Iluminasi * Jakarta Gathering (1)

Entah kenapa ada tanda bintang pada judul di atas…hanya mengikuti judul acara Lisa saat ketemu dan kumpul-kumpul bersama teman, sekaligus sharing kebahagiaan atas hari ulang tahun dan telah terbit karya sastra pertamanya. Acara malam itu benar-benar meriah, apalagi didukung oleh cuaca yang cerah. Pembawa acara “Sekar” pandai membawakan acaranya, dan mengaku sebelumnya ngebut membaca novel Iluminasi dulu, sehingga bisa menyerap energi yang ada pada novel tersebut. Dan rupanya energi iluminasi ini memang terpancar pada pembawaan Sekar malam itu.

Back drop "Iluminasi"

Dengan berbaju putih (tidak selalu berarti pengagum kelompok “White” kan?), Sekar benar-benar mempesona. Novel “Iluminasi” ini sebenarnya telah lahir pada tanggal 4 Desember 2009, bersamaan dengan saudara kandungnya, yaitu novel “Epitaph” karya Daniel Mahendra.

Pengunjung disuguhi potret kecentilan “Iluminasi” yang ternyata telah keliling pulau Jawa, di slide tersebut ditunjukkan kota mana saja yang telah disinggahi oleh Iluminasi.

Lisa dan sahabat, dalam salah satu untaian slide "Kecentilan Iluminasi"
Pembacaan nukilan Iluminasi oleh DM dengan suara menggelegar, diiringi dentingan gitar Ricky dan biola oleh Daan Danang Setiawan

Pembacaan nukilan Iluminasi makin terasa dahsyat dengan gelegar suara DM, diiringi oleh piano Daan Danang Setiawan dan petikan gitar oleh Ricky. Pengunjung terbawa oleh situasi itu, terhanyut mendengarkan dan melihat ketiganya beraksi di panggung. Sayang karena jarak ketiganya yang cukup jauh, dan juga kamera saku ku yang mungkin kurang baik, sulit sekali memotret mereka bertiga saat beraksi di panggung.

Diskusi buku dengan moderator Fx Rudi Gunawan, serta Syafrudin Azhar (Senior Editor Kaki Langit Kencana, yang menerbitkan Iluminasi), berlangsung menyenangkan, banyak pertanyaan dari pengunjung, terutama pada arti kata “Iluminasi” yang seolah-olah terinspirasi dari novel Dan Brown (walau saya semula berpikir yang sama), dan bagaimana proses kreatif selama pembuatan novel tersebut. Arti Iluminasi dalam buku ini, secara teologis adalah kebijaksanaan, memaknai kehidupan dalam sisi spiritual. Illuminate, berarti berpendar seperti phospor…dimaksudkan bukan berarti menjadi lebih cerdas, namun lebih kepada pencerahan jiwa. Dalam novel ini juga dibicarakan tentang kemampuan manusia yang tak bisa dijelaskan secara harafiah. Dan semua pertanyaan sulit, sesungguhnya mempunyai jawaban yang sederhana.

Banyak teman-teman yang hadir, dan senangnya…malam itu ketemu nyonya Syafruddin beserta putrinya yang cantik. Teman blogger yang sudah kukenal dan datang adalah Yoga, Tanti dan Nungki…sayang teman lain berhalangan di saat mendekati acara. Syukurlah, suami saya mau mendampingiku sejak awal sampai akhir, entah sejak membaca tulisan DM, kemudian tulisan Lisa, suami mungkin tergerak hatinya melihat anak muda mulai mendalami dan menulis karya sastra, dengan bahasa Indonesia yang baik. Rudi Gunawan, yang juga menuliskan endorsement dalam buku Iluminasi, menceritakan pengalamannya yang saling berkelindan dalam berbagai kejadian dengan Lisa, yang akhirnya membawanya datang ke acara ini sebagai moderator. Rudi mengatakan, Iluminasi akan membawa kita dalam penjelajahan dalam eksistensi manusia. Fiksi fantasi seperti ini agak sulit, dan penulisnya jarang.

Sebetulnya, menurut Rudi, bahwa intinya, semua penulis adalah orang-orang yang terteror oleh pertanyaan-pertanyaan, baik secara relasi horisontal maupun vertikal. Setiap novel adalah mempunyai hubungan dengan alam, merupakan kekuatan-kekuatan yang menyatu dengan kosmis. Syafrudin Azhar, yang lebih dikenal dengan panggilan Bang Din, menceritakan awal pertemuan nya dengan Lisa pada bulan Juli 2009. Pada saat itu Lisa sedang menulis Fiksi ilmiah dengan judul “BATAS” berhalaman 60. Kemudian setelah diskusi, novel tadi bisa dikembangkan, dan judulnya berubah menjadi Iluminasi. Lisa yang oleh teman-temannya selama dalam proses kreatif  mendapat julukan “Kencur”, ditantang oleh Bang Din, bagaimana agar novelnya merupakan filsafat kehidupan. Ternyata Lisa menjawab tantangan ini, mengembangkan tulisannya, dan novel tersebut selesai dalam waktu 1 (satu) bulan.

Mengapa judulnya  “Iluminasi?” Saat itu Lisa sedang intens membaca, berdiskusi, dan suka mencari tentang tema-tema yang berkaitan dengan “New Age“. Dalam mendalami tulisan atau cerita tentang New Age ini, Lisa lebih banyak menemukan tulisan dalam bentuk teks, dan belum menemukan filsafat kehidupan yang diramu dalam bentuk novel. Dari dasar ini,  Lisa kemudian mulai berpikir bagaimana jika menuliskan dalam bentuk yang ringan, seperti novel, yang lebih enak dibaca, sehingga lebih mudah dipahami. Bang Din (atau Rudi ya…maaf mencatatnya kurang cepat)…mengatakan bahwa novel Lisa ini merupakan terobosan.

Dalam suatu pertanyaan, salah seorang pengunjung menanyakan arti berkelindan. Dan kemudian ada yang bertanya tentang arti iluminasi yang sebenarnya, karena saat meng Klik google, artinya adalah cahaya kehidupan. Dan ada yang bertanya, apakah memberi nama Iluminasi dalam rangka meraih pasar? Lisa menjawab, menyukai kata berkelindan karena terdengar indah…bahasa Surabaya nya mlaku-mlaku (jalan-jalan)., jawab Lisa sambil bergurau khas Surobayan. Lisa meneruskan dengan tawanya yang khas. Mengapa judulnya Iluminasi? Lisa mengakui judul awalnya Batas, yang merupakan batas antara hitam dan putih. Dan batas, karena ingin mendobrak pemahaman manusia bahwa yang hitam tak selalu hitam dan yang putih tak selalu putih. Judul Batas, setelah didiskusikan bersama teman-teman, dirasakan kurang komersial. Dari diskusi itu kemudian ketemu kata Iluminasi, yang dalam KBBI berarti “Penyinaran”. Namun setelah sekian lama menggali lagi lebih dalam, judul yang lebih mudah diingat di benak konsumen adalah “Iluminasi”. Yang dimaksudkan  arti iluminasi disini adalah sebuah pencerahan, kisah perjalanan Ardhanareswari untuk mencari jati dirinya sehingga saat proses mencari itu, menemukan banyak hal, misalkan bahwa hidup itu tak hanya bertahan, tak hanya makan, namun hidup itu punya misi…sehingga iluminasi disini dimaksudkan untuk pencerahan jiwa.

Sebuah komentar mengatakan bahwa buku Lisa ini terbit setelah novel “Sutasoma” yang juga diterbitkan oleh Kaki Langit Kencana. Dalam buku Sutasoma digambarkan tentang Cakra yang merupakan sebuah perwujudan dari bentuk. Walau menurut KBBI, arti Iluminasi adalah penyinaran, dalam buku ini tak sekedar penyinaran, namun artinya lebih luas, yaitu pencahayaan. Jika pada Sutasoma berhenti pada wujud, maka Buku Lisa melanjutkannya sampai bagaimana dari alam manusia itu bisa masuk, yang dapat dilihat pada halaman 260, yang melesat sesuai kecepatan cahaya. Ada makna lain, tentang kerohanian….yang melengkapi bagaimana pencahayaan mengangkat makna-makna kehidupan lebih ke atas lagi. Pengamalan sampai suatu wujud, ada pada Sutasoma…dalam buku Lisa ini, diceritakan tentang pengamalan laku, bagaimana manusia berperilaku atau bertingkah. Salut buat Kaki Langit Kencana, yang bersedia menerbitkan buku-buku karya sastra, yang diakui oleh Bang Din, bahwa Sutasoma adalah buku terlaris terbitan Kaki Langit.

Mas Heru Sudjarwo, yang sedang menulis tentang wayang dan karakter Purwo, menceritakan pengalaman yang menarik. Jika mas Heru diminta oleh Bang Din agar cover bukunya dibuat menarik agar laku, namun Lisa tak masalah dengan cover buku, karena isinya sudah bagus. Awalnya Lisa menyerahkan cover buku berupa pendulum, namun disarankan diganti oleh Kaki Langit, kawatir dikira mengekor Supernova. Penanya lain menanyakan apa yang diharapkan oleh Lisa dari pembaca bukunya. Penanya tersebut juga mengatakan, bahwa dia kesulitan baca status Lisa di FB, karena gaya bahasanya yang menggunakan bahasa sastra. DM menanyakan, apakah setelah sekian perjalanan, dari mengandung sampai dengan melahirkan,  Lisa merasa bahagia saat ini? Pak Darminto yang khusus datang dari Semarang, yang juga memberikan endorsement pada Iluminasi, mengatakan bahwa baru kali ini ketemu Lisa, selama ini komunikasi hanya melalui FB. Icha (atau Lisa) mengirim word dan meminta agar jangan lebih dari 6 (enam) hari, untuk menuliskan endorsement. Pak Darminto mengakui, untuk orang yang telah berumur lebih dari 60 tahun, yang membacapun harus menggunakan huruf yang lebih besar, ternyata begitu mulai membaca Iluminasi tak bisa berhenti. Dan pak Darminto memohon maaf, terutama pada teman media, menyarankan agar penggunaan bahasa asing di media dikurangi dan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Cara berbahasa Icha mengingatkan akan proses tersebut. Usia Icha yang masih muda, telah memberikan tanggung jawab sebagai penulis,  tulisan Icha  juga mementingkan akurasi. Seperti saat menceritakan tentang “Michele Angelo“, penulis mencari literatur, sehingga ingatan wartawan Icha berjalan dengan baik.

Salah satu penanya menyarankan agar  ditambahkan catatan kaki, setiap ada kosa kata yang baru. Pertanyaan kemudian adalah bagaimana saat berkontemplasi, saat menentukan mana hitam dan putih. Lisa menjawab pertanyaan, dengan mengatakan bahwa saat dia menulis status di FB, dia hanya ingin langsung mengetik, dan tidak harus dipahami arti tulisannya. Lisa menginginkan agar pembacanya mendapatkan pengalaman setelah membaca bukunya, minimal bertanya pada diri sendiri, siapa saya, yang lebih bermakna tentang adanya kita di dunia ini. Mengajak berpikir, merenung, namun tetap menikmatinya dengan berjalan-jalan melalui membaca novel itu. Banyak pesan yang ingin disampaikan melalui novel ini, dengan menggunakan metafora-metafora. Reaksi pembaca ternyata menimbulkan hal-hal yang tak terduga. Saat di Surabaya, saat resensi buku ini diadakan untuk para remaja, ternyata para remaja dapat menangkap pesan dalam buku ini. Jadi, ternyata ada anak usia remaja yang sudah bisa memahami, yang sebetulnya Iluminasi  tidak dimaksudkan sebagai pasar sasaran mereka,  saat novel ini di tulis. Di Bali, justru buku ini diborong oleh anak ABG, sedang di Surabaya para ibu juga banyak membeli novel ini, mengatakan agar anak-anaknya lebih baik banyak membaca dibanding menonton sinetron. Soal bahasa memang ingin dijadikan suatu karakteristik, artinya jika membaca buku, tulisan khas  Lisa akan lebih mudah diidentifikasi dari gaya bahasa tulisannya.

(bersambung)

8 pemikiran pada “Iluminasi * Jakarta Gathering (1)

  1. Ping-balik: Iluminasi * Jakarta Gathering (2) «

  2. ..
    Kata iluminasi saya taunya dari
    Davinci code ato angel & damon,agak lupa sih 🙂
    ..
    Kemaren saya nyari bukunya di toga mas kota malang belum ada..
    Apa penulisnya blogger juga buk?

    Yup…justru karena itu di setiap acara yang heboh teman-teman blogger….lihat di ladangkata.com
    ..

  3. Yang pasti di sini Iluminasi = hiasan lampu sejak awal desember, menyambut Natal, dan kadang diteruskan sampai akhir Februari.
    Hiasan lampu-lampu itu bisa menghangatkan hati orang-orang yang sedang kedinginan.

    EM

    Betul Imel, arti Iluminasi secara harafiah memang penyinaran….namun dari isi bukuya Lisa, yang mengandung filsafat kehidupan adalah pencerahan. Diharapkan yang membaca bukunya teriluminasi…mendapat pencerahan

  4. Wah.. pengennya dateng tapi gak bisa datang kesana Bunda. Suck in a long meeting hingga tengah malam di kantor..

    Uh.. ter-iluminasi sendirian nih… 😀

    Setiap kali saya masih berharap mas Nug bisa hadir..nggak apa-apa…dulu saya juga nyaris tak punya kehidupan sosial, hanya lingkungan kerja serta instansi/lembbaga lain yang terkait. Jdi, akhir pekan benar2 dimanfaatkan…yang sayangnya juga sudah berderet acara. Sekarang, saya bisa menikmati kehidupan sosial, ketemu teman dari berbagai bidang lain…sangat menyenangkan

  5. mau komentar yang sama dengan mbak imel 🙂 udah keduluan deh. ibu enak banget sering berkunjung ke acara kayak ginian.

    Hehehe…tapi justru bisa mengunjungi hal seperti ini setelah pensiun….hahaha
    Selama masih aktif sibuk terus, pergi pagi pulang malam….dan akhir pekanpun mesti disisihkan waktu untuk anak-anak…kalau tidak, ada aja acara lain yang menunggu

  6. Sedih aku bun.. 😦 gak bisa dtg di detik2 akhir…

    Nggak apa-apa Eka, itu risiko pekerjaan.
    Dulu, saya bahkan tak bisa hadir acara seperti ini…dan belum ada blog, jadi lingkungan pergaulan pada segmen tertentu saja, yang terkait dengan pekerjaan

  7. waaa..seneng ya bu bisa gathering terusss 🙂

    Sebetulnya nggak terusan, kebetulan yang gathering teman yang udah dikenal lama….seneng melihat mereka bisa menerbitkan buku pertamanya

  8. asyik banget deh, bu enny.
    dan seperti biasa, melalui tulisan ibu enny saya jadi berada di sana.

    terima kasih, bu.
    lisa dan DM musti berterima kasih pada ibu yang menuliskan laporan pandangan matanya dengan sangat lengkap.

    Senang yang hadir bisa ikut membayangkan…cuma fotoku nggak bagus, kayaknya Minah (si mbak yang saya ajak ikut acara) mesti diajari dulu…hehehe…kalau soal nyopir dia lebih ahli dari saya. Dan senangnya, suami juga ikut menikmati….hehehe dia ikut senang karena saya menjadi belajar filsafat…padahal tetap aja nggak mudeng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s