Oleh: edratna | Agustus 18, 2009

Menunggu di Bandara Sentani

Landasan pesawat di bandara Sentani

Landasan pesawat di bandara Sentani

Pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Sentani sekitar tahun 1995, suasananya sangat berbeda dengan saat ini.

Pada saat ini, bandara Sentani makin bersih dan telah diadakan perluasan dibanding delapan bulan yang lalu, saat saya juga pergi ke Papua dalam rangka mengajar.

Ruang tunggu Bandara sentani, Jayapura

Ruang tunggu Bandara Sentani, Jayapura

Christie-Khristine dan Enny, di ruang tunggu Bandar Udara Sentani, Jayapura

Christie-Khristine dan Enny, di ruang tunggu Bandar Udara Sentani, Jayapura

Namun demikian menurut saya, dengan semakin banyaknya penumpang pesawat yang mengunjungi Papua, dan jika ingin ke daerah lain seperti Manokwari, Wamena, Oksibil (yang baru saja pesawat merpati jatuh saat mendekati pegunungan bintang ini) dan kota-kota lain, maka sebagian besar penumpang harus melalui Jayapura terlebih dahulu. Betapa penting arti bandara di kota Jayapura ini.

Bandar Udara sentani, Jayapura

Bandar Udara sentani, Jayapura

Bandara Sentani terletak di daerah Sentani, perjalanan yang ditempuh dengan mobil sekitar 45-60 menit dari Jayapura. Bandara ini terletak di dataran Sentani, diapit perbukitan. Jika pesawat mau turun, maka terlihat pemandangan indah dari danau Sentani yang luas dan airnya tenang. Begitu juga saat pesawat akan take off, tak puas mata memandang keindahan danau Sentani yang berada di bawah kita. Jika kita sedang melihat monumen Mac Arthur, jendral perang Amerika yang memimpin perlawanan saat perang Dunia II, yang terletak di puncak bukit Sentani, dari atas akan terlihat landasan lapangan terbang Sentani. Dan akan menarik, jika saat kita duduk-duduk sambil menikmati udara yang sejuk karena angin sepoi-sepoi meniup dedaunan di bukit Makatur, ada pesawat yang sedang mendarat atau mau terbang, terlihat jelas dari Bukit Makatur ini.

Suku asli yang mendiami sekitar danau Sentani, terkenal dengan ukir-ukirannya yang berasal dari kulit kayu. Berbagai tas, lukisan yang berhasil dituangkan di atas kulit kayu, banyak menghiasi kamar di hotel Jayapura.

Pagi itu kami menunggu di Bandara Sentani, untuk pulang ke Jakarta. Betapapun indah pemandangan Jayapura, sedapnya makanan olahan dari ikan segar, nikmatnya tidur di hotel, serta ketemu teman-teman lama yang sebelumnya penah menjadi muridku saat pendidikan di LPMP Kotaraja, Jayapura, maka kembali ke rumah tetap merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Dari ruang tunggu bandara terlihat beberapa pesawat berjejer siap melayani penumpang ke berbagai kota di propinsi Papua dan Papua Barat. Khristine (dari Merauke) terlihat gembira akan ketemu dengan keluarganya. “Hanya satu jam naik pesawat bu, ” katanya. “Engkau tak takut naik pesawat kecil?” tanyaku. “Sudah biasa bu, karena di Papua, perjalanan sebagian besar melalui udara,” jawabnya tenang.

Iklan

Responses

  1. bedanya dengan di bandara pattimura, bu, walaupun sama-sama merupakan bandara induk di maluku, tidak ada pesawat parkir. semua penerbangan hanya numpang menaikkan dan turunkan penumpang, setelah itu terbang lagi. benar-benar sepi.

    asyik bisa belajar mengenai pulau paling timur indonesia melalui kisah perjalanan ibu enny.

    Marsmallow,
    Mungkin seperti di Biak, karena merupakan bandara tempat transit. Saya dulu juga transit di Bandara Patimura, saat mau ke Sorong. Sedang bandara Sentani adalah bandara tujuan utama untuk ke daerah Papua. Selanjutnya dari Bandara Sentani ini jika mau ke pedalaman Papua, baru menggunakan pesawat kecil-kecil, karena medan nya memang belum bisa menggunakan pesawat besar.
    Dulu, pada tahun 1995 saya bisa naik pesawat Garuda jenis Foker (isi sekitar 288), sekarang ke sana tak ada lagi penerbangan Garuda.

  2. pengen bgt ke papua… 😦
    pernah ke Lembah Baliem bu?

    Ciya,
    Pernah…pada tahun 1995, dan saat itu alamnya benar-benar masih asli, bahkan pendudukpun sebagian besar masih pakai koteka. Pasar di tengah kotapun masih pakai tenda-tenda…Konon katanya saat ini semua sudah berpakaian, dan sudah banyak bangunan gedung.
    Pengin kesana lagi, tapi setiap kali sudah sampai Jayapura dan tugas selesai, yang ada dipikiran cuma pengin cepet pulang, kembali ke Jakarta.

  3. aseek banget tuh mbak Enny….
    Jadi ingin ke Irian, ingin melihat kerajinan tangan suku asli nya dan menikmati ikan dan menghirup udara segar dan cantiknya bukit Makatur

    cerita yg menarik mbak Enny

    Wieda,
    Ayoo…kalau cuti ke Indonesia, jangan lupakan Indonesia timur…dijamin nggak menyesal, pemandangannya indah sekali.

  4. Wah, bandaranya OK juga ya, Bu meski tak se-OK Hasanuddin?

    Saya jadi makin pengen ke Papua!

    DV,
    Ayo…kalau cuti bulan madu, ajak Joice ke Papua….pasti senang sekali.

  5. Heeem… baca bunda nyebut2 oksibil..
    jadi bergidik lagi.. inget kecelakaan itu..

    Anw syukurlah bunda sehat dan selamat sampai di Jakarta lagi 🙂

    salam,
    EKA

    Eka,
    Kecelakaan bisa dimana saja kan? Jadi ingat, staf saya, yang pulang pendidikan, naik Garuda jurusan Medan dan pesawatnya menabrak gunung.
    Setiap pesawat mau take off atau landing, saya berdoa, karena tak tahu apakah akan selamat apa tidak.

  6. jadi skrg papua udh modern jg ya bu? mudah2an gak mengurangi keindahan alam aslinya deh

    Ciya,
    Pembangunan di Papua terus berjalan….dan mudah2an selaras dengan komitmen terhadap lingkungan hidup.

  7. Apa kabar Bu ? … sudah lama tidak berkunjung ke sini …

    wah, saya juga pertama kali ke Jayapura tahun 1995 dulu … bahkan saya sering main di airport karena klien saya dulu sebuah perusahaan penerbangan …

    wah, kangen lihat Jayapura lagi … makan ikan bakar di sana, wuih, enak banget Bu …

    salam.

    Riri Satria,
    Jayapura telah banyak berubah pak..saya pertama kali ke Jayapura juga tahun 1995 dan terus ke Wamena.
    Sekarang bandaranya makin luas, juga makin bersih…
    Ikan bakar memang terkenal enak, apalagi ikannya benar-benar dari laut yang masih bebas polusi.

  8. Terima kasih ibu Informasinya …
    Saya belum pernah ke Papua …
    Jadi informasi ini sangat baru bagi saya

    Salam saya ibu

    Semoga suatu ketika sampai ke tanah Papua

  9. waah.. makasih bu atas infonya.. sy jg org jayapura, slm knal y bu.. saat ini sy sedang kul di bdg, tp perasaan kngen mw balik ke sana udh ga ketulungan lg, maklum kampung halaman.. hahaha..
    sy udh 18 thn di jypura, lahir di sana, tp ortu sy dua2nya org padang n tggal udh lama di jayapura..
    di sana kalo kekerabatannya terasa dekat dan ramah sekali. kalo udh smakin dekat rasanya mw di angkat seperti saudara.. hahaha..
    sering2 ke papua ya bu.. rencananya jg kalo sy udh lulus kul, pngen ke sorong, manokwari, merauke, wamena, pokoknya muter2 daerah papua.. (terlalu saking cinta berat sama papua)..
    makasih juga ya bu infonya..

  10. Bu, saya mau tanya, apa ke Papua (Bandara Sentani) harus naik pesawat jenis Foker atau sudah bisa pesawat jenis boeing atau airbus? Kalau dari Jakarta apa ada penerbangan yang langsung? atau harus transit berapa kali? mohon informasi penerbangan dari dan ke Sentani.
    Saya pingin ke Papua untuk berkunjung, cuma saya belum tau informasi penerbangannya. Terimakasih.

    Lha, saya kesana kan tugas dari kantor, dan tiket sudah jadi. Anda bisa tanya ke Call center Garuda

  11. Bu Edratna, infonya membantu. Setidaknya sebagai pendahuluan sebelum ke sana. Rencananya saya akan ke Kayu Batu, Jayapura.

    @Benget: Untuk pesawat, kalo dari Jakarta banyak. Surabaya juga. Setahu saya, Maskapai Nasional yang melayani Rute ke Jayapura antara lain: Lion Air, Garuda, Batavia dan Merpati.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: