Oleh: edratna | Januari 29, 2010

Masuk angin pun masuk salon kecantikan

Pada saat ini disadari, bahwa salon kecantikan telah menjadi suatu kebutuhan, terutama untuk masyarakat perkotaan. Jika berpuluh tahun lalu, kita pergi ke salon kecantikan, hanya untuk memotong rambut, itupun dilakukan dengan sederhana, namun sekarang, pemilik jasa kecantikan ini sangat kreatif dalam memberikan berbagai jenis pelayanan. Saya jadi ingat artikel di majalah “Kontan”, saat seseorang bertanya, usaha apa yang kira-kira bakalan laku keras? Pengasuh kolom di rubrik Kontan tersebut menjawab, salah satunya adalah usaha yang terkait dengan pernak-pernik perempuan, termasuk jasa pelayanan yang berkaitan dengan perempuan. Kalau kita lihat, usaha pernak pernik yang berkaitan dengan perempuan, dari kepala sampai kaki memang dapat dijadikan bisnis. Misalnya, pita rambut, bando, shampo, cream untuk menguatkan rambut, cream wajah, cream tangan dan kaki….bahkan sampai pedicure dan manicure (perawatan kaki dan tangan).

Saat ini pelanggan sangat dimanjakan oleh berbagai fasilitas yang disediakan oleh jasa salon kecantikan. Namun jika kita melihat, betapa banyaknya salon kecantikan yang berguguran, dan kenapa ada beberapa salon kecantikan yang tetap bertahan bahkan makin banyak pelanggannya? Kuncinya adalah pada “pelayanan”, dan ini sangat berkaitan dengan pembinaan SDM, yaitu para karyawan yang bertugas memberikan jasa pelayanan tersebut. Jika kita mengkategorikan usaha salon kecantikan, maka usaha tersebut termasuk usaha jasa, sehingga apapun yang terkait dengan usaha jasa, sangat berhubungan dengan kata kunci “pelayanan”. Saya tak membahas panjang lebar dari sisi bisnisnya, karena pada artikel sebelumnya saya pernah membahas berbagai profil bisnis.

Kemarin, karena masuk angin berat, saya pergi ke salon. Aneh kan? Dulu, jika masuk angin, atau badan terasa penat, capek, pegal-pegal, yang ada dipikiran adalah mengundang tukang pijat. Namun saat ini, usaha pijat ini telah bersaing dengan salon kecantikan, dan harganya tidak berbeda, malah jika pijat nya di salon kecantikan, minyak yang dipakai untuk memijat berbau wangi.  Dan setelah selesai, badan kita di lap dengan kain handuk yang telah dibasahi dengan air hangat (suam-suam kuku) sehingga badan bersih dan berbau wangi. Cuma, pijat seluruh badan ini  kalau di salon kecantikan di sebut “body massage“. Jadilah pagi itu, setelah pergi ke Bank untuk mengambil uang (maklum sejak dulu saya hanya mengambil uang melalui ATM yang ada di depan kantor Bank tersebut), saya pergi ke salon kecantikan langganan yang tak jauh dari rumah, naik angkot hanya bayar Rp.2000,- Karena prioritas saya adalah untuk pijat badan, maka saya hanya meminta facial pencet. Di salon ini, untuk facial wajah ada dua jenis, yaitu: 1) facial pencet (jerawatnya dibersihkan, wajah di massage, kemudian dilumuri masker agar kencang, terus didiamkan setengah jam). 2) Facial totok, disini kita benar-benar di totok pada titik-titik yang sensitif di seluruh wajah kita, juga dipijat punggungnya….rasanya hmmm…nikmat sekali, bahkan adik saya di Semarang, setiap kali ke Jakarta selalu meminta jasa yang satu ini. Anda ingin wajah bersih dari jerawat dan juga mata  serta kepala terasa kemepyar? Anda bisa minta jasa facial pencet dan facial totok sekaligus.

Di ruang facial ini, juga ada ruang waxing….itu lho, agar bulu-bulu pada kaki dan tangan menjadi halus. Kalau yang ini, saya tak pernah menggunakan jasanya, kawatir jika kaki dan tangan saya halus tanpa bulu, jangan-jangan dikira kaki meja…hahaha. Kemarin, saya melihat beberapa perempuan sedang mendapatkan jasa waxing ini….saya jadi tersenyum geli, karena teringat cerita di bukunya Miss Jinjing (sayang bukunya saya cari nggak ada, setelah dipinjam anakku…mungkin keselip entah dimana)….di buku tsb, miss jinjing dan temannya pernah mencoba jasa “Brazilian Wax”…artinya di bagian daerah tertentu di waxing, sehingga jika sedang berhubungan dengan pasangan akan terasa lebih nyaman karena tak ada yang membatasi lagi….hehehe,…Anda tahu kan maksud saya?

Begitulah, selesai facial, saya ke ruang untuk “body massage“…..awalnya saya hanya minta pelayanan 1,5 jam. Ternyata badanku memang benar-benar lelah, dan akhirnya mengikuti sarannya mbak W (yang memijat saya), waktu ditambah lagi menjadi 2 jam…..benar-benar nikmat. Saya sampai nyaris tertidur, walau awalnya sakit sekali. Mbak W juga setiap kali bilang, “Bu, kalau kekencengan bilang ya...” Waduh, tangan mbak W ini benar-benar bisa disetel dari pijatan ringan sampai sedang, dan juga kenceng. Pada saat saya balik badan untuk telentang, baru saya perhatikan, ternyata memijat lengan dilakukan saat posisi orang telentang…tiba-tiba mbak W nyeletuk. “Bu, nggak ingin mencoba Tova?” tanyanya dengan mimik serius. Saya bengong….”Mbak, apa sih Tova itu, dan apa manfaatnya?” Tahu saya dari Jawa, si mbak menjawab dalam bahasa Jawa…”Niku lho bu, ngriki sing di pijet-pijet (mbak W memperagakan pijatannya, yang membuat saya nyaris menjerit…lha di daerah sensitif itu tuh)…kersane ibu bilih berhubungan kaliyan bapak  saged nikmat saestu...terus niki nggih saged kangge mbeneraken saluran kencing kersane nggak beser“. Saya melongo…jadi tova ini totok Va****? Ya, ampun…ada-ada aja…tapi salon ini sepertinya juga salon yang diceritakan pada bukunya Miss Jinjing tentang Brazilian Wax (BW). Pas mbak W saya tanya tentang jasa BW, dia bingung, terus bilang, ibu tanyanya di bagian waxing saja.

Hahaha…saya lupa, masing-masing pekerja salon ini memang dibuat spesialis. Orang yang baru masuk dididik dulu untuk bagian bersih-bersih, kemudian meningkat menjadi tukang cuci rambut (jadi ingat cerita anakku, dia pernah menoba potong rambut di LN, cuci rambutnya pakai mesin…hehehe). Setelah itu dia dilatih untuk bisa berbagai macam, dari creambath, manicure, pedicure, facial, memijat dan sebagainya. Nanti pemilik salon, dibantu oleh para senior akan mengetes, apa yang paling cocok oleh orang yang bersangkutan. Seseorang yang telah dianggap lulus untuk membantu jasa creambath, harus di test dengan melakukan perawatan creambath pada para senior dulu, serta bagaimana cara memijat punggung dan apakah rasanya telah sesuai. Jika dirasa telah pas, maka orang tadi baru boleh melayani pelanggan. Memang saya lihat, di salon ini pijatannya sangat enak….yang berbeda dengan salon lainnya. Dan yang membuat berbeda, salon ini khusus perempuan, sehingga untuk bapak-bapak dilayani terpisah dan jasa yang diberikan untuk para bapak ini terbatas hanya urusan rambut saja….ya tentu saja para bapak tak perlu melakukan “Brazilian Wax” ataupun Tova

Iklan

Responses

  1. iya mbak klo masuk angin … ilang cantiknya….

    Cantik sih teteup, kalau dasarnya memang cantik…tapi terlihat lesu

  2. Layanan jasa berkembang seiring perkembangan kebutuhan masayarakat, salah satunya salon bu,… Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan Wanita, bahkan dengan terciptanya segmen Pria Metroseksual saat ini, salon2 juga menyediakan pelayannya, sama dengan kebutuhan wanita….

    Betul….dan wirausaha seperti inilah yang perlu dibantu….karena mereka juga memperhatikan perkembangan SDM nya. Disiplin pelayanannya, serta sistem adminiatrasinya sudah bagus sekali…padahal awalnya hanya di garasi…dengan tiga meja.
    Jangan-jangan pembiayaannya dari Bank tempat Avartara bekerja ya?

  3. disini belum ada tuh bu salon kayak gitu…ada juga yang nggak bener..

    Hmm iya, di Jakarta, salon yang memisahkan perempuan dan laki-laki lebih diminati, karena lebih memperhatikan norma-norma kesopanan

  4. Jadi pengen nyobain Tova, Bu… 😉

    Pijet dua jam, jadi kemepyar juga kepalanya? Nek badan istilahnya apa ya, hehehe… Uenak tenan lah pokoke…

    Trus, bayarnya berapa Bu, kok nggak disebutin? Jangan-jangan nggak cocok sama kantong saya…

    Pijatnya per jam Rp.65 ribu..lha kalau panggil orang Rp.75 ribu. Sekarang lagi discount 50%, mereka lagi buka baru.

  5. sekarang memang pelanggan salon bisa dimanjakan dgn berbagai macam pelayanan yg sengaja disediakan , krn mereka juga bersaing memperebutkan pelanggan.
    Apapun jasa yg diberikan kuncinya ya satu: service yg memuaskan pelanggan.
    duh, jadi pingin dipijet juga nih he…he ….:)
    salam.

    Betul…kuncinya memang pelayanan pelanggan, sehingga pelanggan yang puas akan datang kembali

  6. Mbak…., badanku lagi pegel-pegel…., salon yang seperti ini di Jakarta Selatan di mana ya? info yang sangat menarik.. terimakasih Mbak Enny

    Lokasi salonnya di Jakarta Selatan kok….Effi kasih nomor hapemu (via email ya)…nanti tak kasih ancer2nya….

  7. Mmmm …
    menurut pendapat saya bu …

    Kebutuhan akan Rasa nikmat “ingin terus dilayani itu” … yang membuat bisnis seperti ini maju pesat …

    Salam saya

    Buat saya, kebutuhan untuk dipijat itu…apalagi jika sedang terasa masuk angin…pulangnya langsung bisa tidur nyenyak

  8. hihihi… ibu boleh bilang aku aneh, tapi saya facial baru satu kali seumur hidup. Itu juga di Jepang, sebagai “bahan praktikum” salon ibu kos yang baru buka. Jadi gratis. Dan petugasnya bilang, saya baru pertama kali bertemu orang yang pori-pori kulitnya halus sekali (kecil sekali).

    EM

    Yaa….padahal Imel mau tak ajak facial totok..rasanya enak banget, pusingnya hilang. Tapi kalau tak biasa dipijat memang nggak suka sih.

  9. saya juga sering, suka lulur juga dengan berbagai macam aroma buah, kopi, teh, dll… buat ngilangin stress aja si…

    Pijat memang bisa untuk mengurangi stres….dan pulangnya tinggal tidur

  10. Saya kalau sedang masuk angin paling pol ya cuma dioles minyak kayu putih lalu minum teh panas … Di kota metropolitan ibaratnya apapun bisa dibisniskan ya Bu, tinggal kejelian membidik peluang dan pasar …

    Hehehe…betul pak…sebetulnya dalam tulisan itu terselip pesan, bahwa kita harus jeli membidik apa kemauan pelanggan.
    Dulu, hanya berupa garasi kecil…malah awalnya rumah tua tsb digunakan untuk senam… salon berkembang karena pelayanannya bagus. Pemiliknya mengikuti saran pelanggan….sekarang? Udah bertingkat 4, gedung baru…dan sudah membuka 3 cabang.

  11. wah kalo saya sih kalo mau dipijit ya mendingan ama istri sendiri aja. kalo orang lain yang mijit malah sakit semua. hahaha.

    Jelas dong…kalau isteri pasti pas pijitannya

  12. Kalau saya malu dipijat, orang isinya banyak tulang, dagingnya sedikit, takut patah heuheu….

    Hahaha…mangkum bisa aja

  13. Waj jadi pingin ke salon ne Bu … tapi kalau ptotong rambut kalau ngak lelaki tuleh, ngak berani he he …

    Kenapa pak, takut ya? Hihihi

  14. usaha apapun pelayanan adalah salah satu kunci utama, sebagus apapun produk jika pelayanan kurang meyakinkan apalagi bidang jasa, sangat besar kemungkinannya pelanggan beralih ke tempat lain

    Betul pak, tulisan saya kuncinya disitu, dalam bidang usaha jasa, pelayanan nomor satu

  15. Kayaknya di Semarang juga belum ada usaha salon sampingan yang ibu sebutkan itu bu. Salam kenal nggih (Eny – Semarang)

    Hmm..biasanya pengusaha memang melihat kebutuhan pelanggannya….
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  16. seumur-umur sy cuman sekali masuk salon. pas waktu mau nikah. hehehe…

    Hehehe…yang rajin ke salon biasanya yang termasuk cowok metroseksual….cewekpun bisa kalah

  17. hi..hi..terkikik sendiri baca postingan ibu 😀
    jadi kangen salon muslimah di depan kantor di Bandung dulu. Selama di Jepang, belum pernah ke salon. Potong rambut juga mesti nunggu pulang ke Indonesia 😀

    Berarti Fety baca bagian bawahnya ya….hahaha…saya tak tega untuk mencobanya, mesti tanya dulu dari orang yang pernah mencoba.
    Hmm di Jepang, kalau potong rambut ternyata kramasnya pakai mesin ya….hihihi….anakku cerita, dia kaget, dipikir kayak salon di Indonesia, dikramas dulu oleh si mbak dan di pijit-pijit….lha tahu2 airnya udah nyemprot. Untung dia nggak langsung bangun-bisa basah semua bajunya….hehehe

  18. Hohohohhoho.. Lha kok bisa ya Bund,,,,
    Saya jadi terkikik2 sendiri dech hhihiii

    Hayoo…terkikik baca yang mana?

  19. bener, bu. sekarang bisnis jasa seperti itu memang sangat diminati. saya sendiri termasuk salah seorang pelanggan yang setia. hehe.

    dan soal body treatment ini, saya telah mencoba beberapa tempat, namun yang pas hanya satu. saya jadi mikir, ternyata butuh kemistri juga untuk bisa cocok dengan tempat perawatan.

    jadi kapan ibu mau coba BW dan tova? haha…

    Hahaha…Marsmallow…engkau dapat inti dari tulisan ini…yang sebetulnya pada BW dan Tova…hahaha
    Saya belum berani coba..tunggu Marsmallow ke Jakarta aja..mau nyoba sama-sama? Hihihi

  20. Wah.. Kenapa aku potong rambutnya di Barbershop ya? tau gitu lain kali aku potong rambut (yg udah tinggal dikit karena botak) ke saloon aja.. Hahaha… 😀

    Hehehe…berarti mas Nug belum termasuk kategori cowok Metrosexual ya….hihihi

  21. Wah, saya nggak pernah pijat di salon. saya paling malas buka-bukaan di tempat umum seperti salon. 🙂

    Sekarang buanyakk sekali salon yang para kapsternya itu pria yang gemulai… biasanya para cowok malas ke salon seperti ini. kalau saya sih biasa aja, kalau pelayanannya bagus, kenapa tidak?

    Nana mesti nyoba deh…salon ini khusus untuk wanita dan pria di larang masuk….
    Kapan ke Jakarta? Ntar saya antar ke sana


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: