Oleh: edratna | Januari 13, 2010

Akikah Epitaph di Newseum Café: Sebuah novel yang merupakan buah permenungan, hati yang berontak, ada rasa indah dan mengharukan

Taufik Rahzen, Sihar Ramses Situmorang dan Daniel Mahendra (bunga di meja kiriman Imelda)

Sore itu sepulang kantor, saya mencari taksi di jalan Kebon Sirih. Malam ini ada acara akikah kelahiran anaknya Daniel Mahendra, buah permenungan selama 10 tahun lebih. Novel ini didasarkan atas kejadian nyata,  sempat diendapkan, pernah ditulis bersambung dalam blognya. Anyaman katanya sungguh indah, saling terjalin dalam rangkaian kata, adanya misteri, serta gelombang naik turun yang kadang menghantam relung hati. Dan ini membuat yang membaca merenung, karena kejadian yang dialami oleh tokoh Laras dan Haikal, bisa terjadi pada siapa saja.

Walau sering sekali melewati jalan Veteran 1 yang terletak persis diseberang rel kereta api, yang  diseberangnya terletak masjid Istiqlal, agak sulit juga mencari Newseum Café. Apalagi gelap dan lampu remang-remang sepanjang jalan itu, sulit untuk mencari nama Café nya. Seorang pemuda berkaos, dengan wajah lumayan keluar dari pintu, yang dari dalam taksi terlihat ada tangga naik ke lantai di atasnya. Saya segera menyapa untuk menanyakan letak Newseum Cafe, yang dijawab dia sendiri tak tahu. Akhirnya sopir taksi berbaik hati  untuk turun,  menanyakan kepada orang yang berada di gedung sebelahnya. Dan…ternyata Newseum Café itu adalah gedung berlantai dua dimana sang pemuda tadi baru keluar dari pintu, dan saat saya tanya, dan jawabnya tak tahu. Entah siapa yang salah, karena papan nama di atas memang tertulis “Domus”…dan bukan Newseum.

Saat saya baru datang, yang hadir baru sedikit karena jam masih belum menunjukkan pukul 7 malam, terlihat DM sedang sibuk menyetel peralatan yang akan digunakan untuk acara nanti. Nungki langsung menyapaku, kemudian Lisa Febriyanti, yang kebetulan juga baru menerbitkan novel terbarunya, yang berjudul “Iluminasi”. Tak lama Yoga, dan Uda Vizon berdatangan, disusul Eka..kami berpelukan..dan berfoto dulu…biasa narcis, menunggu acara dimulai. Menjelang pukul 8 malam acara dimulai dengan pembawa acara Desiree Manumpil yang bergaun batik cantik, secantik orangnya.

Lisa membacakan monolog diringi biola oleh Da'an Danang Setiawan

Acara pertama adalah penampilan Lisa yang membawakan “monolog” Epitaph, diiringi biola oleh Da’an Danang Setiawan. Suasana hening, semua terhanyut oleh suara biola dan suara Lisa, membuatku tertegun. Disusul pemutaran film, yang didedikasikan untuk pak Burhan Piliang (mantan wartawan Tempo), Diaz Barlean dan Temy (keduanya mahasiswa IKJ), yang menjadi korban bersama hilangnya  pesawat helikopter di gunung Sibayak. Film ini hasil suntingan mahasiswa IKJ, memperlihatkan Diaz dan kawan-kawan yang sedang bersemangat. Kemudian disusul kepanikan keluarga dan teman-teman IKJ saat pesawat dinyatakan hilang, sampai saat ditemukan reruntuhan pesawat dua tahun kemudian. Dan air mata ini semakin tak bisa ditahan, saat melihat tulang belulang para korban hanya tersisa dalam sebuah tas hitam…teronggok dalam  kendaraan untuk diistirahatkan di tempat peristirahatan terakhir. Saya menengok ke sekelilingku, semua merasakan hal yang sama. Bahkan setelah pemutaran film selesai, yang diteruskan doa yang akan dipandu Uda Vizon…Uda terlihat terhanyut, sempat tertegun, tak bisa berkata-kata.

Uda Vizon yang sempat tertegun, sebelum mulai membacakan doa

Dan baru disitulah Uda Vizon tahu, bahwa novel Epitaph ternyata ada kaitan langsung dengan pengalaman keluarga DM, dan salah satu korban adalah kakak sulung DM.  Selanjutnya  acara penyerahan buku oleh DM kepada Ori, putra alm Burhan Piliang, mantan wartawan Tempo yang juga menjadi korban jatuhnya pesawat helikopter di gunung Sibayak.

Diskusi buku dipandu oleh Taufik Razen, dan Sihar Ramzes Simatupang. Taufik mengawali dengan menanyakan latar belakang mengapa DM menulis novel ini, setelah sepuluh tahun berlalu. Banyak sekali pertanyaan, sampai akhirnya dihentikan, karena buku yang dibagikan bagi para penanya telah habis. Sayapun termasuk  sebagai salah satu penanya, walau mungkin pertanyaannya tak mutu…yang penting dapat buku “Tarian Ombak” karangan Gerson Poyk. Dan juga dapat hadiah buku dari Uda Vizon, berjudul “Kehidupan setelah kematian, Surga yang dijanjikan Al Quran” karangan M. Quraish Shihab. Terimakasih Uda, saya malu karena tak membawakan apa-apa buat Uda. Dan betapa menyesalnya saya, setelah tahu, ternyata Uda telah ada di Jakarta sejak hari Senin dan baru pulang hari Kamis sore. Andaikan tahu, saya akan menjadualkan agar tak ada acara di hari-hari, yang saya bisa mengobrol lebih banyak lagi dengan Uda Vizon.

Dan, yang jelas, setiap kali ketemu, maka terjadilah foto-foto narcis, dan DM yang menjadi seleb malam itu.

Ketemu penulis, ketemu blogger

Berteman lama di dunia maya, namun baru ketemu di dunia nyata

Sibuk tanda tangan bersama penggemar

Diskusi dan acara bincang-bincang, saya posting disini, agar tulisan ini tak terlalu banyak. Malam itu sungguh indah, karena ketemu dengan teman-teman blogger, yang baru ketemu saat itu juga. Jadi, kemarin itu adalah acara bincang-bincang, sekaligus kopdar.

Iklan

Responses

  1. akikah? aqiqoh, bukan? 😛

    wah, sepertinya seru. jadi laper… T~T

    Ha! Kok lapar? Melihat makanannya ya?

  2. wow…aseek nya
    cuma bisa mbayangin saja

    Hayoo…hayoo…kapan ke Indonesia, ngabari ya…..ntar buat acara ketemuan deh…

  3. Wow.. seru… mintain tanda tangan dong Buuu..:))

    Mosok belum dapat kiriman bukunya…..geleng-geleng kepala.
    Kan Donny teman dekat sang penulis….hehehe..apa artinya jarak Bandung-Sidney. Protes Don..protes…

  4. Aaahhhhaaaa …
    Akikah diselingi Kopdar
    Atau
    Kopdar diselingi Akikah ya ???

    Yang jelas …
    Saya mendengar langsung penjelasan dari Uda Vizon ketika kami bertemu sehari setelahnya …

    dan gigi saya gemeretuk mendengarkan cerita dari uda Vizon …
    Sedih … geram … entah apa lagi
    Yang jelas …
    Semoga Novel ini bisa menjadi monumen …
    sebuah cerita anak manusia …
    yang nyata adanya

    Salam saya Ibu EDRatna

    (sebetulnya saya ingin sekali datang malam itu ke Newseum … bertemu dengan DM juga bersua dengan blogger-blogger … yang saya prakirakan pasti beberapa ada yang hadir disana …)
    sayang saya tidak bisa …

    Kadang…acara seperti itu, membuat bisa berkumpul teman-teman yang selama ini hanya kenal di dunia maya.
    Malam itu sebetulnya saya kurang fit, namun memaksakan diri, dan ketemu teman di sana, langsung pusingnya hilang….

  5. aduh enaknya, seandainya masih di jakarta, pasti akan sering kopdar dan ketemu ibu.

    Hayo….hayo…kalau mau mudik bilang-bilang, bisa kopdar…..
    Kan blogger ada dimana-mana….cuma biasanya kalau mudik, acara udah penuh ya

  6. Ya udah deh…. saya ikut kecipratan bahagianya aja deh…. soalnya saya orang yang agak susah baca novel entah kenapa. “Novel” yang pernah saya baca habis cuma “The Diary of Anne Frank” sama “The War of The Worlds” sama “Da Vinci Code”, itu semuanya juga kayaknya bukan novel, yang pertama lebih pada otobiografi, yang kedua sci-fi (novel juga itu ya??), yang ketiga entahlah tuh termasuk apa…. huehuehue….

    Dulu…saya cuma suka baca sambil membayangkan para tokoh yang berseliweran di tulisan itu. Kemudian di Bogor sering diajak teman menghadiri Poetry Reading…walau saya tak memahami puisi, tapi mendengar bagaimana orang menafsirkan dan membaca puisi, membuatkan sering datang ke acara seperti itu.
    Ditambah setelah menikah, suami menyukai seni bahkan akhirnya berkeimpung di bidang seni…lengkap deh. Awal menikah, saat belum punya buntut, TIM sering banget kami datangi…
    Jadi bisa dibayangkan, jika memang waktunya pas, apalagi kenal dengan teman-teman yang hadir..pasti saya mencoba untuk hadir.


  7. Untung deh ada reportase langsung oleh Bu Enny, jd tau suasana acaranya kayak gimana..
    ..

    Jadi ketahuan ya, kerjaanku bikin notulen rapat….jika orang lain sibuk menikmati acara…saya sibuk mencatat….hahaha

  8. sukses peluncuran bukunya kang…

    Kok Kang?
    Lha yang meluncurkan buku kan DM (betul dia seorang cowok)..tapi menulis disini…lha saya kan bukan cowok..hehehe

  9. Bu Enny, saya juga harus dua kali berputar jalan veteran I sampai akhirnya harus telpon mas Niel buat tempat pasnya. Hehehe

    Acaranya seru, dan saya sungguh sangat appreciate bu Enny telaten mendengarkan dan mencatat segala acara pada malam itu. Bu Enny bagai wartawan yang berpengalaman mereportase. Hehehe.

    Senang ketemu ibu dan temen2 lainnya.

    Iya Nungki, saya udah kawatir pas harus datang saat awal….hehehe…untung sudah ada Nungki….

  10. sayang aku udah pulang… 😦

    Iya Ria, sayang sekali….
    Dan saat Ria di Jakarta, aku lagi sibuk banget…mondar mandir Jakarta-Bandung. Btw, bisa baca ceritanya disini kan?

  11. Sama ibu, saya juga harus dua kali melewati jalan Veteran I sebelum menemukan tempatnya, bahkan perlu membuat sang empunya acara keluar untuk menandai tempatnya supaya gak kebablas lagi. Hehehe.

    Bertemu dengan banyak sekali teman, yang biasanya hanya wajahnya yang bisa dilihat di blog dan fb, serta berbagi kesedihan dan kebahagiaan disana sungguh merupakan suatu kesempatan yang membahagiakan.

    Acara review bukunya pun seru…sampai penerbit harus kehabisan banyak buku buat dibagi pada pemerhati malam itu. hahaha

    Sukses buat Epitaph

    Lha Nungki kan tak sering lewat disitu, lha dulu saat kantorku di jalan Veteran II, nyaris tiap hari lewat jalan itu…dan suka makan es cream di ragusa. Jika tahu Nungkin sudah ada disitu sejak siang, kan kita bisa makan es Cream di Ragusa atau jalan-jalan ke Pasar Baru….hehehe….
    Jadi, lain kali petunjuknya harus lebih jelas ya, karena nama yang tertulis adalah “DOMUS”

  12. saat menonton film IKJ mengenai mahasiswanya yang hilang kiriman DM beberapa waktu lalu, saya juga merasa sangat terharu. dan setelah menonton CD acara “bicara buku bicara” beberapa saat berikutnya, saya jadi mendebat DM karena tidak membuka di acara tersebut bahwa novel ini diinspirasi dari kisah nyata. alasan saya, novel yang inspired by a true story lebih diminati ketimbang a mere fiction. alasan DM saat itu pun kurang dapat saya terima, karena menurutnya ada waktu untuk membukanya. bagi saya membukanya sedari awal justru akan jauh lebih baik.

    nah, ternyata akikah inilah waktu yang tepat menurut DM. maka respon penonton yang terharu sudah dapat saya bayangkan.

    dan tulisan ibu membantu saya juga untuk membayangkan acara malam itu secara lengkap dari sudut pandang pengunjung, bukan sudut pandang sahibul bait atau sang empunya acara. terima kasih, ibu enny. 😀

    Sebetulnya saya senang membaca tulisan teman lain yang juga hadir pada acara itu…karena pasti menarik membaca tulisan orang yang berbeda-beda, dilihat dari sisi pandangnya, pada sebuah acara yang sama. Tulisan Uda Vizon menarik untuk dibaca….

  13. Acara itu sungguh menggugah sekali Bu Enny. Seperti yang saya sudah ceritakan di blog juga, bahwa kenyataan ini adalah berdasarkan kisah nyata, benar-benar membuat saya tercekat… 😦

    Terima kasih atas pertemuan yang menyenangkan kemarin Bu Enny. Bahagia sekali saya dapat bertemu Ibu. Insya Allah lain kali kita akan dapat bertemu kembali dalam suasana yang lebih nyaman… 🙂

    Iya Uda, sayang saya hari Rabu terlanjur jadualnya padat dan sudah kadung janji.
    Mungkin suatu ketika bisa ketemu lagi…..
    Senang sekali bertemu Uda kemarin

  14. Kapan ada ketemuan lagi? pengen ikutan … tapi apa daya jadwal saya sering tidak sinkron dan tidak mau kompromi … hehehe …

    Ada lagi pak…nanti tanggal 9 Februari 2010….ganti novelnya Lisa (“Iluminasi”)….dan tanggal itu dipilih karena bersamaan dengan ultah penulisnya. Diadakannya juga Newseum…semoga bapak bisa hadir. Ketemu penulis, sastrawan, editor…dan tentu saja para blogger (narablog) yang narcis itu….hehehe…justru ini yang bikin rame, karena foto terus sejak sebelum sampai akhir acara. Padahal yang lain menyimak acara dengan santun.
    Lokasinya dekat dengan kantor yang sering dikunjungibapak di depan stasiun Gambir…siapa tahu bisa dijadualkan meeting dan kopdar…atau work & leisure

  15. ternyata ada kopdar disela-sela peluncuran bukunya mas DM. Sayang saya tidak bisa ikut ke sana, sedang sibuk bu. Kapan-kapan saja kalau ada acara lagi saya sempatkan untuk hadir 😛

    Ayo Adipati…kapan ikutan kopdar…ntar datang aja tanggal 9 Februari 2010 di tempat yang sama.
    Disitu, akan ketemu para blogger, disamping para sastrawan, kritikus, editor dan lain-lain.
    Dan kapan lagi ketemu adipati? Komentarmu selalu memberikan arti lain…adakah blogmu?

  16. Dengan hormat disampaikan bahwa BlogCamp ( http://abdulcholik.com ) masih dalam tahap penyelesaian perbaikan karena landing gear mengalami gangguan.
    Beberapa tehnisi sedang kerja keras untuk mengembalikan kondisinya.
    Saya sementara berada di Posko Bhirawa ( http://mbahcholik.info ) dan saat ini sedang menggelar promosi kaos loreng.
    Silahkan para sahabat berkunjung sebelum waktu promosi habis.
    Salam hangat dari Bhirawa.

    Terimakasih pak…segera ke TKP

  17. segera cari bukunya aaaah

    Udah ada kok di Gramedia….

  18. sepertinya, mengasah sisi kemanusiaan ya ikutan acara seperti ini. sesuatu yang jarang didapatkan kalau sedang di tempat terasing seperti saya ini Bu.

    Betul pak…mengunjungi acara seperti ini membuat ada sisi lain…mengurangi stres, dan senang ketemu teman-teman yang selama ini hanya dikenal di dunia maya

  19. Ini namanya Pesta Blogger mini bun! 🙂

    Yup…betul…semoga kita nanti bisa ketemu lagi pas pestanya Lisa…

  20. dari laporan pandangan mata bu enny, acaranya menarik ya. sayang saya tidak bisa ikut padahal saya sudah hampir berangkat. 😦

    Masih ada lagi kok Kris…semoga nanti bisa datang bersama suami pas tanggal 9 Februari 2010, di tempat yang sama.
    Ntar DM kan juga datang, jadi Kris bisa sekaligus foto bersama kedua penulis tsb. Semoga aku juga bisa datang…dan yang penting bawa kamera, agar bisa saling sharing foto-fotonya.
    Membayangkan Daan main biola lagi….ehh tak tahu juga apa Lisa akan diiringi oleh biola Daan…atau pembaca monolognya ganti DM?

  21. Ibu, terima kasih atas catatannya. Betul-betul terperinci. Aku jadi tau suasana serta jalannya acara malam itu justru dari catatan Ibu ini. Banyak-banyak terima kasih.

    Aku tidak perlu komentar soal novelnya lagi ya, Bu. Karena itu sudah menjadi hak pembaca dalam mengapresiasi. Yang pasti sejak kali pertama catatan ini di-posting, aku sudah berkali-kali membacanya, lengkap dengan komen-komen yang masuk.

    Sekali lagi terima kasih, juga kepada teman-teman yang mengomentari.

    Salam hangat, Ibu 🙂
    D.M.

    Daniel,
    Saya menulis karena senang, dan mencatat sudah menjadi kebiasaan, kalau tak bawa notes kecil untuk mencatat malah rasanya ada yang hilang. Apalagi jika pergi dengan suami, dia suka lupa bawa notes kecil, dan suka pinjam kertas plus ballpointnya.
    Dan menuliskannya kembali dengan segera, merupakan janji saya, untuk share pada teman-teman yang pengin hadir malam itu, namun terpaksa berhalangan. Dan rasanya senang membagi kebahagiaan malam itu, dengan menuliskannya di blog.

  22. Bu Enny,

    wah ada senyum, tawa, namun ada haru juga di malam itu… lengkap!!

    kehadiran para sahabat, pasti menjadi suatu kehormatan dan dukungan bagi DM

    alangkah indahnya persahabatan, saling mendukung dan saling menguatkan

    salam saya,

    Betul Bro Neo….malam itu benar-benr pertemuan persahabatan, dan akhirnya kami bisa mengenal teman-teman lain. Ada tangis, suasana haru, tersenyum dan tawa…dan semoga DM makin lega setelah uneg2 yang mengganjal di hati bertahun-tahun ini keluar semua

  23. Duh, betapa menyesalnya saya nggak jadi berangkat ke acara itu. Saya membayangkan betapa senangnya bertemu dengan Mas DM langsung, dan teman-teman blogger yang selama ini hanya dikenal lewat dunia maya.

    Pertengahan Februari 10, ada acara serupa di Bandung….dan teman-teman dari Jakarta kemungkinan juga akan hadir…jika bapak ada waktu, bisa gabung pak.

  24. ibu hebat,
    masih menyempatkan hadir dan bernarsis bersama
    dan tentunya laporan pandangan mata
    membuat diriku serasa berada disana…
    apalagi menggambarkan saat uda membaca doa !!!

    salam ,
    saya

    Acara seperti ini membuatku melihat dunia lain, yang sangat berbeda dengan dunia kerjaku sehari-hari. Dan dunia terasa lebih menyenangkan, tak hanya berkutat dengan angka-angka.
    Dan senang sekali ketemu teman-teman blogger di acara tsb, yang selama ini hanya ketemu di dunia maya.
    Bahkan suamiku, setelah mendengar ceritaku, tak sabar menunggu acara yang sama di Bandung, malah minta dikirim undangan yang cukup, agar bisa mengundang teman-temannya…pencinta seni dan buku…Lho! Kok jadi dia yang semangat ya….hehehe…

  25. selalu senang membaca laporan dari ibu yang begitu detil (termasuk caption foto hehehe)

    EM

    Imel..syukurlah jika bisa dinikmati…
    Niatnya memang agar bisa dibaca oleh teman-teman yang saat itu tak bisa hadir di sana

  26. Ibu, membaca laporan ibu seperti sebuah “copy paste” yang indah dari acaranya. sangat lengkap dan begitu kronologis. Salut sama Ibu yang sigap mencatat meskipun suasana remang di lokasi, bahkan mengkonfirmasi detail-detail informasinya.

    Untuk acara tanggal 9 Februari, Da’an akan beraksi lagi, dan kali ini bergantian, sang penulis Epitaph akan berkenan tampil di atas panggung ditemani Da’an, membawakan nukilan novel Iluminasi…aku sendiri exited mendengar DM bersedia bantu aku. aku yakin DM akan menggelegar di panggung nanti…:)
    kutunggu kedatangan Ibu..:)

    Tentu Lisa, saya akan berusaha datang.. semoga tak ada halangan.
    Katanya suami mau ikut gabung, “agak terlambat” mungkin, karena dari Bandung, sedang saya kan bisa langsung dari kantor.
    Pasti seru ya…pake sayap nggak (Bird Black)?

  27. Bu, posting Ibu ini sangat lengkap dan detil…
    saya jadi semakin penasaran ingin segera membaca novel Epitaph ini. Saya sendiri lebih suka membaca novel atau kisah-kisah yang terinpirasi dari kisah nyata dibandingkan novel yang sekedar cerita rekaan yang isinya cinta-cintaan melulu. cerita dari kisah nyata selalu membuat saya menikmati hingga tertegun-tegun…

    salam,
    nana

    Nana juga bisa menulis lho, tulisan2mu enak dibaca…siapa tahu, mengikuti suami bisa menjadi ada inspirasi cerita yang dibangun karakternya dari orang2 diseputarmu. Pernah baca bukunya Nh Dini? Saya suka sekali, seri perjalanan dia, terutama menggambarkan lingkungan dia masa kecil sd remaja, membayangkan kondisi lingkungan rumahku di kota kecil juga seperti itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: