Hantu “narkoba” menyerang keluarga itu….

Berita itu menyambar bak petir di siang hari bolong.  Saat itu saya bersama anakku, baru saja pulang dari Bandung ke Jakarta, dan karena badan rasanya sudah babak belur, mungkin masuk angin, kami langsung mampir ke salon langganan kami dekat rumah, untuk “body massage“, karena salon ini terkenal dengan pelayanannya, terutama pijitannya bikin kangen untuk datang terus ke situ.  Apalagi saat itu sedang ada diskon 50 persen khusus untuk body massage dan luluran. Dan tentu saja, namanya dipijat, boro-boro mendengar bunyi telepon…malah merem melek  mengantuk.

Lanjutkan membaca “Hantu “narkoba” menyerang keluarga itu….”

Duhh…macet dimana-mana…..

Sore itu saya masih sibuk membuat program kerja untuk tahun 2010, kemudian menengok jendela. Mendung menggantung tebal sekali, berwarna hitam. Saya menengok jam, ternyata sudah jam 15.15 wib. “Wah, kalau tak segera pulang, pasti akan terjebak macet,” pikir saya. Jakarta sore hari, ditambah hujan, merupakan paduan yang tak menyenangkan, sudah bisa dipastikan akan terjadi kemacetan dimana-mana. Saya mematikan komputer, menitip pada teman, untuk segera mengirimkan laporan lewat email, supaya bisa saya kerjakan malam hari atau besok pagi.

Lanjutkan membaca “Duhh…macet dimana-mana…..”

Jika rasa aman menjadi semakin mahal…..

Pindah dari kompleks rumah dinas yang satpamnya siaga 24 jam ke rumah sendiri, membuat  kami harus benar-benar memikirkan keamanan rumah. Semua jendela bertralis,  pagar setinggi dua meter, berujung runcing, pintu pagar selalu terkunci dan dipasang fiberglas sehingga tak terlihat dari jalan. Awalnya saya dan suami ingin pagar terbuka sehingga terlihat dari jalan, namun ternyata beberapa menit sekali ada saja orang yang datang, entah meminta sumbangan, menanyakan alamat dan sebagainya. Setelah saya perhatikan, ternyata tetangga kiri kanan pagarnya tertutup rapat semua, sehingga kalau pagar terbuka dan terjadi apa-apa tetangga juga nggak bakal melihat nya. Anak sulungku mengeluh, kok kita kayak dipenjara,  namun saya jelaskan, bahwa risiko tinggal di dalam kota seperti ini.  Perasaan ini akibat kami terlalu lama tinggal di rumah dinas, sejak si sulung belum berumur setahun sampai dia berumur 24 tahun,  yang  pagar nya terbuka dan kalau siang tak pernah dikunci.

Lanjutkan membaca “Jika rasa aman menjadi semakin mahal…..”

Ketemu teman

Liburan akhir tahun kali ini penuh dengan urusan keluarga, kesibukan masing-masing anggota keluarga membuat acara kumpul keluarga bukan masalah mudah. Entah sudah beberapa kali  dibuat rencana, namun pada detik terakhir ada saja yang tak bisa hadir, entah karena ada pekerjaan mendadak atau kesibukan lainnya. Karena biasanya saya ke Bandung hanya pas akhir pekan, dan acara telah berderet sejak pagi sampai malam, jarang saya bisa menyempatkan waktu ketemu teman-teman. Merupakan hal yang menggembirakan, karena pada tahun baru,kali ini, saya mendapat kunjungan teman blogger yang menjadi penulis, yang saya perkirakan sebentar lagi akan sulit ketemu beliau, karena kesibukannya.

Lanjutkan membaca “Ketemu teman”

Kunjungan pertama di tahun baru

Pagi hari pertama di tahun 2010, cuaca sangat cerah, jalanan masih sepi, burung gereja beterbangan di teras rumahku. Rasanya segar, setelah kemarin sempat hujan di penghujung akhir tahun 2009, membuatku lebih senang melingkar di balik selimut sambil membaca “Centhini: kekasih yang tersembunyi”, karangan Elizabeth D. Inandiak. Buku ini sebetulnya sudah lama saya beli di Gramedia Pejaten Village, saat liburan Idul Adha, sekaligus maksi dan nonton bersama Yoga. Mungkin karena isinya yang lumayan serius buat saya, buku ini akhirnya baru selesai saya baca semalam. Dan saya terbangun saat mendengar ramainya mercon dan serbuan kembang api di dekat rumah, dan setelah melihat jam di tangan, sadar bahwa tahun baru 2010 telah datang.

Lanjutkan membaca “Kunjungan pertama di tahun baru”