Sebuah pertemuan (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan  sebelumnya

Foto rame-rame

Daus (?) mengatakan, bahwa ketika sudah menjadi novel, maka fakta tak penting lagi. Ada keterkaitan emosional, sebetulnya ini bisa menjadi suatu kekuatan DM. Pak Abdul Hamid (moderator) yang diharapkan untuk membedah buku ini, sayangnya masih normatif. DM selama ini menjadi editor Pram, sering membaca buku-buku Pram, seharusnya bisa mengekstrasi lebih baik lagi. Kedekatan emosional dengan fakta akan membuat gradasi sendiri, namun itu tak dapat diyakinkan sampai bab IV (Daus baru selesai baca di bab ini). Karya sastra seharusnya disublimasikan lebih dulu. Pak Hamid malah menjelaskan fakta yang dipalsukan, yang sebetulnya semuanya sudah faktual.

Lanjutkan membaca “Sebuah pertemuan (2)”

Sebuah Pertemuan (1)

Minggu siang itu cuaca cerah, dan sejak pagi memang tak ada rencana ke luar rumah, karena siangnya sudah janji untuk datang ke acara pertemuan yang diselenggarakan oleh seorang teman blogger. Karena suami kawatir macet di jalan, akhirnya saat kami datang masih sepi, bahkan panitia nya masih sibuk beberes…yang punya gawe malah kaget..”Lho! Kok udah datang?” sambil terheran-heran. Hari Minggu di Bandung, walau dikatakan sudah macet, tetap tak se macet kota Jakarta, sehingga perjalanan dari rumah ke tempat acara lumayan lancar.

Lanjutkan membaca “Sebuah Pertemuan (1)”