Oleh: edratna | September 2, 2009

Saat terjadi gempa di Jakarta

Jalan Sudirman yang langsung macet

Jalan Sudirman yang langsung macet

Hari Rabu, saya sedang asyik menyelesaikan pekerjaan, tak terasa jam telah mendekati jam 3 sore. Saya mempercepat pengetikan, agar jam 3 sore bisa pulang ke rumah, karena jalanan Jakarta semakin macet menjelang buka puasa, apalagi hampir setiap kantor memajukan jam kerjanya. Dan hari ini memang ingin pulang cepat, setelah kemarin rapat sampai malam, sekaligus berbuka puasa bersama klien.

Tiba-tiba saya merasa “agak melayang” dan kemudian kursi semakin bergoyang. Karena saya pernah menyebabkan salah satu roda kursi terlepas, saya pikir kemungkinan ada roda kursi yang kurang kuat. Namun, lama-lama kok semakin goyang, dan….saat berdiri dari kursi, saya mau terjatuh, dan langsung berpegangan pada meja. Begitu keluar dari ruangan sambil merambat pada dinding, bosku langsung teriak….”Bu, cepat turun“.

Saya melepas handphone yang kebetulan sedang di charge baterei nya, sambil sempoyongan nyaris terjatuh, dan terasa begitu sulit untuk memasukkan handphone yang masih menyatu dengan charge nya kedalam tas. Akhirnya tas hanya tertutup sebagian, saya menuju meja untuk mematikan komputer yang sedang menyala…namun goyangan makin kuat, saya nyaris terjatuh. Akhirnya saya lari tanpa sempat mematikan komputer, sambil berpegangan dinding hanya membawa tas tangan, dan sampai koridor sudah banyak yang menuju tangga darurat.

Di depan saya persis ada wanita yang jalannya pelan sambil dipeluk laki-laki, yang rupanya sedang hamil. Orang-orang yang kuat, lari melewati saya disebelah kanan. Sambil gemetaran, saya turun pelan-pelan sambil berdzikir dan pasrah apapun yang terjadi. Di tangga, semua orang berdoa menurut agamanya masing-masing bahkan ada yang sambil menangis. Rasanya lama sekali turun tangga dari lantai 18 ke bawah, dan saya tak berani melihat sudah sampai lantai berapa, kawatir malah tak bisa jalan. Akhirnya sampailah kami di lantai satu, dan goyangan masih terasa walau lebih pelan dibanding di lantai atas.

Saya bernapas lega, dan teman merangkap bos saya langsung mengajak pulang. Karena buru-buru, teman yang satu malah lupa membawa kunci motor, dan mau naik kembali mesti menunggu karena kawatir ada gempa susulan. Jadi saya sekaligus pesan untuk mematikan komputer di meja saya. Tas yang berisi file dan buku-buku saya masih berantakan di meja, tapi saya segera ikut naik mobil. Sambil keluar dari halaman parkir, baru sadar kalau mesti mengabadikan situasi ini.

Semua karyawan berhamburan keluar gedung

Semua karyawan berhamburan keluar gedung

Keluar dari halaman kantor, jalan Kebon Sirih terlihat padat kendaraan dan memasuki jalan Thamrin, kemacetan makin menjadi-jadi, rupanya semua ingin cepat-cepat pulang. Sepanjang perjalanan, terlihat gerombolan karyawan, ada yang bergerombol di halaman, dan banyak pula yang berada di pembatas jalan. Saya pikir, jika gempanya besar, orang yang berkantor di jalan Thamrin Sudirman yang penuh gedung tinggi, akan sulit menghindarkan diri jika gedungnya runtuh.

Jembatan Semanggi yang langsung macet

Jembatan Semanggi yang langsung macet

Teman saya mengeluh pusing, dan anehnya saya malah merasa perut terasa “agak kram”, mungkin karena turun tangga dari lantai 18 dalam keadaan tegang. Saya menilpon anak saya, dan ternyata handphone nya sulit dihubungi. Teman saya juga mencoba untuk menilpon, nggak bisa juga. Akhirnya saya mengabarkan melalui sms, tak lama kemudian si sulung sms, kalau dia aman karena berada di lantai dua dan sedang ketemu klien ketika terasa ada gempa.

Kantor saya sebelum pensiun

Kantor saya sebelum pensiun

Si mbak juga sms apakah saya baik-baik aja, karena di rumah Cilandak gempanya sangat terasa. Sampai rumah, rasanya lega, dan badan pegal semua. Tapi besok saya harus berangkat pagi-pagi, mampir kantor dulu untuk mengambil tas yang berisi file, baru kemudian menghadiri rapat di lokasi lain. Begitu sampai rumah si bungsu menilpon, dia yang saat itu sedang di lab, juga langsung lari ke bawah meninggalkan komputer nya di lab, dan kemudian setelah gempa reda, baru diambil lagi. Saat menilpon, dia sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.

Semoga tidak banyak yang menjadi korban jiwa. Terasa sekali, betapa kita, hanyalah manusia biasa yang tak punya kuasa apa-apa.

Catatan:

Foto diambil menggunakan handphone dari balik jendela mobil, sambil menyusuri jalan Sudirman Thamrin yang macet.

Iklan

Responses

  1. Gempa 7,6 sl yang berpusat ditasik, berdampak besar di Jakarta, memang kekuasaan Allah tak ada yang mampu menahannya,, Allahuakbar kami selamat dan semoga kerabat bunda pun demikian,

    Salam kenal yah dan semoga bisa tukeran link di http://zipoer7.wordpress.com

    Iya, itu mengingatkan manusia betapa kita tak ada artinya….
    Salam kenal juga…

  2. Di Yogya juga terasa Mbak. Saya sedang membaca koran, ketika rumah mulai bergoyang (saya tinggal di lantai dua). Tapi karena di Yogya sudah sering gempa, saya tenang-tenang saja, dan bilang santai sama suami “Eh, ada gempa lho!”. Suami saya yang tadinya tidak merasakan gempa, langsung lari turun. Saya tetap di atas (soalnya pakai ‘baju rumah’ sementara di lantai bawah adalah kantor), tapi siap-siap juga, kalau gempa tambah besar baru saya akan turun. Dan karena goyangan lalu berhenti, saya tak jadi turun. Lumayan sih, kaca jendela sampai bergetar, dan air di bak kamar mandi mengombak.

    Setelah nonton teve, baru saya tahu kalau gempanya 7,6 SR. Wow … besar juga. Di Yogya dulu cuma 5,7 lho, dan akibatnya begitu parah.

    Mudah-mudahan gempa kali ini tidak banyak membawa korban.

    Berarti mbak Tuti tak terlalu terasa, atau mungkin karena saya di lantai 18, benar-benar bergoyang dan suara jendela kriek…kriek…bikin serem. Mau jalan aja mesti merambat dinding, pegangan meja, karena udah sempoyongan. Syukurlah bisa selamat sampai bawah…tapi sampai sekarang kaki masih kemeng…

  3. Syukurlah kalau semua selamat. Sampai malam ini sudah ada korban berjatuhan. Semoga ini membuat kita semakit ingat kepadaNya.

    Salam.

    Alhamdulillah, masih dilindungi oleh Nya, tak kurang suatu apa…hanya kaki rasanya kemeng (pegal) semua

  4. Tsaahh…langsung apdet 😀
    Di bandung jg kerasaa banget, “lindu” terlama dan tergetar (duh bahasanya) yg pernah saya alami. Semoga semuanya baik-baik saja…amin.

    Ini memang gempa yang terbesar yang pernah melanda Jakarta, sepanjang saya mengalami nya. Sebelumnya pernah juga terjadi gempa dan saat itu di lantai 19…kursi berjalan sendiri, bertubrukan sama meja dan lain-lain…entah kenapa saat itu malah tidak turun dan pasrah aja kalau ada apa-apa…dan ternyata 5,4 SR.

  5. Wah, gempa memang seperti jadi langganan yah…
    Saya kalau ada peristiwa gempa, ingatan langsung melayang ke peristiwa Mei 2006 di Jogja, Bu.

    Spontan saya sering berpikir, “Besar mana ya sama yang dulu?”

    Semoga sehat dan aman slalu, Bu!

    Kalau buat Jakarta, ini yang terbesar Don, tentu saja lebih kecl jika dibanding gempa tahun 1908, tapi saat itu kan belum lahir…..benar2 serem, apalagi telah ada trauma tsunami, gempa Yogya dll…sehingga memaksa turun dengan trantanan…sampai sekarang kaki masih kemeng

  6. alhamdulillah kalau kemudian ibu baik-baik saja.
    ditempatku meskipun lebih dekat ke tasik di banding Jakarta, akan tetapi goyangannya hanya pelan saja, mungkin seperti yang dirasakan Bu Tuti, bahkan saya tidak begitu menyadari kalau sedang gempa karena saat itu sedang bercanda dengan anak

    Alhamdulillah pak…tapi mungkin memang bapak kebetulan bukan di lantai tinggi pak. Kalau dilantai 10 ke atas…wahh serem..lha gedungnya bergoyang…kawatir aja kalau ambruk

  7. Ring of fire……gempa gunung berapi dll……

    trus gedung tempat mbak Eni ngantor retak2 ngga?

    semoga semua baik yah, saya pribadi sangat sedih mendengar gempa ini, sehingga saya telp semua saudara2 saya yg tinggal di dekat sukabumi dan bandung

    Alhamdulillah gedungnya aman..tadi pagi-pagi ke kantor cuma ambil buku-buku yang ketinggalan dan terus rapat di lokasi lain. Kemarin juga langsung pulang…udah trauma untuk melanjutkan kerjaan….apalagi memang mendekati jam pulang kantor.

  8. di pabrik tempe tempat saya nguli juga terasa. Getaran pertama membuat hening para karyawan, getaran berikutnya membuat saya berteriak “Keluar ruangan sekarang Juga !!” . Spontan sekitar 1500 orang panik dan keluar ruangan.
    Gempa kemarin meski besar namun masih “halus” sehingga hanya menggoyang mesin dan instrumen, tidak menjatuhkannya.

    Konon katanya, kalau lagi berkendara malah tak terasa..yang terasa malah yang lagi diam

  9. Wah, gempa kemarin juga sempet membuat saya dan teman2 buru-buru turun bunda. Kebetulan saya hanya dilantai 2 tapi juga nggak sempet bawa hp apalagi tas, kondisi komputer juga masih nyala malah file belum sempet di save pas turun, dan lihat teman2 yang lain, terutama yang dari di lt. 8 pas turun kebawah lumayan terlihat ngos-ngosan.

    Semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja yach bunda, karena pas denger berita lewat TV di Jkt sempat menelan korban jiwa juga, ikut prihatin.

    Best regard,
    Bintang

    Waduhh …untung masih di lantai 2..lha kalau lantai 18 kayak saya, ketinggalan tas dan hape, bisa klenger duluan…karena pasti kawatir ada gempa susulan atau apa kalau mau naik lagi

  10. Gempa kmrn memang sangat terasa bunda…
    terasa bgt…

    Waduuh turun dr lt.18
    astaga.. itu perjuangan ya bun…
    yg kalau bukan krn darurat pasti males bgt 😉

    syukurlah semua selamat ya bunda 🙂

    Iya Eka…dan terasa sekali beratnya bagi orang seusia saya. Di depan saya malah ada yang lagi hamil…saya tak terbayang, lha yang tak hamil aja, perut terasa kencang

  11. Wah Bu Enny masih sempat2nya moto. Reportase yang lengkap…Syukurlah, Ibu sehat2 saja…

    Hehehe…fotonya pake hape murahan kok bang…jadi hasilnya tak terlalu bagus. Sayang kalau nggak diabadikan

  12. Hari Selasa? Kayaknya hari Rabu deh Bu…

    Iya, saya udah bingung dengan hari…makasih koreksinya udah saya betulkan

  13. saya juga merasakan gempa itu, sedikit. awalnya saya pikir hanya halusinasi karena berpuasa, eh ternyata beneran. tapi syukurnya karena sudah sering dapat gempa, maka tidak terlalu panik..

    saya turut berduka dengan musibah ini,
    semoga kita dapat mengambil hikmah dari ini semua. ujian yang sesungguhnya dimulai setelah gempa itu terjadi, bukan di saat kejadian.
    semoga bangsa kita semakin cerdas memaknai semua ini…

    Sama Uda, saya pikir badan saya kurang sehat, kok agak terasa “nggliyer” (melayang)…ternyata gempa. Disini kita merasakan bahwa kita hanyalah makhluk yang tak punya kuasa apa-apa. Namun saya merasakan ketenangan saat turun dari tangga, yang muslim berdzikir, sedang yang beragama lain berdoa menurut agamanya sambil berjalan dan tolong menolong. Jadi, perasaan terasa damai….tangga darurat dipenuhi dengungan orang yang berdoa

  14. Ini sebuah peringatan dari Tuhan…
    Syukur alhamdulillah bu Eny gakpapa..
    Turut mendoakan bagi para korban..

    Betul, mengingatkan kita, bahwa manusia makhluk yang fana, dan tak punya kuasa apa-apa dalam menghadapi kejadian alam yang hebat seperti ini

  15. di Jogja juga terasa mbak
    saya sedang chatting dengan staf ketika terasa kursi dan meja bergerak gerak.
    Kami yang di Jogja selalu trauma dengan gempa ,yang beberapa tahun lalu…27 mei melulumpuhkan jogja dan sekitarnya.
    Alhamdulillah mbak eni dan keluarga tidak apa apa…

    Saya terbayang mbak Dyah, adik saya yang kebetulan lagi di Jogya, awalnya mengira gunung Merapi batuk…ternyata gempa

  16. saya mesti turun dari lantai 27 Buuuuu.. 😥

    Waduhh Chic…lha saya yang di lantai 18 aja, udah serem banget, apalagi lantai 27???
    Teman anakku malah ada di lantai 49…mungkin kalau udah setinggi itu, ya pasrah aja..kalau turun bisa pingsan kelelahan

  17. sekedar info, kita sering terpaku dengan “besaran” gempa bernama Skala Richter. skala ini sebenernya dipakai utk mengukur kekuatan gempa, sedangkan utk ngukur kekuatan kerusakan akibat gempa digunakan skala MMI (Modified Mercalli Intensity). SR besar belum tentu MMI besar, karena tergantung dari jarak episentrum dan kedalamannya.

    kita seringkali salah sangka dengan skala SR, bahwa kalo SR besar “pasti” kerusakannya parah, padahal belum tentu begitu.. 🙂

    Zam, yang jelas kemarin itu serem banget, apalagi bunyi kriek…kriek kayak yang mau patah. Yang dilantai bawah dan bisa lari duluan, malah lebih serem karena melihat gedungnya bergoyang-goyang kayak pohon diterpa angin

  18. syukurlah ibu tidak apa-apa….

    Alhamdulillah…walau kaki masih kemeng sampai sekarang

  19. Benar ibu …
    Gempa kemarin ini … terus terang merupakan gempa terdahsyat yang pernah saya alami …

    Dan jujur … hati saya ciut juga kemarin …

    But Alhamdulillah … saya sehat-sehat saja …
    demikian juga harapan saya untuk ibu …

    Walaupun sampai saat ini kaki saya masih “njarem” dan “kemeng … akibat musti turun 19 lantai kemarin …

    Salam saya Ibu …

    Wahh…memang serem ya. Lantai 19? Lebih tinggi dibanding saya saat itu…..pasti pegel juga ya kakinya

  20. Saat gempa, saya tidur nyenyak. Nggak tahu orang ribut dan keluar rumah. Untung rumah nggak sampai runtuh. Kalo runtuh, saya mungkin sudah jadi almarhum.

    Konon katanya, yang sedang dalam kendaraan berjalan atau tidur tak berasa apa-apa

  21. akibat beberapa kali digoncang gempa bumi, saya lumayan trauma dengan kejadian ini, bu. syukurlah ibu masih fit setelah turun sejauh 18 lantai dengan keadaan panik. dan mudah-mudahan dampak gempa kali ini tidak menimbulkan banyak korban, jiwa maupun harta benda, walaupun agak sulit berharap demikian mengingat kekuatan gempanya.

    turut berduka cita bagi para korban di tasikmalaya.

    Sebetulnya kaki kemeng juga, mungkin juga karena turunnya sambil menekan kaki….kalau turun dalam kondisi biasa mestinya tak apa-apa, walau tetap aja capek.

  22. Padang sejak beberapa thun ini selalu di guncang gempa hebat buk, tapi lama-lama seluruh masyarakat jadi lebih siaga dan belajar tentang hal ikhwal gempa ini. Oleh karena itu, saya kira semua kita sudah harus menjadikan informasi gempa dan cara-cara menyelamatkan diri menjadi sebuah keharusan untuk dipelajari. Melengkapi seluruh bangunan dan rumah dengan peralatan standar penyelamatan diri, agar tidak jatuh korban akibat kepanikan kita.

    Mudah-mudahan trauma cepat berlalu.

    Kayaknya memang makin sering terjadi gempa ya

  23. pas gempa saya lg psikotes buat kerjaan.. jd qta lari keluar sambil bw2x kertas tes :D..

    tp memang yg paling bsr yg pernah sy rasain, lampu jalan sampe goyang2x

    Terus, ceritanya lulus nggak? Apa sesudah itu, tes nya diteruskan?

  24. Alhamdulillah mbak Ratna sekeluarga dalam lindungan Allah SWT.

    Selamat berbuka puasa.

    Semoga keluarga yang sedang tertimpa bencana mendapat ketabahan dan kekuatan dari allah SWT. Amin.

    Terimakasih……gempa ini mengingatkan kita, betapa manusia tak ada artinya dihadapan Nya

  25. gw wektu itu di Mampang… cukup panik dikit n kepala puyeng…

    gempa yg bikin heboh….. slalu saja datang tiba2.
    Coba kalo permisi dulu… hayyaaahhh

    salam persahabatan Bu…. n met puazaa

    Waduhh…kalau permisi dulu lain ceritanya

  26. kami sekeluarga di bandung juga merasakannya…

    Iya, apalagi Bandung lebih dekat dengan lokasi asalnya gempa

  27. Bunda…temenku yang kerja di jakarta di lantai 11 sempat schock karenagempa ini…serem ya… 😦

    semoga orang2 yang terkena musibah tabah ya bunda…

    Memang banyak juga yang trauma, terutama yang berkantor di gedung tinggi

  28. Senang membaca ibu tidak apa-apa.
    Tapi merasakan gempa dari lantai 18 memang menyeramkan. Apalagi musti turun tangga sambil melihat kepanikan

    EM

    Wahh betul Imel…deg2an sambil berdoa, berpegangan pada pinggiran tangga. Langsung kabur pulang…dan jalanan langsung macet total, semua pengin pulang.

  29. Semoga Gempa2 ini suatu ujian BUKAN ADZAB dari Illahi..

    Memang Indonesia termasuk negeri yang berisiko terhadap gempa

  30. mbak..malam ini gempa lagi di Wonosari dekat jogja
    Alhamdulillah tidak ada korban atau kerusakan parah,hanya sebentar sekali…tapi 6,3 sr
    Btw…saya lari keluar rumah….masih pakai piyama..

    Iya, saya juga mendengar, setelah itu terjadi gempa di Yogya. Pakai piyama? Waktu itu saat malam hari ya?

  31. Ada ada saja lari pakai piyama di Jogja

    Lho! Ya, wajar aja

  32. kalo saya mah ngerasain goyangannya di lantai 9… udah niat cuman pasrah diam di TKP, ee lha koq satu kantor pada turun semua…

    e tapi serem juga bu, bayangin kalo satu kejadian kayaq gini bisa berefek domino, membuat bagian lempeng-lempeng yang masih labil buat ikutan mencari posisi paling stabil lewat tahapan bergoncang gempa…

    Sebetulnya aturan yang benar, saat masih gempa, berdiam diri dulu, nanti jika reda, baru turun dari tangga

  33. Semoga negeri ini terhindar dari bencana yg lebih besar

    Saya juga berharap begitu

  34. saya pas blogshop di Medan waktu itu..tapi pernah gempa pertama yang tahun lalu, malam malam di Jakarta..turun 27 lantai lewat tangga darurat..wadoh

    Lantai 27? Dan malam-malam? waduhh…lantai 18 aja dan siang hari rasanya udah gemetaran

  35. Sungguh kecil manusia di hadapan-Nya, cukup digoncang kalang kabut semua, harta tahta tak semua lupa. Ilmu yang ada pun ternyata sangat kerdil dibanding ilmu Allah, karena ilmu manusia tak mampu sedikit pun untuk menghalangi bencana gempa. Semoga kejadian ini bisa menambah keimanan kita.

    Betul…kita tak ada artinya dihadapan Nya. Semoga kita makin beriman

  36. waktu terjadi gempa saya sedang duduk di depan komputer, bu. tiba-tiba kepala seakan pusing, karena monitor seperti gerak-gerak, ruangan kantor seakan berputar. eh, tiba-tiba kursi serasa goyang. oh, ternyata gempa. saya tahu itu gempa setelah seisi kantor lari terburu-buru ke luar kantor. untung cuma sebentar.

    Lha foto di blog mu kok ada rumah yang retak-retak…dimanakah itu?

  37. Terasa juga di tempatku. Di Pekalongan. Saat itu aku kira aku vertigo karena puasa. Tapi setelah aku lihat di detik.com, wah…ternyata gempa beneran.

    Memang awalnya banyak yang mengira lagi pusing, kebetulan bertepatan dengan puasa

  38. waktu itu saya sedang mengendarai mobil dan terhenti sesaat karena saya fikir mobil saya bermasalah ternyata gempa hehehe eh tinggal 10 hari lagi lebaran

    Memang banyak yang tak terlalu merasakan jika gempa terjadi saat mengendarai mobil, cuma terasa agak seperti di dorong.

  39. Wah.. gempa yg kemarin untung sedang di Lantai 3 jadi goyang sih, tapi gak terlalu mengerikan.

    Saya sempat merasakan beberapa tahun lalu saat kerja di lantai 26. Duh.. itu asli susah berdiri dan pusing karena ayunan gedung makin tinggi makin kerasa.

    Tapi yang penting semua selamat yaa Bunda.. 🙂

    <*Tentu tetap berduka dan bersimpati, untuk saudara2 kita lain diwilayah gempa yang menjadi korban.*

    Betul mas Nug, yang hanya turun dari lantai 18 aja sudah gemetaran, terbayang para korban yang daerahnya terkena kerusakan parah

  40. saya dan teman-teman langsung keluar gedung.. beruntung di lt.1… bahkan ada yang nyeker udah ga mikir pake sepatu segala!
    salam kenal…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: