Oleh: edratna | November 26, 2009

Saat si kecil ikut ber qurban

Pada waktu seperti ini, ingatanku melayang pada saat anak-anak masih kecil. Saat itu kedua anakku masih sekolah di SD Negeri yang letaknya dekat kompleks perumahan tempat tinggalku. Sepulang dari sekolah, keduanya ikut madrasah di Al Ikhlas, yang jarak dari rumah cukup dekat. Setiap pergi dan pulang keduanya diantar jemput oleh si mbak dengan naik sepeda. Kadang pulangnya mereka sengaja masuk ke jalan yang lebih sepi, dan saat pulang anakku dan temannya, putra teman satu kompleks, sering membawa oleh-oleh, entah berupa ranting kering, dedaunan dan sebagainya.

Pada saat hari Raya Idul Adha, biasanya kami berqurban melalui Bapekis (Badan Kerohanian Islam) yang ada di kantor, dan nanti hewan qurban akan disembelih di masjid  yang berlokasi di dekat tempat tinggal karyawan yang berqurban. Setelah anak-anak bisa memahami tentang manfaat berqurban, kami berniat melakukan qurban di masjid tempat anak-anak sekolah madrasah.  Kami membeli kambing melalui panitia, yang harganya didasarkan atas berat badan kambing tersebut.

Suatu sore sepulang saya dari kantor, si kecil menangis sesenggukan sambil memeluk saya. Saya bingung, kemudian saya tanya pada si mbak, ada apa? Dan si mbak hanya menggelengkan kepalanya. Usut punya usut, ternyata si kecil nggak mau namanya digantungkan pada leher kambing. Karena banyak orangtua yang berqurban di sekolah madrasah tersebut, maka nama anak yang berqurban digantungkan pada leher kambing yang dibeli, untuk memudahkan saat penyembelihan kambing pada saatnya.

Anak saya sedih…” Bu, aku nggak mau namaku digantungkan pada leher kambing, kambingnya bulunya banyak….dan jelek” katanya sambil sesenggukan. Dalam hati saya geli, tapi saya harus memasang wajah datar, sambil menjelaskan pada anakku. Tapi dia masih terus menangis, dan baru diam setelah saya janji akan menyampaikan keberatannya pada ibu guru mengaji. Mungkin keduanya akan geli, jika mengingat betapa dulu dia sempat sedih sekali saat namanya dipasangkan pada leher si kambing yang akan jadi qurban.

Bagi teman-teman yang merayakan Idul Adha, tak lupa kami mengucapkan

Selamat Hari Raya Idul Adha. Mohon maaf lahir batin, dan semoga ibadah qurban kita diterima oleh Allah swt. Amien

Iklan

Responses


  1. Hihi..emang lucu tingkah si kecil yg sekarang tidak kecil lg 🙂
    ..
    Selamat idul adha buk..
    ..

    Dia suka udah lupa kalau diingatkan…hehehe
    Terimakasih Septa, semoga qurban kita diterima oleh Alalh swt. Amien.

  2. Selamat idul Adha mbak dan kluarga…

    tulisan mbak membuat saya terkenang ttg Semarang, saya sendiri ngga tega melihat hewan2 korban itu…..
    rasanya saya mau pergi jauh2 supaya ngga melihat mereka di sembelih…

    Terimakasih Wieda, semoga qurban kita diterima oleh Nya. Saya juga nggak tahan melihat darah..

  3. Selamat Idul Adha, Bu Enny…
    Semoga kurban yang dipersembahkan kali ini diterimaNya…

    Makasih Don….
    Btw, aku kirim message japri, udah diterima?

  4. Salam Takzim
    Setelah mendengar butiran-butiran hikmah Idul Adha di masjid dan di tanah lapang, mari kita aplikasikan hikmah semangat berqurban kepada sesama dan kerja keras sekeras ibunda Hajar dalam mendapatkan setetes air cinta.
    Salam Takzim Batavusqu

    Mudah2an qurban kita diterima oleh Nya. Amien

  5. hihihi….saya geli membayangkan si kecil yang nagis itu…pasti dia sekarang juga akan tersenyum geli mengenang hari itu..

    Selamat Odul Adha, Bu Enny…

    salam,
    nana

    Terimakasih Nana, anak kecil memang suka lucu-lucu…kita sebagai orangtua sering tak memahami.

  6. Hahaha … Narpen! Sama Mbak, saya juga nggak mau nama saya digantungkan di leher kambing. Memang saya kambing? 😀

    Sekarang, kalau Narpen berkurban, kambingnya diberi identitas apa ya? 😀

    Hahaha…mbak Tuti kok bisa nebak kalau itu Narpen, kenapa bukan kakaknya>
    Tebakannya tepat sekali

  7. … hehehe … kok sama ya, tapi itu dulu … Di tempat saya sekarang dombanya diberi tag nomor saja lalu ada papan tulis yg ada daftar nama pekurban … 🙂

    Lha! Ternyata bapak juga mengalami hal yang sama ya….hehehe

  8. hehehehhe…
    baru tau kalo ada kebiasaan menggantungkan nama dileher kambing..

    SELAMAT IDUL ADHA ya bu
    MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN

    Iya, dan si bungsu saat ibu pulang dari kantor langsung dipeluk sambil nangis sesenggukan, minta namanya dicopot dari leher si kambing….hahaha. Mungkin kalau kambingnya ganteng (mana ada kambing ganteng) nggak ada masalah.
    erimakasih afdhal, semoga qurban kita diterima olehNya. Amien

  9. sebuah pengalaman kebatinan bagi si kecil, penjelasan orang tua memang sangat dibutuhkan dalam hal demikian. thanks ya bu

    Sama-sama…memang berqurban dan melibatkan si kecil, merupakan pengalaman batin yang luar biasa, kesediaan untuk berbagi diawali sejak kecil

  10. Mungkin si kecil menyangka dia juga akan dikorbankan sehingga jadi nangis.

    Semoga kita bisa mengikuti spirit pengorbanan Ibrahim dan Ismail.

    Hehehe…mungkin karena namanya kok disamakan dengan kambing

  11. kalau dulu waktu masih mahasiswa sering diminta untuk menyembelihkan hewan kurban, tapi sekarang sudah tidak lagi. di tempat yang baru lebih banyak yang lebih ahli

    Saya tak berani melihat binatang disembelih, takut melihat darah

  12. wah, ngeri lihat tali di leher ya Bu. Kalo saya ngeri lihat nyembelihnya hehehe. Mending ikut ngulitin aja deh daripada lihat nyembelihnya.

    Hmm…saya juga nggak tahan lihat darah pak

  13. jadi ingat Qurban tahun kemaren… Rame dan si kecil juga ikut berqurban…

    Bagi si kecil, pasti pengalaman yang membahagiakan

  14. Bu Enny, biar terlambat, saya mau mengucapkan Selamat Idul Adha. 🙂 Pasti si kecil (yg tentu sudah besar), jadi geli membaca tulisan ibunya ini hehe.

    Makasih Kris…dia geli, tapi udah lupa, katanya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: