Nonton ketoprak

Pertama kalinya menonton ketoprak, saat di kota kecilku sedang diadakan pasar malam, menggunakan lokasi alun-alun,  yang terletak di depan gedung Kabupaten. Di sekeliling alun-alun ditutup dengan pagar gedek (anyaman bambu), hanya menyisakan jalan masuk  untuk pintu-pintu, dimana orang  bisa masuk melalui pintu tersebut  setelah membeli karcis. Saat masih kecil sekali, ibu hanya membolehkan kami (saya dan adik-adik) menonton pasar malam sampai jam 9 malam…karena rumah kami jaraknya lumayan jauh dari pusat kota, harus naik becak dulu, diteruskan jalan kaki melewati lapangan  di depan stadion, yang saat itu masih gelap dan remang-remang karena penerangan listrik belum memadai. Setelah umur kami beranjak naik, pada suatu malam minggu, ibu mengajak kami menonton ketoprak, saya lupa apa lakonnya malam itu, namun saya benar-benar terpukau, dan sejak itu saya senang menonton ketoprak.

Lanjutkan membaca “Nonton ketoprak”

Berpikir panjanglah, sebelum menilai

Disadari, situasi saat ini sudah relatif tenang dibanding ingar bingar yang ada sejak bulan Desember 2009 s/d awal Maret 2010. Bagi orang yang setiap kali terpaksa menelusuri jalanan Jakarta, yang sudah macet setiap hari, tanpa hingar bingar apapun, keributan menjadi masalah tersendiri, karena jalanan akan lebih macet. Hari ini, saya membaca sebuah artikel di Kompas, yang mencerahkan. Selama ini, jika ketemu teman-teman, karena saya dianggap paling tidak “agak mengerti”, pertanyaan mereka bertubi-tubi. Tentu saja saya hanya bisa menjawab sebatas sesuai aturan dan perundangan yang berlaku. Mengapa? Tentu saja saya tak bisa menjawab banyak hal, yang saya sendiri tak tahu bagaimana kondisi riil nya dilapangan, data-data yang ada dan sebagainya.

Kompas hari Jumat,  tanggal 26 Maret 2010 hal 21, menayangkan artikel berjudul ” Dirgantara: Masa Depan Maskapai Indonesia,” yang ditulis oleh Rhenald Khasali, Pakar Manajemen dan Pemasaran. Memang, jika saya perhatikan masyarakat kita ini sangat menarik, segala sesuatu selalu melahirkan pro dan kontra, bahkan terkadang  seolah-olah setiap orang bisa berbicara apa saja. Saya ingat sekali petuah dan cerita alm ibu saat saya masih kecil, bahwa padi itu makin berisi makin merunduk. Melihat kondisi sekarang, pepatah itu kelihatannya sudah berbeda arah, setiap orang bisa berbicara dan bersuara, apapun latar belakang pendidikannya.  Hal ini yang kadang mengkawatirkan, karena sebetulnya, kita akan lebih baik jika bicara berdasarkan fakta dan landasan atau dasar hukum yang ada.

Lanjutkan membaca “Berpikir panjanglah, sebelum menilai”

Restrukturisasi yang efektif guna meningkatkan kinerja Bank

Krisis finansial global menyebabkan Bank banyak yang mengerem laju pertumbuhan kredit menengah dan korporasi, sebaliknya meningkatkan portofolio di segmen ritel dan mikro. Sektor UKM diyakini mampu bertahan terhadap krisis. Bank banyak yang agresif melakukan ekspansi di sektor mikro ini. Berhasilkah ekspansi di bidang ini? Dari data Statistik Perbankan Indonesia, Bank Indonesia, terlihat bahwa NPL (Non Performing Loan) di sektor UMKM mulai merangkak naik. Posisi earning asset (Aktiva Produktif)  seluruh Perbankan sampai dengan akhir Desember 2009 sebesar Rp. 2.464.256 milyar, meningkat sebesar 1,2   persen, dibanding akhir Desember 2008 yang mencapai sebesar Rp. 2.242.282 miliar. NPL secara nasional secara prosentase juga meningkat, dari 3,20 persen  menjadi 3,31 persen, namun masih di bawah standar yang diperkenankan yaitu 5 (lima) persen. Yang dikawatirkan, justru terjadi kenaikan NPL yang cukup besar di sektor UMKM, dari sebesar Rp. 18,803 milyar pada akhir Desember 2008 menjadi Rp. 22.720 miliar pada akhir Desember 2009 atau naik 1,2 persen. Total NPL sektor UMKM ini menduduki porsi 48 persen dibanding total NPL secara nasional.

Lanjutkan membaca “Restrukturisasi yang efektif guna meningkatkan kinerja Bank”

Apa menu sarapan anda?

Di keluarga saya, sarapan adalah hal yang tak boleh diabaikan. Sejak saya kecil, ibu selalu menyiapkan sarapan, agar sebelum berangkat anak-anaknya telah makan sarapan dulu, agar di sekolah tidak lapar dan dapat konsentrasi dalam menerima pelajaran. Jika ibu sibuk, kami punya langganan yu pecel dengan gendongannya, yang jam 5.30 wib telah melewati rumah kami dengan gaya menjajakan nya yang pas…. “Pecel..pecel..monggo mundut peceeel…”Yu pecel ini ada dua orang yang jadi langganan kami, yang lebih tua lewatnya lebih pagi, sehingga cocok jika digunakan untuk sarapan. Sedang yu pecel satunya lebih muda, dan pecelnya lebih sedap, sayangnya kami tak bisa menunggu dia lewat, karena bisa terlambat datang ke sekolah. Jadi yu pecel yang lebih muda biasanya untuk hari-hari libur. Makan pecel dengan pincuk, dari daun pisang dan daun jati (entah sekarang apa masih ada ya yang dari daun jati), dengan lauk peyek, kering tempe, abon dan empal daging, terserah lauk apa yang kita inginkan.

Lanjutkan membaca “Apa menu sarapan anda?”

“Kancilen”

Pertama kali saya mengucapkan kata “kancilen”,  sahabatku saat mahasiswa,  yang dari Cirebon terbahak-bahak. “Lu, ada-ada aja, mosok orang nggak bisa tidur di bilang kancilen. Emang kayak kancil?” Saya tak tahu, apa persisnya  kata kancilen dalam bahasa Indonesia, yang baik dan benar. Sulit tidur? Rasanya kurang tepat, karena  sulit tidur seolah-olah menjadi kebiasaan yang agak permanen bahwa seseorang sulit tidur. Insomnia? Ini memang gejala orang yang sulit tidur, dan membayangkan pasti capek sekali keesokan harinya, pada saat harus beraktivitas. Dan kebalikannya adalah mudah tidur, atau yang kebablasan, seperti yang pernah saya tulis di sini adalah sleeping disorder atau narcolepsy.

Lanjutkan membaca ““Kancilen””

Telepon umum, bagaimana riwayatmu kini?

Sore itu, waktu sudah menjelang Magrib,  si sulung tak kunjung pulang. Hati ini mulai terasa nggak enak, apakah dia aman-aman saja? Maklum, hidup di Jakarta terkadang penuh kejutan, dan saat itu masih sering terjadi tawuran antar pelajar SMU. Saya ingat pesan teman, bahwa seorang ibu tak boleh terlalu merasa kawatir karena akan tersambung pada anaknya. Saya langsung ambil air wudhu, dan saat selesai  sholat Magrib, berdoa mohon pada Tuhan agar membuka hati si sulung….ibunya menunggu di rumah. Dan mohon agar dijaga agar perjalanannya selamat sampai ke rumah. Saat itu, di sekolah SMU tempatnya belajar, sepulang pelajaran sering diadakan kegiatan ekstra kurikuler ataupun ada pelajaran tambahan, karena menjelang ujian kelas 3.

Lanjutkan membaca “Telepon umum, bagaimana riwayatmu kini?”

Kredit Sindikasi: dilihat dari aspek hukum dan permasalahannya

Workshop tentang “Strategi dan Teknik Pemberian Kredit Sindikasi” yang dilaksanakan oleh IRPA (Indonesian Risk Professional Association) selama 2 (dua) hari pada tanggal 10-11 Maret 2010 berlangsung menyenangkan, dipenuhi diskusi dan debat yang hangat. Hal yang menarik untuk didiskusikan adalah bagaimana permasalahan sindikasi jika ditinjau dari aspek Hukum. Peserta yang berasal dari berbagai  Bank ikut membuat diskusi berlangsung hangat dan penuh sharing pengalaman. Tanpa kita sadari, permasalahan yang hari-hari ini banyak diperdebatkan, banyak kaitannya dengan masalah hukum. Dan karena negara Indonesia adalah negara Hukum,  apapun langkah yang kita lakukan harus dimulai dengan memenuhi aspek legal terlebih dahulu.  Saya hanya mencoba menuliskan beberapa potongan diskusi, yang menurut saya cukup menarik. Tentang tulisan mengenai “Kapan memerlukan kredit sindikasi” yang juga menjelaskan, tentang apa, dan bagaimana proses kredit sindikasi pernah saya tulis disini.

Lanjutkan membaca “Kredit Sindikasi: dilihat dari aspek hukum dan permasalahannya”

Kacamata

Konon katanya, jika kita sedang hamil, dan gizi kurang baik, anak yang kita lahirkan akan mengambil kekurangan dari ibunya. Mengambil zat kapur dari gigi ibunya jika si bayi merasa kurang zat kapur. Cerita ini saya tak tahu kebenarannya, mungkin Marsmallow yang seorang dokter, bisa menjawabnya. Namun, gugon tuhon itu rasanya sudah berurat berakar, entah siapa yang memulai. “Nduk, makannya yang banyak, vitamin K nya diminum…biar habis melahirkan gigimu nggak ompong...” Atau cerita lain, yang intinya anak kita akan ambil kekurangannya dari ibu yang mengandungnya.

Lanjutkan membaca “Kacamata”

Hadiah coklat dan buku dari “sahabat”

Kunjungan seorang sahabat, tentunya sangat menyenangkan. Siapa sangka, teman dari dunia maya, akhirnya menjadi sahabat dunia nyata. Betapa menyenangkan mempunyai sahabat yang bisa diajak diskusi, mengobrol apa saja tanpa suatu halangan. Dari obrolan bersama sahabatku ini, akhirnya kami punya kesimpulan bahwa blog kita ternyata memang punya segmen tertentu, yang tidak selalu dibatasi oleh usia. Bahkan pengunjung setia blog temanku ini ada gadis belia yang masih berusia 14 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

Lanjutkan membaca “Hadiah coklat dan buku dari “sahabat””

Pertemuan di PIM

Saya mengenalnya kira-kira hampir 2 (dua) tahun yang lalu, perkenalan yang dimulai dari saling berkunjung di blog. Namanya terasa begitu familier, mengingatkanku pada seseorang, yang rasanya dulu sangat akrab. Ternyata saya merupakan pelanggan tulisan beliau di beberapa majalah, seperti Anita Cemerlang, Femina dan sebagainya. Juga ada beberapa novelnya yang pernah saya baca. Pertemuan pertama kalinya terlaksana, bersamaan dengan acara dengan teman-teman beliau, sesama mantan penulis Anita Cemerlang di “American Grill”  Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Kebetulan saat itu Imelda juga  pulang kampung ke Jakarta, bersama kedua putranya yang lucu. Pertemuan dadakan ini sukses untuk mengakrabkan kami tak hanya sebagai teman di dunia maya, namun juga dalam kehidupan lainnya. Sayang, saya tak bisa ikut acara Imelda saat bertemu teman-teman blogger di Yogya.

Lanjutkan membaca “Pertemuan di PIM”