Oleh: edratna | Februari 9, 2010

Sebuah Pertemuan (1)

Minggu siang itu cuaca cerah, dan sejak pagi memang tak ada rencana ke luar rumah, karena siangnya sudah janji untuk datang ke acara pertemuan yang diselenggarakan oleh seorang teman blogger. Karena suami kawatir macet di jalan, akhirnya saat kami datang masih sepi, bahkan panitia nya masih sibuk beberes…yang punya gawe malah kaget..”Lho! Kok udah datang?” sambil terheran-heran. Hari Minggu di Bandung, walau dikatakan sudah macet, tetap tak se macet kota Jakarta, sehingga perjalanan dari rumah ke tempat acara lumayan lancar.

DM sibuk berbincang dengan Wienny R. Siska, yang nantinya akan menjadi pemandu acara. Lisa langsung menyambut kami berdua, dengan gayanya yang lincah. Saya juga melihat Daan, mas Din, dan Desiree….ini benar-benar pendukung utama acara. Waktu berjalan lambat, apalagi kayaknya para tamu juga lebih menyukai jam karet…benar-benar situasi yang membuatku kurang nyaman. Syukurlah saya sudah ketiga kalinya datang ke acara seperti ini, sejak  acara bincang-bincang di TVRI, mungkin kalau baru pertama kali,  akan balik kucing pulang. Dan… syukurlah pendampingku tenang-tenang aja…sebetulnya sudah agak kawatir kalau dia tak betah duduk diam.  Akhirnya acara baru  dimulai pada jam 15.30 wib. Dan yang menarik, adalah saya ketemu para penulis buku, seperti Seventina (penulis Ele Elanor), Hernadi Tanzil dan lain-lain.Bersama Lisa dan para penulis Bandung (hanya baju hijau yang bukan penulis)

Acara dimulai dengan kata pengantar oleh mas Syafrudin sebagai Senior Editor Kaki Langit Kencana, kemudian dilanjutkan oleh pembacaan puisi oleh Dian Hartati. Suara Dian yang menggelegar membuat penonton seperti tersihir, yang kemudian dilanjutkan oleh pembacaan monolog oleh Lisa, diiringi alunan piano Daan. Saat dimulai pemutaran film, saya melihat DM duduk merenung sendirian…entah apa yang direnungkannya.

Tercenung

Penonton yang mungkin baru melihat film ini untuk pertama kalinya terlihat tercenung tanpa suara. Hmm entah kenapa, …mungkin karena ruangannya luas, dan masih siang hari, atau mungkin gaya pembawa acara yang masih muda, menurutku, situasinya kurang terbangun dibanding saat di Newseum Café sebelumnya. Pada saat di Newseum Café, pesertanya lebih banyak dari kalangan umum, namun mungkin karena Desiree tahu latar belakang cerita ini, atau situasinya memang lain, suasana di Newseum Café terasa lebih mencengkam.

Akhirnya  sesi tanya jawab dan bedah buku, yang di moderatori oleh pak Abdul Hamid (dosen Universitas Pajajaran) dimulai. Mereka berdua  (DM dan pak Hamid) kompak berseragam hitam…demikian juga Lisa, Daan maupun Dian Hartati.

Penulis buku dan moderator, berpakaian sama hitam

Saya berbisik pada suami…”Kenapa sih para seniman itu suka warna hitam, kan kesannya gelap dan misterius gitu?” Di satu sisi warna hitam membuat pemakainya terlihat lebih bersih, dan lebih ramping. Pak Abdul Hamid  memulai membahas dengan keanehan-keanehan saat melihat cover buku Epitaph ini: 1) Kenapa jalannya menikung ke kiri, bukannya lurus, atau tak menikung ke kanan. Karena selama ini kiri selalu diasosiasikan dengan sedih, ataupun jelek. 2) Jembatan, 3) Tulisan pada batu nisan. Semua ini menggambarkan ketakutan dan kebingungan atas sesuatu yang disebut mati. Dan kata Epitaph ini mengingatkan pada nama suatu grup musik. Kemudian, yang menarik, tokoh-tokohnya saling bercerita, ini mengingatkan pada novel “Priyayi” karangan Umar Kayam. Dan, buku ini terlihat ringan, namun isinya berat. Ada kritikan-kritikan  untuk remaja, PMI dsb nya. Gaya bercerita yang lancar, walau berdasarkan fakta, dan ada faktor yang dipalsukan, namun dalam karya sastra adalah sah saja. Misalkan, catatan Laras sampai rinci, padahal kenyataannya belum sampai ditangan Haikal. Apa mungkin sempat menulis sebelum mati? Kritikan dalam buku ini juga dilontarkan secara santun. Juga menggambarkan tipe orangtua Laras yang bijaksana, mengikuti anak namun mengarahkan. Gaya pacaran Laras dan Haikal, tak seperti remaja kebanyakan, kalau mau pergi cium tangan orangtua dulu. Ada kelemahannya, kata yang tahun 92 belum muncul, misalkan kata Dodol, yang baru muncul tahun 2000 an.

Iwan Lubis, yang merupakan teman alm Burhan Piliang, korban kecelakaan pesawat di gunung Sibayak,  menyatakan bahwa sampai saat ini belum berani membaca novelnya. Burhan Piliang adalah wartawan Tempo angkatan yang sudah senior sekali, kartu tanda pengenalnya ditanda tangani oleh Gunawan Mohammad sendiri, tak banyak wartawan Tempo yang kartu pengenalnya ditanda tangani sendiri oleh GM. Burhan Piliang alm,  wartawan Tempo sejak tahun 73, karakternya santun dan lembut. Sebelum kecelakaan, Iwan sempat ketemu di Jakarta, mengatakan akan pergi karena ada proyek Sibayak. Pada novel ini kritiknya santun, hanya bercerita,  pergolakan batinnya tak begitu kentara.

Seorang penanya (Moh. Syaki Mubarok ?),  yang mengaku belum baca, mengatakan baru tahu ada hubungan dengan kisah nyata. Banyak kisah nyata di negeri ini yang dapat diangkat menjadi sebuah novel. Dalam karya sastra, semua bebas, hal ini akan berbeda jika dituliskan dalam media jurnalistik.   Seorang penanya lain mengatakan bahwa dalam novel ini konfliknya belum tajam, banyak fakta yang belum diungkapkan. Novel ini  seperti sebuah demo, yang bukan dilakukan dijalan, seperti halnya cerita Seno Gumira Ajidarma dalam cerita tentang Timor Timur atau Putri Cina dalam karya Sindunata. DM akhirnya mengungkapkan, bahwa apa yang ditulis ini tak dapat dilepaskan dari dukungan Kaki Langit dan teman-teman media masa. Pembongkaran ini harus sering dinovelkan.

Seorang penanya lain, mengatakan bahwa Epitaph ini merupakan novel jurnalistik yang dikemas dalam karya sastra. Dan bagi penerbit kaki Langit, adalah apa yang telah diupayakan dalam menerbitkan buku, seperti Epitaph, ajaran Sutasoma, yang juga ajaran tantra,merupakan suatu hal yang patut dihargai. Hal ini mendorong agar media masa ikut membantu dalam mengungkapkan fakta dalam bentuk novel.

Ada yang menanyakan, apa tema novel ini sebenarnya, “orang hilangkah?’ Tentu tema ini sangat penting, jika menginginkan adanya bincang-bincang publik untuk membahas sesuai tema  tsb. DM sendiri mengungkapkan, bahwa tak pernah meniatkan untuk membukukan ini sebagai fakta. Kenapa akhirnya dalam bincang-bincang mengungkapkan fakta? Karena mendapat dorongan ini dari berbagai pihak, dan penerbit. Awalnya hanya ingin menyodorkan suatu peristiwa, bahwa kemudian menonjolkan fakta karena ada dorongan dari sana sini.

(bersambung…)

Iklan

Responses

  1. Wah … maaf hari Minggu itu saya nggak jadi bisa datang Bu, berhubung sejak Sabtu ada beberapa teman dari Jakarta yg ingin ketemu. Juga ada adik-adik saya dari Jakarta yg kumpul di rumah ortu …

    Nggak apa-apa pak, hari Minggu memang terkadang sudah berderet acara yang harus dihadiri….
    Saat itu juga ada keponakan dari Balikpapan yang mau ke rumah di Jakarta, tapi saya sudah janji sama DM sejak 2 (dua) minggu sebelumnya kalau mau hadir..ya apa boleh buat….

  2. Epitaphnya DM baru sampe di Sydney kemarin sore via teman saya yang kebetulan berlibur kemari.

    Karakter novel tersebut sangat ringan untuk dibaca, menyenangkan!

    Tapi betul kata tulisan ini, saya juga menemui kata ‘rese’ yang mungkin taon 90-an awal belum dikenal sebenarnya.

    Tapi ya nggak papa… lha namanya juga karya, terserah penulisnya, yang pasti novelnya sangat bagus!

  3. melihat foto DM yang tercenung rasanya sangat dimaklumi mengingat ia begitu kerepotan sejak beberapa hari sebelumnya mempersiapkan segala sesuatunya. dan mudah-mudahan segala jerih-payahnya terbayar.

    berdasarkan cerita DM bincang-bincang kemarin lebih fokus kepada bidang sastra dan jurnalistik. mungkin karena tamunya memang lebih banyak para sastrawan dan jurnalis ketimbang umum. mungkin karena itu diskusinya jadi lebih fokus kepada kontroversi isi buku ya, bu.

    seperti yang saya sampaikan juga kepada DM, bahwa semua masukan akan sangat bermanfaat. tentunya penulis dan penerbit memiliki alasan kenapa latar belakang cerita yang notabene merupakan sebuah fakta perlu dipublikasi dsb. kalau saya pikir sih, sejauh sebuah fakta sudah dituliskan dengan bumbu khayal, maka ia menjadi sebuah fiksi yang benar atau tidak bukan menjadi masalah lagi. tapi tetap cerita yang diinspirasi oleh kisah nyata bagi saya pribadi lebih menarik.

    Iya, DM kayaknya lelah namun bahagia. Malah menurutku, pengupasan bukunya kurang galak…lebih ke arah latar belakang proses kreatif, apa inspirasi yang membuat menulis (atau memang lebih banyak pertanyaan seperti itu ya). Saya lebih suka jika lebih ke arah isi bukunya, mengupas kelemahannya…sayang yang mengupas ini hanya satu dua orang…tapi cukup keras juga dan itu saya suka. Saya sendiri suka dikritik karena itu merupakan masukan untuk mendapat hasil lebih baik bagi karya berikutnya

  4. @ DV …rese sudah dipakai th 90-an kok…
    krn aku sering pake di univ (th 86 tuh masuknya)

    Bu, saya bukan seniman tapi suka warna hitam juga loh 😉

    EM

    Ssst…banyak kok yang suka warna hitam…..saya sebetulnya juga suka, karena mudah dipadu padan…kalau hanya polos tak terlalu suka.
    Jika pagi ke kantor pagi warna hitam, malam hari tinggal ditambah syal, atau bross, atau selendang…sudah bisa untuk datang ke acara pesta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: