Oleh: edratna | Agustus 2, 2009

Nonton ” Blind Pig Who Wants To Fly” di Teater Terbuka Salihara

Banyak sekali acara Seni dan Budaya di Salihara, yang selama ini tak sempat saya nikmati, karena ketiadaan waktu, juga akses kalau malam hari. Sebenarnya sih tak perlu kawatir, karena Salihara mudah dicapai dari rumah saya, juga taksi BB mudah dicari karena jalanan depan Salihara cukup ramai dilewati kendaraan. Sabtu ini badan lelah setelah beraktifitas seminggu, jadi rencana nonton siang hari batal, apalagi sang pengantar menghadiri acara undangan teman seangkatannya. Tapi si sulung berjanji mengajak nonton 8 th Q! Film Festival yang berlangsung di Jakarta, 26 Juli sd 5 Agustus 2009.

Malam itu setelah sholat Magrib, kami agak terburu-buru berangkat ke Salihara, karena menurut info film akan dimulai jam 7 malam. Ternyata acara untuk film yang ingin kami lihat, baru akan dimulai 7.30 pm, jadi ada waktu untuk keliling Salihara, terutama buat Poppy yang baru pertama kalinya mengunjungi Salihara.

Film “Blind Pig Who Want To Fly” yang disutradarai Edwin, dengan produser Dede, di putar di teater terbuka, yang lantainya gabungan dari paving dan rumput.

Layar tancap teater terbuka Salihara

Layar tancap teater terbuka Salihara

Terasa menonton film layar tancap, karena kami duduk-duduk di paving di bawah sehingga terasa akrab. Sebelum pertunjukan, panitia menjelaskan kalau dilarang makan, minum, serta merekam film.

Panitia (teknisi) sedang mempersiapkan pemutaran film

Panitia (teknisi) sedang mempersiapkan pemutaran film

Dede (Produser), Joko Anwar (kali ini berperan sebagai pemain) dan panitia (tak tahu namanya) sedang  menjawab pertanyaan penonton dalam acara Q & A

Dede (Produser), Joko Anwar (kali ini berperan sebagai pemain) dan panitia (tak tahu namanya) sedang menjawab pertanyaan penonton dalam acara Q & A

Cerita film ini, menurut penjelasan Joko Anwar dan Dede, yang pada akhir pemutaran film, memandu acara Q & A (Questions and Answers), merupakan pengalaman Edwin masa kecilnya, ditambah berbagai olah batin. Sayang Edwin sendiri tak bisa hadir, karena sedang menghadiri festival Film di Korea Selatan, yang antara lain juga sedang memutar film ini. Dan berita baiknya, Film ini mendapat award di International Film Festival Rotterdam.

Ringkasan ceritanya: Linda dan Cahyono bertemu dan menjalin persahabatan. Halim mengatakan pada Verawati, yang dulu atlet bulutangkis, dan selalu memakai kaos dengan nama Indonesia dipunggungnya…..(jadi ingat Mamik Prakoso dalam film “King”), bahwa Halim ingin masuk Islam, dan tak lama kemudian mengatakan ingin menikah lagi. Salma, yang menjadi perawat pada Halim (dokter gigi, namun sering berkaca mata hitam), ingin ikut “Planet Idol”. Opa meninggal, dan Linda menyebarkan abunya bersama Cahyono. Yahya dan Romi, yang merupakan pasangan gay, ingin mencoba penetrasi sex, yang akhirnya diuji cobakan pada Halim. Halim bersedia menolong karena ingin Salma bisa masuk “Planet Idol” sebuah acara yang host nya adalah Yahya. Cahyono yang selama ini selalu berjalan menunduk, dan tak bisa menjawab pertanyaan Linda mengapa berjalan menunduk, akhirnya belajar untuk berjalan dengan menengadah, yang rasanya tak nyaman. Film ini menggambarkan kaleidoskop pengalaman orang-orang di sekitar Linda, dengan berbagai agenda masing-masing. Saya akui, tak mudah untuk memahami cerita film ini, namun saya akhirnya belajar dari tanya jawab para penonton, film ini memang dibuat terbuka, sehingga masing-asing orang bisa menafsirkan sendiri. Sesi Q & A sangat menarik, serius, santai, namun penuh tawa, karena penonton bebas menanyakan berbagai hal seputar film tsb yang berusaha jawab oleh Joko Anwar dan Dede.

Sepulang menonton, kendaraan kami tertutup kendaraan lain, jadi akhirnya memutuskan untuk duduk di teras restoran, pesan makanan kecil dan minum. Suasana restoran di Salihara ini yang menyenangkan, para pengunjung yang berbeda meja bisa saling berinteraksi, akhirnya kami bertiga gabung dengan mejanya Joko Anwar (sutradara film) dan Dede, serta Zig (tulisannya ?) yang selama ini sering membuat musik pengiring film yang disutradarai Joko Anwar. Saya baru tahu ternyata Joko Anwar, lulusan Mesin jurusan Penerbangan angkatan tahun 1994, yang berarti satu alumni dengan suami saya. Dede menyampaikan surprise nya, katanya jarang anak dan ibu hadir pada diskusi film, dan ini kali kedua dia melihat ibu dan anak akrab pada acara diskusi film. Pertama kali, dia ketemu dengan ibu (80 tahun) dan anak (40 tahun) yang datang ke acara festival film di Perancis. Saya cuma tersenyum mendengar komentar Dede.

Tak lama kemudian banyak sekali penonton berbondong-bondong keluar dari teater Salihara yang lain, diantara nya terdapat beberapa warga negara asing. Kemudian terlihat pak Goenawan Wibisono (Tempo), si sulung sempat mengobrol sebentar dengan beliau. Tak lama kemudian muncul mbak Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo), yang kemudian bergabung di meja kami dan terlibat obrolan menyenangkan. Dan Joko Anwar bersedia mengambil foto kami (saya, si sulung dan Poppy) bersama mbak Leila Khudori.

Foto bersama Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo)

Foto bersama Leila Khudori (kritikus film dari majalah Tempo)

Malam itu kami ketemu dua orang populer dari Tempo, yaitu pak Goenawan Muhammad dan mbak Leila. Setelah sampai di rumah, saya baru tahu bahwa rombongan pak GM tadi ternyata baru selesai menonton “Tolstoy’s Wife” yang merupakan sebuah drama berdasarkan buku harian terakhir Countess Sonya Tolstoy. Dan yang membuat surprise, ternyata diantara orang2 tersebut ada Jennifer Claire, yang baru saya tahu setelah membaca buku “Festival Salihara 2009“. Bulan Agustus ini banyak sekali acara menarik, apalagi sehubungan perayaan kemerdekaan Indonesia. Pulangnya kami melewati daerah Kemang yang ditutup jalan nya, dan baru ingat bahwa sejak Jumat malam sedang diadakan acara “Festival Kemang” sampai hari Minggu ini. Sebetulnya pengin melihat, tapi badan sudah lelah, apalagi masih banyak tugas lain, jadi kami memutuskan untuk meneruskan pulang ke rumah.

Iklan

Responses

  1. Senangnya bertemu dengan banyak orang yang menarik….

    Bang Aswi,
    Hmm..iya…

  2. Wah, nampaknya Mbak Enny mulai jatuh cinta dengan Salihara, dan sering menikmati acara seni disana. Jadi pengin kesana juga nih …

    Itu filmnya memang pakai judul dalam bahasa Inggris ya? Dari resume yang dibuat Mbak Enny, saya masih belum bisa menangkap jalan ceritanya. Nampaknya memang rumit ya?

    Ohya, Leila Khudori dulu juga seorang cerpenis dan novelis (seangkatan saya). Tapi dia konsisten di dunia tuls-menulis, dan jadi orang top. Lha saya, terus nggak karu-karuan … ๐Ÿ˜€

    Tutinonka,
    Hehehe..iya mbak, jatuh cinta sama acara di Salihara, cuma memang harus diatur jangan sampai kerjaan keteteran.
    Saya dulu suka baca tulisannya Leila Khudori di Femina….

    Jalan ceritanya memang “open” mbak, bisa ditafsirkan penonton sendiri-sendiri, film ini termasuk dalam kategori “Human Right“…dan memang menceritakan masing-masing pelaku dengan masalah dan impiannya masing-masing.

    Wahh lha mbak Tuti sendiri kan keren, cuma masalahnya bukan di bidang tulis menulis lagi, tapi dosen dan sebentar lagi Doktor..pencapaian yang tidak main-main lho mbak…

  3. sepertinya dulu saya sering baca karya2 Leila Khudori di Femina…..seneng banget saya dengan gaya bahasanya…..

    Wieda,
    Betul….Leila Khudori dulu sering menulis di Femina…sama dengan mbak Tutinonka di atas

  4. Wooh, nontonnya pake layar tancep? ๐Ÿ˜ฏ Asik sekaliii *kangen suasana nonton misbar*

    Duh, saya ketinggalan info event ini. Padahal jarak kost saya dengan Salihara deket ๐Ÿ˜

    GoenRock,
    Film babi buta ini akan ditayangkan tanggal 3 Agustus jam 8 pm di GoetheHaus, dan tanggal 4 Agustus jam 9.30 pm di Erasmus Huis. Malah karena mas Edwin udah datang dari Korsel, maka di Erasmus Huis bisa mengobrol bareng dan tanya jawab sampai puas dengannya.
    Acara Q! Film Festival masih berlangsung sampai dengan 5 Agustus 2009.

  5. bu beberapa tahunyang lalu aku ya kadang2 mengikuti acara2 tersebut dan memang senang bu. tapi saat ini perubahan drastis kehidupan sehinga untuk saat ini sepertinya hanya sebuah rencana saja. moga akan kembali seperti semula

    Kawanlama95,
    Awal menikah saya hobi menonton di TIM (saat itu masih mengintrak di daerah Rawamangun), tapi setelah anak-anak lahir, maka masalahnya adalah mengatur kesibukan mengurus anak, bekerja dan memantapkan karir. Dan setelah pensiun baru bisa menikmati lagi…itupun ternyata ga tahan juga ditarik teman-teman untuk membantu kerjaan, jadi juga tetap sibuk ga jelas…

  6. wah kayaknya keren yah filmnya…

    Siais,
    Memang bagus walau agak sulit dipahami awalnya

  7. Saya membaca, katanya akan ada Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2009 pada tanggal 4 โ€“ 8 Agustus di Jogjakarta Bu.

    Ade Bayu,
    Bulan Agustus ini biasanya memang banyak acara menarik, tinggal kita punya waktu apa tidak…

  8. Saya sudah lama banget ga pernah nnton layar tancap bu. Jadi pengen nnton lagi ^_^

    Rifky,
    Nonton layar tancap akan terasa nyaman jika penontonnya lingkup pergaulan yang sama

  9. Layar Tancap, sudah hampir punah dari keberadaannya tergeser karena kehadiran VCR, DVD dan seterusnya..

    Sepertinya program seperti ini mesti terus dilestarikan selain, public viewing ini mampu merekatkan kembali keterikatan sosial, membangun kekerabatan melalui program ini adalah juga a fun-networking, indeed ๐Ÿ˜€

    Luigi Pralangga,
    Ahh kang, komentarmu ternyata tertelan Akismet dan baru ketahuan pagi ini…maaf ya jadi sempat hilang.

    Layar tancap ini dulu sering ada di kampung2 di Jakarta, saat awal kepindahanku di Jakarta, diadakan di pelataran terbuka. Akhir2 ini makin menghilang, karena rata2 rumah, halaman nya sempit…
    Jadi kemarin surprise juga komunitas seni Salihara, ada ruang teater terbuka di atap gedung, menontonnya sambil menikmati terang bulan, diterangi bintang-bintang

  10. Dulu ada official web untuk film ini di http://www.babibuta.com pernah lihat-lihat sekilas penjelasannya, karena dulu film ini pernah diputar pada sebuah festival film di Jakarta beberapa bulan yll. Saat itu saya tak bisa hadir karena berbenturan dengan acara lain. Ibu termasuk beruntung bisa menyaksikannya.

    Mengenai festival Salihara sendiri, sudah hampir sebulan ini berlangsung sejak pembukaan resminya pada 8 Juli – 15 Agustus 2009 dan saya menyesal belum bisa menghadiri satu pun agenda kegiatan terkait dengan festival ini. Lagi-lagi kesibukan jadi kambing hitam.

    Masih ada beberapa kegiatan, muda-mudahan ibu & keluarga berkesempatan hadir kembali di Salihara dan siapa tahu kita bisa bertemu di sana. ๐Ÿ™‚

    Yoga,
    Kemarin terpikir, andai tahu sejak sore, mungkin saya janjian sama Yoga..rencana nya mendadak sekali…
    Besoknya pun Ari dan Poppy keluar nonton di Blok M Plaza, tapi saya memilih di rumah karena ada beberapa tugas yang harus diselesaikan

  11. Festival Salihara.. kayaknya musti liat nih..
    Bikin penasaran ajaa

    Elmoudy,
    Banyak acara menarik di Salihara, asalkan kita punya minat dan waktu.

  12. asyik juga bu mirsani film di salihara, meski saya belum pernah menginjakkan kaki di sana, tapi tulisan ibu sudah jelas memberikan gambaran kalau salihara memang disetting agar lebih mengakrabkan sesama penonton. wah, ternyata ada juga penulis leila khudhori, pasti lebih seru dan asyik, bu.

    Sawali Tuhusetya,
    Betul pak, mirip Taman Ismail Marzuki….dalam bentuk yang lebih kecil, akrab, sehingga para penonton bisa langsung berinteraksi.
    Makananpun enak, dan relatif murah…

  13. Nanti kalau balik ke Indonesia saya pengen mampir ke Salihara ah ๐Ÿ™‚
    Saya penyuka Majalah Tempo soalnya, Bu…

    DV,
    Harus itu Don…menarik kok…
    Selalu ada acara seni dan budaya

  14. nama pemainnya mirip nama saya .. tapi nggak pakai “no” bu ๐Ÿ™‚

    Mascayo,
    Wahh iya ya…

  15. seru sekali salihara itu. jadi mupeng.
    atmosfir yang akrab terkesan membuat film apa pun yang disajikan, serumit apa pun dia, tidak jadi masalah. karena yang dicari dan diperoleh penonton di sana adalah lebih daripada sekadar menikmati tontonan, namun diskusi dan keguyuban dengan sesama penonton dan pengelola yang jadi tujuan. tidak keliru kan, ibu? ๐Ÿ˜€

    Marsmallow,
    Kesan akrab itu yang menyenangkan. Saat mau nonton, saya dan anak sekedar nonton, yang bikin surprise, kita diminta duduk di bawah biar akrab, sebetulnya mengelilingi teater terbuka ada bangku dari semen sebagai tempat duduk. Terus sebelumnya acara, panitia menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan penonton, kemudian juga dijelaskan bahwa akan ada acara Q & A, dengan salah satu pemain yang biasanya beliau sebagai sutradara (Joko Anwar) dan produser (Dede). Sayangnya sutradara (Edwin) tak bisa hadir karena sedang menghadiri festival Film di Korea Selatan.

    Selesai nonton, saat makan, suasana juga cair, tak seperto di restoran umumnya, diantara pengunjung restoran ada perkenalan, menarik kursi untuk bergabung dengan meja lain dsb nya. Yang jelas, banyak melihat orang-orang yang selama kita krab dai baca di koran. Suasana keakraban ini lah yang membuatku setiap kali ingin hadir di Salihara.

  16. Kelihatannya sangat menyenangkan ya bunda…

    Radesya,
    Betul Desya…..tempat kostmu mana? Sekali-sekali ke Salihara….pas Sabtu atau Minggu suka ada acara bagus…dan tak harus malam (kecuali ada temannya)

  17. hebatttt tukang fotonya Joko Anwar…:)

    La Mendol,
    Joko Anwar telah beberapa kali ketemu dengan anakku…Joko sendiri yang menawarkan untuk memotret bersama Leila…mungkin lihat saya mupeng banget…..hehehe…jelas dong, kan saya pengagum tulisannya leila sejak dulu

  18. kapan yah saya bisa foto kayak gitu

    Celoteh,
    Kalau sering ke Salihara, kita akan banyak kenal orang beken, dalam kondisi kehidupan sehari-hari…bisa mengobrol dengan santai, diskusi dll.

  19. Asyik juga ya bu, masih bisa nonton layar tancap. Padahal di tempat saya sudah lama sekali tak ada. Jadi ingat masa kecil dulu lihat layar tancap di lapangan terbuka di bawah terangnya bulan purnama.

    Mufti,
    Asyik….nontonnya bareng produser dan sutradara terkenal lagi…
    Dan layar tancepnya di atas gedung lantai 3 pula, melihat rumah penduduk, diterangi sinar bulan yang hampir penuh. Asyik dan romantis…

  20. Sepertinya menyenangkan, jadi ingin nonton

    Q11901
    ,
    Sebetulnya itu film festival, yang harus dipikirkan apa maksudnya…tak umum seperti yang kita lihat dalam film yang diputar di bioskop

  21. salam perkenalan dari newbie blogger kang….

    Hery,
    Kang????????

  22. Joko Anwar itu yang janji joni ya bu..?
    Klo buat aku sih, mana asik nonton tapi ga boleh ngemil2?? Hehehe. Ga ding. Biasanya juga nggak. Tapi klo dilarang ngemil, malah jadi gatel pengen cemil2..
    *btw, bajunya lucu bu..*

    Narpen,
    Yup betul…..
    Kapan2 kalau ke Jakarta diajak ke Salihara..
    Baju siapa yang lucu? Baju ibu atau Leila Khudori? Atau te Poppy?

  23. Salam Kenal…
    Deby,
    Salam kenal juga

  24. sepertinya acaranya menarik2 & suasananya nyenengin, boleh dicoba tuch

    <em>Roshi,
    Hmm..silahkan

  25. Waaaah bundo memang manstaaaabss surantaaabs tetap semangat yaaaak

    KangBoed,
    Mantap? Apanya?

  26. Bunda….
    alurnya memang dibiarkan ditafsirkan terbuka?
    sejujurnya, baca ringkasan pilemnya, aku gak ngerti bunda ๐Ÿ˜€ hehehe

    Hmmm baru denger yg kayak gini ๐Ÿ˜‰

    Eka,
    Yup..betul…dari diskusi memang itulah yang diinginkan…
    Sutradara hanya cerita seperti kaleidoskop kehidupan dan lingkungan sehari-harinya…penonton bisa mengintepretasikan masing-masing

  27. dari tulisan mbak Eni tentang salihara….saya jadi tertarik dan penasaran..
    kalau ada kesempatan saya akan sempatkan nonton…

    Dyah Suminar,
    Menarik kok bunda…saya suka dengan lingkungan pergaulannya

  28. layar tancapnya gede bgt…,
    salam KBM…,

    Cahjoker,
    KBM? Apa maksudnya?
    Sebaiknya jika berupa singkatan ada kepanjangannya, karena tak semua memahami yang dimaksud

  29. permisi….
    sekedar berkeliling sambil menikmati isi rumah ini yang sangat indah dan bagus…

    salam kenal ๐Ÿ˜€

    Omen,
    Silahkan..

  30. Nontonnya rame-rame sama keluarga trus bawa tiker seru ya buk… Hehe..
    Itu pemain filmnya datang juga ya, kapan2 kalau nonton lagi bisa nitip tanda tangan dong buk.. ๐Ÿ™‚

    Septarius,
    Kok pake tiker?
    Kan udah ada pavingnya…dan penontonnya segmented, yang diharapkan memang menghargai perfilman, sehingga ada interaksi antara penonton dan sutradara/pemain/produser…untuk perbaikan..
    Dan ini kesempatan bagi para pekerja film untuk mendapat saran dan kritikan dari penonton

  31. wah, jadi pengen! sebenarnya tempat2 spt itulah yg saya sukai (saya kurang suka mall). dulu di jogja, film2 dan tempat pertunjukan spt itu cukup terjangkau dr segi jarak. sekarang saya tinggal di jkt timur. dan tampaknya tempat2 spt itu nggak ada (atau saya yg nggak tahu ya?)

    Krismariana,
    Saya udah bisa membayangkan kalau ini juga dunia Menik…
    Acara di Salihara kalau akhir pekan ada siang harinya…saya dulu sama Yoga menonton yang jam 14.30 wib jadi selesainya tak terlalu malam.

  32. kunjungan pertama saya kesini bu…
    membaca postingan ini membuat saya penasaran utk kesana, tp bisa terwujud ga ya..???

    salam, ^_^

    Didien,
    Semoga terwujud

  33. Wow …
    Leila S Chudori …
    Itu satu angkatan dengan bu Tuty tuh …
    Penulis-penulis yang selalu meramaikan majalah remaja – wanita saat itu …

    Salam saya

    Nh18,
    Leila Khudori memang dulu sering banget menulis di majalah wanita…

  34. Wah, asyik juga kalau rumah di daerah selatan. Bisa sering2 ke Salihara. Kalau dari Timur kejauhan. Apalagi kalau di hari kerja, harus menembus macet. Akhirnya sampai kini saya belum kesampaian ke Salihara…Btw, itu Bos nh18 ngapain juga baca majalah wanita? He he…

    Hery Azwan,
    Bos NH18 mungkin baca majalah wanita langganan nyonya NH18.
    Menurut saya, Femina sampai saat ini tetap menarik, isinya sopan….
    Dari Timur bisa lewat Tol Cikunir, keluar di Ampera……

  35. hoooo… joko anwar!! dia itu idola saya, bu… sutradara kreatif yang mampu menggambarkan adegan lewat sudut pandang yang jarang diambil sutradara kebanyakan, jenius kalo menurut saya… apalagi dia bertumbuh di kawasan senen (deket region saya itu mah :mrgreen: )

    soal judul filemnya menurut saya oke juga, tapi koq contentnya agak gimanaa gitu ya…

    btw, malah ndak poto2 bareng joko anwar ya… padahal dia itu haibat, menurut saya sebanding dengan tim burton atau quentin tarrantino loh ๐Ÿ˜‰

    Kurotsuchi,
    Lha malah Joko Anwar yang menawarkan diri untuk memotret…hehehe..bukan dipotret

  36. Wah…. kalau musim hujan bakalan terganggu dong ya?? Soalnya itu tempat terbuka kan?? Itu acaranya selalu ada atau hanya waktu2/hari2 tertentu saja ya??Tapi sayang…. istri saya kurang suka film jadinya ya agak sulit juga. Apa lagi ya acara kesenian lain selain film di Salihara itu ya??

    Yari NK,
    Acara di Salihara selalu penuh, dan punya beberapa ruang yang bisa digunakan untuk pertunjukan. Saat itu cuaca cerah, dan bulanpun bersinar terang. Pas sama Yoga, saya nonton nya di teater tertutup….
    Kapan kita kopdar di Salihara kang?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: