Oleh: edratna | Agustus 16, 2009

Melihat kehidupan pasar di malam hari, di kota Jayapura

Ini kali keempat saya mengunjungi kota Jayapura. Kalau senja menjelang, tempat parkir di depan Gelael akan dipenuhi para pedagang yang lesehan, menggelar berbagai barang dagangan yang kebanyakan penjualnya orang Papua asli.

Pasar kaget yang dimulai senja hari dan makin malam makin rame. Lokasi depan Gelael, yang kalau siang untuk tempat parkir.

Pasar kaget dimulai senja hari dan makin malam makin ramai. Lokasi depan Gelael, yang kalau siang untuk tempat parkir.

Demikian juga pasar yang terletak di dekat jalan protokol, di sebelah kiri hotel Matoa sampai mendekati belakang Bank Papua, jika siang hari merupakan jalan raya, tapi kalau malam dipenuhi para pedagang.

Kemana jika kita ingin melihat berbagai pernak-pernik hiasan atau oleh-oleh khas Papua? Kalau siang hari kita bisa melihat-lihat di Papua Trade Center (PTC) serta beberapa lokasi lain, namun yang buka sampai malam dan khas menjual pernak pernik hiasan, dari gelang, kalung, tas dari kulit kayu, patung-patung adalah pertokoan yang terletak di daerah Hamadi.

Hiasan dinding

Hiasan dinding

Teluk Hamadi ini dulu merupakan daerah awalnya para tentara sekutu mendarat, yang kemudian berjalan dan membuat barak pertahanan di bukit Mac Arthur (orang Papua biasa menamakan bukit Makatur), yang terletak di atas perbukitan Sentani. Jika perjalanan ke sana saat ini dengan kendaraan memakan waktu antara 45-60 menit dari Jayapura, saya tak terbayangkan berapa lama tentara Sekutu dulu mencapai atas bukit tsb.

Apa yang umumnya dijual dan bisa digunakan sebagai oleh-oleh? Dari obrolan dengan pak Ir, pemilik sebuah toko souvenir di Hamadi, setiap daerah memiliki kekhasan dalam menghasilkan produknya.

Bersama pak Ir, yang banyak mengenalkan saya pada beberapa barang khas penduduk asli

Bersama pak Ir, yang banyak mengenalkan saya pada beberapa barang khas penduduk asli

Patung yang dibuat oleh suku di Biak, berbeda dengan Asmat, dan berbeda pula dengan suku lainnya.

Patung yang khas dari Biak

Patung yang khas dari Biak

Produksi barang dari Sentani yang khas adalah berbagai tas, ukiran dan barang-barang lain yang di produksi dari kulit kayu. Juga ada wadah makanan berukir.

Ukiran ini jika dibalik akan terlihat seperti wadah cembung, yang dulunya untuk menaruk makanan dalam menjamu tamu di daerah Sentani

Ukiran ini jika dibalik akan terlihat seperti wadah cembung, yang dulunya untuk menaruh makanan dalam menjamu tamu di daerah Sentani

Tas dari kulit kayu khas Sentani

Tas dari kulit kayu khas Sentani

Kapak dari Wamena

Kapak dari Wamena

Dari Wamena selain koteka, hasil kerajinan yang khas berupa kapak kayu. Sayangnya saya tak mencatat penjelasan pak Ir, sehingga saat mau menuliskan di blog ini, ada beberapa ukiran yang saya lupa asal usulnya dari daerah mana. Dan ada juga ukiran dari kayu khas dari papua Niugini.

Hiasan dari Papua Niugini

Hiasan dari Papua Niugini

Sayangnya para pedagang di pertokoan Hamadi ini jarang yang berasal dari penduduk asli Papua, sebagian besar dari percakapan iseng saya dengan beberapa pemilik toko, pada umumnya mereka berasal dari Sulawesi selatan. Mereka ini pula yang juga mempunyai toko di pasar perbatasan yang hanya buka pada hari-hari tertentu, yang sayangnya penjualan di pasar perbatasan saat ini agak menurun terkait dengan adanya beberapa kejadian akhir2 ini. Saya pernah melihat pasar di perbatasan ini, saat kunjungan ke Jayapura pada tahun 2007.

Untuk membedakan apakah sebuah hiasan kepala untuk laki-laki atau perempuan, dilihat dari cirinya. Jika berupa kepala burung, maka itu untuk laki-laki, karena burung cenderawasih khas Papua, yang jantan bulu burungnya lebih menarik dibanding burung yang berjenis kelamin betina.

Hiasan kepala. Coba tebak yang mana yang dipakai untuk laki-laki?

Hiasan kepala. Coba tebak yang mana yang dipakai untuk laki-laki?

Ada hiasan kalung yang bandulnya berupa tulang hewan. Yang jelas saya tak tega untuk membelinya, namun kalau untuk difoto tak masalah.

Kalung dengan bandul tulang hewan

Kalung dengan bandul tulang hewan

Dan biasanya teman-teman menanyakan seperti apa bentuk koteka, yang saat ini sudah jarang dikenakan kecuali untuk acara tertentu, karena sebagian besar penduduk asli telah berpakaian rapi sebagaimana layaknya saudaranya yang lain dari Indonesia.

Koteka

Koteka

Sebenarnya jika kita melihat Jayapura, dan orang2nya, maka yang dinamakan penduduk asli sudah tercampur dengan beberapa pendatang, sehingga yang dimaksud dengan penduduk Jayapura adalah orang yang lahir dan besar di Jayapura. Para penduduk asli telah banyak memegang jabatan penting, dari mulai Gubernur, Direksi Bank, manager di Bank milik pemerintah daerah Papua, juga para pengusaha. Saya melihat, setiap kali kunjungan, saya melihat selalu ada hal baru, perbaikan dan tambahan pembangunan ke arah yang lebih baik.

Iklan

Responses

  1. Topi utk laki2 ya yang berwarna kuning dan coklat, kan cakep. Biasannya untuk jenis unggas yang cantik2 warna bulunya ya yang laki to. Meskipun ga ke jayapura baca blog-nya Bu Eny sy jadi banyak tahu perihal jayapura. Trims ya Bu. Seminggu lagi sdh bulan puasa, mohon maaaf lahir batin ya. semua kesalahan.

    Sosro,
    Entah kenapa bulu burung yang jantan lebih indah, mungkin untuk menarik betina?
    Saya juga mohon maaf lahir batin, semoga puasa kita mendapat berkah dan diterima oleh Allah swt. Amien

  2. aduh mbak Eny..miris saya melihat topi dengan bulu2 burung yg cantik2 itu…konon kabarnya “bird of paradise” sudah hampir punah????

    dan saya melihat di rumah teman2 saya hiasannya adalah burung cendrawasih yg diawetkan…

    saya selalu ingin melihat burung itu terbang bebas di hutan2 Irian…dan mendengar suaranya

    Wieda,
    Berita sedihnya..burung cenderawasih memang menjadi langka dan dilindungi. Sangat tega orang yang membunuhnya dan diawetkan. Entah penjual souvenir dapat bulu burungnya darimana, sebetulnya saya juga kawatir, namun di toko harganya mahal, karena tak banyak yang dapat dijual. Kemarin saya beli dua tas kecil, dari kulit dan bulu rusa…entah benar apa tidak..harganya pun murah, cukup Rp.20.000,- rasanya sedih banget.
    Kalau tas yang dari kulit pohon tak masalah, asalkan mereka tak menebang pohon besar2an, karena alam Papua sungguh indah karena masih banyak pohon nya.

  3. Wew udah 4 kali ke papua, saya belum pernah buk padahal ada saudara disana..
    Pengen banget trip ke raja ampat tp tiketnya muahal πŸ™‚
    Kerajinan papua unik2 ya buk..
    Apalagi ukirannya keren banget..
    Terimakasih infonya..

    Septarius,
    Saya kesana dalam rangka tugas…kalau biaya sendiri memang mahal sekali
    Jika naik kapal laut dari Jakarta ke Jayapura, perlu waktu seminggu di perjalanan

  4. kalo sudah byk penduduk asli jadi pejabat, tapi kenapa koq yah masih ada yg melakukan gerakan separatis bu yakz…

    anyway kapan2 sy mau ke sana ah… πŸ™‚

    aRul,
    Bukankah hal seperti itu selalu ada? Bahkan di negara maju sekalipun? Orang yang tidak puas, dan menganggap dirinya selalu benar, serta menilai diri terlalu tinggi dan merasa layak menjadi pemimpin.

  5. wah, jadi iri sama bu enny, nih, hehe …. bisa menyaksikan langsung barang2 kerajinan produk papua asli. produk yang khas dan eksotis semacam ini yang langka dilihat di daerah lain, bu. kalau toh ada, pasti sudah kehilangan aura keasliannya.

    Sawali Tuhusetya,
    Salah satu keuntungan mendapat tugas jauh, tapi badan juga remuk redam pak, apalagi usia juga makin bertambah. Jadi, setelah selesai mengajar, lebih banyak istirahat di hotel.
    Pertama kali menginjak Papua tahun 1990 an sangat bergairah, apalagi situasi saat itu masih asli, dan masih muda…

  6. Senangnya bisa ke jayapura, cita2 saya bisa keliling indonesia belum terlaksana walaupun baru sebagian kota sudah saya kunjungi tapi mba termasuk beruntung, terimakasih postingannya tentang jayapura

    Abdillah
    ,
    Saya pergi jalan-jalan atas biaya dinas…jadi diantara waktu kerja, sempat melihat kondisi masyarakat setempat dan menuliskannya disini.
    Semoga cita2 mu tercapai nantinya

  7. thx bu…ini membuka mata kami tentang kota Jayapura

    Oelil,
    Sama-sama

  8. pernak pernik dari pulau itu memang cantik dan unik…

    Olodhewe,
    Memang banyak yang dapat dipelajari dari penduduk di pulau itu

  9. Liputannya sungguh menarik, Bu.. Ingin saya ke sana.
    Foto terakhir soal koteka itu mengingatkan saya pada awal masuk SMA di De Britto, 1993 lalu.

    Saya waktu itu baru pertama kali ngeliat yang namanya koteka milik teman saya yang berasal dari Papua (dulu Irian) dan dipajangnya di kamar asrama.

    Dengan polos saya bertanya, “Gimana cara makainya?” :))

    DV,
    Sekarang koteka hanya menjadi barang hiasan, yang dipakai sesekali saat acara adat, seperti festival perang-perangan di Wamena. Jika pada tahun 1995 pas saya ke Wamena, sebagian besar laki-laki masih memakai koteka, juga saat pergi ke Bank, sekarang semua sudah berpakaian seperti saudaranya yang lain di Indonesia. Menurut para peserta pelatihan, yang juga penduduk asli Wamena, hanya tinggal sedikit yang masih pakai (sayang saya belum sempat ke Wamena, karena setiap kali udah cepet pengin pulang ke jakarta jika selesai tugas).
    Jika cuti ke Indonesia saya sarankan melihat pulau di ujung paling timur Indonesia ini, eksotik, pemandangannya indah….masalah nya cuma lama di perjalanan…lha sama jika kita terbang ke Sidney dari Jakarta

  10. reportase lengkap dan memberikan gambaran lebih jelas. suatu saat mudah-mudahan bisa berkunjung kesana

    Antokoe,
    Iya, semoga suatu ketika sampai disana

  11. “Itu sudah…” kata seru sana yang khas..
    Papua memang ngangeni Bu. Jadi teringat akan kalung-kalungnya yang unik dan bagus, warna-warninya sangat khas sana. Apakah ibu juga membeli manik-manik serupa?

    Ade Bayu,
    Saya udah sering kesana, tiap kali beli gelang dan manik2…tapi entah sama si bungsu diapakan…mudah2an sesekali dipakai.

  12. Sayang ya…. padahal benda2 seni/tradisional seperti itu kalau punya channel2 yang baik mungkin bisa laku di luar negeri. Mungkin bisa juga ya dibuat toko online yang menjual kerajinan2 seperti itu…

    Btw…. mudah2an juga burung Cendrawasihnya juga dijaga jangan sampai punah ya, karena itu juga warisan alam yang tak ternilai harganya bukan hanya bagi Papua tetapi juga bagi Indonesia bahkan dunia, jadi jangan sampai punah…

    Yari NK,
    Sekarang burung cenderawasih memang dilindungi, namun konon katanya tinggal sedikit.
    Kenyataannya hiasan Papua Niugini juga banyak dijual di pertokoan Hamadi ini

  13. Wow..menarik sekali mbak…kepingin kesana..
    Trus.pemandangan dan benda benda seni nya itu lho…sangat khas..
    Kalau dihitung…33 propinsi punya sejumlah nilai seni dan keindahan yang khas,yang mampu menjadi unggulan daerah masing masing.

    Dyah Suminar
    ,
    Iyalah mbak..kapan-kapan mesti ke sana. Saya sudah mengunjungi Banda Aceh sampai Jayapura dan Manado…semuanya dalam rangka dinas…hehehe
    Jadi kalau dinas, begitu selesai mengajar atau rapat langsung keluyuran ke pasar, masuk hotel udah tengah malam, menambah waktu kunjungan (biaya sendiri)…lha kalau nggak begitu susah cari waktu lagi.

  14. Bagaimanapun, kebudayaan lokal harus terus dijaga. Bu Ratna telah menunjukkan kisah nyata bagaimana menjaga kebudayaan itu, yaitu dengan merekamnya dengan foto dan tulisan di blog. Merdeka, Bu!

    Bang Aswi,
    Saya dulu sering mendapat tugas ke beberapa daerah, senang mengkoleksi kain atau tenun buatan lokal, sayangnya belum punya blog dan fotonya udah entah nyebar kemana.
    Jadi, sekarang saya mencoba menuliskan jika ada kesempatan tugas ke daerah, walau hasil fotonya nggak memadai.

  15. Pa kabar bunda? Lama tidak berkunjung kesini..

    Membaca tulisan bunda, membuat saya ingin menjajaki kaki disana, melihat ragam budaya yang ada disana.. Membaca paragraf terakhir membuat sedikit senang, semoga hal tersebut dapat terus terjadi begitu juga dengan Indonesia, Terus maju menatap ke depan….

    Semoga dengan pembangungan papua ke arah yang lebih baik, OPM dapat memahami dan dapat mengabdi juga bukan hanya untuk Papua, tapi juga Indonesia…

    Soni Satiawan
    ,
    Kabarku baik-baik aja.
    Sebetulnya Papua daerah menarik dan layak dikunjungi. Orang2nya juga baik serta terbuka.
    Dan semoga pembangunan makin merata, sehingga Indonesia juga makin damai

  16. Saya belum pernah ke Jayapura …

    Terima kasih reportasenya ibu …

    Salam saya

    NH18,
    Jayapura indah pak, terutama saat matahari terbit dan menjelang terbenam. Jika malam hari, lampu berkelap-kelip di bawah dan di tebing..karena kontur tanah di Jayapura berbukit-bukit…indah sekali

  17. Hmm…

    Jayapura. Belum pernah ke sana dan belum pernah sekalipun terpikir untuk pergi ke sana. Tapi setelah baca ini, kok sepertinya menarik sekali ya.. πŸ™‚

    Ah, sayang mahal banget, ya, Bun… Ke Jakarta aja, deh, kunjungin Bunda Eny… hihih

    Lala,
    Siapa tahu nanti Lala kecantol orang sana….hehehe…sehingga tinggal dan menetap di Papua. Jangan heran, yang disebut orang Papua terdiri dari berbagai macam suku, sehingga wajah-wajah campuran banyak sekali.
    Hmm..memang mahal sih..pp di atas Rp. 7 juta

  18. saya juga belum pernah ke jayapura…
    semoga suatu saat kesampaian ya bu enny.

    saya juga miris melihat topi burung cendrawasih itu. apa tidak bisa dibikin yang imitasi saja? biarin deh imitasi, yang penting cendrawasihnya tetap terjaga dan terpelihara dengan baik… πŸ˜€

    Vizon,
    Bukan itu aja uda, dijual pula tas-tas wanita bertali kecil, yang berupa bulu rusa (kata yang jual). Harganya? Cukup Rp.20 ribu saja…
    Sedih…:((

  19. menarik sekali pengalaman ibu, mudah2an saya juga masih bisa punya kesempatan untuk berjalan jalan keiling indonesia..

    Boyin,
    Indonesia pemandangannya indah…setiap kali saya mengunjungi daerah lain, selalu tertarik dengan alamnya…

  20. foto2 nya tampak eksotik banget
    papua bangeeex

    Elmoudy,
    Memang indah…hasil kerajianannya juga menarik…

  21. inilah salah satu sisi positifnya turne ya, bu? bisa menyaksikan indonesia dengan lebih dekat, dan pengalaman pun bertambah. saya iri sekali. sebenarnya saya berkesempatan mengunjungi papua, ada permintaan untuk tugas. namun begitu ada berita pesawat merpati yang naas tempo hari, saya langsung urung. *dasar penakut*

    suvenir-suvenirnya itu, bu. duh, kenapa harus ada yang berasal dari hewan, ya? πŸ˜₯

    Marsmallow,
    Ada beberapa hiasan yang juga dari kulit hewan, seperti kulit dan bulu rusa, bulu cendrawasih dll….sayang tas kulit rusa belum sempat di foto.
    Medan di Papua memang berat, cuaca mudah berubah, karena konturnya pegunungan. Dan penerbangan Garuda hanya untuk Timika, Ambon, Biak, Sorong (jika dari Jakarta). Dari Jayapura ke kota lainnya lebih banyak pesawat kecil, karena landasan lapangan udara pendek, bahkan kemarin cerita teman2, masih ada binatang yang berlalu lalang di landasan. Ada pesawat menabrak burung, anjing dll. Sarannya, jika ingin menjelajah Papua, pergi dengan pesawat paling pagi (karena belum berkabut), dan pulang pagi-pagi lagi.

    Dulu…, saat saya ke Wamena (masih tahun 1995) juga begitu, karena cuaca mudah berubah, namun katanya cuaca Wamena sekarang ini lebih jinak. Jika ke arah Pegunungan Bintang (Oksibil) tempat Merpati jatuh kemarin…jalur udara melalui celah pegunungan, lebih tinggi dari Wamena, menyerupai corong sehingga dorongan angin kuat sekali.
    Jika membaca ulasan pilot yang menulis di Kompas beberapa hari lalu, sebelum menerbangkan pesawat di Papua, maka harus menjadi copilot dulu dan mempelajari daerah-daerah serta perubahan cuacanya.

    Terlepas dari itu, alam Papua sungguh indah..saya bersyukur pernah ke Sorong, Biak, Wamena (Timika hanya transit).

  22. Datang lagi ke blog sahabat, Berteduh mencari makan, Tak lupa salam hangat, Setelah kemerdekaan dikumandangkan

    Rasyid,
    Makasih telah mampir…

  23. Saya belum kesampaian ke Jayapura, Bu. Baru nyampe Manokwari yang sekarang jadi ibukota Papua Barat. Kalau mau melihat penduduk asli sih katanya ke Wamena ya Bu…

    Hery Aswan,
    Saya malah belum pernah ke Manokwari…katanya lebih bagus ya pemandangannya di banding Jayapura?

  24. Wah komplit “laporan pandangan mata” dari pasar malam.

    Dengan laporan macam begini, walau tak menginjakkan kaki langsung di Jayapura, saya seperti sudah merasa kesana.

    Togarsilaban,
    Tapi tetap beda..jika sempat ke sana, nuansa nya akan tetap beda. Semoga anda suatu ketika sampai ke sana

  25. Saya pernah diceritakan seorang kawan yang ikut proyek pelatihan sebulan di sana (tepatnya di mana saya lupa), saya jadi ingin melihat Papua secara langsung. Deskripsi Ibu semakin menguatkan minat saya.
    Sedari kecil, memang citra yang ditampilkan tentang Papua adalah ketertinggalan, tapi saya yakin itu tak sepenuhnya benar, keindahan Papua lebih berarti.

    Salam kenal Bu!

    Adanya otonomi daerah memang meningkatkan percepatan pembangunan di daerah, tentu saja komitmen masing-masing kepala daerah yang perlu dijaga dan dipantau, agar betul-betul melaksanakan amanat rakyat. Papua merupakan wilayah yang terletak di ujung timur dari bagian negara kesatuan RI, sehingga diperlukan sarana prasarana agar bisa menyamakan dengan saudara2 lainnya terutama di pulau Jawa.

  26. […] Operation Reckless Diterbitkan September 27, 2009 Sejarah , militer 11 Comments Tags: Amerika, cyclops, Hollandia, Jayapura, Jepang, macarthur, militer, Operation Reckless and Persecution, Sekutu Teluk Hamadi ini dulu merupakan daerah awalnya para tentara sekutu mendarat, yang kemudian berjalan dan membuat barak pertahanan di bukit Mac Arthur (orang Papua biasa menamakan bukit Makatur), yang terletak di atas perbukitan Sentani. Jika perjalanan ke sana saat ini dengan kendaraan memakan waktu antara 45-60 menit dari Jayapura, saya tak terbayangkan berapa lama tentara Sekutu dulu mencapai atas bukit tsb. ~Bu Enny […]

  27. Hmm… saya ngirim trekbek dari sini, gak masuk ya? πŸ™„

    Kena Akismet

  28. Ibu, menarik sekali oleh – oleh bacaannya.
    Bisa minta info bu, alamat dan kontak detail untuk bisa belanja online barang2 khas Papua?

    Thanks banget bu,

  29. pulau kaya d tanah papua bukan jakarta,bukan solo ,,,,,orang papua itu yang membuat indonesia menjadi bangga

  30. […] 1.Dai Nippon War in West Papua Teluk Hamadi ini dulu merupakan daerah awalnya para tentara sekutu mendarat, yang kemudian berjalan dan membuat barak pertahanan di bukit Mac Arthur (orang Papua biasa menamakan bukit Makatur), yang terletak di atas perbukitan Sentani. Jika perjalanan ke sana saat ini dengan kendaraan memakan waktu antara 45-60 menit dari Jayapura, saya tak terbayangkan berapa lama tentara Sekutu dulu mencapai atas bukit tsb. ~Bu Enny […]

  31. Jayapura memang indah dan eksotik banget terutama saat matahari terbit dan menjelang terbenam,sayang saya hanya seminggu di Jayapura.Pantainya indah,masyarakatnya ramah-ramah.Oleh-oleh khas Papua saya beli di pasar Hamadi,pengen semua saya beli hanya berat bawanya.Ada yang buat saya terkesan yaitu pemberian orang Papua yang berupa piring mahar beliau,padahal baru kenal seminggu itupun ketemu kalau saya dan suami jalan-jalan ke pantai Hamadi yang indah.Trim Pak Abraham,piring khas Papuanya saya pasang di ruang makan lho,jadi setiap saat kami sekeluarga bisa melihat.Satu hal yang belum kesampaian yaitu wisata ke Mac Artur, makan papeda yang lezat itu.JAYAPURA yang cantik dan elok,insyaallah kapan- kapan saya sekeluarga bisa berkunjung lagi.Met tugas ya anakku tercinta di lantamal Angkatan Laut X Jayapura, kau harus bangga ditugaskan di Jayapura -Papua yang elok dan eksotik…. Semoga Jayapura semakin maju dan kaya raya .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: