Oleh: edratna | Januari 23, 2010

Mengapa kebijakan dalam pinjaman mikro perlu dibuat secara sederhana?

Dalam suatu perjalanan ke berbagai daerah, sangat menarik untuk melihat, bagaimana usaha kecil dan mikro terus berkembang. Terkadang usaha tersebut terlihat nyaris tak bergerak, seperti misalnya, jika saya pulang ke kampung, masih ada warung soto di jalan ke arah rumah saya. Rasanya warung soto itu tak pernah berubah sejak saya SMP, namun jika mampir ke sana, kemudian mengobrol dengan pemiliknya, ternyata warung soto itu telah menghasilkan 5 (lima) orang Sarjana, dari hasil warung soto tersebut. Dan mengapa si bapak tadi tak berniat untuk memperbesar usahanya? Jawabannya, adalah karena dia menyenangi kehidupan dan lingkungannya, serta telah merasa puas akan pencapaiannya.

Dalam hal ini Perbankan, harus bisa memahami karakter para pemilik usaha mikro dan kecil ini. Ada dari mereka yang punya motivasi untuk meningkatkan usaha, dan usahanya bisa berkembang menjadi kelas korporasi setelah sekian belas tahun kemudian, namun ada juga yang tetap ingin sederhana seperti warung soto yang saya ceritakan di atas. Dalam membiayai usaha mikro, Bank benar-benar harus memahami karakter pemilik usaha ini, pendekatannya berupa personal approach, dan harus membuat pelayanan yang dibuat sederhana, namun tetap handal dari sisi manajemen risiko.

Oleh karena itu, Bank harus membuat sistem dan prosedur pemberian pinjaman mikro  yang  cukup sederhana dengan variasi yang sangat kecil. Pendekatan scoring sistem dalam proses pemberian pinjaman mikro dapat menghemat biaya transaksi dan menghemat waktu proses pelayanan secara signifikan. Persyaratan standar dan sederhana, sering efektif dalam mencegah terjadinya risiko tunggakan, karena masyarakat dilingkungan microbanking pada umumnya masih memiliki sistem sosial yang dekat dan menjunjung tinggi nilai-nilai, dan berlakunya sanksi sosial terhadap penunggak hutang di Bank.

Penyederhanaan proses perlu dilakukan melalui serangkaian program, antara lain: 1) Membuat kemudahan bagi Debitur, 2) Penyederhanakan proses credit review, 3) Perbaikan kualitas analisis kredit, 4) Memaksimalkan utilisasi teknologi.

1) Untuk meningkatkan kemudahan akses usaha mikro, harus disiapkan desain proses kredit yang sederhana dan mudah dipenuhi oleh calon debitur. Misal: dengan menciptakan form aplikasi yang sederhana, mudah dimengerti, dapat diperoleh/diakses dengan mudah oleh calon debitur. Tantangannya adalah, sesederhana apapun desain yang dibuat harus dipastikan bahwa informasi tersebut tepat guna untuk memotret usaha dan analisis calon debitur.

2) Untuk  menyederhanakan proses review, misalkan dengan melakukan review struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan cash flow pinjaman secara  sederhana, tetapi tetap memenuhi standard pengawasan minimal dan risk management.

3) Penyederhanaan pendekatan analisis sangat signifikan pengaruhnya terhadap efisien proses kredit. Analisis harus fokus pada informasi yang relevan, dengan mempertimbangkan keseimbangan faktor-faktor: cash flow, character, capacity to repay dan collateral. Juga memastikan loan officer telah menyampaikan semua aspek risiko kepada pemutus. Hal ini dapat diwujudkan jika credit culture dijunjung tinggi dan ditegakkan oleh perusahaan.

4) Teknologi harus mampu memfasilitasi integrasi proses bisnis (analisis risiko kredit) dan operasional kredit. Sistem aplikasi dan aliran proses kredit juga harus didisain untuk menghasilkan ketersediaan data dan memperbaiki kualitas informasi kredit.

Pada akhirnya loan officer harus mampu mengenali sampai sejauh mana kemampuan pelaku usaha mikro tersebut untuk meningkatkan usaha, dan hal ini harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan pelaku usaha itu sendiri. Hanya dengan kemampuan seperti inilah, usaha mikro akan berkembang secara alami, tanpa tekanan dan paksaan, namun mendapat dorongan untuk mencapai kemajuan seoptimal mungkin.

Catatan penulis:

Bahan diperoleh dari pengamatan dan dari berbagai sumber.


Responses

  1. membaca ulasan ini saya menjadi prihatin dan ingat tak kala saya berusaha bersama sama pengusaha lokal yang sedang mau berkembang lantas patah arang karena analisa proses kredit yang tidak menyentuh
    semoga tulisan ibu menjadikan yang bersangkutan berfikir untuk merubah sistem hingga kepentingan usaha mikro dapat berkembang

    Terkadang memang ada kendala…dan khusus untuk usaha mikro, kebijakan harus terpisah, karena tak bisa disamakan. Di sisi lain, para loan officer memerlukan keahlian untuk memahami aspek community approach, serta bisa menjembatani dan menjelaskan jika ada perbedaan pandangan dengan para pelaku usaha.

  2. terkonsep banget tulisannya, bagus dan membuka wawasan..

    Semoga ada manfaatnya

  3. dengan segala analisa yang diperlukan untuk nge review loan request itulah yang pada akhirnya bikin proses nya gak bisa sederhana lagi… hehe.

    Justru dengan credit scoring, analisanya lebih cepat dan sederhana. Dan harus diingat, tulisan ini untuk kebijakannya…bunyinya: no.2) Penyederhanaan proses credit review.3) Penyederhanaan pendekatan analisis.
    Pada prakteknya, pembiayaan yang masih termasuk dalam kategori mikro memang mau tak mau harus sederhana…..dengan 3T: Tepat waktu, Tepat jumlah dan Tepat orang.
    Analisis sederhana karena sudah ada form untuk isian, menggunakan scoring……bahkan dalam pembiayaan mikro, di pedesaan yang masih tradisional, tanda tangan masih ada yang pakai jap jempol, karena pelaku usahanya masih belum melek huruf

  4. Informasi yang sangat terkonsep.
    Setiap analisa pasti mempunyai dasar, dan hasil dalam penganalisaan untuk membantu pembangunan usaha mikro untuk memperkuat ekonomi mikro sangatlah dibutuhkan langkah-langkah kebijakan dalam hal pensosialisasian yang tepat pada para pelaku bisnis mikro dengan konsep bapak asuh.
    Salah satunya adalah langkah upaya yang telah sahabatku lakukan dalam memberikan informasi dalam blog ini.

    Ini hanya salah satu saran, agar dalam kebijakannya, proses pembiayaan mikro dibuat sederhana, namun tetap memenuhi unsur risk management

  5. Permasalahan yang kerap dihadapi perbankan adalah banyaknya usaha mikro yang veasible namun tidak bankable. Memang sektor ini sangat menarik terus digali dan dibiayai, baik melalui skim konvensional yang ada atau skim skim khusus seperti Kredit Tanpa Agunan. Secara historis, ditemapt saya kerja, NPL untuk sektor ini dinilai sangat kecil, karena kredit yang tersebar merata, dan kita dapat memanfaatkan budaya, dimana mereka malu jika tidak membayar kewajibannya,….
    Bu,… saya izin Kopas ya artikelnya…. salam,… 🙂

    Hmm memang Bank mempunyai berbagai alternatif…yang feasible namun belum bankable, bisa masuk program P4K yang dananya diambil dari sebagian laba. Sayangnya dana ini terbatas, sehingga diperlukan kerjasama dengan pihak lain.
    Silahkan mas..
    ..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: