Oleh: edratna | Agustus 19, 2009

Minggu kemarin jatahnya nonton “Film laga”

Punya anak “maniak film” membuatku terpengaruh juga. Apalagi jika ada waktu dan filmnya adalah film Indonesia. Kalau bukan kita yang menonton film anak bangsa ini, siapa lagi yang mau menghargai? Dan film Indonesia semakin bagus, sehingga saya lihat gedung bioskop juga penuh sesak. Sebelumnya sempat kawatir juga karena harus pergi ke Jayapura, syukurlah saat kembali ke Jakarta, film “Merantau” dan “Merah Putih” masih tayang di bioskop.

Salah satu adegan "Merantau" yang kusuka, melempar lawan dengan tabung gas (apa nggak berat ya?)

Salah satu adegan "Merantau" yang kusuka, melempar lawan dengan tabung gas (apa nggak berat ya?)

Film “Merantau” ini sudah kudengar jauh sebelum diputar, bahkan si sulung mendapat undangan untuk hadir premier langsung dari sutradara nya. Dia sejak lama mempromosikan film ini dari mulut ke mulut ke teman-temannya, karena inilah film silat yang menunjukkan gerakan silat harimau, silat asli Minang (berasal dari Bukittinggi). Dan lokasinya antara lain diadakan di Ngarai Sianok, yang juga menjadi kenangan anakku karena pernah kuajak ke sana bersama adiknya.

Memikirkan strategi setelah tercerai berai oleh musuh. Dan ternyata pak tani (paling kiri) jago berperang juga, bersama anak-anaknya, membantu tentara yang tinggal empat orang

Memikirkan strategi setelah tercerai berai oleh musuh. Dan ternyata pak tani (paling kiri) jago berperang juga, bersama anak-anaknya, membantu tentara yang tinggal empat orang

Sedangkan film “Merah Putih” dipromosikan dibuat dengan biaya Rp.60 milyar, sutradara nya Yadi Sugandi, serta special effectnya diimpor dari para ahli yang pernah membuat special effect Film Holywood.

Sebetulnya saya sendiri belum terlalu sehat sejak pulang dari Jayapura, namun melihat si sulung begitu inginnya mengajak ibu nonton film, Sabtu siang itu kami berdua menonton di PIM, langsung dua film, pertama kali nonton “Merah Putih” pada jam 12.45 wib, yang kemudian dilanjutkan menonton film “Merantau”.

Apa kesan saya? Menurutku dua film Indonesia ini layak ditonton. Adegan silat dalam Merantau, menunjukkan bagaimana sebuah film silat bisa dibuat sedemikian bagus, tak kalah dengan film silat Hongkong yang pemainnya “Jackie Chan“. Film silat ini juga ada unsur dramanya yang membuat saya ikut deg2an…apalagi pada akhirnya (tak boleh diceritakan di sini dulu ……nanti nggak seru lagi). Awalnya saya tak terlalu antusias untuk menonton film “Merah Putih”, apalagi gambar pada promosi film ini, baju para tentara Indonesia saat perang kemerdekaan terlalu bersih. Tapi dalam filmnya, bajunya tak terlalu bersih (atau sudah digelapkan ya? karena banyaknya komentar tentang ini). Film ini nanti ada sequel nya, dan kemungkinannya yang kedua akan lebih bagus dan lebih tegang….semoga.

Jika ingin membandingkan pakaian para prajurit Belanda dan Indonesia, dalam film “Merah Putih” dan “Oeroeg” dapat dilihat dari blog si sulung, ternyata pakaian tentara Indonesia dulu dobel ya..dibalik pakaian warna coklat, didalamnya ada hem putih. Tapi gambaran pakaian dalam film “Oeroeg” sepertinya lebih tepat karena tidak terlalu bersih. Bukankah saat itu bangsa Indonesia bajunya belum sebagus sekarang, bahkan mungkin dari kain blacu. Karena saat saya masih SD pun, kain putih warnanya tak seputih saat ini, dan kain tetoron sudah yang paling hebat.

Namun sebagai orang awam, komentar saya tentunya tak penting…dan yang paling penting menurut saya kedua film ini bagus dan layak ditonton.

Iklan

Responses

  1. aku pengen nonton, tapi sayang nggak ada di bioskop 21.. adanya di Cineplex. Kenapa gak mau kesana, karena tempatnya gak nyaman. lebih nyaman di 21 😦

    huhuhu.. padahal semua film2 bagus adanya di cineplex 😦

    Huang
    ,
    Saya nontonnya di bioskop 21 kok….di Pondok Indah Mal…di Citos juga ada

  2. nunggu di YouTube…hehehehe biasanya saya nonton walau putus2 di You Tube

    oh ya mbak enny, sukini bisa juga diganti dengan “timun suri” (surabaya) atau apa tuh yg bahasa jawanya “krai” pokoknya squas pasti bisa

    Wieda,
    Iya…saya susah menikmati youtube..suka putus-putus.
    Kapan-kapan pengin mencoba ahh, masak sukini …ehh timun suri

  3. Saya menonton film Merah Putih kok nggak bisa menikmati ya, Bu? Duh 😦

    Krismariana,
    Saya dulu pilih-pilih untuk menonton film..yang happy ending, yang nggak terlalu sedih dll. Karena tujuannya adalah refreshing dan menikmati tontonan.

    Gara-gara si sulung suka menonton, serta tak hanya melihat dari sisi skenario, namun juga tekniknya, kamera yang dipakai dsb nya…akhirnya setiap film saya ketularan bisa melihat dari sisi lainnya.
    Kalau hanya sisi cerita, MP belum membuat saya puas (mungkin sekuel berikutnya?), sama seperti KCB I (yang terlalu banyak ceramahnya sehingga seperti nonton sinetron)..namun saya mencoba melihat segi lainnya. Cara penggambilan gambarnya, teknik yang dipakai dan lain-lain…dan sehabis nonton diskusi hebat dengan si sulung….Ssst…ini juga merupakan kesempatan mengobrol dan berdebat dengan anak, karena ketemunya juga jarang.

    Katanya, gambar dibalik layar saat adegan peledakan kendaraan tentara Belanda lebih bagus, tapi pas film nya agak kurang, mungkin karena menggunakan kamera jarak jauh …(entah bener nggak nih analisanya).

  4. Wah jadi pengen nonton nih

  5. MERAH-PUTIH bagus,,,hehehe

    AngelNdutz
    ,
    Udah nonton?

  6. Cineplex itu bukannya 21 yah? Blitz mungkin maksudnya?
    Merantau ada di 21 dan Blitz Megaplex.

    Kunderemp,
    Entahlah, apa yang dimaksud dengan komentar itu. Sepengetahuanku jenis bioskop di Indonesia (terutama di kota besar), hanya dua, yaitu 21 dan blitz megaplex

  7. Buku dan film adalah sasaran yang harus kesampaian saat mudik liburan nanti, Bu 🙂

    Thanks infonya 🙂

    DV,
    Kalau mudik, beli VCD film Indonesia, terus dibawa ke Aussie. Kata Joko Anwar, banyak terdapat di Glodok, cuma saya juga belum tahu tempatnya. Saya tahunya, dan juga beraninya, hanya beli di Disc Tara dan sejenisnya…hehehe
    Buku…waah…makin banyak buku bagus

  8. Bunda.. terus terang saja, pilem Indonesia yang saya tonton di bioskop baru 2: ACDC dan Quickie Express…
    Mumpung masih diputer, saya coba nonton deh (ini karena ibu yang merekomendasikan 😀

    Eka,
    Coba deh, mulai juga menonton film Indonesia, terutama yang bermutu. Selain horor, saya masih bisa menikmati..tentu saja jangan bandingkan dengan film Holywood yang peralatannya canggih, gambarnya jernih dsb nya.
    Secara keseluruhan, film Indonesia makin baik, dan bisa ditonton.

  9. aku pernah liat sih gerakan gerakan yang hampir sama ma film merantau ntu.. film thailand dulu.. tapi aku lupa nama judulnya.. hahaha

    tapi keren indonesia bisa bikin film laga bagus kayak gitu.. jarang jarang kan.. 😀

    salam kenal

    Andri,
    Saya tak pernah melihat film yang kau maksud, namun yang jelas, Film Merantau ini memang mau memperkenalkan bahwa silat asli Minang (bukittinggi) ternyata bagus. Dan pemain utamanya, memang bisa silat, walau bukan silat harimau. Harap diketahui, negara tetangga juga punya silat. Kata anakku, yang pernah nonton kedua film itu, kalau kita sekedar tahu silat, pasti dianggap sama, padahal gerakannya berbeda.

  10. Ehm jadi tertarik nonton Merantau nih kalau adegannya seperti film2 Jackie Chan. Jadi penasaran…Btw, kalau film Merah Putih saya kok belum tergerak rasanya. Sepertinya belum dapat hidayah gitu lho, Bu…

    Hery Azwan,
    Nonton deh Bang…kalau Merantau benar-benar saya rekomendasikan.
    Maklum saya dibesarkan di kota yang silatnya sangat terkenal. Dan teman-teman ku, sebagian besar pendekar silat.

  11. Merah putuh settingan tahun 47. menurut ku sih… wajar kok, asal jangan pakai merk ‘Giordano’ saja

    Arham Blogpreneur,
    Hehehe….justru itu kelemahan dalam MP, bajunya terlalu modern.
    Kalau soal dramanya sih “no comment” mungkin pada sekuel kedua lebih bagus.

  12. blom nonton semuanya.. hiksss
    lagi banyak kerjaan.. plus ada diklat.. ada ujian pula.. hikss

    Ceznez,
    Menunggu CD nya aja nanti…

  13. Merantau pilemnya OK juga, apalagi melihat alam ranah minang dalam pilem ituh wahhhhhh luar biasa….datanglah ke ranah minang….

    Imoe,
    Saya menonton Merantau, jadi ingat saat jalan-jalan ke Padang-Solok-Batusangkar dan Bukittinggi.
    Ngarai Sianok, indah sekali

  14. film Merantau “action” nya keren!!
    tapi sayang “drama” nya tdk terlalu bagus 😦

    Si Bulet,
    Lha kan film silat…saya ngerti maksudmu.
    Jika akhir cerita berbeda, mungkin mereka (Yuda, Astri, Adit), malah masih gelandangan di Jakarta.
    Menurutku wajar, karena kota Jakarta memang tak mudah ditaklukkan oleh pendatang baru.
    Dan ingat pesennya…mesti Keluarga Berencana…hehehe

  15. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    KangBoed,
    Sama-sama, terimakasih….

  16. betul Bun, film-film layak ditonton, kebetulan suami saya sudah menontonnya.
    Apa kabar Bunda, mohon maaf lahir bathin yah menjelang bulan ramadhan ini.
    Kangen ingin ketemu bunda lagi nih 😀

    IndahJuli,
    Saya berusaha menyenangi film Indonesia….cuma yang nggak bisa adalah jika nonton film horor…entah, nggak suka aja.

  17. Mulai banyak mendengear tanggapan dan hasil pengamatan para blogger yang sempat menontonnya, buat saya yang jauhd ari peradaban.. review merekalah yang menjadi acuan apakah dia (film2 baru ini) layak dibeli dan ditonton sekalilgus dipromosikan kepada teman-teman peacekeepers di medan penugasan..

    Meski mungkin kritik pedas dan penilaian minus pada kinerja serta mutu produksi perfilman kita perlu terus ditingkatkan, harus diakui masih jauh lebih baik dari produk sinetron dan film produksi Nigeria (Nollywood) yang marak beredar dan digandrungi di afrika barat ini..

    Maju terus pefilman Indonesia, sudah saatnya juga garapan materinya tidak hanya melulu melongok perihal domestik saja, mungkin bisa mengambil cerita dan isu yang lebih global.. Kita ini bukan hanya warga asia tenggara, namun juga adalah warga global.. mulailah produksi film yang juga mengangkat isu global.

    PS: Selamat menunaikan ibadah puasa ramadhan, salam hangat dari Liberia.

    Kampret nyasar
    ,
    Dalam setiap film, pasti juga ada celah kekurangannya, sama seperti cerita pada novel. Justru itu yang membedakan antara film yang satu dengan yang lainnya.
    Apapun, perfilm an Indonesia perlu di dukung, agar terus berkarya, tanpa kritik dan dukungan, maka negei kita hanya akan jadi pasar film negara lain.

    Saya juga mengucapkan “Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan. Semoga puasa kita diterima oleh Allah swt.”

  18. Wah … saya tidak terlalu hobi nonton film di gedung bioskop … Kalau nonon film kebanyakan di TV itu-pun kadang sepotong-sepotong, bisa cuma bagian awal-nya dulu atau akhirnya dulu. Karena sering diputar-ulang lama-lama komplit juga. Cara nonton film yg aneh … hehehe 🙂

    Oemar Bakri,
    Mungkin bapak memang bukan penggemar film bioskop, namun punya kegemaran lain, seperti membaca buku.
    Bagi saya, menonton film bukan saja sekedar nonton, namun menemani anak, dan pada saat seperti itu, sambil menunggu film diputar kan biasanya makan dulu atau jalan-jalan ke toko buku..disitulah saya bisa mengobrol dengan santai dengan anak-anak. Dengan obrolan itu, saya bisa memahami cara berpikir mereka, lingkungan teman-teman nya, juga belajar banyak hal baru yang tak saya ketahui sebelumnya.

  19. wahhh, belum nonton dua-duanya, gara2 diajakin nonton up sama anak, hihihi…

    nanti sore mo nonton film ini ahhh, mumpung masih anget di bioskop. thanks for share bu enny. Btw, apa khabar?, ahhh, baru kali ini berani komen, soalnya ngomongin yg ringan, hihihi… Love your blog, kerasa banget aura ibunya. Jadi ingat ibu saya 🙂

    Ohya sekalian, selamat menjelang ramadhan ya bu, semoga puasanya lancar, dan diridhoi Allah SWT.

    Salam hangat
    Silly

    Silly,
    Wahh seneng nih di datangi Silly..
    Hehehe…sejak bulan April 2009, isi blogku makin remeh temeh saja, karena waktu tersita untuk hal lain. Namun, karena pada dasarnya seneng mendongeng (dan saat anak besar kan tak perlu didongengi tiap malam), jadi blog inilah jadi arena mendongeng…hehehe
    Kadang ada rasa bersalah juga Silly, kalau hanya menulis yang ringan dan umum, karena merasa kurang sharing atas ilmu yang saya miliki…tapi ya apa boleh buat, pada akhirnya memang waktu yang membatasi.
    Wahh jadi mengingatkan Silly pada ibumu? Lha saya kan memang seumuran ibu nya Silly…hehehe.

    O, iya, selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan, semoga puasa kita diterima oleh Allah swt. Amien

  20. Kostum ya mbak … saya sering dibuat bingung menjawab pertanyaan kedua putraku dan siswaku. Berperan jadi orang miskin, namun ketika sholat mukena yang dipakai sangat mewah …. (salah satu contoh).

    Selamat menjalankan ibadah Puasa Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.

    Puspita,
    Hmm itu memang kadang merupakan kelemahan, walau tak semua film kan?

    Kalau melihat cerita “Merantau” yang menceritakan punya ladang tomat, maka sebetulnya keluarga Yudha tidak miskin, jadi kalau mukena nya bagus wajar saja.
    Kalau kita jalan-jalan ke Bukittinggi, mukena bagus2 lho dan murah, saat saya ke Bukittinggi…saya memborong mukena sulaman berwarna warni untuk oleh-oleh. Dan setting cerita “Merantau” di Ngarai Sianok, yang berada di Bikittinggi, di dekat “goa Jepang”.

    Saya juga mohon maaf lahir batin, selamat menjalankan puasa Ramadhan.

  21. wah serunya bisa nonton film laga ….,
    selamat puasa ya …,

    Cah Joker,
    Terimakasih, selamat menjalankan ibadah puasa

  22. Ingin nonton film ini belum kesampaian. Penasaran dengan teknik silat yang dikemas dalam film action. Tapi menurut info dari teman sih setting2nya terlalu dipaksakan ya (style negeri tirai bambu), seperti jemuran di atas gedung tinggi misalnya, yang tidak umum terlihat di Indonesia.

    Indra KH,
    Sebaiknya menonton sendiri dulu, seingga sekaligus mengecek komentar teman-teman benar apa tidak.
    Jangan lupa, film ini mau menunjukkan silat Indonesia, khususnya silat harimau, pada jurus2nya memang terlihat seperti gaya harimau menerkam.
    Film ini tak dipungkiri, pasti juga punya kelemahan, seperti halnya film lainnya, bahkan film Barat sekalipun.
    Bagi saya, film yang buatan anak bangsa patut dihargai, karena walu ada kelemahan, film ini membuat saya teringat film silat zaman dulu yang lama tak ada penerusnya.

    Kalau soal jemuran di atap rumah, coba perhatikan jika kita berkendara ke arah Bandara Sukarno Hatta, banyak jemuran di atap rumah. Bahkan rumah tempat kost saya pertama kali di Jakarta, yang terletak di daerah Tanah Abang, letak jemuran nya di atap…dan juga pake bambu…karena banyak penjual bambu berkeliling di daerah itu….wahh saya jadi teringat masa lalu.

  23. Belum sempat nonton dua-duanya. Minggu lalu ajak an-is untuk nonton. Eh, pada nggak mau.

    Kombor,
    Untuk film “Merantau” tak disarankan untuk membawa anak kecil, karena ceritanya (bukan adegan silatnya) untuk dewasa. Kalau film “Merah Putih” seingatku anak-anak boleh menonton, kemarin karena bertepatan mau ulang tahun kemerdekaan, malah dikasih ikat kepala merah putih, yang juga bisa untuk dikalungkan di leher.

  24. wuuuhu nonton, asyik besok nonton UP, lagi bagus cerita nya tuh

  25. Waaahhh …
    saya dua-duanya belum nonton nih …

    Masih ada nggak ya di 21

    Salam saya

    Saya barusan lihat Kompas, kayaknya masih ada, tapi entah pas akhir pekan nanti

  26. Pengen nonton keduanya tapi belum sempet. Btw saya dah tahu endingnya tuh “merantau” gara2 kebanyakan googling 😦

  27. Merantau masih lebih baik dari Merah Putih

    Salam kenal 😀

    Maju terus perfilman Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: