Oleh: edratna | Desember 15, 2009

Melihat dari dekat acara live TVRI: Bicara Buku Bicara

Sebelumnya saya tak pernah menonton acara live talkshow yang diselenggarakan TVRI dengan judul “Bicara Buku Bicara” yang disiarkan setiap hari Senin jam 15.00 s/d 16.00 wib. Maklum pada jam-jam tersebut masih sibuk bekerja, kalaupun tidak ke kantor ada kegiatan lain. Dan karena teman blogger yang telah saya kenal dan beberapa kali kopdar, novelnya akan ditayangkan pada acara tersebut, saya berdoa agar pada saat acara tersebut, saya tidak ada kegiatan mendesak, sehingga bisa ikut hadir di TVRI. Syukurlah DM memberikan konfirmasi, bahwa saya boleh ikut hadir di Studio 8 TVRI saat acara live talkshow tersebut.

Damas B. Mulyono, Syafrudin Azhar, Lisa Febriyanti, Daniel Mahendra

Ternyata acara “Bicara Buku Bicara” yang dipandu oleh bapak Damas B. Mulyono ini telah berjalan ke 43 kalinya, dan akan  berakhir pada tanggal 28 Desember 2009 pada edisi ke-46. Setelah melihat dari dekat, saya sadar bahwa acara ini sangat bermanfaat, terutama jika kita pencinta buku, kita berinteraksi dengan penulisnya yang akan memberikan keputusan apakah kita akan membeli bukunya apa tidak. Kali ini buku yang dibahas adalah novel “Epitaph” karangan Daniel Mahendra (atau saya biasa mengenalnya sebagai DM) dan novel “Iluminasi” karangan Lisa Febriyanti. Kedua penulis ini dikenal sebagai seorang blogger, yang aktif menulis. Kalau dengan DM telah beberapa kali ketemu, maka ini adalah pertemuan pertama kalinya saya dengan Lisa.

Saya sampai di TVRI jam 14.25 wib, sempat menyalami DM dan Lisa, karena kemudian kedua orang itu harus di make up dulu sebelum tayang di TVRI. Saya juga sempat mengobrol dengan mas Damas M. Mulyono yang akan memandu acara, serta mas Syafrudin Azhar (Senior Editor Kaki Langit Kencana, penerbit yang menerbitkan kedua novel tersebut). Mas Damas memulai membuka acara, memperkenalkan DM, Lisa dan mas Syafrudin kepada pemirsa. Selanjutnya mas Damas mengantarkan bahwa acara kali ini membahas 2 (dua) novel yang “agak berat” dan dari judulnya, terlihat tak biasa. Keduanya merupakan novel terbitan Kaki Langit Kencana, dari Prenada Media Grup. “Epitaph” adalah tulisan duka yang sering kita lihat tertulis di  batu nisan, merupakan suatu fiksi yang diilhami dari kisah nyata. Menceritakan kejadian, kematian, yang tidak jelas, ada dimana, kapan dan bagaimana. Sedangkan “Iluminasi” yang dapat diartikan sebagai pencerahan, mengajak para pembaca menanyakan apa maksud dan arti kehidupan di dunia ini. Di kemas dalam bahasa yang mudah dipahami dalam sebuah cerita, sehingga memudahkan pembaca untuk mengikuti alur ceritanya.

Mas Damas tertarik dengan kalung, yang saat itu dipakai oleh Lisa, yang merupakan sebuah pendulum. Pendulum dalam novel Lisa merupakan benda atau barang berharga warisan keluarga, yang mengatur dan mengiringi peran tokoh utama dalam berbagai pertemuan dengan orang-orang lain.

Lisa dan bukunya (Foto diambil dari FB Lisa)

Lisa menjelaskan bahwa tulisan nya disertai data dan didasarkan teori, sehingga tidak seratus persen khayalan. Pendulum yang menyertai rangkaian cerita ini, sebagai ramuan agar cerita lebih menarik. “Iluminasi,” ceritanya tentang adanya tokoh superhero, kekuatan didapatkan dari kode DNA yang unik. Dan pendulum yang merupakan warisan keluarga ini, diturunkan dari generasi ke generasi, seperti halnya DNA.

Epitaph (Foto diambil dari FB Daniel Mahendra)

Novel “Epitaph” menceritakan sebuah kejadian pada secuil dunia perfilman di Indonesia. Di dalam cerita, mahasiswa IKJ melakukan pembuatan film, pengambilan gambar dari udara dilakukan  dengan menggunakan pesawat militer. Pada saat pesawat militer tersebut jatuh, maka pihak militer tak mengakui membawa penumpang sipil, namun pada kenyataannya  crew film kehilangan awaknya. Pada saat kejadian tersebut,  kondisi media tak mempunyai peran seperti saat ini.

Mas Damas menanyakan bagaimana seorang Editor dapat mengetahui bahwa suatu novel patut diterbitkan atau tidak. Mas Syafrudin menjawab, bahwa sejak awal telah tertarik pada kedua novel tersebut, antara editor dan penulis  harus ada sinergi. Novel Lisa cukup berat, jika dimasukkan ke dalam kelompok filsafat, kawatir pembaca sulit untuk menangkap makna nya. Novel Lisa dan Daniel kebetulan seperti berpasangan, karena membicarakan tentang hidup dan mati. Namun hal ini sebelumnya tak pernah saya ungkapkan pada kedua penulis tersebut.

Lisa mengakui, judul awalnya bukan “Iluminasi”, namun setelah diskusi dengan editor, serta ceritanya mengandung unsur filsafat yang dikemas dalam bahasa sehari-hari, maka akan lebih cocok jika diberi judul “Iluminasi”. “Iluminasi” dimaksudkan untuk pencerahan diri, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sedangkan Daniel mengatakan kenapa judulnya “Epitaph” karena sebagaimana tulisan di batu nisan, sering ditulis tanggal lahir dan tanggal meninggal. Namun pada “Epitaph” ini, ada yang hilang. Misalkan, lahir tahun 1972, diperkirakan meninggal Agustus 1994 karena belum ditemukan, dan baru dimakamkan dua tahun kemudian, yaitu tahun 1996.

Dalam sesi pertanyaan, Ibu R, pengajar dari Tangerang menanyakan, apakah  buku itu cocok untuk dibaca oleh anak-anak seusia SMP/SMA? Pak Yo menanyakan, apakah ada sistem nilai yang terkandung dalam buku tersebut sehingga dapat mengkristalisasi pembacanya? Dan Anis dari Cileduk, menanyakan berapa lama penulis melakukan proses kreatifnya? Bapak M. Kasim Nur dari Riau, menanyakan kira-kira isinya tentang apa, dan sebagai guru, pak Nur menginginkan anak-anak rajin membeli dan membaca buku, agar wawasan dan ilmunya bertambah. Ibu Riana dari Pondok Ungu, Bekasi juga menanyakan apa yang dimaksud pencerahan dalam novel tersebut. Apakah berupa spiritual atau apa? Melihat kondisi kita saat ini, dimana peran atau semangat untuk menempatkan nilai-nilai luhur pada karya DM dan Lisa?

Lisa menjawab, novel tentang “Iluminasi” merupakan novel filsafat. Namun dicoba untuk mengemasnya dalam istilah populer, dengan memunculkan tokoh superhero, sehingga anak-anak bisa mengikuti jalan ceritanya, serta unsur kebaikan yang terkandung dalam isi cerita. Nilai yang terkandung dalam unsur cerita ini, bahwa saat ini kita hidup seolah-olah semua dinilai dari uang. Oleh karena itu ada selipan-selipan dalam cerita, ada alam semesta, dimana manusia harus berdamai dengan alam semesta, ada tanaman, daun yang tumbuh di sekeliling kita, bahkan superhero dalam novel ini kekuatannya diperoleh dari alam. Lisa berharap,  orang  memahami bahwa kita tak hidup sendirian di dunia ini. Pencerahan di dalam novel ini tidak bersifat spiritual, namun ada hakekat hidup dalam pencarian jati diri, jadi bukan  dari sisi religius, karena Lisa memahami dia masih jauh dari sisi ini. Proses kreatif satu bulan sampai buku selesai, dengan konsentrasi penuh,  dan setiap hari di depan komputer di teras belakang rumahnya. Lisa mempunyai semacam sumpah atau janji agar segera menyelesaikan proses penulisannya. Dalam hal ini editor berfungsi sebagai teman, memotivasi dan teman diskusi. Novel Lisa dapat dibaca oleh anak-anak yang telah mengerti berbagai pertanyaan, karena dia melihat, anak teman-temannya yang masih kecil telah mulai banyak melakukan pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan seperti layaknya orang dewasa.

Daniel menyatakan, proses penulisan satu bulan, karena jika bad mood pelarian Daniel adalah menulis. Novel tulisan Daniel sangat realis, menceritakan konflik berat yang ada di dunia perfilm an, maupun militer. Namun Daniel berpendapat, seperti pada novelnya, bahwa kebenaran, baik atau buruk harus diungkap. Novel ini bisa dibaca siapa saja, karena isinya sangat realis, persolan manusia tentang hidup dan mati, yang diceritakan dengan mudah, tanpa bahasa yang muluk-muluk, serta tak menggunakan metafor-metafor yang menyulitkan pemahaman.

Sebagai editor, mas Syafrudin menjelaskan bahwa selama ini sastra dianggap berat, padahal sejak dulu kala, nenek moyang kita sangat dekat dengan tulisan yang bersifat sastra. Kedua penulis ini, menceritakan tokoh dalam tulisannya bukan dengan “aku”, sehingga diharapkan pembaca mendapat pencerahan dengan membaca tulisan dalam novel. Editor juga menjelaskan, awalnya kedua novel ini sangat tebal, sampai 600 halaman, namun setelah didiskusikan ada beberapa halaman yang dapat ditiadakan tanpa mengurangi alur cerita, agar pembaca dapat lebih fokus. Novel “Epitaph” merupakan trilogi. Dan saat ditanya oleh mas Damas, jika dari kedua novel ini akan dibuat film, mana yang lebih duluan dapat dibuat? Mas Syafrudin menjelaskan bahwa “Epitaph” menarik untuk dibuat film. Sedangkan cerita “Iluminasi” jika ingin dibuat film nya bersifat kolosal, serta ada unsur teknologi animasinya.

Catatan:

Tulisan ini sebagai notulen saat acara “Bicara Buku Bicara” di TVRI studio 8, 14 Desember 2009 (mohon maaf jika masih ada kekurangannya)

Iklan

Responses

  1. wew..saya jadi penasaran pgn ntn, coba senin depan..moga ga lupa ^_^

    Waktunya memang masih saat jam-jam kantor….

  2. Waduuuh, saya gak pernah lihat acara ini

    hmmm

  3. Saya hampir tidak pernah mengikuti acara TVRI lagi. Selain tak tahu program acaranya, mesti rebutan sama orang serumah juga. Maklum aja, TV cuma punya satu.

    Acara TV memang makin banyak pilihan, dan kesibukan kerja membuat jarang menonton TV

  4. nampaknya tulisan / notulen ini sudah semua ditulis, sayang tak bisa melihat acaranya, mbak lisa itu saya udah kenal lama lho mbak lewat blognya, ladangkata.

    Hmm begitu yahh…..memang nggak semua ditulis disini…yang menurut saya cocok untuk ditulis aja

  5. Kemarin dalam acara BBB ttg kedua novel itu disampaikan No HP yang bisa dihubungi. LaLU, SAYA MENCATAT SaLAH SATU NO. hp-NYA. Karena saya ingin membaca dua novel baru itu, saya mencoba menghubungi no. HP itu untuk mohon dikirim novel itu.pemahaman saya yang spt itu apa BETUL?
    TERIMA KASIH

    Waduh mas..sayapun tak tahu..saya ke sana sekedar untuk melihat penampilan blogger yang udah kukenal..urusan yang lain tak tahu

  6. Hem, sayang saya nggak pernah nonton acara ini di TV. Baru tahu kali ini dari bunda Ratna. Tapi segera mau berakhir yach bunda di TVRI program acaranya ?.

    Kayaknya boleh juga tuch novelnya mbak Lisa & mas DM-nya. Yup, bunda saya segera mulai beraktivitas lagi 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Selamat Bintang, saya sudah menengok ke blogmu…semoga sudah bisa aktif lagi menulisnya

  7. ..
    Jadwal acara saya tau dr FB mas DM, udah saya scedul di hp..
    Pas alrm hp bunyi buru2 muter TV, eh..tvri lg nyiarin acara daerah jatim 😦
    ..
    Terimakasih udah diulas buk..
    🙂
    ..
    Iya Septarius, jam itu sebagian besar orang masih sibuk di kantor, kecuali saya…hehehe.
    Jadi saya tulis di sini, walau belum sempat baca bukunya

  8. Mbak Enny, apakah novel “Epithaph”nya DM ini sudah jadi di-launching? Tempo hari saya dengar kabar, konon launchingnya ditunda. Wah, pengin juga baca novelnya.

    Novel Lisa Febriyanti kelihatannya lebih ‘berat’ ya. Apakah dia memang berpendidikan filsafat?

    Mbak, launching nya sekitar bulan Maret, namun penerbit sudah mulai mencetak bukunya. Untuk pesan japri aja ya mbak, atau kunjungi blog dan FB kedua penulis tersebut. Juga bisa lewat email ditujukan kepada: epitaph@penganyamkata.net.
    Saya belum baca bukunya Lisa, namun dari pembicaraan dan tanya jawab di TVRI kemarin, bukunya dikemas dalam bahasa populer, dengan tokoh superhero untuk memudahkan pembaca, bahkan kelas SMP/SMA bisa memahami. Berdasar pengalaman Lisa (juga saya), anak SMP sudah mulai bertanya “apa arti kehidupan ini?” dan banyak lagi pertanyaan yang ingin lebih mengetahui hal-hal di seputar kita. Kedua penilis tersebut sama-sama berlatar belakang ilmu komunikasi, Lisa dari Komunikasi Unair, Surabaya.

  9. Ah akhirnya Mas Dan Launching juga bukunya …

    Eh BTW … ini dalam rangka launching kan ya ?

    Selamat untuk mas Dan …

    Salam saya

    Launching masih sekitar Maret mas….namun penerbit telah mulai mencetak bukunya.
    Jika berminat pesan, hubungi Lisa dan DM lewat FB nya

  10. Wah, notulennya detail betul, Bu!
    Saya suka dengan kata-kata seperti “Iluminasi” dan “Epitaph”

    Sepulangnya nanti saya ke Indonesia, rencana membeli kedua buku ini adalah wajib, tentu jika masih dijual ketika itu….

    Selamat buat DM dan Lisa!

    Hahaha…sebetulnya kurang detail, itu sudah diringkas, tapi diharapkan pembaca sudah bisa mengetahui isi garis besar kedua novel tersebut cukup sebagai dasar memutuskan untuk membeli.
    Kenapa harus tunggu pulang ke Indonesia? Nggak ingin dikirim ke Aussie aja? Tinggal pesan ke DM dan Lisa, kirim ke rekeningnya….dua hari juga udah sampai dipangkuan Donny.

  11. Selamat Tahun Baru Islam bund yang ke 1431
    Semoga amal yang telah dibuat menjadi bekal
    Salam Takzim Batavusqu

    Makasih, semoga di tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya

  12. wahhh lengkap sekali bunda reportasinya! dan tentang nover mas Dan, aku juga udah baca beberapa halaman. bagus dan bahasanya mudah di mengerti.

    untuk novel mbak lisa blom beli, mungkin nanti jika sempat aku beli di jakarta sewaktu pulang nanti.

    Saya malah belum sempat baca bukunya, hanya baca d blog nya
    Tulisan ini sebagai pandangan mata saat melihat dari dekat acara live talkshow di TVRI

  13. acara yang langka di sini:(
    sering ngiler klo ada acara ginian…

    Apa iya? Mungkin ada dalam bahasa Jepang

  14. Ini ulasan lengkapnya ya Bu.. Jadi makin lengkap gambaran acara sore itu. Novel2 yang menarik dan ditulis oleh penulis-penulis muda yang kreatif dan imajinatif…

    Iya…lha kalau cuma mendengarkan nanti lupa, dan banyak hal yang saya dapat. Bagaimana seorang editor melihat apakah suatu tulisan layak dijadikan buku, bagaimana proses kreatif kedua penulis dsb nya

  15. wah, saya nggak pernah nonton acara ini nih…
    Saya tertarik untuk membeli novel mas DM nih…kayaknya bagus deh…

    Silahkan beli Nana, bisa pesan lewat email…..sesuai komentar DM di bawah ini

  16. Terima kasih infonya mBak.

    Saya tertarik mengoleksi bukunya.

    Sama-sama Puspita, bisa pesan lewat email kok…ada komentar DM di bawah ini.
    Juga bisa menyambangi blog nya Lisa

  17. kok hanya sampai 28 desember 2009? sayang sekali ya…hmmmm

    Siapa tahu ada pengganti acara lain yang tak kalah menariknya, apalagi jika pembahasannya pada jam setelah orang pulang kantor

  18. tv disini gak bisa nangkep bu…salam sukses aja buat mas DM semoga selalu berkarya dan berkontribusi dalam karya sastra Indonesia

    Ntar salamnya tak sampaikan pada DM

  19. Adakah saya bisa membaca bukunya ? EPITAPH…

    Kenapa tidak? Bisa pesan lewat email kok, ntar biaya bisa ditransfer lewat rekening di Bank

  20. wah saya ketinggalan jaman klo berkaitan dengan buku….
    saya dapat buku2 novel indonesia dari teman2 seperti mas budi dengan bukunya ” dikereta kita selingkuh” dari jeng Dewi Sekar dengan buku2 nya..”Perang Bintang” ” Zona @ last” dan ” Langit penuh Daya”

    Trus pernah dikirim buku dari Andrea Hirata….
    doooo koq saya katrok banget…
    nanti klo ke Indonesia saya pastikan beli ah

    Ntar belinya kalau Wieda cuti ke Indonesia aja…ongkos kirimnya muahal jika ke Kanada

  21. Ibu, ribuan terima kasih. Nggak nyangka kalau ditulis seperti ini bak laporan pandangan mata 🙂

    Selama syuting, pada setiap break, kuperhatikan Ibu sibuk terpekur mencatat. Aku sudah menduga-duga: pasti bakal jadi tulisan setelah ini. Dan, voala, betul juga! Hehehe.

    Sekali lagi makasih, Ibu. Melalui catatan ini aku jadi tau bagaimana jalannya acara tersebut 😀

    Salam hangat,
    D.M.
    epitaph@penganyamkata.net

    Hehehe…sama-sama DM
    Soalnya terbiasa buat notulen, kalau tak dicatat nanti segera lupa…sayang kan, apalagi banyak teman yang tak sempat melihat acara tersebut.

  22. Salam Kenal… ^_^

    Salam kenal juga..makasih kunjungannya

  23. Wah… akhirnya terobati juga kekesalan saya tidak dapat menonton acara itu dari televisi.

    Kedua novel itu memang sudah sejak lama saya tunggu-tunggu. Semoga segera bisa mendapatkannya dan membaca “seberat” apa isinya.. 🙂

    Terima kasih Bu Enny atas notulensinya. Mantap nian

    Sama-sama Uda, tulisan ini memang untuk sharing buat yang tak bisa melihat tayangan langsung.
    Saya bersyukur pas hari itu bisa datang, padahal dua hari kemudian padat sekali

  24. kenapa jam tayangnya ga pas banget…
    klo dari tulisan ini padahal acaranya bmanfaat,..

    ga kepikiran dipindah ke prime time gitu?
    jangan mau kalah saingan ma sinetron2 pembawa malapetaka.. 😐

    Pemindahan mungkin bukan hal mudah, dan tentu tergantung pada banyak hal

  25. acara yang bermanfaat seperti ini harus pada jam tayang yang gak bersaing dengan acara tv swasta seperti sinetron

    Jam tayangnya masih sore, dan bagi orang yang suka membaca ada kemungkinan sebagian besar masih di kantor.
    Sinetron? Wahh aya sudah bertahun-tahun tak lihat sinetron….hehehe

  26. Sayang waktu itu senin saya ada kegiatan… kalo enggak pastinya pengen hadir juga 🙂
    thank u bunda udh di summary.in. Aku udh pesan bukunya lhoooo 🙂

    Iya Eka…kemarin malah lupa sms Eka, yang saya sms Kris, tapi dia juga pas udah kadung ada janji temu di tempat lain.

  27. beruntung sekali ibu sempat menyaksikan acara tersebut, secara langsung dari studio pula. hm… untunglah DM udah menjanjikan satu kopi CD buat saya tonton nanti. hehe…

    ternyata banyak acara televisi yang cukup menarik dan edukatif, namun mungkin kurang populer karena berbagai alasan. salah satunya adalah acara “bicara buku bicara” ini.

    sukses buat kedua penulis. semoga bangsa kita semakin menjadi bangsa pecinta buku.

    Acaranya menarik, cuma jam tayangnya saat orang masih di kantor…

  28. Wah.. Bunda lengkappp, sampai nonton liputan TV nya segala ya. Aku gak donk, dan udah lama gak nonton TVRI. Tapi udah punya Iluminasi-nya langsung dari Lisa. Hehehe.. 🙂

    Kebetulan saat itu waktu saya kosong, nggak ada janji temu orang lain.
    Dan beruntung dapat melihat Lisa dan DM beraksi

  29. aku udah baca novel ILUMINASI karya Lisa,,,
    asik banget novelnya
    keren
    pesti asik di film kan.. 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: