Oleh: edratna | Agustus 14, 2009

Perjalanan yang melelahkan

Pesawat Garuda GA 650 tinggal landas meninggalkan bandara Sukarno Hatta jam 21.10 wib di hari Sabtu sore. Hari Sabtu yang biasanya macet, hanya terlihat macet di jalan Tol ke arah Tanjung Priok, dan kata pak sopir taksi BB, hari Sabtu pagi sampai siang jalanan di kota Jakarta lengang, karena nyaris hampir semua orang duduk tenang di depan televisi melihat Densus 88 memburu teoris di dusun Beji Kabupaten Temanggung.

Sebetulnya saya ingin naik pesawat siang hari, sayangnya pesawat ke Jayapura dari Jakarta hanya terbang di malam hari, dan kalau kembali ke Jakarta, baru terbang di siang hari. Kondisi saya sebetulnya agak kurang baik, bahkan hari Jumat malam, sehabis menghadiri seminar di salah satu Bank di bilangan jalan Sudirman, langsung ke dokter. Biasanya, jika kondisi kurang baik, oleh dokter saya diberi suntikan vitamin, namun kali ini dokter menolak, dia hanya bilang bahwa saya harus banyak makan. “Walau wajahnya pucat, ibu terlihat lebih gembira, ” kata dokter. Agak bingung juga dengan maksud perkataan dokter, wajah pucat tapi terlihat gembira.

Perjalanan udara sampai ke Makasar cukup lancar. Penumpang transit diminta untuk turun dan membawa semua barang-barang yang ada di bagasi. Saya agak heran, karena kira-kira delapan bulan sebelumnya, saat saya pergi ke Papua, penumpang yang transit bebas untuk memilih turun dari pesawat atau tidak, dan kalaupun turun tak harus membawa semua barang-barang nya. Mungkin memang sekarang harus lebih berhati-hati, jika semua penumpang turun membawa barang-barangnya, pesawat dapat diperiksa dan kemudian dibersihkan, sehingga kemungkinan adanya barang-barang yang bisa berbahaya bisa dihindari.

Bandara Hasanudin, Makasar, di tengah malam tanggal 9 Agustus 2009

Bandara Hasanudin, Makasar, di tengah malam tanggal 9 Agustus 2009

Tengah malam itu saya bersama seluruh penumpang transit turun di bandara Hasanudin, Makasar. Bandara Hasanudin, Makasar yang baru jauh lebih luas dan lebih bersih, namun karena tengah malam, saya tak sempat melihat-lihat karena kebanyakan toko sudah tutup. Baru saat kembali ke Jakarta, pesawat berangkat dari Jayapura jam 8 pagi WIT (Waktu Indonesia Timur), sehingga sampai bandara Hasanudin sekitar jam 12 siang waktu Indonesia tengah.

Bandara Hasanudin, Makasar, tengah hari tanggal 13 Agustus 2009

Bandara Hasanudin, Makasar, tengah hari tanggal 13 Agustus 2009

Menjelang pesawat “landing” bapak tua yang duduk di sebelah kanan saya mulai muntah-muntah. Waduh celaka, padahal saya sendiri lagi nggak sehat, dan langsung merasa pusing. Syukurlah si bapak bisa memberikan jalan saat saya mau turun untuk transit (yang ternyata bapak ini tak turun, mungkin seijin pramugari).

Setelah dari Makasar, perjalanan ke Biak melewati awan yang menyebabkan pesawat agak bergetar, dan si bapak sebelah saya kembali muntah-muntah. Syukurlah setelah itu pesawat terbang dengan mulus dan saat pramugari mengedarkan makanan, bapak tua di sebelah saya tertidur dan tak makan. Saat pesawat mulai turun di Biak, kembali bapak tua muntah-muntah dengan hebat. Saya memanggil pramugari, dan terpaksa memanjat kursi agar bisa turun saat transit di Biak. Di bandara Frans Kasiepo Biak, waktu menunjukkan jam 4.45 WIT, atau 2.45 wib. Saya segera mendatangi pasasi untuk menanyakan apakah mungkin saya bisa pindah tempat duduk, karena saya lihat banyak sekali penumpang turun di Biak. Syukurlah ada tempat duduk kosong agak di belakang, sehingga sisa perjalanan 45 menit dapat dilalui dengan tenang.

Sampai bandara Sentani, Jayapura, sekitar jam 6.30 WIT, terlihat pak Wangsit dari Bank Papua sudah menunggu. Setiap kali ke Jayapura, pak Wangsit inilah yang setia mengantar dan menjemput, sehingga lama kelamaan terbina hubungan yang akrab di antara kami. Perjalanan dari Bandara Sentani ke kota Jayapura memakan waktu satu jam, melewati perbukitan, dengan pemandangan di samping kanan danau Sentani yang luas, kemudian berganti dengan pemandangan laut. Walau badan capek dan pusing, namun melihat pemandangan hijau membuat hati merasa senang.

Begitu sampai hotel, saya segera mandi, dan kemudian tertidur pulas. Sewaktu bangun rupanya sudah jam 3 sore, kami (saya dan Christie) segera ganti baju, dan siap makan siang di coffee shop hotel. Sangat kebetulan, masakan di hotel ini sesuai lidah saya. Christie memesan rawon, sedang saya pesan sop buntut goreng dan segelas hot lemon tea.

Rawon dan sop buntut goreng

Rawon dan sop buntut goreng

Habis makan, badan terasa enak, cuaca panas juga mulai tak terasa menyengat. Kami berdua jalan-jalan menyusuri kota Jayapura, pergi ke pantai, Christie menemukan gereja yang tak jauh dari hotel dan dekat pantai. Jam menunjukkan pukul 4 sore, walau panas matahari tak menyengat, namun cuaca yang panas membuat baju sudah basah kuyup oleh keringat. Kami segera kembali ke hotel, karena Christie akan ikut misa di sore hari, sedangkan saya memilih untuk istirahat. Malam itu, kami berdua kembali menikmati makan malam di hotel, dan segera tidur karena hari Senin akan mulai pelatihan.

Iklan

Responses

  1. Wajah pucat tapi terlihat gembira, minta suntik vitamin ditolak. Jadi kesimpulannya, gembira merupakan vitamin dosis tinggi yang tidak dimiliki dokter sehebat apapun. Luar biasa.

    Selamat berjuang.

    Puspita,
    Komentar dokter memang aneh, tapi dia kenalan lama….jadi udah kayak teman

  2. duhhh kebayang rasanya duduk disebelah orang yg muntah2 dalam perjalanan,
    Saya jadi ingat perjalanan pulang ke Cdn beberapa th yl. sendirian…dari HK pesawat yg ke Cnd tuh pesawat dari India..(pakai Cathay)…nah 80% penumpangnya orang India. Sebelah saya bapak2 yg masih make turban dan senengnya bersendawa…..pas pramugari ngasih makanan, pramugarinya bingung, soalnya si bapak ini ngga berbahasa inggris…nah si pramugari ini setengah jengkel ngomong ke saya koq saya ga mau menterjemahkan apa maunya si bapak India itu….(padahal pramugari yg lain ngira klo saya ini chinnesse…hahahahaha)
    dengan tak kalah galak saya semprot tuh si pramugari I do not understand him too…..I am suffering here.
    waaaa……. setelah itu yg selalu datang pramugari India…….yg bisa ngomong punjabi.
    9 jam penerbangan saya mencoba tidur menghadap jendela pesawat…….

    Wieda,
    Perasaan memang campur aduk, antara kesal karena saya sendiri berangkat dalam kondisi kurang fit, tapi juga kasihan pada bapak tersebut. Mungkin dia punya urusan penting, karena perjalanan Jakarta-Papua memang jauh sekali….

  3. enaknya bisa jalan-jalan…

    v(^_^)

    yang penting jaga stamina aja, bu. jangan lupa suplemen tiap hari.

    saya juga mau pergi dinas ke malang. naik garuda lagi. yah, karena disuruh si bos pergi ke sana, gak jadi 17an di kampung. gak jadi cuti, gak jadi ketemu keluarga. duh, kangen banget padahal.

    Farijs van Java,
    Enak jika perjalanan tanpa beban. Kalau namanya tugas, memang agak berbeda….walau tanpa ada tugas, kemungkinan untuk jalan-jalan sampai ke tempat jauh, mungkin tak terpikirkan, karena capek.

  4. perjalanan dengan pesawat malam hari memang tidak mengenakkan. Apalagi kalau penumpang di sebelah kita “berkelakuan aneh”. Batuk saja akan mengganggu kok.

    Pesawat kembali ke Tokyo selalu malam hari, take off jam 10 malam, spy sampai di Tokyo sekitar jam 7-8 pagi. Bagi orang dewasa biasa sih kesempatann untuk tidur, tapi bagi saya yang membawa dua anak, amat sulit untuk tidur. Sehingga terkadang saya minum obat spy bisa mengantuk.
    Semoga perjalanan pulang senin besok bisa lancar.

    Selamat kembali ke Jakarta dan beraktifitas lagi ya bu. Salam saya, dan mohon pamit

    EM

    Ikkyu_san,
    Hmm ..memang yang menjadi kurang nyaman karena penumpang sebelah mabuk dan muntah-muntah terus, Beberapa kali penerbangan ke luar negeri memang malam hari, namun jika kondisi kita fit dan penumpang duduk bersebelahan dengan kita enak, maka pernerbangan jauh akan menjadi perjalanan yang menyenangkan.
    Dan susahnya, saya sulit tidur dalam perjalanan, baik darat maupun udara, akibatnya memang badan jadi lelah.
    Sayang sekali, kepulangan Imel ke Jakarta kali ini saya pas sibuk banget, syukurlah udah sempat ketemu. Semoga lain kali kita bisa mengbrol lebih banyak ya…

  5. Wah, membacanya saja sudah menampakkan kesan melelahkan, Bu.

    Hebat Bu Ratna, sanggup terbang malam begitu, kalau orang lain mungkin udah masuk angin 🙂

    Saya pernah diberitahu teman saya, katanya tiket PP ke Papua terkadang berlipat-lipat lebih mahal ketimbang tiket Jkt – KL dan terkadang setara tiket ke Sydney PP yang sekitar 7 juta kalau pas low season itu.

    Betul ndak Bu?

    DV,
    Dulu ada penerbangan pagi dan malam, dan biasanya saya memilih pagi, berangkat dari Jakarta jam 6 pagi dan sampai Jayapura jam 3 sore waktu Indonesia Timur. Namun entah sejak kapan, kalau ke Jayapura penerbangan hanya ada malam hari untuk Garuda, dan kembali dari Jayapura pagi hari.
    Saya tak tahu tiket Jakarta-KL saat ini, karena terakhir ke Malaysia udah beberapa tahun lalu.
    Yang jelas penerbangan pake Garuda Jakarta-Jayapura kelas ekonomi pp harganya di atas Rp.7 juta….mahal dan lama

  6. Saya pernah juga terbang malam, dari Jakarta ke Ambon. Berangkat dari Jakarta jam 01.30 dini hari, tiba di ambon jam 7 pagi. Yang membuat saya terpana adalah menyaksikan matahari terbit dari atas pesawat. Matahari muncul di antara awan, membuat gumpalan awan berwarna merah, putih, dan kehitaman. Wah … sensasional.

    Bagaimana kisah perjalanan di Jayapura Mbak? Kok ceritanya cuma makan di hotel saja … hehehe … 🙂

    Tutinonka,
    Kemarin karena kebetulan saya sibuk banget sebelum ke Papua. Kalau lagi sehat, perjalanan ke sana menyenangkan, pas transit di Biak bersamaan dengan munculnya matahari terbit…..indah sekali. Bandara Biak yang terletak di tepi laut dan dikelilingi perbukitan, membuat pemandangannya indah sekali.
    Demikian juga kota Jayapura yang terletak di tepi pantai, sehingga setiap kali akan ke kota lain (masih termasuk kabupaten Jayapura), maka perjalanan berkelak kelok menyusuri perbukitan yang di kanan bukit dan kiri laut, yang kemudian beralih pemandangan danau Sentani yang luas sekali. Juga tanaman hijau seluas mata memandang, membuat hati menjadi damai.

  7. Ibu memang selalu bisa bertutur dengan cara yang membuat saya bisa merasa ikut di dalamnya.
    Ini saya yang masih belum bisa menulis seperti ini Bu..
    Mengenai makanan.. tampak sedap kelihatannya…
    Tapi..jaga kolesterolnya ya Bu..

    Ade Bayu,
    Lha soalnya sejak anak-anak balita tiap malam mendongeng, jadi gaya tulisannya juga mendongeng…hehehe

  8. Jadi ingat waktu saya ke Banjarmasin dulu, saat pesawat akan sampai beberapa menit lagi namun cuaca tidak bagus karena banyak awan tebal menyelimuti. Getarannya terasa kencang, naik turun seperti di daerah pegunungan. Pantas saja itu bapak muntah2nya makin menjadi. Kalau sudah begitu orang biasanya malas atau tak enak makan meski makanannya lumayan enak.

    Mufti AM
    ,
    Saya prihatin melihat kondisi bapak tua tadi, tapi tak bisa berbuat banyak, karena saat pesawat mau landing, semua penumpang dan pramugari terikat di kursi masing-masing. Tapi nampaknya bapak tadi selamat sampai Jayapura…

  9. Wajah pucat, yang penting tidak terasa lemas. Kalau merasa lemas nah itu baru sepertinya ada apa2 atau tenaganya terlalu terkuras. Saya sendiri sebenarnya sudah dua hari ini flu, badan pegel semua, hidung mampet dsb…. dsb…. tapi kalau disuruh istirahat di rumah rasanya nggak enak, jadinya ya lebih banyak istirahatnya di kantor aja… huehehe…..

    Btw… ini baru cerita tentang awalnya saja ya, belum cerita tentang pelatihannya??

    Yari NK,
    Cerita pelatihan kayaknya harus di konsep dulu, karena sebetulnya tentang Credit Risk Management telah pernah saya tulis di tulisan sebelumnya.

  10. wah, ibu satu ini memang energik dan semangat tinggi, klau mau pakai suplemen dari tumbuh2an amway bu, Bio C, Nutrilite atau double-X. Selamat bertugas. Salam.

    Sosro,
    Hehehe….lha itu tuntutan peran…ehh pekerjaan.
    Justru kata orang terdekat, kalau sibuk, saya malah terlihat gembira…

  11. Wah akhirnya nyampe Jayapura juga ya Bunda…

    Hhmm..nanti pekerjaan saya juga akan travelling seperti itu kok…(ngarep)

    Meski capek tapi meninggalkan kenangan yang sangat berharga dan menambah pengalaman tambah Mbah Expert…… 😀

    Salam semangat selalu Bunda Edratna

    Bocahbancar
    ,
    Traveling apalagi di sela tugas, memang menyenangkan, kalau biaya sendiri mungkin saya tak sempat mencapai daerah terpencil.

  12. Itu mungkin peraturan baru ya, setiap penumpang transit diminta untuk turun dan membawa semua barang-barang yang ada di bagasi.

    Edi Psw,
    Sebetulnya peraturan nya sejak tahun 2007.. entah kenapa kok saat bulan Desember 2008 ke Jayapura, saat transit penumpang masih bisa meninggalkan barang bawaan di kabin pesawat. Terbayang jika kita membawa barang banyak…tapi memang, di luar negeri, yang boleh masuk kabin hanya satu tas kabin kecil.

  13. Pengen ikut ke Jayapura juga nih aku!

    Juliach,
    Papua indah lho…cuma jauh banget dan penerbangannya lama. Kalau kesana sekaligus lihat Wamena, penerbangan 45 menit dari Jayapura.

  14. Waw …
    Bandara Hasanuddin sekarang cantik sekali ya Bu

    Jaga kesehatan ibu …

    Salam saya

    NH18,
    Iya, bandara Hasanudian sekarang bagus sekali.
    Pas ke Jayapura delapan bulan yang lalu, sayangnya pas transit tak boleh turun karena pesawat telah terlambat, jadi baru bisa memotret kemarin….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: