Oleh: edratna | Desember 5, 2009

Prospek Investasi dan Perbankan dalam Perekonomian Indonesia

Dalam seminar sehari di LPPI,  pembicara kedua adalah bapak C. Harinowo, yang saat ini menjabat sebagai komisaris PT Unilever Indonesia. Beliau menjelaskan bahwa pabrik Unilever di Indonesia sekarang menjadi benchmark untuk pabrik Unilever di seluruh dunia. Mengapa?  Pabrik Unilever yang baru dibangun pada tahun 2008 (?)  untuk “skin care products” dan direncanakan jika berhasil, pabrik baru akan dibangun pada tahun 2014, ternyata saat ini kapasitas produksi (sebesar 60.000 ton) telah mencapai 90 persen. Pertumbuhan penjualan Unilever di Indonesia sebesar 22 persen, sedang pertumbuhan Unilever secara global hanya 8 persen. Namun demikian, dari perusahaan emiten yang menghasilkan penjualan terbesar di Indonesia (ada 33 emiten), ternyata Unilever tak termasuk. Berarti banyak perusahaan lain yang memperoleh peningkatan penjualan lebih tinggi dibanding Unilever.

Oleh karena kapasitas produksi yang nyaris sampai pada kapasitas terpasang itu,  diputuskan  Unilever di Indonesia pada tahun 2010 akan melakukan investasi pembangunan pabrik baru untuk “skin care products” (dan juga capex lainnya). Dari mana sumber dana untuk investasi tersebut diperlukan? Ternyata tidak dibiayai oleh Bank, tetapi dari internal cash flow. Perkembangan internal cash flow yang kuat dan menggembirakan ini tak hanya dialami oleh Unilever, namun juga oleh perusahaan lainnya, seperti: 1) Kalbe Farma membangun pabrik susu di Cikarang senilai Rp.0,5 triliun yang juga dibiayai dari internal cash flow. 2)  Konimex membangun rumah sakit di Solo Baru dan Boyolali juga menggunakan dana sendiri. 3) Sanbe Farma membangun 3 (tiga) proyek senilai Rp. 1 triliun juga dengan dana sendiri.

Dari data tersebut menunjukkan bahwa beberapa perusahaan di Indonesia mempunyai kemampuan sangat bagus, sehingga tak perlu modal dari luar. Kebutuhan investasi di Indonesia sangat besar karena di  driven to growth, yang  antara lain oleh: a) Jumlah penduduk yang sangat besar serta kemampuan yang meningkat, b) Sumber Daya Alam yang dimiliki. Dari penelitian,  terlihat ada kenaikan pada distribusi income kelas menengah di Indonesia. Jika kenaikan kelas menengah ini mencapai 30 juta orang, maka sebetulnya sudah melebihi seluruh penduduk Malaysia yang diperkirakan saat ini mencapai 26.6 juta orang. Ini merupakan potensi yang besar sekali, dan mendorong untuk peningkatan investasi guna memenuhi kebutuhan peningkatan daya beli ini.

Kebutuhan investasi dalam pertumbuhan ekonomi

Pemerintah menyatakan, untuk menumbuhkan perekonomian sebesar 7 persen ke depan, dibutuhkan investasi sekitar Rp.2.000 trilyun per tahun. Investasi tersebut dipenuhi oleh investasi PMA, investasi dunia usaha domestik, investasi perorangan (rumah dsb nya) dan juga investasi oleh pemerintah. Sumber pembiayaan investasi berasal dari Perbankan, Pasar Modal, Sumber Luar Negeri, APBN dan APBD, serta sebagian besar lainnya dari dana sendiri.

Perkembangan pinjaman oleh Perbankan selama beberapa tahun terakhir mencapai nilai nominal yang meningkat. Jika tahun 2007 kenaikan nominal Rp.210 trilyun, tahun 2008 kenaikan sekitar Rp.300 trilyun, namun sampai dengan September 2009 pinjaman baru tumbuh Rp. 64 trilyun. Dalam beberapa tahun terakhir, secara keseluruhan, total asset Perbankan tumbuh sekitar 15-17 persen per tahun, pertumbuhan yang sama juga dicapai oleh DPK (Dana Pihak ketiga).

Bagaimana prediksi ke depan?

Kebutuhan pembiayaan untuk investasi ke depan akan terus meningkat. Seberapa mampukah perbankan  Indonesia dalam melakukan peran tersebut di tahun-tahun mendatang? Seberapa besarkah potensi Indonesia untuk bermain dalam peta Perbankan global di tahun-tahun mendatang?

Berbeda dengan perekonomian makro, Perbankan Indonesia belum masuk dalam peta Perbankan global. Untuk kelas ASEAN saja, masuk Perbankan global masih tertinggal jauh dibelakang. Pada tahun 2006, dari sepuluh Perbankan ASEAN dari sisi aset nya, hanya Bank Mandiri yang masuk kategori tersebut.

Meskipun relatif tertinggal dalam hal pengumpulan aset, Perbankan Indonesia mampu untuk mencapai tingkat profitabilitas yang lebih tinggi. Dalam tahun 2008 dan 2009 ini, tingkat keuntungan Perbankan di Indonesia jauh lebih tinggi dari Singapura, Malaysia dan Muangthai. Maybank, misalnya, memiliki aset sebesar RM 269,1 milyar sementara laba bersih hanya sekitar RM 2,9 milyar dengan ROA sebesar 1,1 persen. CIMB (induknya Bank Niaga) memiliki aset sebesar RM 206,7 miliar sementara laba bersihnya RM 1,95 miliar dengan ROA sebesar 0,94 persen. Di Indonesia, Bank BRI dengan total aset sebesar Rp.246 trilyun memperoleh laba bersih sebesar Rp.5,96 trilyun dengan ROA sebesar 4,18 persen. Sementara Bank BCA memperoleh aset sebesar Rp.245 trilyun dengan laba bersih Rp.5,76 trilyun dan ROA sebesar 3,4 persen di tahun 2008.

Pada tahun 2010 Perbankan di Indonesia mempunyai prospek bagus untuk berkembang. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi mencapai 5,5 persen sementara pertumbuhan nominalnya akan mencapai di atas 10 persen. Dengan tingkat Asset to GDB ratio yang diperkirakan meningkat, maka prospek peningkaan Dana Pihak Ketiga (Giro, Tabungan, Deposito) juga akan relatif tinggi. Perkembangan luar Jawa lebih cepat dibanding di Jawa. Perkembangan ini memungkinkan tercapainya perkembangan pembiayaan yang lebih tinggi.

Dari hasil ulasan di atas, terlihat bahwa Indonesia mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan investasi. Peningkatan investasi ini diharapkan dapat menumbuh kembangkan industri, yang akhir-akhir ini ditengarai telah terjadi deindustrialisasi sejak terjadi krisis tahun 1998. Peningkatan investasi tentunya dapat menyerap tenaga kerja, dan iklim investasi ini  dipicu oleh adanya peningkatan kelas menengah yang mempunyai daya beli cukup besar di Indonesia. Masalahnya adalah bagaimana mengatasi agar jenjang antara kelas menengah ke atas dan masyarakat miskin ini berkurang.

Sumber bahan bacaan:

Cyrillus Harinowo,Ph.D. Komisaris PT Unilever Indonesia. “Prospek Investasi dan Perbankan dalam Perekonomian Indonesia” Dibawakan pada seminar sehari : “Prospek Industri Keuangan dan Perbankan tahun 2010.” Kampus LPPI, Ruang  Serbaguna, Jl. Kemang Raya 35, Jakarta 12730. Senin, 30 Nopember 2009

Iklan

Responses

  1. biyuh… aku kalau masalah yang “tinggi-tinggi” kayak gini ndak tau.. jadi salam kenal aja ya mbak..

    Salam kenal juga

  2. Hm info yang encerahkan sekaligus bagian dari optimisme perekonomian Indonesia.

    Saya setuju dengan ulasan adanya peningkatan income pada kelas menengah. Buktinya sekarang isu ataupun demo tentang kenaikan gaji karyawan nyaris tak terdengar.

    Juga pns sepertinya dengan kenaikan 15% selama dua tahun dan rencana 5% lagi tahun depan sudah bisa dibilang layak. Kalau mengukur cukup-atau tidak cukup sih ya tergantung manusianya.

    Jadi sebenarnya kalau diperhatikan angka2 diatas ternyata Indonesia nggak buruk2 amat ya dibanding para tetangga.

    Salam hangat Bu, maaf lama nggak mampir.

    Indonesia termasuk negara yang pertumbuhannya positif, selain India dan China.

  3. saya juga jadi bertanya-tanya nih, bu, hehe … menurut para pengamat, banyak investor asing yang engga[n masuk ke indonesua, persoalannya bukan lantaran ranah ekonomi semata, melainkan juga faktor politik dan budaya yang kruang kondusif. lebih2 ketika belakangan ini muncul kasus bank century. muncul kesan kalau indonesia bukan tempat yang nyaman utk berinvestasi. doh, kok jadi ngelantur saya, hehe …

    Sebetulnya, bagi investor yang mengenal Indonesia, maka Indonesia termasuk negara yang menarik. Ini juga pernah saya dengar dari konsultan asing, karena peluang berhasilnya besar dan masyarakatnya mendukung. Memang masih ada beberapa hambatan, tapi di negara lainpun juga seperti itu….terkadang kita kan memang hanya melihat kondisi kita sendiri.

  4. Selamat malam saja. maaf mbak Ratna saya ndak mengerti sama sekali masalah Perbankan.

    Semoga mBak Ratna selalu bahagia.

    Selamat siang Puspita….kebetulan membalas komen ini saat siang hari. Makasih doanya

  5. Hm..jadi optimis nih dengan perkembangan investasi dan perbankan tahun depan.
    Mudah”an kondisi politik dan hukum juga membaik,mengingat beberapa kasus yg mencuat belakangan ini sedikit banyak mempengaruhi kepercayaan masyarakat pada pemerintah.

    Saya tetap optimis apalagi jika melihat data-data yang ada. Bukankah kita termasuk satu dari negara Asia yang pertumbuhannya positif dan cukup tinggi?

  6. Yang saya heran, Bu, macam produk Unilever yang mampu mbayar bintang iklan bintang sepakbola Christiano Ronaldo, berarti kan biaya promosi yang yang harus ditanggung konsumen tinggi, plus keuntungan perusahaan yang juga sudah pasti tinggi, berarti kemampuan rakyat indonesia dalam membeli barang konsumsi juga berarti tinggi dong…

    Kalau Isnuansa jalan-jalan ke Mal, kan terlihat Mal tak pernah sepi….
    Juga saat krisis global, negara tetangga jadi sepi karena orang Indonesia lebih suka belanja ke Mal yang sudah cukup banyak di ibu kota propinsi. Mungkin yang jadi PR adalah pemerataan…dan pemerataan ini memang menjadi masalah di negara manapun.
    Dan kalau kita lihat, produk Unilever adalah memang untuk kebutuhan sehari-hari…dan pabrik yang kapasitasnya cepat penuh itu adalah “skin care product“…lha ini kan produk yang memberi harapan? hehehe…bahkan saat krisispun salon kecantikan dekat rumah saya penuh, malah membangun baru bertingkat tiga.

  7. hebat ya bun…perusahaan indonesia sebenrnya kalau mau membenahi diri dan bisa mengget investor dari luar bisa sangat hebat jadinya…ya contohnya saja unilever itu….

    kabarnya pabrik sepato reebook dan nike juga gedenya di indonesia loh bun 😀

    Kalau industri sepatu saat ini jauh menurun dibanding tahun sebelum 2000…karena tenaga kerja di Indonesia sudah tak kompetitif lagi, karena banyak atau sering demo (pengalaman membiayai industri sepatu).
    Produk Unilever memang untuk kebutuhan sehari-hari sehingga tak terpengaruh krisis. Apalagi produk skin care…jelas peminatnya banyak..kan sekarang yang sadar kebersihan, kecantikan tak hanya cewek saja.

  8. ulasan yang menarik. pertumbuhan adalah parameter termudah untuk melihat kesejahteraan. Tapi apakah akurat? Bolehlah kelas menegah 30 juta, lantas sisanya dari 190juta lainnya?

    statistik memiliki banyak kemudahan, namun tidak secara riil menggambarkan secara keseluruhan penduduk.

    industri “asli” Indonesia apakah berbicara?

    Coba dibaca lagi….ada kata jika nya…
    Jadi itu merupakan suatu ulasan…jika kelas menengah naik sekian juta orang…..
    Apakah data di Indonesia akurat? Jawaban ada di BPS…jika yang membuat data akurat, tentunya juga akurat…ingat garbage in garbage out.. Dan saya mereview seminar lho!

  9. diharapkan pertumbuhan investasi LN itu pada sektor riil ya bu, soalnya sekarang ribuan trilliun cuman mampir di pasar modal yang sewaktu2 indonesia bisa kolaps karenannya

    Kalau cerita tentang Unilever dan Kalbe Farma memang cerita sektor riil, karena ceramah ini untuk Perbankan yang di Indonesia memang lebih banyakmelakukan pembiayaan di sektor riil.
    Saat ini memang banyak dana masuk, Menkeu sudah mengingatkan untuk hati-hati, apalagi jika dana tsb berupa dana jangka pendek di pasar modal, yang bisa setiap saat keluar. Tapi saya percaya pengusaha Indonesia sudah belajar saat krisis tahun 1998, jadi kalau sektor riil belum jalan cepat karena pengusaha masih sangat berhati-hati…ini terlihat dari undisbursement loan yang tinggi

  10. benarkah pertumbuhan ekonomi kita membaik…..

    Dari data memang terlihat membaik…bandingkan dengan data negara lain di dunia.

  11. tulisannya menarik bu 🙂
    nambah pengetahuan 😀

    Hehehe….mudah2an bisa sharing ke teman lain

  12. waduh pada hebat nih kalo bicara soal ekonomi apalagi menyangkut kebutuhan sehari2 salut deh slmt ya kalo produsen dan konsumen bersatu kan jadi sama2untung.

  13. terimakasih tulisan nya bu..
    menginspirasikan saya dalam membuat latar belakang untuk skripsi saya..
    🙂

  14. saya dulu sering membaca tulisan ibu waktu mau mendaftar sebagai AO di sebuah bank BUMN, untuk menambah pengetahuan saya dan alhamdulillah sy diterima dan sekarang sudah 4 tahun saya bekerja sbg AO di perusahaan yang sama,,terimakasih bu edratna, saat ini nasabah yang terbesar saya adalah pabrik sepatu dan membaca komentar ibu mengenai industri sepatu yang tidak lagi kompetitif,,,saya agak takut juga,,,apa sy bs minta share analisa mengenai pabrik sepatu dari ibu?

    Dody….
    Analisa tergantung dari perusahaan itu sendiri, dalam persaingan yang ketat tetap ada perusahaan yang maju dan berkembang.
    Jadi, anda harus belajar memahami, melihat sendiri kondisi perusahaan yang akan dianalisa. Yang saya ungkapkan hanya sebatas garis besarnya saja…..dan saya tak mungkin share karena kesibukan saya sangat padat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: