Ketak… ketik…ketok…srrrrt

Ketak…ketik…ketok….

Suara itu mengalun sebagaimana irama air hujan gerimis yang menetes di genteng. Saat masih kecil, saya senang mendengar alunan mesin ketik ini. Dan semakin besar, mesin ketik menjadi teman sehari-hari saat menyelesaikan pekerjaan di kantor, dan di rumah. ” Di rumah masih kerja juga?”, tanya seorang teman. “Aku sih sih tak mau,” katanya lagi. “Aku memisahkan pekerjaan kantor dan rumah, suamiku tak akan suka jika seperti itu.” Saya hanya diam, dan tak perlu menjawab komentar teman itu. Setiap orang berhak meraih mimpinya. Apa yang salah jika di rumah juga meneruskan bekerja dengan mengetik? Kehidupan ku sejak kecil, memberikan contoh nyata bahwa di rumah masih bisa kerja, bersamaan dengan mengurus rumah tangga. Masih terbayang pada ingatanku, ibu menulis rencana di buku tulisnya apa yang akan dilakukan untuk mengajar besok pagi. Saya suka mengintipnya, ibu menulis, pelajaran apa saja untuk hari besok, outline yang akan diajarkan, serta apa targetnya, termasuk pertanyaan atau latihan yang akan diberikan pada muridnya. Ayahpun juga seperti itu, meja kerja ayah yang berantakan, tak satupun berani membenahi, karena nanti ayah akan kesulitan mencari bahan atau dokumen yang diperlukannya untuk bekerja.

Lanjutkan membaca “Ketak… ketik…ketok…srrrrt”