang rebus dan jagung rebus. Sayang karena waktunya telah tersita di perjalanan, kami segera berkeliling, agar pada jam 15.30 wib dapat mengikuti pertunjukan.

Selesai pertunjukan, rombongan baru bisa ketemu kang Satria (Direktur Operasional Saung Angklung Udjo) dan kang Maulana (Marketing Manager). Kami bebas berdiskusi, dan sangat menyenangkan mendengarkan uraian kang Satria bahwa produksi angklung setiap bulannya dapat ditingkatkan, dari 19.200 angklung/bulan menjadi 20.000 angklung/bulan, namun memang masih sulit mengatur agar bambu yang dipesan tak terlalu banyak reject nya. Pada musim liburan anak sekolah seperti sekarang ini, Saung Anglung Udjo (SAU) menampilkan tiga kali pertunjukan, untuk pagi hari pada umumnya dikhususkan bagi anak sekolah, sedang sore hari adalah untuk masyarakat umum dan turis mancanegara.

Pertumbuhan SAU sangat bagus, namun pertumbuhan yang tinggi jika tak diikuti oleh pondasi yang kuat bisa rapuh. Dalam satu tahun terakhir, SAU telah melakukan 1148 pertunjukkan.

Pemain kuda kepang dan angklung terkecil (umur 2 tahun)

Pemain kuda kepang dan angklung terkecil (umur 2 tahun)

Anak-anak bermain angklung dengan riang

Anak-anak bermain angklung dengan riang

Sebagai cash generator, bisnis pertunjukkan merupakan penghasil profit yang utama, diikuti oleh penjualan produk angklung, penjualan souvenir, dan belakangan ini ditambah penyewaan venues (untuk acara-acara keluarga, seperti family gathering, pernikahan dll), dan sedang dikembangkan divisi Guest House serta pelatihan.

Ada sesi pertunjukan yang mengajak semua penonton bermain angklung bersama

Ada sesi pertunjukan yang mengajak semua penonton bermain angklung bersama

Menari bersama penonton pada akhir sesi pertunjukkan

Menari bersama penonton pada akhir sesi pertunjukkan

Saat ini SAU telah dibantu oleh MM ITB, untuk menerapkan metoda produksi sesuai six sigma.

Sejak tahun 2008, SAU mulai menggandeng Bank Jabar, yang selain membantu pembiayaan, diharapkan masuknya Bank sekaligus dapat membantu memperbaiki administrasi keuangan, dan konsultan yang murah (alias gratis). SAU merupakan Community Base Bussiness, dengan SAU sebagai inti, dan masyarakat sekitar sebagai plasma. Pegawai dan masyaraklat diluar kompleks SAU merupakan competitive advantage yang sangat membantu kelanggengan keberadaan SAU sendiri, karena saat pagi hari anak-anak pergi sekolah, sorenya belajar di lingkungan SAU sambil bermain, dan mendapatkan beasiswa sekolah melalui orangtua nya.

Jika pada generasi pertama, pak Udjo menekankan disiplin gaya militer, agar anak-anaknya menyenangi angklung, maka pendekatan kedisiplinan anak sekarang sangat berbeda. Masalah yang dihadapi adalah permintaan meningkat, namun bahan baku seperti bambu sebagai bahan utama produksi angklung terbatas. Kerjasama dengan petani lokal telah berjalan lama, walau melalui effort yang sangat tinggi, untuk mengajarkan pada petani bahwa bambu yang dapat dibuat angklung sangat spesifik, setiap pesanan bambu dalam setiap truk, masih sering terjadi defect sampai 25 persen. Saat ini dicoba mengembangkan budidaya, dimana dalam satu rumpun bambu diharapkan dapat diperoleh nada tertentu, seperti F, G dst nya.

Dulu, harga bambu sangat murah, dan saat ini secara tak langsung terdapat kualifikasi bambu oleh Koperasi, nomor satu adalah untuk angklung, nomor dua untuk mebel dan nomor tiga untuk material. Strategi jangka menengah panjang, perlu dibuat riset, karena bambu yang dapat dibuat angklung hanya dapat dipanen saat musim kemarau, karena jika musim hujan kualitas rendah karena berair (kurang kering). Bambu mirip dengan anggur, jika disimpan lama akan makin baik. Bagian Research & Development SAU dibantu oleh IPB dan Faklutas Pertanian UNPAD, untuk mendapatkan hasil bambu kualitas baik. SAU sendiri saat ini mendorong motivasi karyawan dengan semangat UDJO, yang berarti: Ulet, Disiplin, Jujur dan Optimis. Semangat ini hasil formulasi bersama, yang diharapkan ada pewarisan agar kita selalu harus sharing vision.

Menjawab pertanyaan peserta, kang Satria menyatakan bahwa kedepan menginginkan SAU dikenal sebagai pusat orang internasional untuk belajar angklung. Apa tidak kawatir pembajakan? Kang Satria menjelaskan, sebagaimana karate, semua orang mengenal karate, namun semua juga tahu asal karate dari mana. Sempat ada yang nyeletuk, mengapa ya iklan pariwisata kita tak ada angklungnya? Cita-cita kedepan, SAU ingin membuat seminar angklung secara internasional, karena negara Singapura setiap tahun bisa membuat festival angklung internasional. Hal yang perlu mendapat perhatian kita semua, jangan sampai budaya kita nantinya hilang begitu saja tanpa ada yang mewariskannya, justru malah dikenal sebagai budaya negara lain. Ini merupakan tantangan bagi kita semua dan instansi terkait.

Apa yang menurut saya menarik adalah, saat ini SAU sedang menggalakkan perbaikan dan peningkatan kualitas, selalu ada hal baru yang dicapai dalam perbaikan tersebut, seperti halnya dalam kenaikan tingkat produksi angklung yang dicapai tiap bulannya, jumlah penjualan souvenir, serta peningkatan jumlah pengunjung ke SAU.

Iklan

Responses

  1. Ceritanya bagus sekali, Bu Ratna. Saya sendiri sebagai warga Bandung menyaksikan bahwa angklung masih diperlakukan sebagai simbol kebanggaan, bukan sebagai aset pendidikan. Tidak banyak sekolah di Bandung yang mau berinvestasi membeli peralatan angklung untuk bahan pelajaran kesenian. Sekolah lebih bangga punya lapangan basket atau laboratorium IPA, tapi tidak mau keluar anggaran banyak untuk beli satu set angklung diatonis dari Padasuka. Maka tidak heran kalau kita akan disalip Singapura dalam urusan angklung ini.

    Vicky Laurentina
    ,
    Justru itulah, kalau bukan kita-kita, siapa lagi yang akan mencintai budaya sendiri?

  2. Cihui, pokoknya akur selama mengangkat budaya lokal, Bu.
    ketimbang nanti tiba-tiba dicuri negara tetangga lagi, ya ndak πŸ™‚

    DV,
    Betul….semoga karena seringnya menulis hal ini, pembaca tak bosan.
    Saya memang termasuk orang yang suka kunjungan wisata budaya, jadi kalau kebetulan pergi ke sesuatu daerah, diupayakan setiap ada kesempatan lebih mengenal budaya orang dan masyarakatnya.

  3. jaman dulu saya pernah kesana waktu Mang Ujo masih ada……th kemaren saya lewat sanggar ini tapi ngga mampir karena waktu saya terbatas…

    dan saya sangat menikmati, suatu saat saya pasti kesana lagi

    Wieda,
    Nanti kalau balik ke Bandung, silahkan mampir lagi…dan tulis di blog, biar dibaca oleh teman-teman di Kanada sana

  4. Saya pernah mengajar angklung pada murid-murid jepang saya pakai angklung yang ada di Sekolah Republik Indonesia Tokyo. Lumayan hasilnya.

    Mau rencanakan kunjungan ke sana dalam waktu dekat deh. Untuk Riku.

    Ikkyu-San,
    Ntar kalau liburan ke Bandung, ajak Riku kesana. Pertunjukan jam 15.30-17.00 wib kalau sore, kalau pagi katanya ada namun pesanan…..dan karena Bandung macet, bisa kesana lebih pagi, nanti jalan-jalan mengelilingi areal SAU, melihat anak-anak kecil berlatih bahasa Inggris sepulang sekolah, sebelum mereka pentas.

  5. wah..wah.. jadi pengen buka usaha berbasis kreatif juga nih.. πŸ˜€

    Billy Koesoemadinata,
    Boleh dicoba

  6. kreatifitas dan keberanian untuk keluar dari zona aman memang diperlukan guna meningkatkan citra produk dalam negeri… semoga budaya bangsa kita terus maju lewat tangan2 kreatif seperti ini… πŸ™‚

    Vizon,
    Setuju….justru SAU ini secara tak langsung mendidik anak kreatif sejak kecil…

  7. jadi pengen ke sana utk melihat langsung, selama ini biasanya kami mengundang SAU utk pentas di depan tamu2 saat ada seminar internasional …

    Oemar Bakri,
    Silahkan pak, setiap hari ada pertunjukan kok….(seingatku adahari liburnya, apa ya, mungkin Senin)

  8. Aiih jadi ingat
    dulu kelas 5 and 6 SD ikutan klub angklung

    udh lama gak dengar soal ini (kecuali di gereja GPIB yang kadang di jadiin pengiring Koor :))

    senangnya ada yg masih perduli πŸ™‚

    Eka Situmorang-Sir,
    Iya…mendatangi SAU rasanya adem…dan senang melihat semangat mereka

  9. Saya pernah sekali main angklun bersama tutor mang UDJO…enak bgt, tutornya cantik…yang jelas, begitu mendengar suara angklun bersahut sahutan…wahhhh luar biasa…

    Imoe,
    Di sana ceweknya memang cantik-cantik dan berkulit bersih. Udah begitu cara mengajarinya pinter…muridnya jadi semangat

  10. ingin sekali mampir ke sana,
    btw … angklung itu sudah dipatenkan belum ya?

    Mascayo
    ,
    Pertanyaan yang sama saya lontarkan ke mereka

  11. enak banget tuh belajar sambil keliling-keliling kek gitu, bu. jadi kepengen…

    Farijs van Java,
    Yang enak muridnya Farijs…guru atau instrukturnya lumayan capek persiapannya, tapi seneng kok

  12. weleh, makin keren aja saung angklung udjo. padahal tempatnya biasa-biasa saja ya Bu? Dari tempat biasa, ada sesuatu yang luar biasa. Hebat.

    Iwan Awaludin
    ,
    Jika hanya melihat tempatnya memang sederhana, tapi perputaran uang, kerja keras, dan semangat yang ada dibalik itu sangat luar biasa. Kami sulit mencari padanan untuk mendapatkan contoh industri kreatif yang menarik selain SAU, untuk pembelajaran di kelas maupun dilapangan. Dan mereka selalu welcome untuk mengajarkan, karena kami juga membawa teman-teman dari daerah (Kalteng, Sulsel, Maluku, Sulut, Papua, Riau) yang ingin belajar bagaimana meningkatkan wisata budaya di daerahnya masing-masing

  13. sabtu kemarin saya mengikuti seminar mbak melly. ketika peserta diminta utk menggambar titik dan lingkaran, hanya tiga peserta yang titiknya berada di luar lingkaran. konon orang2 berjiwa seperti ini yang bakal kreatif dan memiliki ide2 segar dan terobosan baru.

    Sawali,
    Betul….kadang kita memang jarang ada yang berani keluar zona nyaman…

  14. Sip sip Bu En.

    Pertama: pengen banget ke SAU. Kalau dapetin orang Bandung huehehe… boleh tuh nyewa venue nya πŸ˜›

    Kedua: Bisnisnya emang digarap serius ya sehingga hasilnya emang keliatan.

    Ketiga: Saya nyari di internet tempat latihan angklung di Jakarta kok ga ada ya? Padahal pengen sekali2 manggung angklung macem temenku yang di Hamburg Jerman.

    Googling tentang angklung, eh ternyata bener, di Singapura, angklung banyak penggemarnya juga tapi di artikelnya ga menemukan asal angklung itu dari mana.

    Mangkumlod,
    Boleh tuh ke Bandung, jalan-jalan…Yoga cs pasti seneng jika waktunya tepat

  15. Sangat menyenangkan melihat orang yg gemar melestarikan budaya bangsanya.
    Menurut saya, ini lebih keren daripada band2 ala barat.

    Ade Bayu,
    Btw….Ade sendiri udah pernah mengunjungi SAU belum….lha udah jadi tukang insinyur, kuliah di Bandung, jangan-jangan belum pernah ke sana.
    Ajakin Narpen dan teman-teman tuh…

  16. Wah, meriah sekali acaranya..
    Hebat jg adik kecil yg baru berusia dua tahun bisa memainkan angklung..
    Semoga terus ebrkembang ya..!

    salam kenal,
    classically

    Classically,
    Iya…semangat si kecil ini memang luar biasa

  17. kadang budaya sendiri pemerintah makin menjauh enatahlah apakah pemerintah yang salah atau kitanya yang tidak tahu budaya sendiri. bagus banget artikelnya i love you Indonesia. salam persahabaatan dari balikpapan

    Tigaw,
    Yang perlu kita dorong adalah bagaimana bisa berdiri sendiri, tak bisa setiap kali minta bantuan Pemerintah.
    Dari sisi Pemerintah yang diharapkan hanya dari segi perinjinan dll…

  18. hebat keren buk..
    budaya tradisi bangsa ini harus di promosikan..
    biar gak di serobot negara tetangga hehe..
    I love Indonesia

    Septarius,
    Betul…kalau bukan kita sendiri yang mempromosikan, siapa lagi?

  19. Bu, adik saya hari ini kayaknya main angklung di Diklat. apakah Bu Enny berperan di situ?

    Utaminingtyazzzz
    ,
    Saya udah jarang ke Diklat, sibuk urusan di tempat lain….
    Memang dari dulu, sebenarnya BRI menyediakan latihan2 seperti angklung, karawitan (gamelan), paduan suara dsb nya.

  20. Pengen bisa main angklung πŸ˜₯

    GoenRock,
    Kayaknya menarik kok….dan juga mudah (kata ahlinya lho!)

  21. promosi wisata πŸ™‚ nice story

    Arham,
    Makasih

  22. Sayang saya belum di beri kesempatan sama Allah ke SAU lagi, kemarin dapat undangan Diklat Dari P4TK Bandung namun pelaksanaannya di Surabaya. Semoga saya dapat undangan diklat lanjutan di Bandung. Amin. Doakan ya Mbak.

    Saya akan usul ke Guru kelas khusus sekolah kedua anak saya supaya mengadakan kunjungan ke SAU setelah mengadakan kunjungan ke ITB, Unpar dan Boscha dalam rangka study wisata.

    Terima kasih ilmunya.

    Puspita,
    Iya mbak..upayakan kunjungan ke Bandung, selain wisata budaya, juga ada wisata ilmu seperti kunjungan ke Boscha

  23. Perbaikan yang berkelanjutan…

    Hm.. I got a good point here, Bunda. thanks. πŸ™‚

    Nug,
    Betul…bagi perusahaan hal itu sangat penting, agar terus hidup dan berkembang

  24. MAJU TERUS TETAP SEMANGAT KEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA

    KangBoed,
    Ehh ini maksudnya untuk siapa? Untuk kita atau SAU?

  25. Salam Mbak Ratna,
    Sip sebelum angklung diklaim tetangga kita juga wajib menginformasikan pada dunia bahwa itu aslinya dari Indonesia. Boleh saja dimainkan oleh siapapun di dunia, tetapi pengakuan asalnya dari Sunda itu perlu sebagai catatan sejarah yang jujur.
    Jadi inget ktika aku nulis ini :
    http://rovicky.wordpress.com/2007/10/17/mencari-jatidiri-2/

    Rovicky,
    Ini juga yang saya pesan dan tanyakan pada kang Satria (direktur Operasional SAU), jangan sampai diaku negara lain….
    Mereka juga ingin agar angklung dikenal di seluruh dunia, namun asalnya dari Sunda.

  26. saya jadi tertarik banget untuk ke SAU.
    tapi berarti saya musti ke bandung dulu kan, bu?

    bambu adalah komoditi yang relatif gampang didapatkan, karena gampang pula untuk tumbuh. makanya usaha-usaha semacam ini, yang mempergunakan bahan yang tidak mengganggu kelestarian lingkungan perlu dikembangkan. selain menghasilkan dan memberi peluang kerja, juga menjaga kelestarian budaya.

    Marsmallow,
    Ayolah ke Bandung, banyak wisata menarik disana…ada eisata budaya (angklung, gedung tua dsb nya), wisata pemandangan (pegunungan, kebun, air terjun), wisata belanja (di Factory outlet), dan wisata ilmu (Boscha dll)

  27. mari kita cari rute angkutan umum yg bisa membawa ke Saung Angklung Mang Udjo!

    Zam,
    Kayaknya rute gampang kok, dari terminal atau stasiun pilih yang rute ke arah terminal Cicaheum yang lewat jalan Suci (jika kita keluar dari Tol Pasteur lurus aja terus nyaris sampai terminal, nanti ada tanda masuk jalan Padasuka, baru belok ke kiri). Ke arah jalan Padasuka juga dilewati angkot, SAU terlihat dari rimbunnya pohon bambu di kanan jalan.

  28. wah turut mendukung pelestarian budaya alat musik tradisional.. mantep

    Artvisualizer,
    sepakat..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: