Budaya melayani, harus terus digalakkan

Minggu kemarin, saat pergi ke Bank, saya melihat sesuatu yang tak biasa. Bukan…bukan karena para telernya semakin rapih dan ramah, namun juga kantor Bank tersebut semakin terlihat bersih dan nyaman. Pada saat giliran saya, teler (front liners) yang melayani saya,  sudah kenal  cukup lama, karena saya adalah nasabah penyimpan di Bank tersebut. Bukan simpanan besar..hanya simpanan untuk operasional rumah tangga sehari-hari..jadi simpanan yang sangat aktif…maksudnya aktif keluar masuk, dan kecil-kecil. Dan sifat saya, yang selalu berpikir bahwa teknologi selain memudahkan juga menguatirkan (contoh ATM yang bisa di bobol), minimal sebulan dua kali saya ketemu teler di Bank tersebut, untuk overbooking membayar tagihan kartu kredit, juga pembayaran tagihan lainnya. Dan juga sekaligus mengambil uang melalui ATM yang ada di lobi Bank tsb, jika mengambilnya kurang dari R.2 juta.

Saya perhatikan, setiap nasabah yang selesai dilayani, diberi kartu nama teler yang melayani. Saya awalnya tak mengerti apa maksudnya, dan baru tahu setelah namaku dipanggil. Setelah urusan selesai, cewek manis yang melayaniku memberikan sebuah kartu putih yang bertuliskan namanya, serta berpesan agar dimasukkan dalam kotak yang berada disamping kanan sebelum pintu keluar. Dalam kotak tersebut, ada empat kotak yang diberi lubang untuk memasukkan kartu, yang terdiri dari: istimewa, sangat baik, baik, cukup dan kurang baik. “Wahh hebat juga nih,” pikir saya. Jadi nasabah bisa menilai langsung para teler yang melayani, dan kartu tadi akan diambil setiap sore hari, saat pelayanan pelanggan ditutup, untuk menilai, apakah pelayanan para teler tersebut dianggap baik oleh para nasabahnya.

Dulu, untuk menilai pelayanan pelanggan, sering digunakan “mistery calls“, kita menelepon menanyakan sesuatu untuk mengetes bagaimana para teler tersebut menjawab pertanyaan pelanggan, apakah cukup sopan, apakah menguasai masalahnya, dan bila bukan termasuk wewenangnya, bagaimana cara dia mengoper pertanyaan tersebut kepada seniornya yang lebih berwenang. Selain itu juga digunakan questioner, yang disebarkan kepada para pelanggan atau nasabah Bank tersebut. Penggunaan questioner ini terkadang agak susah, karena banyak orang kita malas menuliskan penilaian atas pelayanan, mungkin juga termasuk saya, jadi terkadang questioner yang diisi dan dikembalikan jauh dari memadai.

Ide untuk memasukkan kedalam kotak langsung, tanpa membuat pelanggan repot mengisi merupakan ide menarik. Namun penilaian ini masih perlu disertai penilaian lainnya, apalagi para teler sebagai gardu terdepan, terkadang menjadi pelampiasan kemarahan nasabah, hanya karena nasabahnya sudah kesal duluan dari tempat lain. Namun saya ingat pelatihan untuk para teler ini, bahwa sebagai teler harus selalu tersenyum….dan kata kuncinya adalah “maaf dan terimakasih“. Jadi, betapapun menyebalkannya seorang pelanggan, dan teler sudah dimarahi habis-habisan walau kadang tak bersalah..jawaban hanyalah maaf dan terimakasih atas kunjungannya.

Saya pernah  menulis artikel disinidisini, dan disini,  bahwa pada usaha di bidang jasa, pelayanan pelanggan menduduki tempat yang sangat penting. Agar pelanggan selalu datang kembali, tuan rumah harus berpakaian bersih, rapih, yang mencitrakan bagaimana lembaga tempat dia bekerja adalah lembaga yang layak dipercaya (jika lembaga tersebut Bank).  Bahasa tubuh teler yang merupakan gardu terdepan dalam pelayanan suatu cabang Bank , juga harus memberi kesan bahwa tamu diterima dengan senang hati. Bahasa tubuh ini termasuk: a) sikap badan (posture), b) gerak isyarat (gesture), c) raut wajah (facial expression), d) tatap mata (eye contact), e) tekanan suara (tone of voice) dan f) jarak berbicara/kedekatan (proximity). Bahasa tubuh ini harus sesuai dengan ucapan, agar mendapatkan hasil yang memuaskan.

Selain menjaga sikap dengan bahasa tubuh, tak dapat dipungkiri, sebagai gardu terdepan, para teler atau front liners ini sering sekali harus menangani pelanggan yang kecewa. Dan komplain dari pelanggan yang kecewa ini harus bisa ditangani dengan sebaik-baiknya, karena seharusnya kita bersyukur jika mendapatkan komplain langsung dari pelanggan yang kecewa. Mengapa? Karena, dalam suatu survei yang dilakukan oleh Frontier terhadap 2000 responden, menunjukkan bahwa: 1) Tidak semua pelanggan yang kecewa akan melakukan komplain, 2) Pelanggan yang tidak puas dan tidak komplaim, sekitar 20 persen menyatakan akan beralih ke perusahaan lain, 3) Pelanggan yang mengajukan komplain dan diberikan penyelesaian dengan baik, hanya sekitar 2-3 persen yang mempunyai niat untuk pindah ke perusahaan lain. Berdasarkan hal ini, perusahaan harus mengucapkan terimakasih kepada pelanggan yang yang cerewet, yang suka komplain, karena pada dasarnya mereka menginginkan perbaikan kualitas dari produk/jasa perusahaan tersebut, yang belum tentu sebelumnya disadari oleh perusahaan tersebut.

Karena petugas front liners berhubungan langsung dengan pelanggan, juga diperlukan pemahaman yang cukup memadai terhadap aspek hukum. Aspek hukum yang perlu diketahui adalah: a) Hukum perjanjian, b) Perlindungan konsumen, c) Rahasia Bank. Dengan memahami beberapa aspek hukum ini, seorang front liners dapat menilai, apakah seseorang yang berhubungan dengan Bank telah memenuhi persyaratan dilihat dari sisi hukum, apakah  orang tersebut telah cakap hukum, apakah mempunyai kewenangan untuk menarik simpanan, melakukan transfer rekening dari perusahaan ke rekening lainnya. Front liners juga harus mengecek, apakah seseorang yang bertindak mewakili perusahaan tersebut memang mempunyai kewenangan dapat mewakili perusahaan.

Dari paparan ini, seorang petugas front liners, selain harus ramah, cekatan dalam menangani komplain, juga harus memahami aspek hukum, sehingga  tidak sesederhana seperti yang kita lihat, hanya sekedar melayani pelanggan, namun harus mempunyai kualifikasi tertentu. Dan pendidikan untuk front liners ini harus dilakukan secara terus menerus, disesuaikan dengan kemajuan bisnis yang semakin berkembang.

Artikel terkait:

https://edratna.wordpress.com/2007/11/15/melayani-dengan-senyum/

https://edratna.wordpress.com/2008/05/05/handling-complaints-menangani-nasabahkonsumen-yang-kecewa/

https://edratna.wordpress.com/2008/05/01/perlukah-seorang-front-liners-memahami-aspek-hukum/

Iklan

38 pemikiran pada “Budaya melayani, harus terus digalakkan

  1. Pepatah lama masih berlaku ya bu, pelanggan adalah raja, apapun kita lakukan supaya pelanggan tidak berpaling, sangat berguna untuk saya bu, terima kasih

    Monda, usaha apapun, terutama usaha jasa…pelayanan adalah nomor satu.
    Benar, pelanggan adalah raja, bagaimanapun kita tak salah..maka tetap “maaf dan terimakasih”. Ini yang digalakkan saat pelatihan, agar pelanggan yang sebelumnya marah2, nanti setelah marahnya reda, dia tetap akan balik lagi.

  2. wah hebat juga tuh bank… inovatif…
    masih banyak pelayanan publik di negeri ini yang merasa juustru mereka yang jadi raja dan pelanggan adalah budaknya….
    trims bu sudah menyebarkan budaya melayani yang sangat penting buat bangsa ini…
    salam,

    Sama-sama pak…bisa diterapkan juga di bidang lainnya, kebetulan saya kemarin ke bank

  3. Nah itu dia … melayani kok malah merampok he he

    Apa maksudnya pak? Lha tulisannya adalah untuk mengingatkan dan untuk mendorong budaya melayani kok…tak ada hubunganya dengan yang lain.
    Bukankah kita tak perlu menghakimi untuk hal yang tak kita tahu apa persisnya, ….agar tidak menambah ruwet dan simpang siur

  4. Wah, belajar manajemen nih dari Ibu. Yang jelas, apapun posisi kita, memang harus menunjukkan bahasa tubuh yang baik, tidak hanya sekadar menjalan pekerjaan apa adanya. Terima kasih, Bu.

    Melayani yang tulus dari hati tetap dirasakan berbeda oleh pelanggannya

  5. Setuju, Bu!
    Delapan tahun waktu di Indonesia saya bersama teman2 mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa IT.

    Kemampuan customer servicing memang mutlak harus diperlukan dan dikuasai oleh tak hanya petugas CS tapi mostly of them, para pegawai hingga atasan perusahaan tersebut.

    Betul Don, karena mereka ujung tombak perusahaan, tak sekedar mengangkat telepon, tapi tahu juga mengatasi masalah jangka pendek, dan perlu dibekali ilmu….dan jika pelanggan suka, maka dia akan mau menemui atasannya lagi, kalau udah bete akan cari perusahaan lainnya

  6. wah, bagus juga itu, bu trik-nya. lembaga publik semacam bank memang perlu menunjukkan layanan maksimal kepada pelanggan. bukan lantaran ingin dipuji atasa, malinkan niat tulus utk membuat pelanggan semakin nyaman. semoga langkah2 semacam ini diteladani juga oleh pihak rumah sakit yang selama ini dikenal sbg lembaga yang sangat tdk ramah kepada konsumen.

    Sekarang semakin disadari, tanpa ada perbedaan pelayanan, sebetulnya produk atau jasa yang dijual nyaris sama…bedanya pada pelayanan. Dan memang itu resepnya usaha jasa, pelanggan yang puas akan datang lagi dan tak pernah menengok lainnya…hmm termasuk saya banget.

  7. alangkah baiknya bila hal seperti ini diterapkan juga di tempat-tempat lainnya ya, bu. soalnya banyak sekali masalah yang timbul justru karena pelayanan yang kurang memuaskan.

    kalau boleh tau, di bank mana itu ya, bu?
    sewaktu saya membuka tabungan di bank c*****w****h, mereka memberikan pelayanan yang begitu personal, dan setiap nasabah memiliki seorang akuntan sendiri. tapi itu sih bisa jadi karena nasabah bank tersebut memang tak banyak.

    Yang saya perhatikan, masing-masing Bank telah berlomba menerapkan pelayanan ini…memang ada yang masih kedodoran. Pelayanan ini lebih pada bagaimana para front liners bisa menyenangkan keingin tahuan pelanggan, bukan sekedar gedung bagus.
    Kebetulan saya juga puyna tabungan di C****w****h (karena dulu anak saya sempat kuliah di Bne) …mereka melayani personal sekali, tapi memang nasabahnya sebagian besar corporate, sehingga seimbang dengan biaya overheadnya.. Namun Bank retail, cara pelayanan nya beda, lebih ke arah sebagai konsultan, karena pelanggannya masyarakat menengah ke bawah…apalagi masyarakat kecil, yang baru belajar menggunakan kartu ATM. Ada yang mau nangis karena kartunya tertelan, kayaknya malu banget, tapi mas yang melayani dengan sopan, mengajak ibu mengobrol di ruang tersendiri..tak lama kemudian ibu tadi sudah ber binar-binar matanya, keluar dari ruang pertemuan.

  8. Wah.. kalo yg senyum di Service Counter “Cewek Manis” itu aku sih langsung cemplungin ke box “Istimewa” aja deh..

    Lho.. Ampuun, Bunda… jangan melotot gitu deh… Hahaha 😀

    Hahaha…cewek cantik memang akan mendapatkan nilai tambah lebih banyak.
    Tapi saya ingat temanku, ..”lha cowok aja kalau didandani cantik, apalagi cewek ya (kebetulan saat itu dia lagi memerankan jadi cewek…hihihi)”…..jadi, kesimpulannya, dengan semakin banyaknya tersedia produk perawatan kecantikan, yang semakin terjangkau, hampir semua cewek bisa berpenampilan menarik….menarik lho, bukan cantik

  9. so far siy saya selalu merasa terlayani dengan baik oleh para frontliner yang kebetulan melayani saya..
    tapi saya punya beberapa pengalaman tidak mengenakkan dengan call center, bu….padahal meraka juga harus melayani dengan baik walaupun tidak bertatap muka langsung dengan pelanggan

    Saya juga masih belum puas dengan layanan call center, tapi selama ini berhubungan dengan front liner dari beberapa Bank, semuanya memuaskan bagi saya

  10. Saya hanya mau komentar tentang angket/kuesioner. dengan sistem memasukkan kartu nama ke dalam kotak itu, rasanya jauh lebih praktis. nasabah nggak akan merasa direpotkan.

    Saya sendiri kok kurang sreg (baca:malas) mengisi kuesioner, ribet dan makan waktu, belum lagi bahasa pertanyaan angket kadang-kadang nggak jelas (ambigu).

    Betul Nana….ide yang bagus langsung masukkan ke kotak…saya paling males ngoso angket, padahal ini berguna untuk manajemen lho!

  11. Wah, kalo saya yang jadi teller, pasti saya akan mendapat banyak kritikan:
    – ngitung duit lama bener mbak! hehe…
    Salam

    Hahaha…saya untungnya juga tak pernah jadi teler…mungkin juga grogi dan salah hitung melulu

  12. darahbiroe

    yupz setuju karena dengan kita memiliki budaya untuk melayani pasti akan lebih damai

    berkunjung

    Hmm apa hubungan budaya melayani dengan lebih damai?….Bingung….:P

  13. inspiratif sekali bank nya yaa…dengan begitu karyawannya juga pasti terpacu untuk bisa memberikan pelayanan terbaiknya

    salam kenal bu 🙂

    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  14. ada beberapa bank yang customer service nya memberikan pelayanan dengan baik. sayangnya ada juga bank *pelat merah* yang tertua yang masih melayani dengan ketus. kalau begitu caranya lama-lama bakal ditinggalkan orang..

    Hehehe….hmm tantangan buat manajemen Bank tsb untuk meningkatkan budaya melayani sampai e ujung tombak yang paling jauh…

  15. melayani dengan hati… gimana caranya ya?? :mrgreen:

    Caranya? Pernah nggak berbuat sesuatu kebaikan dengan sepenuh hati?…ya, mungkin seperti itulah….bukan karena terpaksa

  16. sepertinya ini patut ditiru oleh banyak instansi, terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik. kepuasan pelanggan dapat terwujud berkat pelayanan yang prima tentunya ya Bu?

    Benar Uda…dan harus digalakkan, di monitor, agar nanti menjadi suatu nilai atau Values. Jika sudah menjadi suatu nilai, maka orang akan tak nyaman jika tak berbuat baik, seperti melayani…baru deh, ini yang dikatakan berhasil. Namun budaya ini juga harus diturunkan ke orang baru, dibuat sistem, dan selalu terawasi….

  17. Pelayanan ramah dan simpatik. Kayanya saya pernah juga diminta menilai performance dengan kotak suara, di bank merah langganan saya 🙂

    Mas Ben
    http://bentoelisan.blog.com

    Ya, biasanya rata-rata usaha pelayanan jasa meminta pelanggannya mengisi angket…cuma ini kadang males mengisinya….

  18. alhamdulillah,selama ini saya mendapatkan pelayanan yg selalu memuaskan dgn bank, baik pemerintah maupun swasta, yg kurang enak lebih sering saya alami justru via call centre , kesannya mentang2 tdk berhadapan langsung dgn nasabah, jadi tdk perlu beramah tamah ataupun ”senyum”, toh gak kelihatan juga , mungkin gitu ya .
    terima kasih Bu Ratna utk infonya.
    salam.

    Sudah ada dua komentator yang mengeluhkan tentang call center ini…berarti pelayanan melalui call center harus ditingkatkan.

  19. wah, ada istilah mistery calls 🙂 tapi sepertinya itu yg paling efektif ya.. karena siapapun yg diuji tidak tahu kapan ada pengujian seperti itu. jadi bisa menilai lebih objektif. tapi memang butuh kesabaran ekstra jika bekerja di bidang pelayanan publik.

    Iya, untuk menilai apa ketentuan, anjuran telah dilakukan sampai ke ujung tombak terdepan, manajemen mempunyai alat untuk memantau, antara lain mistery call ini. Jadi bisa saja seorang Direktur Utama mencoba mengecek, apakah anak buah melayani telepon dengan baik? Saya dulu sering dapat telepon seperti ini…walau belum pernah di jajaran front liners…itu salah satu cara bos untuk mengecek keramah tamahan anak buahnya

  20. Hmmm,… sharing pengalaman yang menarik Bu,… manatahu bisa dipalikasikan ditempat saya, memang sebagai garda depan yang mengandung pencitraan, front liner memliki misi dan tanggung jawab yg besar dalam memberikan pencitraan perusahaan. Setiap nasabah berhak menilai bagaimna bank tempat mereka melakukan transaksi. Bahkan ada yg mengatkan bahwa “jika anda ingin melihat bagaimana efektivitas pelaksanaan manajemen risiko pada suatu bank, lihat saja bagaimana pelayanan Bank tersebut”…… Sampai saat ini kalimat ini sangat sulit saya cerna

    Avartara, kalimat itu betul sekali. Di front liner kan juga ada sistem maker-ckecker-signer…ini kan termasuk manajemen risiko operasional. Jadi dalam setiap pelayanan, secepat apapun tetap harus didasarkan pada manajemen risiko.

  21. harusnya memang gitu yah …semua yg berhubungan dengan public service..tapi saya pernah mengalami kejadian yg tidak mengenakan di suatu bank terkenal di Indonesia waktu transaksi di mesin ATM….(mesin ATM ini sepertinya accept transaksi saya dan kedenaran duitnya ngetung tapi ngga keluar duitnya)
    nah saya minta tolong ponakan saya yg waktu itu bersama saya untuk memanggil petugas banknya..tapi omongannya ngga mengenakkan sekali…”ngga ada dananya paling di card ibu”
    trus dia minta saya mencoba mesin yg lain dan keluar duitnya, dia minta saya mengulangi lagi…keluar juga duitnya….tapi yg di mesin ATM pertama tidak keluar duitnya….nah setelah itu saya diajak masuk ke bank…dan dilihat debit card saya….eh dengan nada yg ga enak dia bilang…bank card apa nee bu? bank apa yg ibu pake? loooh…..?????
    saya minta untuk bicara dengan kepalanya….lalu seorang wanita keluar dan dia nanya bank apa ini ya bu? saya terangkan bank saya itu….dengan tenang dia bilang..mungkin memang ga ada dananya….wah saya tersinggung sekali.
    trus saya memperlihatkan transaksi saya dan jelas2 uang saya berkurang…nah saya minta keterangan…dia bilang ibu harus mengurusnya dulu lewat bank ibu…baru nanti transaksi antar bank . Cuma caranya ngga simpatik banget…
    Akhirnya karena saya memang butuh duit saya mencoba mencairkan “Traveller cheque” tapi petugasnya malah nanya…ini apa bu?
    jadi saya benar2 be te…..hihihihihi….
    trus saya berhenti di warnet ngirim e mail ke bank saya…dan 2 hari kemudian uang saya dikembalikan di rekening saya…

    Hahaha…Wieda….mungkin karena Bankmu ada di Kanada dan tak dikenal oleh mereka. Mungkin jika Wieda pake Citibank, atau Bank int’l lain, seperti Commonwealth (Aussie), Anz dll…asal pencairan di lakukan di kota besar, mereka masih kenal…itupun kalau diuangkan di cabang Bank Utama nya. Maklum para petugas di cabang utama sudah terbiasa melayani hal2 yang berkaitan dengan transaksi int’l. Tahu beda Bank Devisa dan bukan? nahh…jika Bank Utama, yang biasanya juga Bank Devisa…maka petugasnya telah dibekali dan transaksinya memang banyak terjadi yang berhubungan dengan Bank int’l. Jangan-jangan menguangkannya bukan di Bank Devisa..kalau seperti ini ya harus dimaklumi. Sabaaar Wied…kita memang masih harus banyak belajar

  22. mandor tempe

    suatu pembelajaran dari bu ratna tentang pelayanan pelanggan. Pelayanan pelangan harus bagus karena membawa nama baik instansi. Bisa dibayangkan jika pelanggan berhadapan dengan pelayanan yang buruk, langsung kapok deh. Bagus sekali bu, terima kasih telah berbagi.

    Semoga, apapun bidang kita, kita juga harus siap melayani…melayani tamu yg datang ke rumah kita…

  23. kalau kita mau di layani sebelumnya kita harus melayani orang terlebih dahulu, kalau ingin di hormati kita harus menghormati terlebih dahulu… begitu menurut saya yang masih pemula heee…
    salam kenal dari saya di Kalimantan Tengah.

    Ya…memang mirip seperti itu…salam juga

  24. bank dan perusahaan telepon selular skarang semakin meningkatkan kualitas pelayanan front liners mereka bu….tapi herannya pas saya ke kampus untuk legalisir ijazah S1 malah jutek adminnya…. 😦 padahal bayar bu…apalagi gratis yah

    Waduhh….lha Kanpus kok malah jutek…..mereka mungkin perlu juga diberikan pelatihan bagi para karyawan bidang administrasinya, sekalian refreshing (jangan2 malah nggak pernah ya)…mungkin karena jenuh bekerja, pangkat nggak bisa naik…lha padahal hampir semua orang juga seperti itu.

  25. wah, bagus juga tuh caranya. masukin ke kotak sesuai penilaian. jadi pengen nyoba nerapin…

    v(^_^)

    saya pernah masuk ke beberapa bank yang berbeda. pelayanannya sudah cukup bagus. satpamnya ramah dan sopan, tellernya ramah dan cekatan, wah pokoknya bank jauh lebih ramah pelayanannya daripada di kantor pos, kantor kelurahan, atau kantor2 lainnya. seharusnya kantor2 pemerintah itu memiliki pelayanan yang sama seperti bank ini, bahkan seharusnya bisa lebih bagus. kantor pajak, kantor polisi, kantor kelurahan, dsb, seharusnya berbudaya melayani masyarakat. karena tugas mereka itu adalah melayani, bukan dilayani.

    Dan Farijs pasti dilayani dengan ramah, apalagi jika tahu Farisj masih bujangan…duhh…duhh siapa tahu kecantol sama front liners nya

  26. Yg saya masih suka kesel itu sales yg menawarkan asuransi, barang khusus dll. Awalnya semua baik, ramah dsb. tapi begitu dagangannya sudah laku, mereka ngilang … apalagi kalau ada masalah, susah dihubungi … hehehe … 🙂

    Kalau urusan asuransi (kecuali asuransi mobil dan rumah), saya tak mau…lebih aman simpan di deposito…dalam bentuk valas, bunganya disatukan pada pokok, saat diperlukan juga mudah diambilnya…kalau nggak diambil, tahu2 jumlahnya sudah besar setelah bertahun-tahun

  27. Saya pikir, petugas front line itu penting banget. Kadang saya begitu terkesan dg pelayanan seorang CS atau teller suatu bank. Di tangan mereka sebenarnya image sebuah bank (atau suatu institusi) dipertaruhkan. Kalau mereka tidak ramah dan terkesan bossy, jadi males deh. Tapi apakah gaji mereka sepadan dg beban yg mereka emban ya?

    Yang jelas…gaji mereka sepadan kok Kris, apalagi kan Bank juga bersaing, sehingga kalau mereka gajinya rendah, bisa pindah ke bank lain, tentu bagi orang yang kompetensi nya tinggi

  28. yup2..
    btw kemarin makan di pizza hut.. pelayan jutek.. mgk saya pikir krn ramai.. tapi sehabis gak sibuk dia kembali ramah..

    Ya, mungkin dia capek atau habis dimarahi bos

  29. wah bank mana tuh bu??
    cakep2 kan?
    kalo gitu bakal sering2 ke bank itu bu, walaupun cuma untuk ngambil uang 200 Rb hehehehhe

    Hehehe…hayoo Afdhal..yang jelas di Jakarta dong. Dan kalau ambil uang kurang dari batas tertentu mesti bayar administrasi kan? Ini untuk mengurangi antrian

  30. abughalib

    menurut saya, pelayanan adalah nomor-1, produk nomor-2. lebih baik makan di warung biasa dg menu sederhana tetapi pelayanan yg ramah dibanding makan di restoran tetapi pelayanan yg tidak ramah..

    salam dahsyat

    Pelayanan no.1…tapi produknya juga bagus. Kalau pelayanan bagus, produk gampang rusak, orang juga tak mau beli produk dari perusahaan yang sama. Jadi memang mesti komprehensip.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s