Oleh: edratna | November 17, 2009

Jika gunung Salak tertutup kabut…

Bagi yang pernah tinggal di kota Bogor, keberadaan gunung Salak menjadi acuan kehidupan masyarakat teutama dalam hal kaitan meramalkan cuaca di daerah Bogor dan sekitarnya. Bahkan kata-kata …jika gunung Salak tertutup kabut….ada dalam materi kuliah Ilmu Statistika (hukum peluang) yang ditulis oleh alm Bapak Andi Hakim Nasution, dosen IPB yang sangat saya kagumi.

Pertama kali datang ke kota Bogor awal tahun 70 an, saya disambut hujan rintik-rintik. Bogor memang terkenal dengan sebutan kota hujan, karena rata-rata curah hujannya yang tinggi sepanjang tahun. Selain itu hawa kota Bogor yang segar, dan jika memasuki kota Bogor melalui jalan Jakarta, dikiri kanan jalan mata kita disuguhi oleh berjejeran pohon kenari (ingat lagunya Erni Djohan tahun 60 an?), dan dijalan jalak Harupati (dulu Otista), daun pepohonan di kiri kanannya membuat sinar matahari hanya sedikit yang sampai ke tanah. Suasana teduh, damai, dan jika senja hari cenderung agak seram, membuat saya segera bergegas untuk segera sampai ke tempat kost. Apalagi saat itu kendaraan bemo hanya satu dua, dan tempat kostku tak dilalui rute bemo.

Itulah pertama kalinya mendengar kata-kata …jika gunung Salak tertutup kabut……

Om tempat kost ku yang pertama kali dengan semangat bercerita, jika kita melihat ke arah gunung Salak, dan kemudian pelan-pelan gunung Salak tertutup kabut, maka tak lama lagi kota Bogor akan turun hujan. Saya cuma tersenyum mendengarnya, namun rupanya ungkapan itu memang menjadi keseharian masyarakat kota Bogor saat itu.

Dan peranan gunung Salak ini makin besar saat saya tingkat akhir dan harus melakukan penelitian lapangan, sebagai dasar pembuatan thesis, di areal persawahan IPB di daerah Darmaga, kira-kira 12 km ke arah barat dari pusat kota Bogor. Awalnya saya mencoba tidur di asrama putri kehutanan, yang hanya berjarak sekitar 1 km dari ladang tempat saya meneliti. Namun letak asrama putri Kehutanan yang berada di tengah-tengah kebun karet dan merupakan bangunan kuno bekas Belanda, terkenal dengan hantu-hantunya. Akhirnya saya memutuskan lebih baik berangkat jam 5 pagi dari asrama putri IPB di kota Bogor (sayangnya sekarang sudah jadi Mal),ย  ikut bis IPB yang menjemput para dosen yang tinggal di Darmaga, dan saya berhenti di mulut jalan ke arah persawahan/ladang. Saat di ladang, gunung Salak yang menjulang tinggi di arah timur selatan, selalu menjadi panutan bapak ibu yang membantu saya di ladang. Ucapan…”Ayo kang, segera, gunungnya hampir tertutup kabut”….(sayang saya lupa bahasa Sundanya…) menjadi bahan percakapan sehari-hari. Dan begitu kabut mulai menutup gunung Salak, tak sampai 5 menit kemudian akan turun hujan. Dan hujan akan berlangsung lama, jika cuaca disekitarnya berwarna putih dan benar-benar tak terlihat gunung Salak di kejauhan.

Di dekat ladang terdapat rumah mandor, yang berhadapan dengan gudang dan tempat jemur hasil produksi kebun IPB. Rumah mandor ini sederhana, punya kamar mandi tersendiri di luar rumah dari bambu yang dianyam, dan airnya segar. Dan sayapun nitip baju serta sewa kamar di rumah pak mandor ini, walau kenyataannya saya lebih memilih pulang ke APIPB dan menunggu bis IPB yang akan pulang ke Bogor di mulut jalan. Kadang-kadang saya kurang beruntung, terpaksa naik angkot yang saat itu sudah suka ngebut ke Panaragan (wilayah di barat kota Bogor), yang selanjutnya naik Bemo ke Pasar Bogor dan ganti lagi ke arah asrama putri. Penelitian ini berlangsung setahun, sejak dari pengambilan contoh tanah, diteliti di lab tanah untuk melihat unsur haranya, kemudian dilakukan penggaraman dengan kapur agar ph tanah mendekati 7 (tujuh). Setelah dibiarkan beberapa lama, baru tanah dapat diolah, berupa petak-petak, yang kemudian diteliti bagaimana pengaruh pemupukan, dan penyiangan daun terhadap hasil produksi. Sangat melelahkan, karena semua dilakukan sendiri, dengan dana sendiri yang sangat terbatas, sampai akhirnya saya berpikir bahwa acara mapram masih lebih mudah karena lebih singkat dibanding saat melakukan penelitian di tingkat akhir. Dan saat-saat dilapangan, sendirian, hanya beserta para bapak ibu yang membantu di kebun, mata saya menerawang ke gunung Salak, akankah turun hujan sebentar lagi?

Sekarang Bogor telah padat dengan perumahan, gedung bertingkat, asrama putri IPB yang terletak di Baranangsiang dan asrama putra “Ekalokasari” telah berubah menjadi Mal. Bahkan perjalanan dari pasar Bogor ke jembatan merah dekat Panaragan, pernah saya tempuh lebih dari satu jam, dan sekarang Bogor lebih dikenal sebagai kota angkot. Kemajuan terkadang menghilangkan sisi yang lain. Gunung Salak mungkin sudah tak bisa dipakai sebagai acuan lagi, karena tertutup oleh gedung tinggi, namun kehidupan terus berjalan. Dan kenangan atas Gunung Salak, tetap terpateri di hati saya, dan mungkin bagi teman-teman yang pernah merasakan situasi zaman itu.

Iklan

Responses

  1. sayang kalau sekarang bogor menjadi kota angkot. padahal dulu kalau mendengar kata bogor yang ada di benak saya adalah dingin dan tempat yang nyaman untuk beristirahat.

    Iya..padahal Bogor itu indah sekali, hawanya segar, sejuk dan tak terlalu dingin. Jalannya juga naik turun, benar-benar indah

  2. Ibu …
    saya dibawa nostalgia ke masa kuliah dulu …
    meskipun tahun kita berbeda …
    namun cerita-cerita ibu itu sungguh juga (beberapa) saya alami …
    Gunung Salak yang tertutup kabut … Kebun Percobaan Darmaga dan sebagainya …

    Yang jelas satu lagi kenangan yang tak kan pernah saya lupa …
    Pohon Kapuk Randu di halaman kampus …. yang jika berbuah … kapuknya beterbangan … macam salju layaknya …
    Ah indahnya …
    sayang beberapa dari kenangan itu kini hanya tinggal kenangan …
    Kampuspun (termasuk APIPB) sebagian telah berubah jadi Mall kini

    Salam saya

    Hehehe..nostalgia nya mirip ya…
    Saya dulu sempat kost 3 (tiga) tahun di jalan Rumah Sakit II no.1, sebelum pindah ke asrama putri.
    Jika pagi hari, hawa masih dingin, melihat matahari bersinar dan gunung Salak di kejauhan

  3. Halo Bu, apakabar? Btw, Si Jalak Harupat dan Otto Iskandar Dinata kan sami mawon ๐Ÿ™‚

    Kabar baik Ikram…jalan Jalak Harupati memang sama dengan Otista (ini nama yang lama)

  4. kalo nonton di BTM di tampak pemandangan indah gunung salak sambil minum kopi oh indahnya alam bogor ku.

    Betul…memang Bogor indah…wajar jika banyak teman2 yang berasal dari Bogor tetap bertahan punya rumah di Bogor dan ke Jakarta pulang pergi.


  5. Gunung salak itu banyak pohon salaknya ya buk..? ๐Ÿ™‚

    Kenyataannya, saya belum pernah naik ke Gunung Salak…karena yang sering dipanjat orang adalah gunung Gede

  6. Tapi yang tak ada perubahannya “Bogor kota Hujan”… maseh melekat dgn nama & kondisi saat ini…yach..
    Salam Hangat

    Hujannya tetap sering …cuma memandang gunung Salaknya yang tak bisa langsung lagi.
    Dan Bogor di siang hari panas dan macet

  7. Kenapa gunung itu dinamakan Gunung Salak ya, Bu? apakah banyak pohon salak? atau salak dalam bahasa Sunda punya arti lain?

    Saya tak tahu Nana, mungkin ada teman blogger lain yang tahu…?
    Padahal gunung yang didekatnya namanya Gunung Gede.

  8. Jangankan sekarang ya, waktu aku mendesain untuk gedung Bogor Trade Mall saja sudah mulai terasa penuh jalanannya… Dan Bogor juga sudah panas.

    Betul Kika….memang Bogor sudah menjadi kota macet

  9. Saya sering ke Jakarta, tapi ke Bogor baru sekali waktu SMP dulu… sekarang juga sudah lupa rupanya seperti apa…

    Eh btw, tau nggak Bu, buah salak itu bahasa inggrisnya adalah snake fruit karena kulitnya bersisik seperti ular… Apa gunung salak bersisik juga? Hihihi…

    Dulu, Bogor selalu dilalui orang jika bepergian ke Bandung lewat Puncak. Belakangan orang lebih memilih lewat Padalarang, karena jalur Puncak selalu macet saat liburan akhir pekan. Dan dulu ke Bogor 60 menit dari Jakarta, dan menjadi 30 menit saat awal Jagorawi baru dibuka. Sekarang juga masih sekitar 30 menit kecuali jika pas pulang kantor atau hari libur.

  10. kearifan alam ๐Ÿ™‚

    Yup

  11. Kemajuan selalu membawa perubahan tinggal bagaimana men- “desain” agar perubahan itu ke arah yg lebih baik (seharusnya) dan juga tinggal bagaimana kita menyikapinya …

    Betul pak, perencanaan kota memang perlu agar kemajuan teknologi tak membuat manusia menjadi kurang nyaman

  12. Perkembangan pembangunan mengorbankan keindahan alam yang seharusnya menjadi pemandangan indah bagi siapa saja yang melihatnya. Apalagi kalau sampai tidak memperhatikan kondisi dan keseimbangan lingkungan alam. Akhirnya rakyat juga yang menanggung akibatnya.

    Hmm…PR bagi kita semua

  13. berkunjung…..
    kenangan masa lalu, menyenangkan sekali….

    Yup…betul

  14. bogor dulu dan sekarang memang beda…..
    dulu dengar kata bogor, yang terbayang adalah suasana sejuk, kelabu dengan sinar matahari yang hanya menghangati. sekarang…….

    Sekarang..definisinya apa?
    Apa yang terbayang jika mendengar kata Bogor?

  15. Konon kabarnya, di Gunung Salak ada harta dari pengusaha asal Belanda yang kabur sebelum pendudukan Jepang ke Indonesia. Ada juga dalam bentuk emas VOC.

    Ade berminat mencari harta karun???

  16. waktu ke Bogor bulan Juli lalu, gak melihat gunung Salak, Bu. tapi macetnya kota Bogor dan suara klakson yang bersahut-sahutan ๐Ÿ˜€

    Betul Fety, keindahannya kalah dengan klakson angkot …sayang sekali

  17. alhamdulillah, masih bisa melihat gunung berkabut

    Iya..tapi itu duluuu…..sekarang sudah tidak lagi

  18. memang harus ada yang dikorbankan demi kemajuan zaman ya bu… termasuk kesejukan dan keindahan pemandangan.. harus kita terima sebagai sebuah harga dari peradaban… ๐Ÿ˜€

    Betul Uda, apalagi manusia juga makin bertambah berlipat kali, membutuhkan sandang, pangan dan perumahan

  19. Iya Bu, kalau sama buat apa diganti hehehe. Kabar saya baik juga ๐Ÿ™‚

    Syukurlah Ikram baik-baik aja…lama saya nggak nengok blogmu

  20. Bogor….selalu saja berkesan manis, soalnya saya kenal kue moci ya di Bogor ini…sayang sekarang Bogor macet total…masak seh mau ke cibadak saja harus ditempuh lebih dari 4 jam?
    Dulu saya senang sekali dengan Lido atau Cimelati, sayang sekarang Lido sudah ngga ada cantik2 nya…dan Cimelati macet cet….hehehe cimelati ini dikaki gunung salak

    Iya..dulu Lido dan Cimelati memang terkenal banget…sering dipake untuk acara keluarga, kantor, acara kemahasiswaan.
    Dan jika hari Sabtu dan Minggu, harga-harga di Bogor ikutan naik dua kali lipat, gara-gara banyak orang Jakarta sepulang dari Puncak mampir belanja di Bogor. Dan terpaksa melatih bahasa Sunda, agar dapat harga lumayan…atau tak usah belanja di hari Sabtu atau Minggu

  21. kota angkot?? wah bayangan saya tentang kota Bogor yang sejuk, asri, dingin rupanya harus segrea dihapus dari benak saya dong Bunda??

    Dulu Bogor memang dianggapkota peristirahatan karena hawanya yang sejuk, bukan dingin. Tapi akhir-akhir ini, makin banyak angkot membuat kemacetan dimana-mana, dan klakson yang bersahut-sahutan membuat Bogor menjadi kota yang kurang menarik lagi untuk dikunjungi, kecuali memang ada perlu.

  22. Wah, Bu … dulu merantaunya jauh sekali ya. Dari Madiun ke Bogor. Berapa jam tuh ya perjalanannya? Selama saya di Jakarta, baru 2x saya ke Bogor. Kesan saya, kota itu cukup ramai. Penuh angkot. Tapi yg cukup menyenangkan, masih banyak pohon. Sayangnya waktu itu saya tidak memperhatikan Gunung Salak… tahunya makan asinan saja. Hehe

    Perjalanan sekitar 15 jam..ke Jakarta satu jam. Kereta dari Jakarta jam 5.30 pagi dan sampai Madiun jam 9 malam (Gayabaru). Jika naik Bhima (mahal untuk ukuran mahasiswa), berangkat dari stasiun Gambir jam 4 sore dan sampai Madiun jam 6 pagi.
    Kalau lewat Bandung juga sama, Bandung-Madiun 12 jam.
    Itu semua tanpa macet dan telat…saya pernah pas pulang perlu hampir dua hari….karena banjir, telat, kereta rusak dsb nya.

  23. Bun.. kemarin aku ke Puncak.. dari jalan tol keliatan lho gunung salak ini ๐Ÿ™‚
    indah!

    Semoga masih banyak ruang terbuka dan hijau dikiri kanan jalan Tol..dan pemandangan jagorawi memang masih indah…

  24. gunung salak itu masih kelihatan loh bunda dari rumahku, kalau jalan pagi jam 6-an di pinggir sawah masih kelihatan *rumah mama yg di bekasi*

    Berarti rumahmu masih enak ya hawanya, masih bisa memandang gunung di kejauhan. Daerah sekitar rumahku sudah penuh rumah….pemandangannya cuma atap rumah..hehehe

  25. gunung salak…bagus tuh buat pengembangan geothermal hehehe ๐Ÿ™‚

  26. dinamakan Gunung Salak karna bentuknya seperti buah salak yg dikupas sebagian/ sepruh,ujungnya yg runcing menghadap keatas (begitu kata sesepuh urang Bogor asli).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: