Dapatkah menilai kompetensi perilaku?

Seorang calon staf, yang  IP nya bagus, dan berasal dari universitas terpandang di negeri ini, tergeragap saat ditanya oleh pewawancara, “Apa kompetensi yang anda miliki, sehingga kami harus menerima anda untuk bergabung dengan kami di perusahaan ini?” Hal tersebut wajar, karena kita tak terbiasa menilai  kemampuan kita karena kawatir dikira sombong. Bahkan orangtua yang setiap hari bergaul dengan anaknya (termasuk saya), lebih memilih mengajak anak ke ruang konsultasi psikolog, untuk mengetahui kompetensi apa yang dimiliki oleh anaknya. Padahal, sebagai orangtua, kita sebaiknya mendorong kemampuan anak-anak sejak usia dini, serta mencari tahu  apa bakat anak kita, agar mendidiknya tidak salah arah.

Lanjutkan membaca “Dapatkah menilai kompetensi perilaku?”

Iklan

Kebiasaan perempuankah?

Jika anda habis berbelanja, apakah plastik, kardus dan lain-lain itu anda simpan? Entah kebiasaan, atau apa, maklum kadang sangat dibutuhkan, plastik bekas untuk membawa barang belanjaan ini selalu saya simpan. Dulu, hanya saya simpan begitu saja. Setelah adikku datang dari Semarang, mungkin dia risih melihat cara penyimpananku, dia merapihkan plastik tersebut, dengan menatanya, dibuat lempitan, sehingga tak menghabiskan ruang untuk menyimpannya. Rupanya kebiasaanku ini, dulu secara diam-diam diperhatikan oleh anak buahku. Sering sekali saat mau jam kantor selesai, ada yang datang ke ruanganku dan menanyakan “Ibu punya tas plastik yang tak terpakai?” tanyanya dengan nada penuh harap.

Lanjutkan membaca “Kebiasaan perempuankah?”

Meningkatkan motivasi, mendorong prestasi

Apa yang membuat motivasi orang yang satu dan lainnya berbeda? Coba kita lihat sekeliling kita, dari lingkungan terdekat kita. Kadang kita melihat, pagi-pagi anak sudah bangun, tak seperti biasanya. Apa yang memotivasinya? Hal ini juga berlaku bagi kita sendiri, terkadang kita semangat sekali, kadang hanya biasa saja. Bagaimana agar kita selalu punya semangat dan memotivasi diri sendiri?

Lanjutkan membaca “Meningkatkan motivasi, mendorong prestasi”

Mengubah strategi, bisakah?

Kita masing-masing, entah tertuliskan atau hanya dipikirkan dalam hati, pasti punya mimpi atau angan-angan, atau tujuan dalam hidup ini. Mungkin mimpi itu sudah terarah, seperti ingin melanjutkan kuliah S2 setelah bekerja 5 (lima) tahun, atau jika seorang wirausaha bermimpi agar pada tahun ke tiga, omzet penjualan rata-rata per bulan telah mencapai Rp.500 juta. Pada kenyataannya, terkadang di tengah jalan kita harus mengubah strategi. Misalkan A menjadi lebih cepat melanjutkan kuliah S2 karena ada kesempatan mendapatkan beasiswa dari perusahaan tempatnya bekerja. Atau, ternyata keadaan tak sesuai harapan, krisis ekonomi global membuat suasana kurang kondusif, sehingga mimpi tersebut harus diubah, dan dilakukan penyesuaian. Diantara orang-orang yang mau mengubah mimpinya, ada banyak orang yang langsung menyerah di tengah jalan.

Lanjutkan membaca “Mengubah strategi, bisakah?”

Si “hijau” yang selalu ditunggu setiap bulan

Setiap mendekati awal bulan, dia selalu berharap cemas menunggu kiriman wesel dari rumah. Dan sangat bahagia jika sepulang kuliah melihat ada wesel berwarna hijau, menandakan kiriman dari ayahnya yang jauh di kampung telah tiba. Dan tulisan ayahnya yang seperti cakar ayam, sejak ayahnya terserang stroke, tulisan tangannya menjadi jelek, tulisan yang selalu berbunyi…”Kabar rumah baik-baik saja, jaga kesehatan, ayah ibu berdoa untukmu. Ayah” Kalimat yang tak pernah berganti sampai dia lulus kuliah. Sebelum punya C7 (kartu pengenal untuk ambil wesel), dia harus meminta cap dan tanda tangan di bagian administrasi kampusnya, namun sejak punya C7 dia bisa langsung mengambil uang ke kantor pos.

Lanjutkan membaca “Si “hijau” yang selalu ditunggu setiap bulan”

Komunikasi orangtua dan anak diperlukan untuk mengurangi “bahaya dunia maya”

Jika kita membaca berita akhir-akhir ini, rasanya sedih sekali. Ada anak remaja yang lari dari rumah bersama orang yang dikenal melalui facebook, bahkan ada yang sudah mahasiswa sebuah Fakultas Kedokteran dari PTN terkenal yang juga pergi bersama dengan teman yang dikenal di face book. Ada juga anak SMA yang dikeluarkan di sekolah karena menghina guru di facebook. Sebetulnya penipuan tak terjadi saat ini saja, bahkan zaman belum dikenal internet pun sudah ada, namun merebaknya dunia maya, memungkinkan anak-anak yang masih dalam kondisi rapuh dan emosional, serta tidak memahami “hukum” terjebak didalamnya.

Lanjutkan membaca “Komunikasi orangtua dan anak diperlukan untuk mengurangi “bahaya dunia maya””