Sopir Taksi

Minimal seminggu dua kali, saya naik taksi ke jurusan jalan Thamrin dari rumah. Dan karena nggak bisa menyetir, serta badan juga udah mulai dimakan usia, alat transportasi yang sering saya gunakan adalah  taksi, yang bisa di pesan dari rumah. Pekerjaan menyenangkan, tidak full time,  serta banyak sekali mendapat tambahan ilmu, yang sangat berguna bagi saya sebagai pengajar, dan saya bebas mengatur waktu kerja.

Lanjutkan membaca “Sopir Taksi”

Buka puasa bersama anak

Bagi orangtua yang anak-anaknya sudah besar-besar dan tidak tinggal serumah, maka seringkali kita terpaksa makan sahur dan berbuka sendirian. Betapa senangnya jika kita mempunyai kesempatan berbuka puasa dengan anak. Setahun yang lalu, saya nyaris setiap kali berbuka puasa dan sahur sendirian, karena anak bungsu dan suami sebagian besar waktunya berada di Bandung, dan si sulung masih berada di luar negeri.

Lanjutkan membaca “Buka puasa bersama anak”

Melongok sudut Jakarta dari sebuah jendela perkantoran

Pada suatu siang, saat kejenuhan lagi melanda dan kantuk mulai menyerang, apakah yang biasanya anda lakukan? Ym an sama teman (sayang tak semua kantor memberikan fasilitas ini), atau saling bekirim sms, atau mengubah status di FB? Saya mencoba untuk melihat kesibukan Jakarta dari kantor, yang selama ini jarang sekali diperhatikan. Apa hasilnya? Ternyata jika dilihat dari atas, Jakarta masih ada bagian hijaunya, dan bagian yang hijau ini lumayan juga. Entah kenapa, kalau kita melihatnya dari jalan, rasanya kok Jakarta kurang sejuk ya, atau karena cuaca yang semakin terasa panas akhir-akhir ini?

Lanjutkan membaca “Melongok sudut Jakarta dari sebuah jendela perkantoran”

Dokter gigi anak-anakku

Membaca tulisan si bungsu disini, saya menjadi ingat percakapan dengan teman-temanku beberapa tahun yang lalu. Kami, para ibu-ibu, paling sulit mengajak anak ke dokter gigi. Padahal, saat anak-anak ku masih di TK Negeri, telah dikenalkan dengan dokter gigi, yang setiap periode datang ke Sekolah Taman Kanak-Kanak untuk memeriksa gigi para murid TK. Mungkin juga karena dokter gigi yang kebetulan berpraktek di Puskesmas kompleks rumas dinas yang kami tempati adalah dokter perempuan, sehingga kemungkinan lebih dekat dengan anak kecil.

Lanjutkan membaca “Dokter gigi anak-anakku”

Minggu kemarin jatahnya nonton “Film laga”

Punya anak “maniak film” membuatku terpengaruh juga. Apalagi jika ada waktu dan filmnya adalah film Indonesia. Kalau bukan kita yang menonton film anak bangsa ini, siapa lagi yang mau menghargai? Dan film Indonesia semakin bagus, sehingga saya lihat gedung bioskop juga penuh sesak. Sebelumnya sempat kawatir juga karena harus pergi ke Jayapura, syukurlah saat kembali ke Jakarta, film “Merantau” dan “Merah Putih” masih tayang di bioskop.

Salah satu adegan "Merantau" yang kusuka, melempar lawan dengan tabung gas (apa nggak berat ya?)
Salah satu adegan "Merantau" yang kusuka, melempar lawan dengan tabung gas (apa nggak berat ya?)

Lanjutkan membaca “Minggu kemarin jatahnya nonton “Film laga””

Melihat kehidupan pasar di malam hari, di kota Jayapura

Ini kali keempat saya mengunjungi kota Jayapura. Kalau senja menjelang, tempat parkir di depan Gelael akan dipenuhi para pedagang yang lesehan, menggelar berbagai barang dagangan yang kebanyakan penjualnya orang Papua asli.

Pasar kaget yang dimulai senja hari dan makin malam makin rame. Lokasi depan Gelael, yang kalau siang untuk tempat parkir.
Pasar kaget dimulai senja hari dan makin malam makin ramai. Lokasi depan Gelael, yang kalau siang untuk tempat parkir.

Demikian juga pasar yang terletak di dekat jalan protokol, di sebelah kiri hotel Matoa sampai mendekati belakang Bank Papua, jika siang hari merupakan jalan raya, tapi kalau malam dipenuhi para pedagang.

Lanjutkan membaca “Melihat kehidupan pasar di malam hari, di kota Jayapura”

Perjalanan yang melelahkan

Pesawat Garuda GA 650 tinggal landas meninggalkan bandara Sukarno Hatta jam 21.10 wib di hari Sabtu sore. Hari Sabtu yang biasanya macet, hanya terlihat macet di jalan Tol ke arah Tanjung Priok, dan kata pak sopir taksi BB, hari Sabtu pagi sampai siang jalanan di kota Jakarta lengang, karena nyaris hampir semua orang duduk tenang di depan televisi melihat Densus 88 memburu teoris di dusun Beji Kabupaten Temanggung.

Lanjutkan membaca “Perjalanan yang melelahkan”

Percakapan antara pasien dan Dokter

Suatu sore, rasanya badan sudah melayang. Rasanya baru dua hari yang lalu kerokan. Wahh mesti ke dokter nih. Kebetulan kalau hari Jumat, jalanan Jakarta macetnya minta ampun. Apa boleh buat, kesehatan nomor satu, apalagi jika sudah nggak enak badan, makan pun rasanya malas. Penginnya perut kenyang, tapi tak perlu mengunyah…ahh dasar males. Jadi dari perkantoran di jalan Sudirman, taksi diminta membelokkan ke klinik langganan. Pasien penuh sesak, padahal biasanya di klinik ini pelayanan cepat, karena pasien tak terlalu banyak.

Lanjutkan membaca “Percakapan antara pasien dan Dokter”

Nonton ” Blind Pig Who Wants To Fly” di Teater Terbuka Salihara

Banyak sekali acara Seni dan Budaya di Salihara, yang selama ini tak sempat saya nikmati, karena ketiadaan waktu, juga akses kalau malam hari. Sebenarnya sih tak perlu kawatir, karena Salihara mudah dicapai dari rumah saya, juga taksi BB mudah dicari karena jalanan depan Salihara cukup ramai dilewati kendaraan. Sabtu ini badan lelah setelah beraktifitas seminggu, jadi rencana nonton siang hari batal, apalagi sang pengantar menghadiri acara undangan teman seangkatannya. Tapi si sulung berjanji mengajak nonton 8 th Q! Film Festival yang berlangsung di Jakarta, 26 Juli sd 5 Agustus 2009.

Malam itu setelah sholat Magrib, kami agak terburu-buru berangkat ke Salihara, karena menurut info film akan dimulai jam 7 malam. Ternyata acara untuk film yang ingin kami lihat, baru akan dimulai 7.30 pm, jadi ada waktu untuk keliling Salihara, terutama buat Poppy yang baru pertama kalinya mengunjungi Salihara.

Lanjutkan membaca “Nonton ” Blind Pig Who Wants To Fly” di Teater Terbuka Salihara”