Oleh: edratna | Desember 4, 2009

Dari seminar sehari: “Prospek Industri Keuangan dan Perbankan tahun 2010”

Sebagai salah satu staf pengajar yang sering mengajar di LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia), saya diundang untuk menghadiri seminar pada tanggal 30 Nopember 2009, dengan judul “Prospek Industri Keuangan dan Perbankan tahun 2010“.Ruang serba Guna LPPI Seminar sehari ini mengetengahkan beberapa pakar Perbankan, antara lain: 1. A. Tony Prasetiantono, Ph.D., 2. Sigit Pramono, 3. C. Harinowo, dengan moderator Prof. Dr. Adrianus Mooy (mantan Gubernur Bank Indonesia).  Kali ini saya akan mencoba mengulas isi seminar  yang dibawakan oleh Keynote Speech, bapak Darmin Nasution (saat itu karena beliau berhalangan, dibacakan oleh bapak Halim Alamsyah). Selanjutnya saya mencoba menulis isi seminar yang dibawakan oleh bapak A. Tony Prasetiantono, Ph.D., dengan judul “Indonesian Economic Update: Road to Recovery and Outlook 2010

Bapak Halim, yang mewakili Bapak Darmin Nasution, menjelaskan, kinerja industri Perbankan pada tahun 2009 dan prospeknya pada tahun 2010 akan tetap penuh persoalan dan tantangan, sehingga pada akhir tahun seperti ini adalah waktu yang sangat tepat untuk renungan. Mulai runtuhnya Bank-bank global pada bulan September 2008 menyebabkan likuiditas ketat. Respon kebijakan moneter dan fiskal  di Indonesia pada akhirnya dapat menahan gejolak tersebut agar tak mempengaruhi perekonomian di Indonesia, dan ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,3 persen sampai akhir triwulan 3 tahun 2009, yang didukung oleh permintaan domestik. Kebijakan selanjutnya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, dan diharapkan dapat memberi manfaat optimal pada perekonomian nasional. Tantangannya adalah bagaimana mendorong ekonomi dan meningkatkan penyerapan tenaga kerja.

Perekonomian Asia pulih lebih cepat. Di negara maju pengangguran masih tinggi dan persyaratan perkreditan masih ketat. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2010 berkisar antara 5 – 5,5 persen. Permasalahan yang masih ada, antara lain: a) Masih tak ada kepastian pemulihan ekonomi dunia, b) Walaupun telah ada perbaikan, masih ada risiko inflasi terutama untuk barang impor, c). Derasnya arus modal jangka pendek yang tetap harus diwaspadai.

Pertumbuhan ekonomi ke depan tak akan setinggi pada tahun 2008,  namun lebih tinggi dari tahun 2009, dan ke depan Perbankan harus fokus pada fungsi intermediasi Perbankan. Perlu adanya peningkatkan standar untuk memperkuat Early Warning Signal guna mendeteksi masalah Perbankan, memperkuat struktur dan fungsi Perbankan, serta aspek permodalan.

Bapak Tony Prasetiantono, dengan suaranya yang khas,  menjelaskan bahwa pemerintah Amerika masih menghadapi defisit anggaran, sekitar USD 1.3 triliun, ini merupakan defisit terbesar dalam sejarah ekonomi Amerika Serikat. Selanjutnya beliau menunjukkan tulisan pada majalah Time, yang menggambarkan seekor Panda besar sedang mencoba meniup bola dunia…dan terdapat tulisan “Can China Save The World?” Mengapa? Karena China mempunyai USD 2.27 triliun sebagai cadangan internasional, dan terbesar di dunia. China juga sebagai pemegang US Government Bonds sebesar USD  820 bio yang masih  mempunyai peluang untuk  diperbesar lagi. Pada tahun 2010 ini, dunia masih mengandalkan negara diluar AS untuk recover. Bagaimana dengan Eropa? Karena kurs Euro sedang kuat, maka harga-harga saat ini cenderung murah, dan inilah saatnya berbelanja jika bepergian ke Eropa.

Selanjutnya Bapak Tony mengatakan,  pertumbuhan ekonomi Indonesia tak mungkin pesat, dan angka 5,5 persen tak mudah untuk dicapai. Ada konsensus, jika tahun 2009 pertumbuhan ekonomi mencapai 4,3 persen, maka pada tahun 2010 harus lebih baik lagi. Majalah The Economist, terbitan September 12th 2009, menuliskan “A special report on Indonesia“, bahwa Indonesia mempunyai A golden chance.  Ekonomi Indonesia mempunyai momentum yang baik untuk tumbuh cepat, yang disebabkan oleh momentum Pemilu yang sukses….mempunyai a golden chance, jadi baru chance. Karena, sebulan kemudian,  The Economist memuji Brazil sebagai negara yang succes story.

Modal Indonesia yang baik tersebut menurut The Economist antara lain: 1) Political stability, 2) Fighting against corruption, 3) Infrastucture to be built, 4) More urban population will lead to increase consumption spending and speed up the economic growth. Pendapat nomor 4 (empat) ini agak aneh, karena kenyataannya pertumbuhan ekonomi Indonesia ditunjang oleh Capital Expenditure. Sedangkan Majalah Newsweek terbitan July 20, 2009 pada cover story menggambarkan presiden  Sby dan tulisan “Can he change Indonesia?”  Modalnya adalah: 1) Stabilized financial sector, 2) Moderate enonomic reforms, 3) Strong primary products, 4) Cheap labor, etc. Namun majalah ini juga menyoroti bahwa walaupun telah ada   1 miliar koruptor yang telah dipenjara, masih ada 2 miliar koruptor yang berada dalam waiting lists. Masalah yang masih ada adalah, a) lebih dari 15 persen dari 230 juta orang masih  miskin b) pengangguran masih tinggi, sekitar 8 persen, c) Tenaga kerja tumbuh lebih cepat, dan Indonesia masih termasuk salah satu negara paling korup di dunia.

Bagaimana Indonesia: Outlook 2010?

Indonesia tidak elastis terhadap recovery, artinya tidak cukup elastis segera merespon untuk recover, namun pada saat krisis terjadi Indonesia juga inelastis. Hal ini terjadi karena Indonesia merupakan negara yang mempunyai primary products. Pada tahun 2010 diperkirakan pertumbuhan ekonomi 5.3 persen, inflasi tumbuh 5.0 – 5.5 persen, BI rate rata-rata antara 7.0 – 7.5 persen, karena BI akan tetap menjaga volatility rupiah. Nilai tukar berkisar antara Rp.9.000 s/d Rp.9.300,- sedangkan pertmbuhan pinjaman sebesar 15 persen. Mengapa saat ini kurs rupiah meningkat dibanding USD? Karena pemerintah AS sengaja menurunkan kurs dolar untuk menjaga pertumbuhan ekonominya. Hal ini disebabkan,  jika defisit APBN AS tak bisa dibiayai dengan T Bill, maka akan terpaksa printing money, dan ini berarti akan menaikkan inflasi. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 belum normal, sehingga pertumbuhan pinjaman perbankan di Indonesia diperkirakan masih di bawah 20 persen.

Sebagaimana telah dijelaskan oleh pak Tony, uraian diatas merupakan suatu ramalan, walaupun didasarkan angka-angka, masih bisa berubah. Jika pra syarat sebagai modal Indonesia untuk tumbuh lebih baik, sebagaimana telah dijabarkan oleh majalah The Economist, Newsweek terpenuhi, maka Indonesia sebetulnya punya chance untuk tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, kita tentunya punya andil, agar bagaimana persoalan yang ada saat ini bisa diselesaikan dengan baik, tidak berlarut-larut, sehingga semuanya bisa berpikir untuk kepentingan masyarakat sehingga perekonomian Indonesia bisa tumbuh dengan baik.

Sumber Bacaan:

A. Prasetiantono, Ph.D. Chief Economist PT Bank BNI (Persero) Tbk. ” Indonesian Economisc Update: Road to Recovery and Outlook 2010″. Di bawakan pada seminar sehari: Prospek Industri Keuangan dan Perbankan tahun 2010. Kampus LPPI, Ruang Serba Guna, Jl. Kemang Raya 35 Jakarta 12730. Senin, 30 Nopember 2009.

Iklan

Responses

  1. Sip…sip… lama saya mencari artikel seperti ini. Makasih .

  2. Wah … saya nggak ngerti soal ekonomi … yg saya tahu cuma tekanan ekonomi … hehehe 🙂

    Yang penting tahu kesimpulannya pak, bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menarik…..

  3. wah…mas toni? apa kabarnya sekarang?saya sering dengar siarannya di geronimo, jaman saya kuliah dulu, dan salah satu topik yang dibawakan tentang GWM, nah topik itu yang membuat saya jadi good presenter…maaf mungkin nggak nyambung….

    Wahh saya juga cuma mendengarkan seminarnya….

  4. Wah, ekonomi bukan bidang saya, tapi saya dapat info baru dari posting ini.
    Terima kasih sudah berbagi ya Bu…

    Nggak apa-apa Nana, yang penting tahu bahwa ekonomi Indonesia masih tumbuh, berarti ada harapan, tak seberat seperti krisis ekonomi sepuluh tahun silam

  5. Wah, saya semula nggak tertarik tulisan ini Bu karena soalannya ekonomi, sesuatu yang tak saya suka. Tapi setelah membaca scanning dan menemukan sosok Tony Prasentiantono saya jadi tertarik karena beliau masih satu alumni dengan saya di SMA De Britto meski beliau jauh lebih senior dari saya.

    Semoga kepesemisisan beliau soal susahnya mencapai target pertumbuhan 5.5 persen bisa diatasi oleh pemerintah.

    Semoga…

    Namanya ramalan Don, ada yang optimis dan ada yang pesimis. Saya sepakat dengan pak Tony, kondisi Indonesia tak bisa tak memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, karena masih ada pengarus dari situasi global.

  6. perkembangan perbankan moga2 thn depan bagus ya bun, aku kuliah di management perbankan tapi masih dodol urusan perbangkan… 😀

    masih bisa diskusi sama bunda enny kan mengenai tesisku yg gak kelar2…hihihihi 😀

    Hayoo Ria, segera selesaikan thesismu….
    Jangan terlupakan….karena asyk dengan yang lain. Kadang masalah keejaan memang lebih menantang, itu risikonya kuliah sambil kerja

  7. Akhir-akhir ini marak “pembajakan” karyawan microbanking, melihat “ramalan” ekonomi diatas, membuat saya berat untuk beranjak dari perusahaan yg sekarang, walau banyak tawaran dari perusahaan lain.
    Menurut ibu saya harus mengejar salari yg lebih tinggi, dengan masa depan situasi pertumbuhan ekonomi yg belum normal atau tetap stay di perusahaan yg sekarang sambil menunggu pertumbuhan ekonomi membaik?
    Terima kasih bu…

  8. […] seminar sehari di LPPI,  pembicara kedua adalah bapak C. Harinowo, yang saat ini menjabat sebagai komisaris PT Unilever […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: