Budaya melayani, harus terus digalakkan

Minggu kemarin, saat pergi ke Bank, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bukan…bukan karena para telernya semakin rapih dan ramah, namun juga kantor Bank tersebut semakin terlihat bersih dan nyaman. Pada saat giliran saya, teler (front liners) yang melayani saya,  sudah kenal  cukup lama, karena saya adalah nasabah penyimpan di Bank tersebut. Bukan simpanan besar..hanya simpanan untuk operasional rumah tangga sehari-hari..jadi simpanan yang sangat aktif…maksudnya aktif keluar masuk, dan kecil-kecil. Dan sifat saya, yang selalu berpikir bahwa teknologi selain memudahkan juga menguatirkan (contoh ATM yang bisa di bobol), minimal sebulan dua kali saya ketemu teler di Bank tersebut, untuk overbooking membayar tagihan kartu kredit, juga pembayaran tagihan lainnya. Dan juga sekaligus mengambil uang melalui ATM yang ada di lobi Bank tsb, jika mengambilnya kurang dari R.2 juta.

Lanjutkan membaca “Budaya melayani, harus terus digalakkan”

Masuk angin pun masuk salon kecantikan

Pada saat ini disadari, bahwa salon kecantikan telah menjadi suatu kebutuhan, terutama untuk masyarakat perkotaan. Jika berpuluh tahun lalu, kita pergi ke salon kecantikan, hanya untuk memotong rambut, itupun dilakukan dengan sederhana, namun sekarang, pemilik jasa kecantikan ini sangat kreatif dalam memberikan berbagai jenis pelayanan. Saya jadi ingat artikel di majalah “Kontan”, saat seseorang bertanya, usaha apa yang kira-kira bakalan laku keras? Pengasuh kolom di rubrik Kontan tersebut menjawab, salah satunya adalah usaha yang terkait dengan pernak-pernik perempuan, termasuk jasa pelayanan yang berkaitan dengan perempuan. Kalau kita lihat, usaha pernak pernik yang berkaitan dengan perempuan, dari kepala sampai kaki memang dapat dijadikan bisnis. Misalnya, pita rambut, bando, shampo, cream untuk menguatkan rambut, cream wajah, cream tangan dan kaki….bahkan sampai pedicure dan manicure (perawatan kaki dan tangan).

Lanjutkan membaca “Masuk angin pun masuk salon kecantikan”

Menciptakan “Credit Culture” yang sehat

Sebaik apapun manajemen suatu Bank, dan sebagus apapun sistem yang ada di Perbankan tersebut, yang sangat penting adalah menciptakan bagaimana agar para staf Perbankan yang mengelola pinjaman atau lebih dikenal dengan nama Account Officer, atau Credit Analyst, telah bekerja dengan culture perkreditan yang sehat. Budaya kredit ini akan membawa arahan akan perilaku para staf, baik dari sisi penilaian, integritas, serta pemantauan, yang telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, baik dilingkungan perusahaan maupun dalam perilaku sehari-hari.

Lanjutkan membaca “Menciptakan “Credit Culture” yang sehat”

Pasar kue Bubat di pagi hari

Entah sejak kapan, depan eks toko Hero di jalan Buah Batu, Bandung,  menjadi pasar kaget untuk penjual kue di pagi hari. Saya mendengar tentang jualan kue itu sudah beberapa bulan lalu, kalau tak salah awalnya dari DM, namun melihat sendiri baru seminggu yang lalu. Saat itu karena ada keperluan, saya dan suami pagi-pagi dari Jakarta mesti kembali ke Bandung, tentu saja dengan perut kosong. Saat di perempatan jalan Buah Batu-Sukarno Hatta, suami nyeletuk..”Bagaimana jika kita mampir ke pasar kue, sebelum sampai rumah?” Saya setuju…Lokasi penjual kue ini terletak persis di depan toko Trina, yang kemudian menjadi lokasi toko Hero.

Jenis kue yang dijual

Lanjutkan membaca “Pasar kue Bubat di pagi hari”

Tantangan itu tak akan pernah selesai

Dalam mengarungi kehidupan, kita selalu akan menghadapi tantangan demi tantangan. Dan tantangan itu bisa dalam kondisi nyata, seperti dalam bentuk ujian sekolah, dimulai saat kelas VI SD, kemudian kelas III SMP, kelas III SMU dan seterusnya. Selain itu, kita juga mendapat tantangan dalam kehidupan nyata yang tak sedikit, kehidupan yang sulit, kehilangan orang yang disayangi, kehilangan teman baik dan seterusnya. Namun justru tantangan ini yang akan membuat kita dewasa, dan siap menghadapi tantangan lain yang lebih berat.

Lanjutkan membaca “Tantangan itu tak akan pernah selesai”

Mengapa kebijakan dalam pinjaman mikro perlu dibuat secara sederhana?

Dalam suatu perjalanan ke berbagai daerah, sangat menarik untuk melihat, bagaimana usaha kecil dan mikro terus berkembang. Terkadang usaha tersebut terlihat nyaris tak bergerak, seperti misalnya, jika saya pulang ke kampung, masih ada warung soto di jalan ke arah rumah saya. Rasanya warung soto itu tak pernah berubah sejak saya SMP, namun jika mampir ke sana, kemudian mengobrol dengan pemiliknya, ternyata warung soto itu telah menghasilkan 5 (lima) orang Sarjana, dari hasil warung soto tersebut. Dan mengapa si bapak tadi tak berniat untuk memperbesar usahanya? Jawabannya, adalah karena dia menyenangi kehidupan dan lingkungannya, serta telah merasa puas akan pencapaiannya.

Lanjutkan membaca “Mengapa kebijakan dalam pinjaman mikro perlu dibuat secara sederhana?”

Nikmatnya pesan makan via “Delivery order”

Tigapuluh tahun lalu, saya hanya bisa menawarkan pada ayah mertua, hari ini beliau ingin makan apa? Bukan masak apa lho. Dan ayah mertua, yang tahu menantunya sibuk, dan tak bisa masak, hanya bertanya “Makanan apa yang bisa dipesan?” Dan makanan yang dipesan terbatas, hanya sate Jhony (mangkal di kompleks perumahan dinas), bakso, dan makanan dari restoran yang dekat rumah. Belakangan jalan Cipete Raya, yang saat anak sulungku SMP, masih bisa tiduran di tengah jalan, sekarang nyaris setiap jengkal tanah penuh restoran, berbagai macam makanan, toko, klinik, apotikpun ada tiga hanya dalam satu jalan yang hanya beberapa ratus meter itu. Dan yang jelas, begitu keluar dari komplek  rumah dinas, dan berjalan kira-kira 100 meter, ada “Abuba Steak”…makanan yang disenangi anak muda.

Lanjutkan membaca “Nikmatnya pesan makan via “Delivery order””

Ketak… ketik…ketok…srrrrt

Ketak…ketik…ketok….

Suara itu mengalun sebagaimana irama air hujan gerimis yang menetes di genteng. Saat masih kecil, saya senang mendengar alunan mesin ketik ini. Dan semakin besar, mesin ketik menjadi teman sehari-hari saat menyelesaikan pekerjaan di kantor, dan di rumah. ” Di rumah masih kerja juga?”, tanya seorang teman. “Aku sih sih tak mau,” katanya lagi. “Aku memisahkan pekerjaan kantor dan rumah, suamiku tak akan suka jika seperti itu.” Saya hanya diam, dan tak perlu menjawab komentar teman itu. Setiap orang berhak meraih mimpinya. Apa yang salah jika di rumah juga meneruskan bekerja dengan mengetik? Kehidupan ku sejak kecil, memberikan contoh nyata bahwa di rumah masih bisa kerja, bersamaan dengan mengurus rumah tangga. Masih terbayang pada ingatanku, ibu menulis rencana di buku tulisnya apa yang akan dilakukan untuk mengajar besok pagi. Saya suka mengintipnya, ibu menulis, pelajaran apa saja untuk hari besok, outline yang akan diajarkan, serta apa targetnya, termasuk pertanyaan atau latihan yang akan diberikan pada muridnya. Ayahpun juga seperti itu, meja kerja ayah yang berantakan, tak satupun berani membenahi, karena nanti ayah akan kesulitan mencari bahan atau dokumen yang diperlukannya untuk bekerja.

Lanjutkan membaca “Ketak… ketik…ketok…srrrrt”

Akikah Epitaph di Newseum Café: Sebuah novel yang merupakan buah permenungan, hati yang berontak, ada rasa indah dan mengharukan

Taufik Rahzen, Sihar Ramses Situmorang dan Daniel Mahendra (bunga di meja kiriman Imelda)

Sore itu sepulang kantor, saya mencari taksi di jalan Kebon Sirih. Malam ini ada acara akikah kelahiran anaknya Daniel Mahendra, buah permenungan selama 10 tahun lebih. Novel ini didasarkan atas kejadian nyata,  sempat diendapkan, pernah ditulis bersambung dalam blognya. Anyaman katanya sungguh indah, saling terjalin dalam rangkaian kata, adanya misteri, serta gelombang naik turun yang kadang menghantam relung hati. Dan ini membuat yang membaca merenung, karena kejadian yang dialami oleh tokoh Laras dan Haikal, bisa terjadi pada siapa saja.

Lanjutkan membaca “Akikah Epitaph di Newseum Café: Sebuah novel yang merupakan buah permenungan, hati yang berontak, ada rasa indah dan mengharukan”

Dari hati ke hati…diskusi dalam akikah novel “Epitaph” di Newseum Cafe

Saya mendapat undangan dari FB nya Daniel Mahendra (atau lebih dikenal dengan nama singkatan DM), penulis Epitaph sebagai berikut:

Gambar diambil dari FB nya DM (yang dikirim oleh Afdhal)

Bincang Publik:
“Fakta di balik Novel Trilogi Epitaph”

bersama Taufik Rahzen, Sihar Ramses Simatupang, dan Daniel Mahendra.

Selasa, 12 Januari 2010
19.30 wib
Newseum Indonesia
Jalan Veteran I No.31
Jakarta Pusat

Saya mengenal DM dari ngeblog, yang berkelanjutan kopdar saat  Imelda pulang kampung ke Jakarta. Dari mengobrol inilah saya mengetahui bahwa DM seorang penulis, editor, dan banyak karya lainnya. DM menulis sejak masih SMP, dan tulisannya di muat di media di kota tempatnya sekolah, di ujung timur pulau Jawa.

Tentu saja, saya berusaha untuk menghadirinya, apalagi teman-teman blogger yang lain, seperti Uda Vizon (dari Yogya), Nungki (dari Surabaya), beserta blogger Jakarta (Eka, Yoga) banyak yang hadir. Juga ketemu Koelit Ketjil, yang baru saya tahu setelah melihat dia komentar pada hasil foto acara di Newseum. Jadi ceritanya acara tersebut menjadi acara diskusi buku dan kumpul blogger dalam skala kecil, siapa yang ingin ikutan?

Lanjutkan membaca “Dari hati ke hati…diskusi dalam akikah novel “Epitaph” di Newseum Cafe”