Jika rasa aman menjadi semakin mahal…..

Pindah dari kompleks rumah dinas yang satpamnya siaga 24 jam ke rumah sendiri, membuat  kami harus benar-benar memikirkan keamanan rumah. Semua jendela bertralis,  pagar setinggi dua meter, berujung runcing, pintu pagar selalu terkunci dan dipasang fiberglas sehingga tak terlihat dari jalan. Awalnya saya dan suami ingin pagar terbuka sehingga terlihat dari jalan, namun ternyata beberapa menit sekali ada saja orang yang datang, entah meminta sumbangan, menanyakan alamat dan sebagainya. Setelah saya perhatikan, ternyata tetangga kiri kanan pagarnya tertutup rapat semua, sehingga kalau pagar terbuka dan terjadi apa-apa tetangga juga nggak bakal melihat nya. Anak sulungku mengeluh, kok kita kayak dipenjara,  namun saya jelaskan, bahwa risiko tinggal di dalam kota seperti ini.  Perasaan ini akibat kami terlalu lama tinggal di rumah dinas, sejak si sulung belum berumur setahun sampai dia berumur 24 tahun,  yang  pagar nya terbuka dan kalau siang tak pernah dikunci.

Si mbak yang  saat itu masih baru, di wanti-wanti agar tidak membuka pintu pagar sembarangan, karena kalau ada apa-apa, dia yang akan terkena, maklum saya tak punya barang berharga di rumah, selain tumpukan buku-buku. Barang berharga yang tak seberapa, disimpan dalam safe deposit box. Sebetulnya terkadang saya iri dengan kompleks adik saya di daerah Pondok Gede, yang setiap hari rumah ditinggal kerja cukup dikunci, dan tetangga masih memperhatikan kondisi sekelilingnya. Namun, kami tak boleh mengeluh, tetangga kami  sebenarnya cukup baik, tapi mereka rata-rata bekerja di kantor pada siang hari, dan hanya malam hari ada di rumah, sehingga kami dipesan bahwa waktu rawan adalah siang hari, dimana penghuni hanya orangtua, ibu rumah tangga dan anak-anak.

Berita mengagetkan datang dari adik saya, karena saat adik saya menelpon tante, yang tinggal di Bandung, dijawab oleh putrinya yang tidak tinggal serumah karena telah berkeluarga, katanya tante selamat dari rencana perampokan di rumahnya. Tante (hampir 75 tahun) dan om (80 tahun) hanya tinggal berdua di rumah, pavilyun rumahnya disewa oleh cucu keponakan untuk toko handphone, sehingga pintu pagar selalu terbuka. Tante juga mempunyai  beberapa kamar yang digunakan untuk kost, namun pintu masuk nya terpisah dari rumah induk. Tante, yang pensiunan Wakil Kepala SMP Negeri di Bandung, sudah terbiasa menerima tamu, bahkan sampai malam hari. Oleh karena itu, pada saat ada yang mengetuk pintu pada jam 7 (tujuh) malam, tante membuka pintu sedikit dan menanyakan keperluannya.

Bu, mau cari kost-kost an

Oh, sudah penuh,” jawab tante.

Laki-laki yang di depan menengok ke belakang ke arah temannya (mereka dua orang), kemudian bilang kalau menurut informasi masih ada, sambil mendorong pintu. Tante yang kaget, baru sadar kalau mereka bukan orang baik-baik, berusaha agar pintu kembali tertutup, namun tante kalah dan salah satu dari laki-laki itu menendang kaki tante sehingga terjatuh. Tante berusaha minta tolong tapi tak ada yang datang, mungkin karena jalanan di depan rumah cukup ramai, dan tak ada yang memperhatikan kejadian tersebut. Tante mencoba menggigit tangan yang membekapnya, dan hanya karena kuasa Allah, tante bisa mendorong pintu lagi dan menyelotnya. Tante yang kesakitan, berjalan ngesot (merangkak) ke dalam rumah, disapa oleh om yang lagi duduk di kursi di depan TV. “Lho, ibu kenapa jalannya begitu?” Betapa kagetnya om, yang jalannya pakai tongkat, karena disangkanya tamu biasa. Tante  kemudian bisa menelepon putrinya  di Jakarta, putrinya bingung karena tante hanya bisa menangis, disangka yang kena apa-apa ayahnya. Langsung malam itu juga ada keponakan tante yang membawa  tante ke UGD, dan ternyata kaki kanan tante retak, tak bisa dipakai jalan sampai sembuh dulu.

Saat saya mengunjungi kesana, tante masih terbaring karena belum bisa jalan, dan putri-putrinya sedang kumpul di rumah karena lagi liburan. Akhirnya semua sepakat untuk memasang tralis pada setiap pintu, dan hanya boleh membukakan pintu pada tamu yang dikenalnya.  Melihat kondisi tersebut, saya menjadi punya gambaran bagaimana kondisi saya beberapa tahun mendatang, jika umur panjang, anak-anak sudah berkeluarga semua, maka akan tinggal sendiri di rumah. Jika dulu, selalu ada keluarga yang bisa menemani, maka saat ini  dimana rata-rata keluarga hanya mempunyai sedikit anak, membuat kita harus berpikir  ulang bagaimana bisa hidup sejahtera dan aman pada masa tua.

Rasanya hidup aman semakin sulit di kota besar di Indonesia ini, bahkan siang hari pun kita harus hati-hati, baik di dalam rumah maupun dijalan. Rumah, yang seharusnya merupakan tempat paling aman, saat ini tak selalu aman. Dan apakah kita harus selalu curiga pada tamu, dan hanya membukakan pintu pada orang yang telah di kenal baik. Saya ingat protes seorang teman blogger, yang mengantar undangan ke rumah pada saat saya tidak ada, karena oleh si mbak surat hanya diterima melalui lubang pada pagar.

Dan beberapa kali ada surat yang salah alamat ke tempat saya, dan saat si mbak bilang bahwa tak ada nama tersebut di rumah kami, si pengantar surat balik bertanya..”Lha ini rumah siapa?” Yang langsung dijawab sama si mbak…”Lha menurut situ siapa?“….Mengapa si mbak seperti itu, karena kawatir suatu ketika ada yang pura-pura mengantar surat atau paket, padahal hanya sebagai alasan untuk bisa masuk ke rumah. Jadi, sebaiknya mesti bagaimanakah kita?

Iklan

25 pemikiran pada “Jika rasa aman menjadi semakin mahal…..

  1. aduh untunglah tantenya selamat bu…

    saya sendiri merasakan paranoid itu. Soalnya kalo siang yang di rumah cuma si Mbak dan Vio. Si mbak sendiri selalu saya wanti-wanti untuk tidak membukakan pintu pada orang yg tidak kenal. Terima surat, paket dan sebagainya pun cukup di pagar saja. Itu pun pagar harus selalu tergembok. Kalo ada yang tanya-tanya jawab saja tidak tahu.

    capek bu menjadi paranoid seperti itu sebetulnya.. tapi ya mau gimana lagi 😐

    Betul Chik, capek jadi paranoid…tapi mungkin bukan paranoid ya, tapi waspada….
    Saya dulu, karena rumah di kompleks terbuka, agar tak menarik minat orang nggak benar, selain hanya inventaris kantor, interior rumah hanya buku-buku. Walau ada satpam, ada juga yang kecolongan, dengan cara digendam.

  2. kalo di komplek saya, pintu terbuka artinya mengundang pengamen dan peminta sumbangan yang entah dari mana. akhirnya pintu juga lebih banyak ditutup. pagar memang tidak digembok untuk memudahkan pencatat meteran pam/pln. tapi tetap harus waspada karena motor bisa hilang dalam hitungan menit. susah memang mencari tempat yang benar2 aman meski satpam ada dekat kita.

    Ditempat saya, memang disarankan oleh ketua RT/RW agar pintu pagar selalu terkunci. Dan karena tetangga sebelah pernah ketipu orang yang mengaku-aku pegawai PLN, maka kami punya petugas PLN yang memang khusus melayani lingkungan rumah kami. Nomor hape nya pun diberi…dan selain dia tak boleh ada orang masuk, walau mengaku dari PLN. Apa boleh buat, memang harus seperti itu.

  3. Ada dosen yg tetangganya di kompleks jadi rektor, jadi rumahnya ikutan kebagian aman karena ada satpam di sebelah rumah. Begitu si tetangga nggak jadi rektor lagi maka fasilitas dalam bentuk penjagaan oleh satpam juga berhenti. Alhasil jadi ketar-ketir juga sekarang … Apalagi tetangga lainnya pernah kecurian laptop di meja kerja dekat ruang tamu ketika ditinggal ke dapur sebentar untuk ambil minum …

    Memang ternyata rawan itu sekarang ada dimana-mana…paling tidak setiap keluarga harus menjaga diri masing-masing, apalagi jika siang hari hanya ada ibu-ibu dan orangtua.

  4. ah, ibu. persis dengan tulisan yang saya rencanakan, sehubungan dengan perampokan rumah jenderal di kompleks kami (sempat menjadi pemberitaan nasional karena yah, jenderal gitu loch). sang jenderal justru kerampokan pada pagi hari, si perampok kulunuwon masuk dari pintu depan berlagak tamu. duh, hampir mirip cerita si tante, ya? bedanya, di sini sang jenderal jadi korban pembacokan kemudian kritis. mudah-mudahan tantenya bu enny segera pulih, baik dari trauma fisik maupun mental.

    keamanan memang semakin meroket harganya, bu, bahkan di kompleks-kompleks perumahan yang selama ini kita anggap prestisius dan terjamin keamanannya.

    Yang paling berbahaya, adalah jika orang terlanjur masuk, dan berlagak saudara pemilik rumah.
    Ada kejadian lucu di rumah, saat anak-anak saya masih SD. Mereka berdua ditinggal di rumah, si mbak ke pasar…dan di pesan jangan memasukkan siapa-siapa, pintu rumah supaya dikunci…namun pagar tak dikunci.
    Alhasil, eyang kakung (ayahnya suami) datang, mengetuk pintu. Anak-anak teriak…”Eyang, aku tahu itu Eyang kakung, tapi si mbak pesan tak boleh membuka pintu bagi siapapun. Eyang duduk di teras ya, tunggu mbak pulang dari pasar.” Eyangnya menjawab, “Baiklah…eyang mau tiduran di teras” (Eyang naik bis malam yang tentu saja lelah karena dari Jawa Timur ke Jakarta). Betapa kagetnya pembantu, melihat orang tiduran di teras, yang ternyata ayah majikannya…hehehe

  5. Untung saya tinggal didaerah pedesan yang masih relatif aman. Yang pasti, rumah tanpa pagar, pintu tiap hari dibuka, jendela dibuka, tanpa terali besi, kendaraan di halaman dari siang hingga jam sembilan malam. Dengan rumah tetangga gak ada batas tembok.

    Seperti rumah orangtuaku zaman dulu…walau sekarang masing-masing rumah telah dibatasi pagar tembok….karena kota juga makin bergeser, dan menjadi kurang aman.

  6. memang sekarang harus tetap waspada bu…
    kejahatan bisa terjadi di mana-mana. syukurlah tante bu Eny selamat.

    Iya, tetap harus waspada…syukurlah tante selamat, walau kaki retak dan belum bisa jalan.

  7. memang harus slalu waspada, karena kejahatan bukan hanya niat tapi adanya kesempatan. Biar di kota kecil tetep rentan kejahatan juga

    Sekarang kejahatan memang tak hanya terjadi di kota besar saja.

  8. ngeri, bu, baca cerita tentang si tante. padahal udah bercita-cita punya rumah tanpa pagar tinggi. mesti diformat ulang nih mimpinya 😦

    Betul Fety, mesti diperhatikan dulu lingkungannya…walau ada satpam, kadang satpam tak bisa mengamankan seluruh penghuni rumah..karena mereka kan bisa naik motor dsb nya. Apalagi jika terlihat seperti orang baik-baik…dulu, rumah yang jauh dari pos satpam juga harus tetap hati-hati

  9. Untung saja Tante bisa sembuh ya… duh kejahatan jaman sekarang itu….

    Di Jepang sebetulnya masih bisa tinggalkan rumah tanpa dikunci, tapi itu kalau lupa, dan untuk waktu yang singkat. Kalau jadi kebiasaan, maka byk juga yang berusaha untuk masuk. Antara aman dan tidak aman deh. Karena apartemen saya di Tokyo juga pernah kok kemasukan maling hehehe.

    EM

    Betul Imelda, terkadang mereka masuk karena ada peluang…jadi ingat mertua sepupuku yang berpesan…”Ojo ngiming-ngimingi...” Karena sepupuku suka ceroboh, perhiasan, uang ditaruh sembarangan, padahal si mbak yang membantu kan bukan orang berada, pada suatu ketika dia sangat perlu karena ada kesulitan, bisa timbul nafsu buruknya…

  10. Salam Takzim
    wah perlu dicontoh nih, tetapi apa nggak dibilang pelit ya, rumah dengan pagar yang tertutup rapat

    Lho! Yang bilang pelit siapa? Lha malah yang meminta warga agar selalu mengunci pintu pagar ketua RT/RW nya, karena walau ada satpam, masih terbatas karena mengelilingi sekian puluh rumah warga. Jadi, masing-masing harus membantu mengamankan diri sendiri. Dan kalau semua rumah pagarnya tertutup rapat, kalau kita sendiri yang terbuka, malah rawan orang-orang yang berniat menganggu…harus diingat orang-orang tsb orang tak dikenal, karena rumahku hanya 200 meter dari jalan besar, dan dekat jalan Tol, serta Mal.

  11. Wah, meskipun cedera, untung tante Ibu bisa menghalau orang itu. Sesuatu yang lebih mengkhawatirkan tidak terjadi. Tentu dibutuhkan keberanian untuk bisa melawan seperti itu.

    Apa boleh buat, Bu, tinggal di kota besar kita seolah memang makin asing dengan daerah rumah kita sendiri. Semua orang yang hendak datang atau yang melintas bisa-bisa kita “curigai”. Tapi mesti bagaimana, hanya kita sendiri yang mesti menjaga keamanan daerah kita.

    Tindakan yang paling memungkinkan tentu memproteksi keadaan rumah. Meski itu akan terasa aneh seperti yang dirasakan Ari.

    Tante juga merasa bahwa kekuatan melawan itu atas ridho Allah Yang Maha Kuasa. Dalam kondisi normal kayaknya nggak mungkin, apalagi melawan dua laki-laki, yang tentu jauh lebih kuat. Traumanya yang lebih harus diperhatikan, padahal tante orangnya mandiri.
    Kejadian itu mengingatkan pada kami, juga para anggota keluarga untuk tetap berhati-hati….dan tidak mudah memasukkan oarng/tamu ke dalam pagar, apalagi ke dalam rumah, selain benar-benar dikenal dan ada kepentingannya.

  12. wah kalo saya mah tinggalnya di kampung jadi gak begitu khawatir soal kemanan..

    Di kampung (rumah orangtua) juga masih aman..walau tak seaman dulu lagi

  13. Iya bu…. harus hati2 bu….. pembantunya, apalagi kalau masih baru, harus dinasihatin, apalagi kalau ditinggal sendiri: “Pokoknya siapapun jangan dibukakan pintunya, walaupun ngaku saudara, ataupun orangnya rapi pakai dasi sekalipun! Kecuali jikalau yang memang benar2 kenal!”. Maklumlah, 80% kejahatan berawal dari orang dekat sendiri, baik langsung dan terutama yang tidak langsung. Pembantu2 yang secara nggak sengaja sering cerita2 mengenai sikon di rumah dan akhirnya tersebar dari mulut ke mulut itu juga berpotensi untuk mengundang kejahatan ke dalam rumah…

    Betul kang Yari, karena mereka biasanya selalu berpikir bahwa semua orang baik. Padahal kalau ada apa-apa, yang dipikirkan keselamatan mereka, majikan dan anak-anaknya kalau siang di luar rumah, dan dia tinggal sendiri menjaga rumah.

  14. Bu Enny, rasa tidak aman itu memang sepertinya kental sekali ya kalau di Jakarta. Saya sendiri juga merasakannya. Tapi untunglah di Jkt ini saya tinggal di daerah yg cukup aman dan tetangga kiri kanan masih cukup perhatian. Kalau ada kecurigaan sedikit, langsung bisa ditindak. Di rumah saya di Madiun rasanya aman2 saja. Padahal terletak di pinggir jalan yg cukup besar (jl Bali). Seringnya nitip kepada tetangga dan orang2 yg sering berada di sekitar rumah. Saya lebih suka tinggal di kampung atau kota kecil saja…

    Itu bukan hanya soal rumah, saat pertama kali kerja di Jakarta, masih tahun 1979 (berarti 30 tahun lalu)…om tempat kost selalu pesan agar hati-hati. Bahkan temanku yang lama tinggal di Jakarta juga berpesan, kalau berjalan harus cepat, fokus, dan jangan melalui jalan gelap, tapi yang selalu berada di keramaian. Dan segera teriak jika diganggu orang, karena kalau kaget kan kita cenderung bungkam, kaget, nggak bisa ngomong. Bayangkan, tigapuluh tahun lalu, kondisi Jakarta di mata warganya sudah seperti itu….

  15. Postingan yang ini mesti jadi bahan bacaan bagi seluruh kita terutama ibu-ibu, biar mereka waspada dan yang paling penting adalah, berkenalanlah dan jalinlah hubungan komunikasi intensif dengan para tetangga, sehingga saling mengingatkan dan menjaga.

    Betul Imoe, hubungan antar tetangga harus terjalin baik…namun yang harus diingat, warga Jakarta hanya lengkap jika malam hari, pada hari kerja…akhir pekan dan liburan? Mereka juga menghilang ke luar kota. Tentu saja, termasuk saya…hehehe

  16. Alhamdulillah saya tenang di kota kecil seperti serang walau panas tapi rasa aman masih terjaga disini

    berharap dimanapaun kita tinggal rasa aman itu tetap ada, mungkin menjadi kewajiban pemimpin untuk bisa mengenyangkan perut rakyat dulu

    salam

    Di kota kecil, memang cenderung lebih ramah lingkungan, rumah antar tetangga saling terbuka….

  17. mungkin harus dibiasakan untuk lebih memprotek rumah bu dengan memasang teralis dan alat pengaman lainnya. karena sekarang tetanggapun tidak akan menolong kita. Tapi kalo penjahatnya niat banget kita juga gak bisa apa apa lha wong mereka punya bedil lha kita punya apa? berdoa agaknya lebih penting agar kita lebih beruntung dari pada tetangga kita.

    Berdoa, ini wajib…
    Lha dulu, di komplek rumah dinas…saat penghuni ada yang baru pulang tengah malam, pake Kijang baru, justru di todong di depan pintu portal kompleks…penjahatnya mengeluarkan tembakan ke atas…coba bayangkan, satpampun tak bisa apa-apa karena kawatir mencelakai penghuni.
    Jadi, yang penting harus dijaga jangan memasukkan orang ke dalam rumah, sebelum kita mengenal betul siapa dia, dan apa kepentingannya. Memang rasanya aneh, tapi pengirim paket, surat, semuanya bisa memahami kok.

  18. Kalau di sini lebih ‘parah’ lagi….
    Pintu rumah/unit harus selalu terkunci. Kalau ada orang mengetuk pintu, siapapun dia, tak perlu dibuka.

    Pernah suatu waktu seorang teman mengetuk pintu rumah tapi tak saya buka meski ia teriak namanya sampai akhirnya ia telp saya dan saya buka.

    Tak ada yang mau ambil dan terima resiko.. kita memang (sayangnya) harus semakin peduli dengan keamanan.. Dunia semakin penuh orang.. semakin tak aman pula, Bu!

    Betul Don, kadang di apartemen orang harus lebih paranoid…kalau di rumah seperti komplek tempat tinggalku, ada tamu kan pintunya dibuka..lha kalau apartemen, harus ada lubang di pintu untuk melihat dulu siapa…walau dikenal, kadang siapa tahu dia lagi ditodong orang lain.

  19. Yah, begitulah bunda memang sekarang ini yang namanya aman itu jadi semakin mahal.

    Alhamdullilah sekaramg ini saya tinggal di satu cluster yang dijaga 24 jam oleh satpam. Dan setiap tamu yang datang tidak dilengkapi pengenal (sticker) di mobil atau motor akan diminta KTP, dll. Dan tentu saja ada cost tambahan utk ini yang dibebankan ke warga.

    Tapi tetap saja saya selalu berpesan kpd si mbak yg mengasuh & menjaga anak & tinggal rumah selagi kita bekerja, mirip dgn pesan bunda Ratna lakukan.

    Tapi tetap saja rasa was-was itu tetap ada, apalagi sekarang bukan hanya masalah keamanan rumah, motif penculikan anakpun kerap terjadi.

    Saya berdo’a aza bunda, semoga dgn segenap usaha yang kita lakukan, kita semua selalu terhindar dari hal-hal buruk yang terkadang mengancam ini. Amien.

    best regard,
    Bintang

    Betul Bintang, memang pada akhirnya kita hanya usaha untuk mengamankan, dan selanjutnya berdoa…

  20. wah…wah jadi ngeri mbayanginnya…
    di desa dimana saya tinggal semua serba terbuka.
    Mobil sering ga dikunci..pernah sih ada yg iseng ngambil duit receh yg selalu ada buat parkir di mobil….

    Rumah adik sepupu saya di daerah Jakarta juga dimasukin orang pagi2 kira2 jam 10 an….pintu dapurnya di jebol pakai kapak….adik saya berteriak orangnya lari naik motor dan hampir nabrak orang2 dijalan gang nya….
    Rumah mbak saya yg ditinggal blanja ke warung juga dimasukin maling yg sempat ngambil hp yg lagi di charge (padahal ada anak2 didalam rumah lagi main).

    Jadi klo mau kerumah mbak Eni, harus janjian dulu dan begitu sampai didepan rumah harus nelp yah? itu kan yg teraman?

    Iya Wieda, mesti janjian dulu. Saat Lisa (penulis “Iluminasi”) mengantar buku ke rumah, kebetulan saya masih di Bandung, dia nyampe Citos (Cilandak Town Square) dan nelepon…..saya juga langsung telepon si mbak di rumah kalau mbak Lisa mau antar buku.
    Bukan mau sombong sih…saya sendiri kalau ke rumah orang, walau pemilik rumah teman dekat, selalu bilang pada penjaga pagarnya (atau si mbak), saya siapa dan agar disampaikan dulu pada pemilik rumah, baru dibukakan pintunya….dan kita tak boleh tersinggung.

  21. Memasang pagar tinggi, serta teralis di pintu dan jendela rumah adalah dilema juga. Di satu sisi melindungi penghuni dari bahaya yang datang dari luar, tapi di sisi lain memerangkap penghuni terhadap bahaya yang berasal dari dalam rumah. Jika penjahat sudah berhasil masuk rumah, kita terjebak tak bisa lari. Atau kalau terjadi kebakaran, kita tak bisa keluar, dan orangpun tak bisa masuk untuk menolong kita …

    Penjagaan dengan satpam mungkin salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan. Memang ada biaya tambahan, tetapi jika ditanggung bersama oleh seluruh warga, pasti akan lebih ringan. Seperti di kediaman Mbak Elindasari (dan komplek-komplek lain), siapapun yang masuk harus menunjukkan KTP.

    Selanjutnya, tinggal berdoa …

    Lingkungan tempat saya tinggal merupakan kompleks perumahan sejak tahun 60 an, dulu asal muasalnya kebon karet….jadi susah kalau dipakai penjagaan 24 jam, yang protes pengguna jalan lainnya. Dan rumah yang bisa dipakai penjagaan 24 jam, pada umumnya kompleks tertutup, seperti perumahan yang sejak awal memang dibuat seperti itu.
    Rumah saya hanya 200 meter dari jalan Fatmawati, yang untuk menyeberang saja, terkadang perlu waktu sekitar 15-30 menit (karena saya penakut jika menyeberang jalan)…dari Citos hanya 5-10 menit. Kecuali jika punya satpam khusus rumah kita…..
    Dan satpam sebetulnya berkeliling terus, tapi yang bahaya adalah jika yang datang berlagak sebagai tamu…jika terlanjur masuk pagar tetanggapun menyangka memang kenal dekat.

    Betul mbak, pagar tinggi juga berbahaya…saat ada gempa di Jakarta (gempa Tasikmalaya)…saya sedang berada di lantai 18 ( di kantor)…dan si mbak katanya mau buka pintu susah banget karena udah gemetaran….

  22. Untunglah tante selamat bunda…
    Hiks, mau gimana lagi bun…
    Di kota besar memang seperti itu.

    Anw mengenai kekuatiran bunda jika nanti semua sudah berkeluarga dan bunda sendirian di rumah.. heem itu sempat jadi pemikiran mama saya. Akhirnya suami saya ngalah, kami cari rumah yang bedanya hanya +/- 200m saja dari rumah mama, biar lebih mudah untuk ngontrolnya 🙂

    Sebaiknya memang begitu Eka…hal yang paling saya sesali, adalah tak bisa merawat alm ibu saat sakit. Beliau tinggal di Madiun, anakku masih kecil-kecil, sering sakit dan cuti terbatas (setahun maks 14 hari). Akhirnya ibu bersedia tinggal serumah dengan adikku, yang keduanya dosen, di Semarang, sampai akhir hayatnya.
    Selama masih bisa satu kota, tak masalah…tapi jika berjauhan, dan lapangan udara di kota lain..apalagi di luar negeri……hal tsb sulit diatasi.
    Namun sebagai orangtua, saya memahami pandangan ayah ibu alam..bahwa kita harus merelakan anak-anak kita mencari kebahagiaannya, walau terbang jauh dari rumah tinggal semasa kecilnya.

  23. untunglah Tantenya Bu Enny selamat…sekarang sudah pulih Bu? semoga sudah bisa mengatasi traumanya ya Bu…
    wah, saya jadi gemes sama pelakunya nih…

    Waktu awal-awal tinggal di Jakarta, saya gumun melihat rumah-rumah yang tertutup rapat. Lha kok kayak “penjara”? maklum, saya dari desa yang rumahnya serba terbuka hehehe…

    Awalnya saya tak krasan tinggal di Jakarta, setelah bisa menyesuaikan diri, akhirnya menikmati…..malah kalau tugas ke luar kota lebih dari 3 hari rasanya udah terasa sepi….Jakarta memang selalu sibuk.
    Tante nggak apa-apa, sakitnya tak masalah, namun traumanya ternyata lebih mengkawatirkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s