Oleh: edratna | Juli 23, 2009

Seminar tentang “Peluang Microbanking di Indonesia”

Kita memahami bahwa pada saat terjadi krisis ekonomi sepuluh tahun yang lalu, maka microbanking inilah yang masih kuat daya tahannya menghadapi krisis. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu penggerak perekonomian nasional yang penting, dilihat dari perannya dalam memberikan sumbangan atas Produk Domestik Bruto (PDB), penciptaan lapangan kerja, penerimaan ekspor dan investasi. Berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku, sumbangan UMKM sebesar Rp.1.786 triliun atau 53% dari total PDB tahun 2006, dan Rp.2.121 triliun atau 53,6% dari total PDB tahun 2007.

Untuk lebih memahami, bagaimana peluang microbanking di Indonesia, Indonesian Risk Professional Association (IRPA) bekerjasama dengan Stabilitas, majalah tentang Manajemen Risiko, pada hari Rabu tanggal 22 Juli 2009, di Hotel Gran Melia, menyelenggarakan seminar sehari tentang “Peluang Microbanking di Indonesia”: Strategi, Karakteristik dan Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko. Seminar sehari ini, dengan pembicara dari para pakar microbanking, yaitu para pembuat kebijakan (Bank Indonesia), serta para Bankir, yang memang telah terbukti keberhasilannya di bidang microbanking.

Secara garis besar, pembahasan tentang peluang microbanking di Indonesia terdiri dari:

  • Peluang Microbanking di Indonesia: Strategi, Karakterisrik dan Kunci Sukses Microbanking di Indonesia, dengan panelis: Ibu Duma Riana dan Bapak Krisna Wijaya. Ibu Duma Riana, yang mendapatkan S2 dari University of Illinois, USA , saat ini bertugas sebagai Team Leader-Tim Peneliti, Pengembangan dan Pengaturan BPR, Direktorat Kredit BPR dan UMKM. Sedangkan Bapak Krisna Wijaya adalah mantan Direktur BRI, mantan Komisaris BRI, mantan Ketua Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan, saat ini sebagai Komisaris di Bank Danamon, selain juga menjadi pengajar di Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia. Beliau mendapatkan Doktor di bidang microfinance, dari Jurusan Studi Antar Bidang Fakultas Pasca Sarjana UGM, dengan disertasi tentang Kredit Umum Pedesaan (kredit mikro).
  • Microbanking for New Entrance dengan pembicara Bapak Iwan Nazirwan (PhD Candidate School of Social Science, Victoria University, Australia), pendiri The Minute Capital Australia, yang merupakan Investment Company for Islamic Micro Finance.
  • Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko Microbanking, dengan pembicara ibu Siswarin Dwi H., saat ini menjabat sebagai Deputy General Manager pada Divisi Manajemen Risiko BRI.
  • Moderator dari keseluruhan acara adalah Bapak Ir Ali Nuridin MM, saat ini menjabat sebagai Ketua Tim Basel BRI.

Peluang penyaluran kredit kepada UMKM masih besar dan memiliki prospek yang cukup baik. Peluang pasar keuangan mikro saat ini tidak lagi hanya dimanfaatkan oleh BRI, BPD dan sekitar 1700 Bank Perkreditan Rakyat, serta hampir 9000 an Koperasi, yang diketahui telah membiayai usaha mikro sejak lama. Akhir-akhir ini beberapa Bank Umum besar juga mulai melirik pasar kredit mikro (microbanking), antara lain: Bank Mandiri dengan skim kredit mikronya, Bank Danamon dengan Dana Simpan Pinjam nya, Citi Bank dengan Citi Financial nya, HSBC dengan KTA nya, serta BTPN yang baru akan membentuk skim untuk kredit mikro.

Meski persaingan dalam pasar keuangan mikro semakin tinggi, Bank tetap harus menerapkan prinsip kehati-hatian, termasuk menerapkan manajemen risiko secara efektif. Dalam seminar sehari ini, peserta diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk diskusi secara interaktif, serta saling sharing tentang kiat-kiat dalam melakukan pembiayaan mikro agar bisa sukses.

Pada akhirnya, sebagai bagian dari Tim penyelenggara seminar, saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak, yang tetap mau hadir pada seminar di hotel tersebut, walau ada beberapa yang membatalkan untuk datang ke Jakarta. Penjagaan untuk masuk hotel terasa begitu ketat, dan setiap selesai pemeriksaan, pada barang bawaan kita diberi label warna hijau yang dilekatkan, sebagai tanda bahwa barang bawaan tersebut telah diadakan pengecekan. Antusiasme peserta seminar, membuat rasa lelah tim terbayar lunas. Semoga saya punya kesempatan untuk membahas apa yang telah didiskusikan pada seminar microbanking pada tulisan selanjutnya.

Bahan bacaan:

Dr. Halim Alamsyah. “Peluang Microbanking di Indonesia”. Direktur DPNP, Bank Indonesia. Jakarta, Gran Melia, 22 Juli 2009 (dibawakan oleh Bapal Zaenal Abidin, Peneliti Utama Senior DPNP, Bank Indonesia, karena mendadak Bapak Halim berhalangan hadir).

Iklan

Responses

  1. kuncuran kredit untuk pengusaha kecil sangat berarti bagi mereka dan teruslah di permudah dan sosialisasi bagi pemerintah terutama bank-bank sangat ditunggu -tunggu bagi mereka. karena apa banyak sekali mereka tak mengerti akan hal ini. bu bagi pengusaha kecil berapa minimal yang bisa diterima. selamat pagi

    Kawanlama95,
    Tak bisa hanya mengharapkan dari kucuran kredit…yang utama adalah pengusaha kecil ini memang benar-benar layak usahanya, serta jika memerlukan dana harus tepat, yang berarti: tepat jumlah, tepat waktu dan tepat jumlah. Misal, petani diberikan dana adalah bukan saat setelah panen…tapi saat mau mulai pengolahan tanah, dilunasi saat panen. Pemahaman ini yang penting, karena Bank juga mengelola dana yang berasal dari penabung, termasuk dari para pengusaha kecil.

  2. Wah, tampaknya virus microbanking-nya M Yunus benar-benar mendunia ya Bu!
    Sukses untuk seminarnya!

    DV,
    Makasih……dan semoga makin banyak para pelaku yang memperhatikan masalah micro finance ini, dalam arti sebenarnya.

  3. saya ndak ngerti tentang perbankan. saya mau nanya, pengajuan microbanking itu nominalnya berapa ?

    Adipati Kademangan,
    Ada beberapa artikel saya sebelumnya di blog ini untuk memahami microfinance. Nominal kredit mikro sangat tergantung dari Bank nya…ada yang dari ratusan ribu sampai jutaan…..
    Dalam uu UMKM, yang disebut pengusaha kecil mikro berbeda lagi, tergantung dari nilai asetnya.

  4. Kayaknya perlu sosialisai ke industri mikro. Sepengetahuan Saya, para pelaku industri kecil kadang gak tahu tatacaranya..

    Posting yang sangat bermanfaat, Salam kenal

    Sakurata,
    Justru para staf/pekerja Bank yang harus mendekati mereka…pendekatan dalam pembiayaan mikro sangat berbeda dibanding untuk pembiayaan pada sektor korporate. Dalam pembiayaan mikro, dikenal istilah community approah.

  5. wah, nuwun sewu, bu enny, berulang-ulang membaca, yang pasti tdk fast-reading, saya masih sulit juga memahami istilah2 rumit seperti ini, bu, hehe …

    Sawali Tuhusetya,
    Mudah2an saya sempat membahas pada tulisan berikutnya pak, dengan bahasa sederhana.
    Akhir2 ini waktu untuk menulis rasanya terbatas sekali….

  6. Ulasannya lengkap banget buk, ditunggu kelanjutannya..
    Semoga bermanfaat..

    Septarius,
    Saya berharap bisa menulis lanjutannya

  7. Terima kasih mbak ulasannya bagus banget. Saya dulu pengin banget kerja di bank tapi trnyata takdir memutuskan lain, jadi saya mengabdikan diri di salah satu BUMN listrik di Indonesia.

    Salam kenal bu edratna, kapan-kapan mampir ke website saya, sekalian add akun facebook saya.

    Rifky,
    Semua pekerjaan ada plus minusnya…yang kita lihat menarik dari luar, mungkin didalamnya kita harus kerja keras, risikonya tinggi, sulit untuk bisa cuti karena pekerjaan menuntut waktu kita lebih banyak dsb nya.
    Dan Allah biasanya telah memberikan kita sesuai kemampuan kita….yang penting, dimanapun bekerja, kita harus bekerja dengan baik…dan selalu bersyukur atas rejeki yang telah diberikan Nya

  8. Malam bunda..
    Membaca ini desya jadi belajar, terima kasih bunda 🙂

    Radesya,
    Terimakasih kembali, Desya

  9. Jadi Bu Edranta bagian dari panitia to, tak kiraian peserta.
    Sekarang memang lagi musimnya berdiri Koperasi Serba Usaha (KSU) yang di dalamnya juga selalu ada microbankingnya, termasuk usaha simpan pinjam.

    Di Ponorogo tumbuh seperti jamur di musim hujan, sampai2 2008 kemarin bupatinya dapat penghargaan dari pusat.

    Mungkin postingan selanjutnya perlu diulas mengenai plus minusnya microbanking BU, mugkin juga dbahas di seminar tersebut.
    Saya tunggu….

    Mas8nur,
    Mudah2an saya punya waktu untuk menuliskannya di blog ini…..

  10. saya menangkapnya microbanking ini di tujukan untuk usaha menengah ke bawah? bukan begitu?

    dulu di era krisis 98 banyak perusahaan besar, namun banyak sekali usaha menengah dan kecil masih bertahan

    hal itu dikarenakan krisis tidak banyak berpengaruh kepada usaha menengah dan kecil. So aku sepakat jika ada usaha yang dilakukan pemerintah untuk membantu para pengusaha menengah dan kecil.

    Ciput Mardianto,
    Microbanking atau kredit mikro ini ditujukan pada pengusaha yang benar-benar mikro alias kecil sekali.
    Bisa dibaca di artikel saya sebelumnya…..

  11. Wah…. sayang gw dak tau sebelumnya event ini…. padahal 22 Juli 2009 pas lagi ke Jkt… Ntar klu ada lagi infokan yach Mbak..

    Agoesman120,
    Sudah diiklankan kok…

  12. Info ini sampai ke daerah juga bu? 🙂

    Nyubi,
    Seharusnya iya, karena ada iklannya di media cetak

  13. salam, tulisan yang bermanfaat, sorry numpang thread komentar ini sbg salam kenal… sy Agus Suhanto

  14. Persaingan bisnis mikro laksana genderang perang dunia komunikasi, terkait harga,lokasi, service, kecepatan, dan maintenace.
    Bisnis ini akan makin tajam pada 3 tahun kedepan, dan beberapa Bank “yang kuat dan lihai” lah yang akan exist. siapakah Bank tersebut?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: