Oleh: edratna | Januari 16, 2010

Ketak… ketik…ketok…srrrrt

Ketak…ketik…ketok….

Suara itu mengalun sebagaimana irama air hujan gerimis yang menetes di genteng. Saat masih kecil, saya senang mendengar alunan mesin ketik ini. Dan semakin besar, mesin ketik menjadi teman sehari-hari saat menyelesaikan pekerjaan di kantor, dan di rumah. ” Di rumah masih kerja juga?”, tanya seorang teman. “Aku sih sih tak mau,” katanya lagi. “Aku memisahkan pekerjaan kantor dan rumah, suamiku tak akan suka jika seperti itu.” Saya hanya diam, dan tak perlu menjawab komentar teman itu. Setiap orang berhak meraih mimpinya. Apa yang salah jika di rumah juga meneruskan bekerja dengan mengetik? Kehidupan ku sejak kecil, memberikan contoh nyata bahwa di rumah masih bisa kerja, bersamaan dengan mengurus rumah tangga. Masih terbayang pada ingatanku, ibu menulis rencana di buku tulisnya apa yang akan dilakukan untuk mengajar besok pagi. Saya suka mengintipnya, ibu menulis, pelajaran apa saja untuk hari besok, outline yang akan diajarkan, serta apa targetnya, termasuk pertanyaan atau latihan yang akan diberikan pada muridnya. Ayahpun juga seperti itu, meja kerja ayah yang berantakan, tak satupun berani membenahi, karena nanti ayah akan kesulitan mencari bahan atau dokumen yang diperlukannya untuk bekerja.

Saat awal bekerja dan masih bujangan, saya sempat mengeluh pada seorang teman, karena bekerja di Jakarta, jarak paling dekatpun harus menggunakan kendaraan umum. “Rasanya kok sampai rumah tak bisa ngapa-ngapain  lagi ya?” Temanku menjawab dengan gusar. “Engkau harus bersyukur..coba lihat adikku cewek, pagi sampai sore hari dia bekerja sebagai sekretaris, sedang malamnya kuliah ekstension di UI.” Adik temanku memang harus bekerja karena orangtuanya sudah pensiun dan saudaranya banyak. Saya malu mendengar jawaban temanku itu, namun juga tak bisa berpura-pura tak lelah. Mungkin saya terlalu nyaman selama ini. Jarak sekolah terjauh hanya saat sekolah di SMP,  waktu sekolah di SD dan SMA lokasinya dekat dengan rumah..dan saat kuliah di IPB, tempat  kostku persis di depan Fakultas, tempatku belajar, bahkan saat pindah asrama masih dilingkungan Fakultas. Saya bisa memandang teman-temanku berdatangan, baru saya turun tangga, keluar halaman asrama dan hanya jarak sekira 30 meter dari halaman asrama sudah sampai di ruang kuliah. Saat awal bekerja dan job training, tempat kost juga dekat dengan kantor, hanya tinggal menyeberang jalan.

Kemudian saya menikah, dan punya anak. Atasanku memahami kerepotan saya punya anak kecil, beliau mengatakan, saya juga harus tetap bekerja sesuai standar, kalau bisa dua kali lipat kinerja teman yang lain,  agar karirku makin naik. Beliau setuju, saya diperbolehkan pulang tepat waktu, namun beliau menginginkan pekerjaanku telah selesai dikerjakan dan ada di meja beliau jam 7 esok paginya. Begitulah pekerjaanku, setiap malam, jika anak tidur, kadang suami masih bekerja atau juga sudah tidur…saya hanya ditemani bunyi mesin ketik. Ya, mesin ketik..dan harus diketik dengan rapih, jika salah harus hati-hati memberikan tipp ex..dan pemberian tipp ex hanya boleh maksimal 3 (tiga) kali dalam setiap halaman. Terkadang saya tertidur di atas mesin ketik, terbangun saat ada tangan memelukku, rupanya suami yang terbangun dan melihatku belum masuk kamar. Melelahkan, namun saya bisa melihat anak-anak tumbuh besar…..karena saat itu jalanan belum macet, sehingga jam 16.30 wib sudah sampai di rumah, segera mandi, memeluk si kecil, menyuapi makan malam, mendongeng dan menemaninya tidur. Dan suami sangat membantu, karena dia juga suka membawa pekerjaan ke rumah, sehingga tahu persis apa yang dikerjakan oleh isterinya. Saya bersyukur untuk itu….

Dan sekarang…pekerjaanku masih sama

Ketak…ketik…ketok..srrt (bunyi printer)…setelah selesai, saya membaca ulang, memberikan paraf setiap lembarnya dan tanda tangan, serta memasukkan ke amplop. Kemudian mengirim sms…”tolong ambil di rumah ya.” Mataku kembali memelototi kompie, apakah ada email yang masuk….mengoreksinya, mengirim kembali lewat email. Pekerjaan selalu bisa diselesaikan lewat email, dan hanya waktu tertentu harus ketemu untuk rapat. Untuk rapat, acara harus jelas, bahan telah dikirim dulu lewat email, sehingga rapatnya tak bertele-tele. Teknologi memang sangat membantu pekerjaan kita.

Dengan teknologi, kini orang bisa memilih pekerjaan, namun harus mampu mengikuti kemajuan teknologi. Banyak teman-teman yang kukenal, bekerja di rumah, dan hanya sesekali ke luar jika memang perlu ketemu klien, meeting dan sebagainya. Pada suatu test yang diadakan oleh lembaga konsultan, saya bertemu dengan seorang perempuan, yang karir dia di Bank Swasta telah tinggi, namun ikutan test yang sebetulnya lebih diarahkan kepada para mantan Senior Manager yang telah purnakarya (pensiun). Saya tanya, mengapa ikutan test, bukankah karirnya menarik, dan dia baru saja pindah ke Bank tsb (sebelumnya dia bekerja di Bank lain), dan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Jawabannya mengejutkan saya, bahwa dia ingin lebih merasakan kehidupan, dan sudah capek pergi dari pagi sampai malam….Hmm, saya bisa membayangkan pekerjaan itu, pergi pagi, pulang malam, bahkan jam 9 malampun masih terasa sore. Anehnya, saat itu saya begitu menikmatinya, pekerjaan yang penuh tantangan,. berdiskusi dengan teman-teman yang hebat, dan rasanya otak ini haus berbagai informasi….mungkin juga karena pada saat itu kedua anakku juga sedang sibuk2 nya kuliah, sehingga pulangnya juga malam-malam, bahkan terkadang tidur di lab, sehingga saya merasa tak ada yang menunggu di rumah jika pulang sore-sore. Suami? Suami juga super sibuk…..mungkin kondisi ini yang membuatku tak merasa bersalah, bekerja dari pagi hingga malam.

Namun…saat kemudian anak-anak sudah selesai S1, saya pensiun, dan kemudian hanya sesekali bekerja paruh waktu, mengajar, saya menemukan dunia baru yang rasanya lebih indah. Banyak waktu saya bisa digunakan untuk hal lain, saya bisa menghadiri lagi acara-acara seperti saat awal saya menikah, bertemu teman-teman dari berbagai profesi… hmmm….hidup ini terasa sangat menyenangkan.

Ketak…ketik……ketok….sekarang menjadi berbunyi….tuuk..tuuk…tuuk yang lebih pelan….dan bunyi printer lebih halus….merangkai kata demi kata menjadi sebuah laporan, menjadi sebuah budget planning, menjadi sebuah desain materi pelatihan, menjadi sebuah bahan ajar….Kring…kriing…bunyi telepon mengejutkanku…”Ya, haloo?” jawabku. “Bu, kami dari…(sebuah lembaga pelatihan)….bisa nggak ibu mengajar minggu depan, di kota X? Nanti outline materi yang diinginkan akan saya kirimkan,” kata suara diseberang telepon.  “Boleh,” kataku. “Confirm ya bu?” tanya suara diseberang. “Confirm“, jawabku.

Catatan:

Tulisan ini diinspirasikan dari obrolan dengan Eka, saat menghadiri acara akikahan Epitaph. Semoga Eka sukses dalam berkarir dan rumah tangganya.

Iklan

Responses

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Jadi teringat sama mesin ketik milik saya yang kini teronggok digudang. Kasihan….

  2. Dear Bunda Enny…

    Whoooaaaa sebelum komen mo peluk dulu ah! Peluk hangat persis seperti waktu kita ketemu di Newseum 🙂 hehehe

    Ah bun, pertemuan kita yang sekejab itu memberikan saya banyak hal. Bunda hanya bercerita tentang pengalaman bunda, tidak menggurui namun sungguh saya memetik banyak sekali manfaatnya. Kagum akan spirit bunda, kagum akan nilai2 dan perspective bunda yang unik namun pada nyatanya benar sekali. Saya mendapat sudut pandang lain dan itu menyegarkan saya.

    Ah bun, salut bener saya sama bunda dan keluarga, terlebih ketika tahu bahwa bunda masih bisa mendongeng untuk anak-anak, masih bisa ke ketemu kepala sekolahnya, bahkan mengawasi pergaulan mereka dari kecil hingga sekarang (ah, soal mengawasi ini aku gak mau bocorin caranya :p ntar ketahuan dua putra-putri bunda hahaha)

    Ma kasih untuk tuklisan ini ya bunda, ma kasih untuk doanya 🙂 Sungguh saya tersanjung diperhatikan bunda seperti ini.

    PS. Ternyata bunda Enny rame yah…. Suaranya pun renyah! Gak seserius tulisan2nya 🙂 maaf ya Narpen, Selasa lalu bundamu jadi bundaku :p weeks hehehe

    Selamat wiken bun!

    Eka,
    Jangan lupa yang kita diskusikan ya….semangat..
    Anak-anakku tahu kok….kalau dikelilingi terus, dan mereka bangga dan cerita sama teman-temannya.
    Hampir semua teman dekat mereka menjadi temanku di Blog, di FB….hehehe
    Dan ternyata, kita bisa menjadi sahabat anak jika mau….

  3. wah, ibu gigih sekali. salut!

    v(^_^)

    saya juga gitu, bu. pekerjaan kantor sering dibawa pulang. yah, asal mengerjakannya dengan ikhlas dan dengan hati, insyaallah akan menghasilkan kebaikan.

    Farijs, justru membawa pekerjaan ke rumah, menunjukkan pada anak bahwa ayah atau ibu juga mesti belajar, sehingga tanpa disuruh anak-anak juga menjadi senang belajar. Dan …kebersamaan belajar bersama, mengobrol sambil makan malam, mendongeng, ini kenangan yang tak terlupakan. Bahkan pertanyaan lucu mereka saat didongengi membuatku selalu tersenyum jika mengenangnya. Menyetel TV pun didiskusikan kapan waktunya agar tak mengganggu belajar dan acara lainnya, akibatnya anak-anak tak tergantung pada TV

  4. bu enny ini bener2 wanita karier ya! 🙂 tapi tetap memberikan waktu yg berkualitas untuk keluarga. mantap bener 🙂

    Kris, banyak temanku yang berkarir seperti saya, bahkan mencapai tingkatan yang lebih tinggi….Mereka juga tetap menjadi ibu setelah di rumah, menjadi isteri dari suaminya, mendongeng, memasak, ataupun bersih-bersih rumah walau telah ada pembantu. Betapapun mengajarkan pada anak, tak sekedar menceritakan, namun juga harus memberi contoh nyata. Dan kalau kita menikmati, hal itu bisa dilakukan dengan menyenangkan, dan tidak lelah…malah masa-masa itu akan menjadi kenangan manis yang tak terlupakan.

  5. O gitu ya. Banyak belajar nih dari Bu En.
    Kalau saya sekarang karena masih jalang lajang, minimum keluar kantor jam 8 malam (kalau kemaleman kantor jadi angker). Jadi, di rumah ga usah kerja lagi 😀

    Mosok sih angker…kan gedung kantormu termasuk baru….ehh yang pernah disambangi bxx diparkirannya itu ya?

  6. Salut Bu Enny, meski sudah pensiun masih memiliki kegiatan yang dinamis sehingga nggak nglangut (bhs Indonesianya yng tepat apa ya Bu)…

    Tapi tetep jaga kesehatan kan Bu?

    Harus dibuat Is…soalnya biar nggak pikun….dan harus menyenangkan….kalau dulu kerja untuk mengejar sesuatu, sekarang untuk dinikmati
    Bukankah profesor itu bisa sampaoi 75 tahun?
    Dan karena belajar, membaca dan menulis terus? Ini juga saran dokter kok….

  7. Bu, saya harus belajar dari semangat ibu
    Ketak ketik ketok
    Saya malah sedah seduh gak sedih
    Kan bikin Mie Janda hehehe

    Hehehe…saya malah belum merasakan mie jandamu ya….kapan ya?

  8. ternyata enak juga kerja dari rumah ya, Bu. masih bisa menikmati sisi kehidupan selain 9 to 5 itu. apalagi kalau sesekali masih bisa ke luar kota untuk kerja sekaligus jalan2.. waa… salut dengan semangat Ibu.. 🙂

    Betul sekali….andaikan disadari sejak dulu…tapi mungkin dulu kurang merasa safe, karena anak-anak masih perlu biaya tinggi untuk pendidikannya.

  9. ..
    Beruntung sekali ya buk, punya suami yg demokratis dan anak2 yg pengertian..
    Pokoknya jaga kesehatan ya buk..
    Selamat weekend..
    ..

    Justru itu yang penting Septa, suami isteri yang saling mendukung, memudahkan semuanya.
    Dan anak-anak juga bisa diajak diskusi…malah merasa senang jika dilibatkan
    Selamat week end juga

  10. Saya dulu juga suka mikir kok sepertinya tidak bisa lepas dari pekerjaan meskipun sudah di rumah. Saya juga “ngiri” lihat orang yg pergi/pulang kantor nggak bawa apa-apa sama sekali (tas/berkas), implisitly dia tidak perlu sampai harus membawa pekerjaan ke rumah … Tapi lama kelamaan karena sudah terbiasa akhirnya saya nikmati saja, mungkin sudah jalannya harus begitu … namanya saja Oemar Bakrie, kalau nggak kerja ekstra keras nggak idup … hehehe …

    Kadang-kadang bawa kerjaan di rumah, hanya agar bisa tidur nyenyak. Yang penting melihat barkas/file yang dibawa pulang, padahal karena banyak urusan rumah tangga, besoknya dibawa tanpa di apa-apa kan. Tapi jika nggak bawa kerjaan, suka menyesal, karena kadang di rumah punya waktu.
    Setelah punya mini notebook, kemana-mana bisa di bawa dan tak berat….jadi kerjanya lebih longgar.

  11. mesin ketik saya teringat waktu awal-awal kuliah, satu kos delapan orang bergantian menggunakan dua mesin ketik, otomatis tidurnya pun gantian, padahal semuanya butuh untuk membuat laporan praktikum

    Hehehe…iya pak, saya baru punya mesin tik sendiri pas tingkat akhir kuliah)…sebelumnya menebeng di bag administrasi (terpaksa kerjanya malam hari)….

  12. saya masih kuliah Bu. tapi tugas kuliah yang banyak membuat saya juga harus ketak ketik tuts keyboard, walaupun bunyinya lebih halus.
    menjadi sekertaris Senat Mahasiswa di kampus saya juga membuat saya dan ibu senasib mendengarkan bunyi printer hehehe

    GREAT!!

    Bunyi printer dan mesin ketik…serasa kita menjadi lebih hidup….rasanya tak bisa berpisah ya dengan suara ini.

  13. salam bunda, terima kasih udah ke tempatku,
    pengalamanku spt bunda juga, kadang mikir juga masa sih sampai pensiun harus ngabisan waktu di jalan berjam2, tapi ..nikmati aja ya bun, cuma untungnya sy nggak ada kerjaan yg hrs dibawa ke rumah

    Masalahnya memang kita hanya berhenti kerja kalau meninggal.
    Kerja ini bisa apa saja, dari melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat kue-kue untuk dijual (jika hobi membuat kue), merawat tanaman…bahkan sampai pekerjaan tulis menulis serta lainnya

  14. kemajuan dunia TIK memang sangat memudahkan berbagai pekerjaan yang menumpuk, bu. dulu sebelum ada kompie, saya juga sering ketik di tengah malam. karena suasana sepi, suara ketik manual seperti terdengar nyaring di telinga, sampai sempat khawatir mengganggu tetangga. sekarang, bener kata ibu, tinggal, tekekekeket … srrrrt … dah jadi.

    Dulu…walau bunyi mesin tik tetap bisa tidur pak..lha hidup di asrama kan sekamar berempat, masing-masing punya tempat tidur dan meja belajar masing2…dan karena penghuni kamar sibuk kuliah, mengerjakan tugas-tugas, bisa dipastikan suara mesin tik bergantian terus….hehehe…malah membuat tidurnya makin nyenyak, seperti irama musik….hehehe.

  15. membaca tulisan ini spt melihat cermin ibu, smoga bisa jadi bahan introspeksi.. saya sangat sering pulang malem, kadang di rumah juga masih harus buka-buka pekerjaan lagi

    terima kasih kepada istriku yang dengan setia menemani, mau menerimaku seperti ini, dan tak pernah lelah mengingatkanku untuk istirahat

    Saat anak-anak kecil, saya pulang tepat waktu, namun saat mereka tidur, saya mulai bekerja lagi. Setelah anak-anak berangkat besar, jika kebetulan suami ada di Jakarta (suami saya lebih banyak di Bandung)…maka saya bisa lembur di kantor, terutama saat jabatan saya mulai memimpin bagian, yang memang harus bekerja dalam team work.
    Tapi, sesibuk apapun, saya berusaha hari Sabtu Minggu benar-benar free…untuk anak-anak. Acara mendongengpun merupakan acara wajib tiap hari.
    Melihat Nana suka menulis, saya kira Nana tak keberatan kok Bro Neo sibuk…karena itu untuk masa depan keluarga.

  16. cerita menarik nih, dari mesin ketik sampai komputer sekarang ,ehm jadi inget masa lalu

    salam kenal ya
    blogku:green tea

    Perkembangan zaman…yang juga membuat kenangan manis

  17. Salut dech buat ibu…
    Salam kenal ibu..

    Salam kenal, terimakasih telah berkunjung

  18. Saya berusaha untuk tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. Hal itu karena di rumah, juga sudah pekerjaan lain yang harus dikerjakan: tugas kuliah, order terjemah, blogging.
    Tapi, sebetulnya, saya juga rindu dengan suasana yang tak selalu direcoki dengan pekerjaan. Rindu dengan suasana saat istri tidak diburu dengan berbagai pekerjaan, sehingga menikmati suasana manis di rumah. Gimana dong, Bu?

    Kadang kan kita tak bisa memilih pak..kalau boleh memilih, inginnya setelah di rumah ya tentu tak perlu mikirin urusan kantor lagi.
    Namun kadang ada beberapa pekerjaan yang tak bisa diselesaikan di kantor…daripada makin berlarut-larut, bisa dikerjakan di rumah. Ini tak mengganggu acara keluarga kok…karena saya mengerjakan saat yang lain tidur…risikonya memang sampai dengan anak-anak umur 5 tahun, kecuali hari Sabtu dan Minggu, tidurku hanya 2-4 jam per hari. Dan entah kenapa, walau fisikku tak sekuat teman-teman lain, namun saya merasa mempunyai tambahan kekuatan lain….dan bisa menjalani semua itu.

  19. seperti sebuah metamorfosa ya Bu : ada – baru – baru lagi- yang lama pun tinggal kenangan

    Betul pak…kangen sama mesin ketik lama itu…..cuma memang tuts lebih empuk komputer

  20. Saya juga membawa sering pekerjaan ke rumah. Lebih baik dikerjakan di rumah daripada harus ngelembur di sekolah.

    Akhir Januari saya ada rencana ke Jakarta, ingin rasanya bertemu mbak Ratna. Semoga Allah mengijinkan. Tapi bagaimana caranya?

    Puspita….kirim email ke saya ya (saya kemarin kirim email…) beri nomor hapemu…ntar kita bisa sms an dan janji ketemu.

  21. Jadi perempuan memang harus cerdik yah, Bu? Mengkombinasikan tugas sebagai istri, ibu dan pekerja supaya berjalan seimbang tanpa satupun pihak merasa ‘teraniaya’.
    Makasih, bu. Inspiring 🙂

    Betul Fety…awalnya memang berat sekali. lha bujangan aja kalau sibuk kuliah dan kerja udah berat….namun entah kenapa, kaum perempuan seperti mendapat perlindungan dari Nya, sehingga kita lebih kuat, apalagi jika kita mencintai anak-suami, urusan rumah tangga….semua seperti dimudahkan. Bahkan masa muda saya, yang mudah masuk angin, kenyataan kuat melalui semua itu. Dan pekerjaan di kantor pun tetap beres…saya bersyukur mendapatkan pasangan yang selalu mendukungku

  22. Saya menangkap bahwa kunci dari semua keberhasilan Bunda di atas adalah kesadaran dan saling pengertian dalam keluarga.
    Bisa jadi contoh bagaimana saya harus membangun hubungan dengan istri dan anak2. Mumpung mereka masih kecil2.

    Kuncinya memang komunikasi…membentuk komunikasi yang baik antara ayah ibu dan anak-anak, sehingga anak-anak juga mendukung, bahkan bangga melihat ayah ibunya

  23. Ibu pantas bersyukur, selain diberi panjang usia, semua hal seperti terlengkapi.
    Saat muda sibuk bukan kepalang, ketika sudah purna tugas, malah tetap ditawari pekerjaan paruh waktu yang menyenangkan pula!

    Salam untuk keluarga, Bu!

    Betul Don…saya bersyukur atas semuanya….
    Saat sedang sibuk, suami mendukungku, anak-anak mau memahami…mungkin juga karena saya tinggal dilingkungan yang suami isteri juga bekerja. Malah kalau lagi tugas ke Yogya, yang menemani tidur di hotel teman anakku…yang saat itu kuliah di Bandung. Mengobrol dengan mereka menyenangkan, saya jadi lebih bisa mengikuti dunia mereka. Bergaul erat dengan anak-anakku dan temannya, membuatku lebih mudah memahami keinginan mereka…dan berusaha untuk tidak menuntut apalagi menghakimi.
    Dan saat pensiun, teman-teman tak rela saya hanya berurusan sama tanaman di halaman sempit, mereka mulai mengajakku beraktivitas…yang berlanjut dengan berani menerima pekerjaan paruh waktu.
    Sekarangpun, saya menolak jika pekerjaan itu full time, biarkan itu untuk yang muda-muda…saya ingin lebih menikmati kehidupan bersama keluarga, namun tetap punya aktivitas.

  24. emang paling ideal tuh kalo bisa kerja dari rumah ya. jadi tetep bisa deket ama anak.

    tapi kalo emang kerja kantoran ya idealnya sih bisa selalu pulang tepat waktu dan gak perlu kerja lagi di rumah. hehehe.

    saya sih untungnya (puji Tuhan) dari sejak married sampe sekarang, kantor tuh deket ama rumah. jadi jam makan siang pun selalu bisa pulang rumah. lumayan lho sejam ketemu ama anak istri. hehe.

    salam kenal balik ya! 🙂

    Justru kadang yang “ideal” itu sulit dicari.
    Jika..masih staf baru, pulang tepat waktu adalah biasa, karena belum dibebani tugas dan tanggung jawab.
    Semakin tinggi karir, tentu ada kewajiban lain yang juga lebih berat….yaitu saat jam kantor waktu lebih banyak untuk meeting, untuk bekerja secara team work, kadang mencari data, diskusi dengan instansi lain.
    Dan saat jam kerja habis, tinggalah setumpuk pekerjaan yang mesti ditanda tangani, dan tanda tangan kita berisiko tinggi, karena jika salah melakukan keputusan dapat berakibata pada risiko finance serta hal-hal lainnya. Pilihannya adalah lembur, atau dibawa pulang.

  25. Ada dua hal ibu …
    #1. mengenai mesin ketik …
    Saya hanya sebentar mengenal Mesin Ketik …
    Yaitu hanya pada saat kuliah saja …
    mengerjakan Tugas … membuat Paper … juga menulis skripsi … ditemani oleh mesin ketik Brother kesayangan saya …

    #2. mengenai pekerjaan dibawa ke rumah …
    hhmm ada suatu masa dimana saya lebih nyaman bekerja di rumah …
    inspirasi membuat modul training serasa mengalir lancar dirumah …
    namun demikian dengan bertambahnya umur dan bertambahnya anggota keluarga …
    saya mulai meninggalkan kebiasaan itu …
    Kalaupun mengetik komputer dirumah …
    itu pasti sedang “ngedraft” postingan … untuk dipasang di Blog …

    hahaha …

    Salam saya Ibu …

    Membuat modul training memang enak dilakukan pada posisi dimana kita bisa konsentrasi penuh, dan bisa dilakukan baik di rumah atau di kantor. Pekerjaan di rumah biasanya saya selesaikan saat anak-anak sudah tidur (saat mereka masih kecil dan butuh dongeng sebelum tidur…dan kewajiban saya mendongeng setiap malam), suami sudah puas diajak mengobrol…Saat anak-anak besar, saya bisa bekerja sambil menunggu mereka belajar, dan siap diganggu pertanyaan mereka. Saat mereka sekolah sampai dengan SMA, saya juga ikutan belajar materi pelajaran mereka, karena anak-anak masih suka bertanya, terutama untuk bidang2 yang dianggap ayah ibunya memahami…malah terkadang si sulung terucap..”Ibu aja yang jadi guruku, menjelaskannya lebih enak“…Hahaha…jelas dong, ibu akan menjelaskan sampai anaknya benar-benar paham.

  26. saya akui bahwa bunda adakah sosok wanita yang hebat dan tangguh, dan sebagai pria’ saya sangat ingin belajar banyak hal tentang assesmen, sengaja saya bertanya di post ini krn bunda tidak menjawab beberapa pertanyaan dari para blogers yg meninggalkan comentx pada post tentang assesmen.dengan komentar ini saya berharap bunda menjawab pertanyaan saya, saya sangat membutuhkan jawabanx, minggu depan saya akan di assesmen oleh pihak perusahaan saya, yg saya tanyakan,,apa aja persiapan saya?, kira2 soal2 spti apa yg akan ditanyakan kpd sy?, dan teknik spy dpt nilai tinggi dlm assesmen gmn bunda?,,,sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih yg sebesar2nya.

    Sebelum ada assessmen biasanya dijelaskan apa yang harus dipelajari dan dipersiapkan…tiap perusahaan berbeda, karena tergantung dari jabatan apa yang diperlukan, kompetensi apa yang dianggap match dengan kebutuhan tsb. Persiapannya? Jadilah diri sendiri…jika belum lulus berarti belum match dengan kebutuhan perusahaan…dan tak perlu stres, karena mungkin match dengan perusahaan atau job yang lain.

  27. #faris

    katanya: pamali bawa pekerjaan kantor ke rumah.

    #mbak ratna

    semalem aku habis nonton DVD The Nanny. Udah nonton lum mbak? dari situ beberapa pelajaran tentang pendidikan anak ditekankan, kita orangtua bukan hanya sibuk mencari uang saja tapi juga dapat mengikuti perkembangan si anak.

    Lha memang dari dulu, tugas orangtua adalah mengarahkan dan mendidik anak, agar mereka berkembang sesuai kepribadian masing-masing. Dan anggapan yang salah, bahwa jika orangtua yang keduanya berkarir, anaknya tak baik perkembangannya, karena tergantung dari bagaimana orangtua menyediakan waktu untuk anak-anaknya.
    Membawa pekerjaan ke rumah, tergantung dari hubungan suami isteri…ada juga temanku yang tak mau bawa pekerjaan ke rumah, karena suami melarangnya…dan itu risiko mereka, karena karirnya juga tak bisa berkembang., karena pekerjaan yang diberikan kepadanya tak bisa diselesaikan tepat waktu, atau kurang memuaskan. Tapi ini adalah pilihan atau risiko yang dipilih kan? Membawa pekerjaan ke rumah, juga berarti anak dan suami/isteri tetap bisa terpuaskan dalam hubungan keluarga, jika pekerjaan tadi dikerjakan saat semua anggota keluarga sudah tidur. Semakin tinggi karir, mendapatkan beban dan tanggung jawab yang lebih berat…dan tetap bertanggung jawab pada anak-anaknya.
    Tahu tidak, sebuah perusahaan saat akan mempromosikan seorang staf, juga melihat apakah keluarga staf tersebut harmonis, anak-anak terdidik dengan baik. Keluarga yang berantakan, yang anaknya kacau, jangan terlalu berharap akan mendapatkan posisi pada pekerjaan yang bagus…“Lha mengurus anak sendiri aja nggak bisa, bagaimana mau mengurus sebuah kantor, yang mempunyai anak buah 60 orang?, kata salah satu bos di suatu perusahaan.

  28. mesin ketik :: suara itu sangat familiar ditelinga saat melihat ayah saya mengetik pekerjaannya dirumah..dan sempat saat SMU menggunakan mesin ketik untuk mengerjakan tugas..
    overall, tulisan ibu ini bisa dijadikan “vitamin” bagi yang muda2 untuk terus berkarya dan membagi waktu dengan keluarga
    SALUT !!!

    Tulisan itu terinspirasi oleh obrolan dengan Eka, karena saya dulu awalnya juga kawatir saat memasuki pernikahan, bagaimana nanti jika telah mempunyai anak, apakah mereka tak terbengkalai…padahal di satu sisi juga masih ingin bekerja.
    Ternyata, bagi saya, yang saat muda nya gampang pusing, seperti mendapat kekuatan dari anak-anak. Pusing itu hilang melihat celotehan anak yang lucu, saat mendongeng, melihat wajah polos mereka dengan mata bulatnya mendengarkan dongenganku, dan tangan keduanya memelukku di kiri kanan, membuat kebahagiaan yang tiada tara. Ini yang merupakan vitamin untuk bekerja lebih baik, demi masa depan mereka.

  29. Wah salut .. benar2 mengagumkan mbak bener2 “wanita karier” yg sangat sukses…dirumah adalah ibu yg bener2 ibu bagi kluarga dan ditempat kerja jadi pimpinan panutan
    rasanya hidup saya sangat jauh dari kehidupan yg mbak gambarkan
    Rasanya saya harus bisa ketemu mbak Eny klo kelak saya ke Jkt
    semoga mbak bersedia ketemu saya ya

    Hayo Wieda..jangan lupa kasih tahu kalau mau mudik ke Indonesia…bisa ketemu di Jakarta atau Bandung. Tapi saya lebih familier di Jakarta, maklum di Jakarta ada taksi BB yang setia mengantar..kalau di Bandung susah cari taksinya, nyopir sendiri tak berani…hehehe

  30. Lama ga berkunjung kemari bu,…. Saya juga merasakan bagaimana membawa pekerjaan kerumah, awalnya saya lakukan karena tidak ada kegiatan malamnya, ada suatu kenikmatan bekerja yg saya rasakan, sehingga perkerjaan jadi mudah dikerjakan… ,… namun belakangan ini hal itu jarang saya lakukan,.. karena ada kuliah malamnya,… sehingga menyita waktu dengan tugas2 kuliah yang tiada hentinya.

    Kalau boleh memilih, tentu inginnya tak bawa kerjaan ke rumah. Namun posisi yang makin tinggi, membuat saat di kantor penuh dengan acara rapat, kerjaan yang harus ditanda tangani atau memperoleh keputusan segera, menumpuk….dan satu2nya jalan keluar ya terpaksa nglembur di kantor atau di bawa pulang.
    Sekarang kuliah lagi? Selamat ya….kuliah membuat stres nya berbeda, dan senang bisa ketemu teman-teman, adu argumentasi….saya juga pernah merasakan kuliah sambil bekerja, dan pada saat itu anak-anak membutuhkan perhatian penuh. Disitulah sebenarnya, bagaimana kita dituntut agar bisa menyelesaikan semua, tanpa ada yang dirugikan

  31. mm..
    penjelasan dari mbak ratna berlawanan sama beberapa pandangan ortu yang masih kolot : mereka beranggapan habis melahirkan anaknya, ya udah silahkan mereka usaha sendiri.. tapi pada saat anaknya sedang usaha sendiri malahan ada orangtua yang melarang.

    kenapa saya bilang begitu: saya hanya merasa pasti ada tipe orangtua yang begitu, tidak semua orang yang memiliki pemikiran seperti mbak ratna yang maju ke depan.

    sehingga sisi protektif orangtua masih ada.

    contoh lain:

    ini pengalaman nyata dari *orang-yang-gak-boleh-disebutkan*

    jadi dia ini workaholic, istri dan suami, suaminya pimpinan suatu perusahaan yang cukup terkenal. sekarang sudah punya dua anak.
    pada saat anaknya yang pertama, mereka ngak pernah merawat mereka dengan kasih sayang.
    malahan pada saat anak pertama belum berumur 40 hari saja, orangtuanya sudah “melempar” ke saudara2nya atau karyawan2nya agar menjaga anak mereka itu.

    maka pada saat anak itu bertumbuh: ada selentingan isu bilang kok ini anak gak mirip sama ortunya malahan lebih mirip sama org yang menjaga anaknya.

    bayangin saja.. ortunya cuma bawa pulang itu anak pada saat minggu dan ajak jalan sebentar cuma untuk beliin mainan. sisanya di lempar lagi ke ortu mereka (kebetulan ortu kedua belah pihak senang mengurus cucu).

    dan pada saat anak kedua lahir, ternyata gak jauh berbeda.
    saat ortunya sibuk: seenaknya saja si anak kedua langsung di kirim ke ibu mertuanya di batam karena ortunya gak bisa menjaga.

    jadi.. persepsi gimana mengurus anak sendiri aja gak bisa gimana mengurus perusahaan.. saya rasa ini relatif.. buktinya dia bisa mengurus perusahaan dia sampe sekarang.

    saya sendiri juga gak tau gimana pola pikir kedua orang tua itu, dan saya sendir juga gak bisa membacanya:
    tapi yang saya tahu: didikan orangtua ini hanya kepada money oriented yang nantinya pada saat anaknya sudah besar anaknya akan membangkang.

    masalah pekerjaan yang dibawa pulang ke rumah, iya mungkin positifnya pekerjaan akan cepet selesai. tapi balik lagi ini hanya masalah mitos saja mbak. ada yang bisa cepet menyelesaikan pekerjaan tanpa harus membawa ke rumah. 🙂

    Hmm kalau bisa cepet menyelesaikan pekerjaan tanpa di bawa kerumah, betapa enaknya…di rumah waktu kita bisa istirahat, setelah anak-anak tidur. Namun pada masa jabatan tertentu, waktu di kantor lebih banyak digunakan untuk rapat, kunjungan lapangan, dan tetap harus segera ada usulan atau memutus usulan dari anak buah. Pilihan kan cuma di bawa ke rumah, agar bisa ketemu anak, atau nglembur di kantor.

    Orang yang sibuk, terus alasan tak memikirkan anak, menurut saya tidak adil buat anaknya. Saya mengenal beberapa Menteri, kabinet lama (presiden terdahulu), juga ada dari kabinet sekarang, yang tetap bisa hadir di sekolah anaknya, diskusi dengan wali kelasnya, paling tidak sebulan sekali. Juga banyak yang Direktur perusahaan yang sibuk sekali, tetap menyempatkan mengajar sendiri anak-anaknya, menemani anak saat membuat PR…terkadang ganti anaknya yang ke kantor menunggu si ibu rapat dengan anak buahnya. Pada akhirnya, kembali pada kesadaran masing-masing, apa tujuan kita mempunyai anak…dan saya percaya, anak adalah amanah yang harus dijaga, dan orangtua punya tanggung jawab kepada Allah swt agar anaknya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.

  32. Semoga aku bisa sekuat dan setangguh dirimu, bun 🙂

    @Eka:
    Eh sorry ya! bundamu? Weeeeek!! bunda rame-rame tauuuuuu! hahaha!

    Hehehe…Yessy, saya yakin engkau akan tangguh (seperti nama anakmu kan?)
    Juga saya melihat orang seperti Eka dan Ria juga akan tangguh ……

  33. hehehe kalau saya malah lebih banyak kerja di rumah bu.

    Sekarang Kai malah menyuruh saya bekerja, sementara dia tidur di bed yang ada di kamar kerja saya.

    EM

    Padahal….bekerja di rumah memerlukan disiplin diri yang lebih ya.
    Soalnya godaan banyak sekali…pengin ngemil…ehh sebentar lagi pengin baca yang lain…terus kalau melirik kamar tidur, rasanya kasur sudah melambai-lambai ingin ditiduri.

  34. Bagi orang-orang yang “gila kerja”, bekerja di mana pun tetap mengasyikan ya, Bu. Di kantor oke. Dilanjut di rumah, juga ayuk. Tinggal bagaimana membagi waktu saja.

    Berkaca dari pengalaman Ibu, Ibu jelas sudah berada di level top untuk pembagian waktu. Kalau aku, karena belum punya tanggung jawab pada siapa-siapa, rasanya waktuku hanya kualokasikan untuk diri sendiri semata. Yah, kesannya jadi egois memang.

    Di kantor kerja sampai larut, jadi. Dibawa ke rumah sampai pagi pun tidak merasa bersalah pada siapa-siapa. Tapi bukan berarti tak ada efek negatifnya. Terkadang kerap merasakan miskin hubungan sosial.

    Dan ketak-ketik-ketok, srrrrt… terakhir kali kurasakan saat SMP. Setiap malam bikin cerpen. Kini terkadang rindu juga dengan suasana manual dan denting merdunya… 😀

    Hmm benar…..apalagi sekarang ini, internet bisa diakses dari banyak tempat…kemana-mana jadi mesti bawa mini notebook….kalau nggak ntar nyesel. Lha maunya berlibur di Bandung, nunggu anak yang lagi ngejar deadline, ehh tahu-tahu ada telepon..tanggal sekian jam sekian bisa nggak mengisi acara di bla…bla..bla… Untung aja siap notebook dan flash dish, jadi bahannya bisa dikirim lagi lewat email. Bekerja paruh waktu, yang bingung mengatur waktu jika tabrakan, maklum sumbernya dari berbagai hal, beda jika hanya kerja di satu perusahaan, dengan gaji yang cukup untuk operasional rumahtangga…cuma nggak enaknya pergi pagi pulang malam. Suara keyboard kompie lebih halus, tak mengganggu orang tidur, dan membikin lupa waktu, tahu-tahu sudah pagi lagi. Saya memahami bagaimana seorang DM di belakang laptopnya, karena saya sendiri kadang lupa waktu, karena anak-anak sudah besar….padahal sekarang ini justru harus hati-hati karena usia tak muda lagi.

  35. Wah..
    Dengan teknologi sekarang, aku merasa sangat terbantu dan banyak menggunakan waktu dirumah untuk bekerja. Umumnya pagi setelah anak2 bubar kesekolah dan istri berangkat ke RS dan malam saat semua sudah tertidur lelap..
    Aku bahkan membuat cara yang lebih nyaman dan mudah dgn fasilitas yg memungkinkan aku bisa kerja tanpa kabel dimana saja dirumah.
    Kadang rasa bersalah pulang terlalu larut malam di kantor, membuatku pulang lebih cepat (tapi masih malam juga) dan melanjutkan kerja setelah semua orang tidur.. Udah habit yg susah dirubah sejak muda..
    *Sambil ngelus2kepala botak, pasang gaya sok tua..* Hahaha.. 😀

    Sebetulnya yang penting komunikasi bukan? Kalau sudah terbiasa aktif sejak masa muda, tentu tetap menyukai bekerja, walau di rumah….dan ini kan bisa dilakukan saat anak-anak sudah tidur, atau seperti kata mas Nug, setelah mereka berangkat ke sekolah. Jadi, sebenarnya tak mengganggu komunikasi anatar anggota keluarga
    Dan sebetulnya, sibuk itu lebih mengasyikkan daripada menganggur, kan?

  36. wah…Bu Enny ini benar-benar hebat…bisa membagi waktu unutk karier dan keluarga.
    Saya dulu juga sering membawa pulang kerjaan koreksi ke rumah. karena tak punya pembantu, biasanya waktu saya sudah habis untuk mengurus rumah tangga, akhirnya kerjaan dibawa kembai ke sekolah tanpa tersentuh hihi…

    Saya sendiri sebenarnya tak tahan menganggur. saya harus uplek melakukan sesuatu, entah membaca, nulis, atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. ah, kadang saya rindu bekerja lagi…

    Nana, bekerja (apalagi dengan adanya internet) bisa dilakukan di rumah. Dulu saya benar2 super sibuk, yang syukurlah suami sangat membantu dengan memahamiku. Sekarang saya lebih bahagia, walau secara finansial turun drastis …dan saya bisa memilih kerja paruh waktu. Diantaranya bisa digunakan untuk hal-hal lain, mengurus hobi dsb nya. Justru setelah pensiun, saya bisa menikmati, menulis di blog, ketemu teman-teman, bisa hadir di acara karya sastra dll.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: