Oleh: edratna | Agustus 28, 2009

Sopir Taksi

Minimal seminggu dua kali, saya naik taksi ke jurusan jalan Thamrin dari rumah. Dan karena nggak bisa menyetir, serta badan juga udah mulai dimakan usia, alat transportasi yang sering saya gunakan adalah  taksi, yang bisa di pesan dari rumah. Pekerjaan menyenangkan, tidak full time,  serta banyak sekali mendapat tambahan ilmu, yang sangat berguna bagi saya sebagai pengajar, dan saya bebas mengatur waktu kerja.

Agar tak bosan diperjalanan, saya terbiasa mengobrol dengan pak sopir, secara tak langsung mewawancara mereka dan mendengarkan tanggapannya. Di satu sisi acara mengobrol ini juga membuat pak sopir tak mengantuk, apalagi jika naik taksi pagi hari, yang malam sebelumnya pak sopir bergadang dijalanan mencari penumpang. Latar belakang pak sopir bermacam-macam, ada yang mantan pekerja di Oil Company, namun terpaksa menjadi sopir karena terkena PHK. Yang paling banyak adalah korban PHK tahun 1998. Akibatnya, saya tak jarang mendengar istilah yang awalnya membuat saya kaget…”Bu, bagaimana kalau kita melewati jalan Fatmawati saja, karena lewat jl. Pangeran Antasari sering crowded sekarang, terutama jam pulang kantor? Dari obrolan selanjutnya, saya  tahu ternyata sopir yang mengemudikan adalah seorang Sarjana, dan sambil berusaha mendapatkan pekerjaan lain, dia menjadi sopir taksi.

Yang paling menyenangkan jika sopir nya sopan, dan sangat menyayangi keluarga. Pak sopir yang mengantar minggu kemarin, adalah anak bungsu dari keluarga berpunya. Kakak-kakaknya sangat sedih, namun sopir B ini sangat menikmati pekerjaannya. Dia cerita, awalnya memang berat, karena sebelumnya dia bekerja di perusahaan kontraktor, memperoleh fasilitas memadai, dan mempunyai latar belakang pendidikan Sarjana Teknik. Isterinya saat ini bekerja sebagai sekretaris di perusahaan minyak. B cerita bahwa kakak-kakaknya menawarkan pekerjaan, namun dia ingin mandiri, dan ternyata Tuhan memberikan jalan melalui pekerjaan sebagai sopir taksi.

B juga cerita, sekarang dia menyopir lebih suka malam hari karena jalanan lancar, tapi memang ada risikonya, karena itulah saudaranya sangat kawatir. Tapi B ini juga cerita, pekerjaan apapun sepanjang halal dan kita menikmati, maka hati juga bahagia. “Hari ini, sehabis mengantar ibu, saya juga akan pulang kok, karena hasil yang  saya peroleh telah memadai, ” katanya. Anak B sudah dua yang lulus Sarjana dan telah bekerja, salah satunya bekerja di hotel JW Marriot Mega Kuningan. Hanya anak paling kecil yang masih kuliah.

Beberapa minggu yang lalu, B membawa penumpang, yang setelah masuk ke jok penumpang  langsung kaget melihatnya. “B, ngapain kamu kok nyopir taksi?” B menjawab dengan sopan bahwa memang ini pekerjaannya. Penumpang tadi menanyakan  lagi hal sama, dan B memberikan jawaban yang sama pula. Akhirnya penumpangnya bilang, “B, aku Im teman mu kuliah dulu.” Baru B kaget, karena Im tentu saja telah berubah setelah tak pernah bertemu sekian tahun. Ternyata Im ini kerja di perusahaan minyak, dan pekerjaan sering membawanya bertugas di daerah pedalaman, di laut, namun dia sangat menyenangi pekerjaannya. Pada akhirnya Im mengajak B untuk mencoba peruntungannya di perusahaan tempat Im bekerja. B langsung membuat surat lamaran, dan sertifikat lainnya seperti TOEFL dsb nya.  Betapa B sangat gembira, setelah test, hasilnya dia bisa diterima sebagai pekerja kontrak di perusahaan minyak tersebut. B  hanya akan menjadi sopir taksi sampai akhir bulan ini, karena mulai awal September dia bekerja di perusahaan minyak  dan akan ditempatkan di daerah Natuna. Dia sangat gembira karena berhasil mendapatkan pekerjaan bagus tanpa bantuan saudaranya.

Tak terasa,  taksi telah sampai di gedung tempat saya bekerja, saya turun dari taksi sambil berucap. ” Makasih pak B, semoga krasan di tempat kerjanya yang baru.” Pak B  menjawab sambil tersenyum, “Terimakasih bu, doakan saya agar berhasil bekerja dengan baik.”

Iklan

Responses

  1. apapun pekerjaan seseorang harus kita harga dan hormati ya bu enny. yang penting halal dan baik..
    saya salut dengan orang yang tidak mau bersembunyi di balik nama besar keluarga. berdiri di atas kaki sendiri adalah sebuah keniscayaan untuk dapat menjadi manusia yang sesungguhnya… 😀

    Betul Uda, dan ternyata jika kita menyenangi pekerjaan kita, maka semua dimudahkan oleh Allah swt

  2. Ketulusan, kesabaran dan keikhlasan pak B hanya akan pindah lokasi saja, dari sopir Taxi akan menjadi karyawan perusahaan minyak di Natuna, disana beliau tetap akan tulus melaksanakan pekerjaan barunya….
    Saya yg ikut membaca pengalaman ibu pun ikut merasakan kebahagiaan perasaan pak B…

  3. Wah cerita soal B itu mbikin trenyuh, Bu.
    Saya ingat dulu waktu belum banyak sarjana jadi sopir taksi, sekitar 15 tahun lalu saya naik taksi di Jogja dan ternyata sopirnya sarjana..

    Wah, mendadak trenyuh waktu itu tapi sekaligus menjura hebat karena ia tetap mau bekerja secara halal!

    Betul Don, namun jika menjalani pekerjaan dengan senang hati, akan mendapat kemudahan. Bagaimanapun terkadang kita harus ihlas menjalani kehidupan yang telah digariskan, walau tetap berusaha untuk menjadi yang lebih baik

  4. benar,,,apapun pekerjaanna,yang penting halal

    Yup…setujuuu

  5. mendadak saya menjadi trenyuh membaca cerita B. Bahwa ketika seseorang berusaha sekuat tenaga maka akan dibukakan jalan baginya dengan tidak disangka-sangka.

    Yup, saya setuju. Kita harus menjalani dengan ikhlas, tetap berusaha memperbaiki kualitas kinerja kita dan berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik

  6. Wah, ibu.. hati saya koq jadi bergetar begini… ? 🙂

    belum tentu semua orang mau seperti supir taksi tersebut, hebat..
    postingan yang sangat menginspirasi

    Saya sendiri terharu mendengar cerita pak sopir, dan dia juga terlihat menikmati menyopir…benar-benar orang yang berjiwa besar

  7. mm..
    kisah sopir taksi dari mbak ratna, sama kayak kisah sopir angkot yg biasa aku temui.
    Mereka dari berbagai latar belakang, aku pernah ketemu mereka ada yang pensiunan pegawai negeri sampai seorang PNS yang subuhnya nyopir dulu, baru jam 8 dia ke kantor.

    sekilas kita liat pekerjaan gitu emank rendah, tapi tanpa mereka apa mgk kita bisa diantar sampai ke tujuan?

    Masyarakat kita sering membagi dengan kelas-kelas, padahal menurut saya pekerjaan apapun sepanjang dilakukan secara halal, merupakan hal yang terhormat. Menjadi sopir taksi bukan pekerjaan hina, namun anggapan masyarakat yang perlu diperbaiki. Banyak kok dari mereka yang Sarjana, dan sekarangpun sarjana kan juga banyak yang berwirausaha, berjualan mie dan lain-lain tanpa merasa malu

  8. Banyak hal-hal positif yang bisa didapatkan dari Pak Sopir, termasuk ketika saya naik taksi di Kota Solo. Saya pun mendapat masukan yang sangat berharga, termasuk rumah2 para pejabat, istri Bang Rhoma, sampai hal2 yang berbau menjijikkan semacam prostitusi T_T

    Waduhh…obrolannya bisa seluas itu ya, saya menjaga agar obrolan tak merembet ke hal-hal yang diluar koridor

  9. Kisah yg inspiratif buk.
    Salut sama pak B yg tidak menyerah oleh keadaan.
    Sebenarnya bukan kebetulan pak B ketemu temannya Im, tapi itu adalah hadiah Tuhan atas do’a dan usaha tanpa menyerah pak B..

    Sebetulnya, dari obrolan, pak B juga senang pekerjaan menyopir…dia mau menerima tawaran di Natuna karena dianggapnya tantangan dan gajinya lebih besar, walau terpaksa jauh dari keluarga

  10. yup negara besar seperti di Indonesia memang selalu memandang “prestige”, pekerjaan2 seperti itu dianggap rendah buanget…..padahal ya ngga lah….jadi kadang orang memperlakukan mereka seenaknya……..

    Itulah…padahal pekerjaan apapun, sepanjang halal merupakan pekerjaan terhormat, karena tak semua orang punya keahlian menyopir…contohnya saya sendiri

  11. Kalau pas ke Jakarta, kemana-mana saya naik taksi, dan selalu memilih BB karena ada perasaan lebih aman (apalagi kalau saya sendirian). Beberapa waktu yang lalu, saya dari Bogor nyarter taksi BB ke Jakarta. Sopirnya sudah tua dan sangat baik. Esok paginya, saya minta taksi itu mengantar saya muter-muter di Jakarta dari pagi sampai sore, habis sekiatr 300an ribu. Eh, kemarin Pak Sopir ini sms saya, menanyakan kapan ke Jakarta lagi, dia mau antar … 😀

    Sebetulnya dulu ada taksi “E” yang menurut saya juga baik, tapi karena pernah kecentok, dia minta tambahan uang dalam perjalanan dari bandara ke rumah, wahh…saya terus kapok…pok menggunakan jasa taksi “E” ini. Mungkin karena sangsi perusahaan terhadap sopir jika ada klaim dari pelanggan ditanggapi manajemen dengan baik, yang membuat sopir BB hati-hati dalam berperilaku.

  12. yeah memang mencintai pekerjaan yang sekarang kita kerjakan itu penting.. agar tetep semangat..

    salut buat tukang sopir.. mungkin itu bisa jadi pelajaran buat aku sekarang..

    Apapun pekerjaan nya, sepanjang pekerjaan yang halal, merupakan pekerjaan terhormat

  13. Mohon sarannya dong Mbak…
    Gimana kalo kita udah capek kerja, pengen istirahat sebentar aja di dalam taxi, eh…sopirnya bawel bener, ngoceh ngga brenti2.
    Enaknya diapain tuh ?

    Entahlah…mungkin juga ada sopir yang kurang pas. Saya pernah menemui sopir yang slebor di Bandung, yang tentu saja nggak usah ditanggapi, lha untuk apa?

  14. Salut buat mbak Ratna, setiap saat bisa berbagi dan menimba ilmu. Luarbiasa.

    Saya juga salut pada pak B, tidak menggantungkan nasib pada keluarga, dan akhirnya mendapat pekerjaan dengan caranya sendiri tentu lebih membahagiakan.

    Kadang dari perjalanan sehari-hari memberikan pencerahan, jika kita bisa menikmatinya

  15. ya harus jalani,yang penting itu halal tetep sah2 aja kok..

    Hmmm…

  16. Salut mbak untuk B….kita patut hargai kemandiriannya dan juga tidak malu menjadi sopir taksi.
    Yang hebat lagi mbak Eni….dimanapun dijadikan pengalaman dan pelajaran untuk berbagi cerita dengan banyak orang.
    Dan yang payah…orang Indonesia…sangat membedakan jenis pekerjaan…Sopir taksi ???,sepertinya sesuatu yang tidak pantas.

    Ahh mbak Dyah bisa aja…saya memang suka memperhatikan perilaku orang di sekeliling saya, yang kadang memberikan inspirasi bagi kita.

  17. Saya termasuk yg jarang mengajak ngobrol supir taxi, paling tanya situasi ini-itu sekedarnya lalu biasanya diem lagi, kecuali supir taxi-nya yg ngajak ngobrol duluan … hehehe 🙂

    Biasanya sopir taksi kan nggak mau ngajak ngobrol kalau tak ditanya pak, kawatir dianggap tidak sopan.

  18. Selamat pagi, semoga mbak Ratna hari ini lebih bersemangat, lebih sehat, lebih bahagia dan lebih-lebih yang lain. Amin.

    Pas menjawab komentar ini saat malam hari..jadi jawabnya selamat malam…..
    Semoga mbak Puspita juga sehat-sehat aja

  19. selamat sore mbakk..
    ijin kan saya berkunjung sambil menanti saatnya ber buka puasa..

    Selamat sore…..silahkan

  20. hehehe ibu, saya juga suka mewawancarai supir taksi di mana saja. Di Jepang bu, banyak yang sarjana loh. Bahkan setelah krisis ekonomi, juga banyak yang lulusan Universitas Tokyo (univ yang paling top deh) yang menjadi supir taksi. Kalau di Indonesia mungkin supir taksi dianggap hina, tapi kalau di Jepang? wah …apalagi kalau private taxi, yang mobilnya punya sendiri. Wong yang supir taxi malah bisa punya “My Home” dibanding karyawan biasa.

    EM

    Kayaknya kita punya sifat yang “agak mirip” ya…suka memperhatikan lingkungan sekitar, kepengin tahu tentang orang lain dalam kaitan pandangan hidup, kegiatan sosial, budaya nya dll. Jika ketemu yang pas, obrolan akan menyenangkan, namun terkadang dalam hal mengobrol ini diperlukan unsur “chemistry” yang sesuai.

  21. Memang kalau mengobrol dengan sopir taksi akan ada banyak varian cerita di dalamnya. Mulai dari yang mengagumkan hingga yang konyol atau yang dangkal sekali jawabannya bahkan ada juga sopir taksi yang kurang kooperatif jika diajak ngomong. Bagi saya sih yang penting memang agar saya di Taxi tidak merasa jenuh apalagi kalau jalanan macet huehuehue…

    Ya, biasanya kita akan tahu, mana yang bisa diajak mengobrol dengan menyenangkan dan mana yang tidak. Jika nggak ada chemistrynya, saya kadang malah merem (istirahat) di taksi.

  22. Salut juga sama Pak B itu ya Bu …
    Mau bekerja keras asal halal …

    Dan percaya …
    Bahwa rejeki itu kadang bisa datang dari arah yang tidak bisa kita prediksikan

    Semoga sukses untuk pak B

    Salam saya ibu

    Betul…rejeki itu tak bisa diperkirakan. Kita hanya bisa berusaha, menikmati dan ikhlas atas hasil yang kita peroleh, bekerja dengan rajin apapun pangkat dan jabatan kita, bahkan jika tak ada jabatan. Hasilnya dan kemanapun kita berusaha, yang tanpa disadari meningkatkan kualitas atau kompetensi diri, merupakan bonus, karena orang akan bisa melihat apakah seseorang bekerja dengan semangat tinggi atau tidak.

  23. Selalu ada cerita menarik jika kita berbincang dengan mereka yang di dekat kita dan yang tidak kita kenal. Terima kasih atas tulisan yang mengingatkan kita untuk berjuang terus demi keluarga kita.

    Betul…melihat orang-orang yang berjuang untuk keluarganya memberikan kita introspeksi diri….

  24. Kekasih Sejati yang setia selalu.. DIA rela menunggu walau kita selalu menykiti hatiNYA.. dengan salah dan DOSA.. subhanalllllaaaaah.. DIA MENUNGGUMU.. TANGANNYA SELALU TERULUR MENANTIKAN KITA SEMUA.. YANG MAU KEMBALI KEPADANYA

    Maaf…saya agak bingung mau menanggapi komentar…karena judulnya sopir taksi. Kalau melihat Nya huruf besar, yang dimaksud mestinya Tuhan…tapi saya sulit memahami kaitan dengan cerita di atas.

  25. Wow cerita bunda benar2 inspiratif bunda. Salut buat orang seperti B yang berani untuk mandiri tanpa ada perasaan malu dll terhadap nama besar keluarga. Sebenarnya profesi apapun yang kita tekuni itu sah-sah saja, selama hasilnya halal dan ditempuh dgn cara yang benar.

    Yach, Tuhan itu Maha Tahu, Maha Mengatur, sepantasnyalah kita untuk senantiasa bersyukur terlepas dari apa yang kita dapati sa’at ini (lagi senang atau nggak). Toh, pasti semuanya ada hikmah positifnya. Sukses buat Bp. B semoga di tempat yang baru tambah sukses dan menyenangkan.

    Terima ksh bunda Ratna atas ceritanya yang menarik ini 🙂

    best regard,
    Bintang

    Benar, kadang dar hal-hal kecil sehari-hari, kita bisa mendapatkan pengalaman yang menarik

  26. Tersentuh bunda.
    Semangatnya juga keikhlasannya benar2 luar biasa.
    Thank u bunda untuk sharingnya..
    bener2 thank u..
    it means a lot to me.

    Memang menyenangkan Eka, saya juga terharu melihat semangatnya, dan terlihat betapa dia juga bahagia jadi sopir taksi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: