Oleh: edratna | Februari 9, 2010

Sebuah pertemuan (2)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan  sebelumnya

Foto rame-rame

Daus (?) mengatakan, bahwa ketika sudah menjadi novel, maka fakta tak penting lagi. Ada keterkaitan emosional, sebetulnya ini bisa menjadi suatu kekuatan DM. Pak Abdul Hamid (moderator) yang diharapkan untuk membedah buku ini, sayangnya masih normatif. DM selama ini menjadi editor Pram, sering membaca buku-buku Pram, seharusnya bisa mengekstrasi lebih baik lagi. Kedekatan emosional dengan fakta akan membuat gradasi sendiri, namun itu tak dapat diyakinkan sampai bab IV (Daus baru selesai baca di bab ini). Karya sastra seharusnya disublimasikan lebih dulu. Pak Hamid malah menjelaskan fakta yang dipalsukan, yang sebetulnya semuanya sudah faktual.

Penanya lain mengungkapkan bahwa konfliknya belum muncul, bagaimana si tokoh-tokoh berbicara tentang dirinya, prosesnya. Banyak hal yang dapat dilewati, karena kelihaian bercerita, semua diceritakan. Eva mengatakan, membaca karya DM, bahasanya nikmat. Membaca Epitaph seperti membaca komik. Namun yang menjadi pertanyaan, saat akhir cerita, Eva mengaku  tak penasaran untuk baca buku ke 2 dan ke 3. Menanggapi komentar Eva, DM menjawab bahwa setiap individu berhak memberikan penafsiran masing-masing. Iwan menanggapi, bahwa DM dikenal sebagai editor buku Pramudya Ananta Toer, yang semuanya rata-rata serial. Saat Epitaph muncul, apa pembaca menunggu berikutnya? Karena ini menyangkut aspek market. Keinginan ini hak khalayak, hak pembaca. Dalam menanggapi komentar Iwan ini, DM hanya mengatakan agar “Read my book” sampai selesai, karena ada juga yang ingin baca novel lanjutannya.

Seventina menanyakan bagaimana perasaan DM saat menulis? Novelnya tipis, mengapa mesti trilogi? DM menjawab, sebetulnya penginnya hanya satu buku selesai. Namun masih begitu banyak konflik yang harus diselesaikan, sehingga diperlukan trilogi.  Daus kembali menanykan, apa yang di consume dalam tetralogi? Atau trilogi? Jangan sampai terjebak, atau mungkin sebaiknya berupa cerita bersambung, yang merupakan konsep kesinambungan karya, apakah suatu cerita bersambung atau terpisah? Mungkin pak Hamid sebagai moderator bisa menjawab pertanyaan ini. Pak Hamid menjelaskan, dalam teori tak dikenal trilogi, tetralogi. Satu puisi bisa saja menjadi sebuah skripsi jika mampu membongkarnya. Dalam teori sosiologi, dikenal bagaimana penerbit mengejar mangsanya, jadi urusan nya pada penulis dan penerbit.

Prana (?) menyatakan konteksnya jurnalistik. Sebuah cerita panjang, pengungkapan fakta2 yang diubah menjadi suatu karya fiksi. Pertanyaannya, ini novel atau karya jurnalistik? Fakta dalam fiksi berbeda dengan fakta dalam jurnalistik, karena dalam jurnalistik fakta tak boleh ditambah-tambahi. Dalam fiksi fakta dapat dibelokkan. DM sebagai seorang sastrawan tak ada keharusan mengungkapkan fakta, sebagaimana yang diinginkan dari beberapa kalangan khalayak ini. Mungkin keinginan kita bahwa DM lebih banyak menulis fakta karena media belum bisa berbuat banyak.

Catatan penulis blog ini:

Saya tak sempat merangkum semuanya, karena ada beberapa nama yang tak jelas, serta ada yang tak menyebutkan namanya. Pertanyaan yang menggelitik pada batin saya, acara ini sebetulnya adalah bincang-bincang publik dan book signing, seperti tertulis dalam back drop nya. Kenyataannya, mungkin undangan datang karena membaca FB, yang judulnya “apa fakta dibalik Epitaph” membuat pertanyaan sebagian besar diarahkan pada latar belakang fakta yang mengilhami tulisan ini muncul. Bahkan ada beberapa penanya yang mengharapkan akan lebih banyak lagi fakta yang ditulis dalam bentuk novel, yang mengungkapkan kejadian-kejadian nyata di tanah air. Ini menurut saya agak kurang pas, dan menjadi diluar konteks dan mungkin sebetulnya bisa dibahas dalam pertemuan para penulis dan pembaca sastra dengan tema yang berbeda. Akibatnya pembahasan tentang pembedahan buku DM dari sisi sastra yang saya tunggu-tunggu tak terlalu banyak, padahal ini sangat penting guna penulisan buku selanjutnya. Mohon maaf jika mungkin saya salah, namun jika saya penulis buku, dan berupa trilogi, tentu saya lebih ingin buku pertama saya dibedah dan diberikan masukan-masukan yang akan sangat berguna untuk buku berikutnya.

Iklan

Responses

  1. Wah kapan2 pengen menghadiri sebuah diskusi sastra, mendalami isi buku dari DM sesuatu yang sangat dalam….

    Arul,
    Sebetulnya di Surabaya pasti juga sering terjadi…

  2. udah lama gak menghadiri acara kayak gini, bu:)

    Hehehe…diskusi novel Jepang?

  3. Bu Enny lama-lama bisa dijadikan Duta Epitaph nih… jago notulensi! :))

    Huahuahua….itu pinternya DM saat datang ke rumah mengantar buku, dalam diskusi yang nyaris tak kenal waktu dengan suami, untungnya saat itu mendekati waktu sholat Jumat….mungkin kalau tidak, dia bisa semalaman diskusi berdua dan saya cuma jadi nyamuk….hehehe. Sejak itu suami tertarik, apalagi dia tipe pendorong kaum muda, para mahasiswanya untuk berkarya. Malah saat ketemu Lisa, diskusi heboh tentang bukunya Lisa, tentang tantra, cakra dan entah apa lagi.
    Aku kan sekedar pencatat Don, soalnya kalau nggak nyatet bisa dipastikan mengantuk…dan ada rasa harus berbagi untuk teman yang tak bisa hadir

  4. hmmm jadi penasaran sama isi bukunya…

    Di Gramed udah ada kok Chic..memang kadang terlambat karena laku, dan sedang dicetak lagi

  5. seperti biasa laporan ibu lengkap banget, nget, nget! salut deh. sepanjang acara ibu pasti sibuk mencatat. tapi kata DM sih, kali ini yang banyak mencatat justru bapak. haha. apa iya, bu?

    diskusinya hidup sekali, ya. ternyata banyak kritik dan saran yang dilemparkan dalam bincang kali ini, yang semestinya akan membuat buku-buku berikutnya menjadi lebih baik daripada yang pertama.

    Suami saya lebih ke inti materinya, cuma dia saat itu berperan mendorong kaum muda….hahaha…
    Mungkin jika ketemu berdua sama DM, kritikannya akan keras….hahaha

  6. beruntung ibu dekat dengan mas DM karena kualitas penulisannya bisa ditiru…mudah2an saya juga bisa memperbaiki kualitas dalam penulisan blog saya.

    Bukankah cara penulisan kita harus menjadi diri sendiri, walau diakui kadang tak terasa kita terpengaruh gaya orang lain.
    Saya, awalnya menyukai gaya penulisan NH Dini, yang lebih seperti mendongeng, yang saya rasa pas untuk saya. Buku NH Dini tentang serial kenangannya, yang sekedar cerita lingkungan di sekitar rumahnya, saya suka.
    Gaya bahasa DM terlalu tinggi untuk saya ikuti…hehehe

  7. Sayang kemaren kakak kecelakaan, jadi gag bisa dateng.. Nyesel juga sih, gag bisa ketemu bunda ^^

    Nggak apa-apa Desya…masih di Jakarta kan? Kirimkan nomor hapemu (japri ya)…ntar kalau ada acara lain saya undang, siapa tahu beruntung ada waktu yang pas untuk ketemu. Atau kalau pas Desya jalan-jalan di Citos…rumahku ada dibelakangnya (tak tepat dibelakang persis sih (hanya 5-10 menit jalan kaki, dengan ukuran langkahku yang kecil-kecil

  8. eh salam kenal dan salam blogger ya, btw mampir2 ke blogku ya

    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  9. Wah ulasan yg lengkap Bu,… dari tulisan 1 hingga 2 ini, walau saya hanya membaca tapi serasa ada disana. Suatu kebahgiaan rasanya menghadiri acara peluncuran buku yg langsung dihadiri penulisnya,… dikota saya ini sangat jarang event yang seperti ini,…

    Iya, saya senang karena setelah tak aktif, jadi banyak watu bisa menghadiri acara yang dulu tak mungkin saya hadiri karena kesibukan kerja yang pulang malam-malam

  10. Wah, kalau bicara soal sastra, aku mungkin orang yang paling katrok. hehehe…

    Lho! Bukankan pak Edi termasuk pengamat sastra?

  11. namun jika saya penulis buku, dan berupa trilogi, tentu saya lebih ingin buku pertama saya dibedah dan diberikan masukan-masukan yang akan sangat berguna untuk buku berikutnya.

    waaaah ibu… kita sama ya… hehehe
    senang melihat foto ibu berdua bapak selama dua event teman kita, tgl 7 dan 9 feb

    EM

    Betul Imel…kritikan sangat bermanfaat untuk membuat kita lebih paham, apa persepsi orang lain terhadap tulisan kita. Ini berguna untuk tulisan selanjutnya.
    Iya, gara2 DM pintar bercerita saat ke rumah, suami menjadi pendukung dia dan Lisa…..hehehe…dan mau berlelah-lelah ke jakarta untuk acara Lisa. Pas acara Lisa, karena Agus tak diajak, suami yang merekam sendiri…entah seperti apa hasilnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: