Oleh: edratna | Januari 10, 2010

Hantu “narkoba” menyerang keluarga itu….

Berita itu menyambar bak petir di siang hari bolong.  Saat itu saya bersama anakku, baru saja pulang dari Bandung ke Jakarta, dan karena badan rasanya sudah babak belur, mungkin masuk angin, kami langsung mampir ke salon langganan kami dekat rumah, untuk “body massage“, karena salon ini terkenal dengan pelayanannya, terutama pijitannya bikin kangen untuk datang terus ke situ.  Apalagi saat itu sedang ada diskon 50 persen khusus untuk body massage dan luluran. Dan tentu saja, namanya dipijat, boro-boro mendengar bunyi telepon…malah merem melek  mengantuk.

Sepulang di rumah saya mengecek Hape, ada missed call. Saya telepon balik,  berita yang saya terima membuatku terduduk lemas. Kami sekeluarga mengenal keluarga itu dengan baik, bahkan mereka sekeluarga, lengkap dengan ayah ibunya, pernah menginap di rumah kami saat mengantar kepergian putranya meneruskan pendidikan master di Luar Negeri.  Masih terbayang dalam ingatanku, si sulung yang pendiam, yang setahun kemudian bersama ibunya, ikut menyusul ke luar negeri.  Keluarga itu  sudah seperti saudara dengan keluarga kami, dan si sulung sudah masuk ke Perguruan Tinggi. Sampai saat ini, saya menyadari, hantu narkoba mengintai siapapun yang lengah.

Saat anak sulungku kelas  1 (satu) SMP, dan tertidur di sekolah, ibu kepala sekolah meneleponku, mengabari dan ingin ketemu, karena beliau  kawatir anakku kena narkoba, kok sampai tertidur di sekolah. Dan saat itu saya sedang di luar kota dalam rangka tugas. Betapa kagetnya saya, dan sejak telepon itu pikiran tak karu-karu wan. Begitu tugas selesai, saya segera pulang dan besoknya ketemu ibu kepala sekolah. Ternyata ibu kepala Sekolah malah ketawa-ketawa, dan mengatakan beliau keliru, karena saat anakku kemudian dipanggil dan ditraktir makan, makannya menambah, dan  saat ditawari minum, pilih coca cola. Dan anakku, menjadikan pengalaman ditraktir ibu Kepala Sekolah SMP ini merupakan pengalaman tak terlupakan, padahal ibu itu sebenarnya sedang ngetes dia. Rupanya, anakku yang saat itu baru sembuh dari sakit, masih minum obat flu yang menimbulkan gejala mengantuk. Di tambah mata pelajarannya saat itu PPKN, makin nyenyaklah dia tertidur. Belakangan, saya baru tahu, bahwa si sulung memang punya kelemahan dalam hal ini, yang pernah saya posting sebelumnya.

Gara-gara itu, saya menjadi kenal ibu Kepala Sekolah, dan beliau pesan agar anakku jangan mau ditraktir sembarang orang, bahkan oleh alumni SMP, terutama jika mentraktirnya di luar halaman sekolah. Karena jika ditraktir, si anak akan merasa berhutang budi, dan nanti tak bisa mengelak atau lengah jika seniornya mengajak hal-hal di luar kewajaran. Rupanya di Jakarta sering ada senior, yang merupakan alumni sekolah itu (entah SMP atau SMA) suka berkunjung ke sekolah, namun hanya di seputarnya dan tak masuk ke halaman.  Bagiku terasa aneh, apakah mereka tak sekolah? Karena semakin tinggi tingkatan sekolahnya, mestinya semakin sibuk. Jadi sejak itu, saya sering datang ke sekolah, dan anakku saya pesan untuk jajan di kantin saja, karena masih diawasi oleh guru-guru.

Dan akibat kekawatiran ini, sampai masuk SMA pun, saya tak mengendorkan pengawasan, sering datang ke sekolah, terutama acara pertemuan guru dan orangtua murid. Disini ada acara sharing, bagaimana melihat ciri-ciri seorang anak yang terkena narkoba. Bisa dimulai dari hal kecil-kecil…seperti, anak yang biasanya riang menjadi pendiam atau sebaliknya, suka menutup pintu kamar. Dan orangtua harus curiga jika menemukan hal-hal, seperti jarum, kertas bungkus rokok (grenjeng…hmm apa ya bahasa Indonesia nya?)…dan alat-alat lain. Saya pernah membaca di suatu majalah, bagaimana seorang ibu mengontrol anaknya, caranya dengan mencium  pipi putranya setiap hari.  Saya mengikuti saran ini, walau si sulung hanya mau di peluk/cium pipi jika tanpa diketahui temannya, karena malu. Pelukan, selain memberikan ketenangan, juga membuat ibu merasakan bau yang lain…seperti jika anakku habis makan sesuatu yang diluar kebiasaan, saya langsung bisa tahu.

Yahh..akhirnya saya menjadi mirip anjing pengawas, yang hidungnya rajin mencium segala bau-bauan. Dan saya bilang ke anak saya..”Pintu kamar jangan dikunci ya nak, soalnya engkau suka nglindur,” kata saya. Untung si sulung menurut, karena memang dia suka mimpi..padahal dengan kamar tak di kunci membuat kami bisa monitor anak. Saya juga menegur anak, jika ada teman yang diajak masuk kamar dan pintu di tutup. Saya memberitahu, bahwa ibu kalau terima tamu, tamunya tidak diajak masuk kamar, tapi di terima ruang tamu. Hanya  boleh di kamar ibu  jika kebetulan teman tadi mau bareng ada acara dan mau ganti baju. Dan kembali, anak-anakku menurut…..dan syukurlah mereka merasa ibu bisa diajak mengobrol, sehingga mereka tak malu bahkan bangga mengenalkan ibu ke teman-temannya. Saya mengenal dengan baik, sahabat-sahabat anakku, serta siapa teman bergaulnya. Si bungsu juga dengan suka rela menunjukkan ruangan di lab nya, karena saya suka kawatir karena dia sering pulang malam atau bahkan tidur di lab menyelesaikan pekerjaannya. Dengan si sulung, saya juga akrab dengan teman-temannya, baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kedekatan anak dan orangtua ini sangat penting, karena hanya inilah yang bisa menjaga agar anak tak terjatuh pada lingkungan pertemanan yang salah.

Narkoba ini benar-benar mengkawatirkan, karena pengobatannya sangat mahal, dan seringnya jika sudah sembuh, harus dijauhkan  dari  pergaulan teman-teman dilingkungan lamanya,  ini sangat tidak mudah. Saya sedih sekali, saya pikir  anak yang telah melewati usia remaja, dan mulai kuliah, akan lebih kuat menghadapi ini. Saya lupa, ada selebriti yang umurnya di atas 50 tahun pun masih bisa terkena dan ini sangat menyengsarakan seluruh anggota  keluarga. Cobaan yang benar-benar berat bagi keluarga itu, jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena narkoba. Betapa narkoba menghancurkan sendi-sendi kehidupan anak-anak kita.

Saya mendengar putra teman tadi telah dibawa berobat, yang tak boleh di tengok orangtua nya sampai tiga bulan kemudian. Semoga keluarga tadi tabah menghadapi cobaan ini, dan lebih mendekatkan diri pada Allah swt.

Semoga keluarga saya  terhindar dari cobaan ini,  anak-anakku telah dewasa, dan telah meninggalkan rumah orangtua, hanya doa ayah ibu dan komunikasi yang baik, yang bisa membuat anak-anak terlepas dari jaring narkoba ini. Dan kita tetap perlu waspada terhadap gejala apapun yang di luar kebiasaan dari anggota keluarga.

Iklan

Responses

  1. Bunda.. sedih banget keluarga sahabat bunda tersebut. Saya ikut bersimpati ya bun.. Semoga diberikan kekuatan untuk menghadapi ini.

    Anw, saran bunda untuk selalu mencium buah hati akan saya ingat… Wiiih melihat bagaimana bunda mem”protect” keluarga bunda… LUAR BIASA. Jempol buat bunda!

    Saya tidak ada pengalaman khusus berkaitan dengan narkoba dan sejenisnya dalam radius dekat, namun membaca akibatnya juga kemungkinan OD. Wedeeew! Ngeri.. minjem kata bang Napi.. waspada saja ya bun…

    Salam,
    Eka Situmorang-Sir

    Benar Eka, saya sendiri yang tak langsung terkena sudah syok mendengarnya. Mereka keluarga dosen..bayangkan…..
    Hmm Eka, ternyata orangtua tetap harus berdoa agar Tuhan membimbing anak-anak kita, karena narkoba benar-benar tak kenal umur, tak kenal keluarga baik, atau broken home

  2. keluarga saya ada yang pernah mengalaminya..
    untungnya belum candu banget..jadi masuk rehab beberapa bulan udah sembuh.
    sekarang hidupnya sudah normal dan benar-benar bersih dari narkoba.
    untuk anak muda biasanya sih faktor penyebabnya dari pergaulan. ada teman yang ajak coba-coba, dikasi gratisan, trus akhinya ketagihan.

    semoga keluarga sahabat bunda lekas menemukan jalan keluar ya… 🙂

    Saya berharap begitu Yessy….sayang masa muda jika menjadi korban narkoba.
    Masa depan masih membentang dihadapannya

  3. pergaulan zaman sekarang
    memang semakin mengkhawatirkan
    semoga keluarga kita bisa terhindar
    dari narkoba dan sejenisnya
    dengan senantiasa menjaga
    keutuhan dan harmoni dalam
    keluarga….

    Memang harus selalu dijaga agar anak merasa aman dan nyaman di rumah, serta merasa mendapat kepercayaan dari orangtuanya

  4. sedih membaca postingan ini ibu, moga semuanya baik-baik saja.
    jadi pengen niru cara ibu, membiasakan mencium anak-anak nntnya:)

    Fety,
    Saya akui memang berat, dan doa tak putus-putus Nya dipanjatkan agar anak-anak kita selalu mendapat lindungan Nya, dan dijaga agar selalu berjalan dijalan yang di rihoi Nya.
    Di satu sisi, orangtua harus dekat dengan anak-anak, namun juga memberi kepercayaan kepada mereka, sehingga mereka tetap dapat bergaul bersama teman-temannya dan mandiri. Tak dapat dipungkiri, kita juga harus mengenal teman-teman anak kita, walau sulit jika tinggal di kota besar.

  5. semoga kita terhindar dari hal-hal buruk itu

    Betul pak…..selain usaha mempererat hubungan dengan anak, juga harus selalu berdoa….

  6. Waduh, perlu di bookmarked tulisan ini, Bu. Bisa jadi pedoman ketika anak sudah besar nanti dan menghadapi ‘racun’ narkoba ….

    Saya percaya, Donny dan Joice pasti bisa.
    Yang penting, anak diberi kepercayaan, namun orangtua juga harus mengawasi dari jauh, karena kadang mereka tak bisa menolak teman.
    Dan lebih baik lagi, jika anak merasa ortu nya bisa diajak mengobrol dan curhat, sehingga mereka selalu mau kembali ke rumah jika ada persoalan.

  7. narkoba memang jerat yang sangat berbahaya, sekali masuk perangkapnya akan sulit untuk keluar lagi. dan seringkali perangkapnya sungguh memerdaya. mengerikan membaca kisah orang-orang atau keluarga orang-orang yang tersangkut kasus narkoba. anak pun bisa jadi perampok di rumah sendiri.

    mudah-mudahan anak teman ibu enny segera sembuh dari adiksinya. saya turut bersimpati, bu.

    Betul, Marsmallow….saya ikut sedih…benar-benar nggak menyangka, apalagi putra sulungnya sudah mahasiswa.
    Dulunya masalah itu saya pikir hanya mengenai sampai remaja…dan sekarang, keluarga baik-baik pun harus tetap waspada, namun tak boleh mengekang anak, agar mereka tetap bergaul secara sehat dengan teman-temannya.

  8. say no to Narkoba…

    Yup

  9. Saya juga sangat khawatir dengan hal yang satu ini Bu Enny. Apalagi anak-anak sudah mulai menganjak usia remaja. Pengawasan ketat memang perlu dilakukan, tapi tetap berusaha menjadikan anak nyaman, tidak merasa dipenjara oleh pengawasan kita. Sehingga, bisa tetap bebas mengekspresikan kemauannya.

    Mari berdoa agar keluarga kita terhindar dari hal-hal yang seperti ini ya Bu Enny

    Memang harus waspada, menjaga hubungan baik dengan guru dan teman-teman anak. sehingga anak merasa dipercaya.
    Dan tentu saja, selalu berdoa agar Allah swt selalu membimbing anak kita dijalan yang di ridhoi Nya.

  10. HHH….
    Mari kita saling mendoakan ya Bu …
    Semoga keluarga kita semua terhindar dari hal tersebut …

    Saya kuatir sekali …
    Anak-anak saya lelaki … 3 orang …
    dan sedang beranjak remaja

    Salam saya ibu

    Kalau dulu…orangtua lebih kawatir pada anak perempuan, risiko lebih tinggi.
    Kenyataannya, anak laki-laki pun perlu dijaga…namun tetap diberi kebebasan bergaul…bebas yang bertanggung jawab.
    Semoga kita selalu dilindungi oleh Nya

  11. betul betul betul, terutama lingkungan ya bu yang sangat sangat berpengaruh.bagaimanapun juga pergaulan sekarang sangat riskan, penuh resiko,apalagi kehidupan ekonomi “sulit” .

    Kadang anak-anak yang terkena narkoba bukan berasal dari keluarga yang kehidupan ekonominya sulit. Saat di SMA, teman sebangku anakku terkena narkoba, padahal dia anak tunggal dari ayah ibu seorang dokter….Anak itu diberi mobil yang dipakai ke sekolah. Jadi saat anak-anakku sekolah, mereka harus naik bis, sepeda moor hanya boleh digunakan sesekali jika pergi bersama keluarga…dan baru resmi bisa dipakai setelah dia mahasiswa.

    Dan..yang saya ceritakan di artikel di atas, ketahuan kena narkoba saat mahasiswa tahun kedua…betapa sedihnya

  12. anak sepupu saya pernah terjerat narkoba, saya pernah menuliskannya di blog saya…
    sedih…..ibu bapaknya ngga bisa senyum dan ibunya hanya mengikuti kemana anak ini pergi.
    Pernah dia bilang ke saya : bagaimana saya harus mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti, anak saya lepas kontrol……
    Alhamdulillah anak ini sadar dan “menyembuhkan” dirinya dengan susah payah……dia crita ke saya perjuangan beratnya melawan ketagihan narkotik….
    setelah itu saya berkesimpulan pecandu narkoba itu tidah hanya disembuhkan fisiknya tapi yg harus disembuhkan adalah hatinya…..hatinya harus dibentengi supaya tak lagi terjerumus ke alam obat2 an terlarang….

    saya selalu prihatin dengan keluarga yg salah satu anaknya tergantung obat2 terlarang….rasanya saya bisa ikut merasakan perasaan sedih seluruh keluarganya terutama ortunya….seperti mbak dan mas saya

    Betul Wieda, tanpa kemauan tulus dari orang yang terkena narkoba, sulit akan disembuhkan. Karena lingkungan pergaulan, bandar akan selalu ngiming-ngimingi.

  13. http://amethys.blogspot.com/2008/07/cerita-kesembuhan.html

    itu mbak postingan saya ttg narkoba

    Wieda, terimakasih telah berbagi….saya menangis membaca artikelmu itu, membayangkan betapa keluarga bahagia itu menjadi porak poranda

  14. narkoba memang menjadi hal yang mengkhawatirkan saat ini bu. saya kenal banyak eks pencandu narkoba yang sebenarnya telah bertobat tetapi sayangnya terinfeksi HIV dan ada beberapa yang akhirnya menyebabkan anak dan istrinya tertular. kasihan memang, karena bagaimanapun mereka hanya korban.
    oleh karena itulah, sebisa mungkin jangan pernah sekalipun mencoba karena akibatnya bisa seumur hidup…
    dan cara ibu memantau anak-anak ibu patut ditiru oleh ibu-ibu lainnya…

    Yang mengerikan, korban narkoba tak dibatasi umur…bahkan SD pun sudah ada yang terkena. Gerakan untuk memberantas narkoba perlu didukung, karena korbannya bukan hanya orang yang terkena, tapi bisa seluruh anggota keluarga, serta lingkungannya.

  15. ternyata kuncinya di komunikasi ya, bu… salah satu keluarga kerabat saya juga ada yg belum bisa keluar dari jeratan itu.. keempat putranya kena semua, bahkan salah seorang meninggal karena OD. saya pikir, selain ada komunikasi yang baik dengan orang tua, si anak juga benar2 harus putus hubungan sama sekali dengan teman2 yang dulu mengajaknya itu.. bahkan kalau perlu pindah kota ya bu..

    Miris saya bacanya, baca artikel Wieda di blognya membuatku menangis…menyedihkan sekali.
    Yang sulit memang memutuskan rantai teman-teman yang mempengaruhi itu….semoga kita dan keluarga kita dijauhkan dari hantu narkoba ini.

  16. Kalau saya dulu sama orang tua saya agak dibebaskan, walau begitu bukan berarti orang tua saya tidak mengawasi anak2nya, tetapi agak “kendor” dalam mengawasi anak2nya, maklumlah ayah ibu sibuk. Namun begitu jikalau kita berkumpul, waktu yang sedikit itu digunakan sebaik mungkin untuk “saling mengenal”. Jadi jikalau sepertinya jikalau kuantitas tidak bisa diperbaiki ya terpaksa kualitas pertemuan yang perlu diperbaiki.

    Alhamdulillah, saya tidak terjerumus ke dalam “dunia hitam”. Kelemahan saya hanyalah suka minum minuman beralkohol saja. Maklum orang tua saya (ketika saya sudah menginjak 17 tahun) tidak pernah melarang saya minum alkohol. Namun begitu alhamdulillah, saya tidak pernah kecanduan dan saya tidak suka minuman beralkohol yang melalui proses distilasi, saya hanya suka minuman beralkohol yang melalui proses fermentasi yang nggak lebih dari 10% kadarnya.

    Namun sekarang saya hampir nggak pernah minum bir lagi, apalagi di rumah. Takut jadi contoh yg kurang baik buat anak2. Saya, bisa jadi bisa mengendalikan diri saya, namun anak2 saya kelak?? Walahualam….. Daripada terjadi hal2 yang merugikan kelak, mendingan saya berubah jadi contoh yang baik saja….

    Zaman dulu, orangtua lebih mudah memberikan kebebasan bagi anak-anaknya, karena lingkungan belum brutal. Sekarang memang harus lebih diperhatikan kualitas hubungan orangtua dan anak, juga kualitas hubungan ayah ibu.
    Namun, itu saja tidak cukup, karena banyak juga pengguna narkoba berasal dari keluarga baik-baik…dan harmonis.
    Tetap diperlukan kewaspadaan, tanpa mengekang anak, karena anakpun perlu disiapkan untuk mandiri.
    Dan yang utama, adalah panutan orangtua…. karena ini justru penting sekali artinya bagi anak..berilah contoh, jangan hanya kata-kata.

  17. saya sendiri pernah terjerumus tapi ga parah bun, saya masih dalam tahap ringan

    mungkin pendekatan keluarga dan agama sangat penting dan kita harus waspada terhadap teman main anak-anak kita karena saya dulupun terjerumus karena adanya sahabat-sahabat yang kebetulan pada kuliah di kota Bxxxxxxx

    Untunglah saya masih bisa berpikiran tuk berubah

    salam

    Betul, pertemanan memang harus dipilih…terkadang justru teman dekat atau sahabat bisa menjerumuskan.
    Syukurlan Omiyan epat menyadari hal ini.
    Kota Bxxxxxx ? Hmm memang bisa dikatakan rawan, kalau tak hati-hati.

  18. Melepaskan diri dari jerat narkoba memagn tidak mudah, harus ada dukungan keluarga dan kerabat.
    Dulu ada juga teman saya mbak, dia masuk penjara karena shabu-2. Trus setahun, keluar. Eh kemarin saya dengar dia udah masuk sel lagi, kayaknya susah sekali dia melepaskan diri. Kasihan…

    Sebaiknya menjaga lebih baik…dan ini bukan pekerjaan mudah.
    Saya mengalami bagaimana menjaga anak-anak, terutama saat remaja, diantara kesibukan kerja…benar-benar pontang-panting…namun hasilnya bernilai. Mereka masing-masing sudah dewasa, namun ibu tak pernah berhenti untuk terus menjaga, dengan berdoa pada Allah swt, mohon agar selalu melindungi mereka supaya selalu berada di jalan yang dirihoi Nya.

  19. Memang tidak ada rumus jitu terhindar dari perkara itu. Barangkali mengembangkan sikap jujur dan terbuka sedari kecil akan mengajarkan kepada anak bahwa semua hal bisa diselesaikan jika di omongkan…sebelum terlanjur….

    Betul Imoe, diperlukan kualitas hubungan yang kuat antara anak dan orangtua, hubungan yang membuat anak-anak tetap nyaman ngobrol dengan orangtua, merasa nyaman di rumah, sehingga tak ingin berada dijalanan dengan teman-teman yang tak jelas.

  20. ngeri sekali, Bu…
    sampai merinding saya bacanya.

    sekarang yang saya khawatirkan tuh adik saya yang masih usia rawan, kelas 3 SMP. semoga ia tidak pernah dapat godaan seperti itu. Amien

    Iya Mieke, menyedihkan…orangtua dan keluarga lainnya dari keluarga baik-baik. Lingkungan teman, salah memilih teman membuat semua menjadi berantakan. Adikmu sedang dalam usia rawan…sedang ingin mencari identitas diri…perlu ditemani agar tak merasa sendiri, namun juga jangan mengungkungnya karena dia nanti juga harus tumbuh bebas dan mandiri….

  21. iya serem memang kalo udah ngomongin narkoba, semoga keluargaku terhindar dari semua itu.

    pergaulan anak2 sekarang memang harus di kontrol ya bunda, serem kalau sampai mereka salah jalan.

    turut berduka ya 😦

    Betul Ria…dan narkoba tak memperdulikan usia
    Memang yang paling berbahaya dan harus diperhatikan adalah lingkungan teman

  22. Semoga kita selalu dijauhkan dari hal-hal yang menyeramkan itu.
    Perlu komitmen yang tinggi dari semua pihak. Dari keluarga, lingkungan, sampai pemerintah untuk memberantasnya.

    Betul Nungki, sebagai ibu tak boleh putus berdoa, agar anak-anak kita mendapat lingkungan teman yang baik…dan dijauhkan dari jalan yang tak diridhoi Nya

  23. Waktu SMA, orang terdekat saya pernah “ngobat” karena pergaulan dgn teman-temannya. duh, hati saya hancur dan sedih sekali…
    Ada buntut yang sangat tidak mengenakkan dari peristiwa itu (saya tuliskan juga di blog). sekarang pun, setiap kali membaca artikel tentang pecandu obat-obatan terlarang, saya miris…
    Saya tahu persis bagaimana rasanya -remuk redam- saat orang terdekat kita terkena narkoba..semoga narkoba dan segala kejahatan yang ditimbulkannya segera musnah diberantas tuntas di Indonesia. SEMOGA..

    Iya Nana….pengaruh pertemanan, lingkungan, sangat kuat untuk membuat kecanduan obat. Ini juga yang dipesan oleh psikolog, saat anak-anakku remaja.. Jadi, saya berusaha mengenal kelompok teman-temannya, suka mengundangnya makan di rumah supaya lebih kenal…syukurlah semua terlewati


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: