Oleh: edratna | Maret 2, 2010

Budaya kerja dan peranannya dalam suatu organisasi

Pada suatu ketika, saya diminta memberikan ceramah pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan.  Ceramah tersebut sekaligus diharapkan memberikan motivasi pada para manager perusahaan tersebut, agar meningkatkan kinerja yang lebih baik. Kita memaklumi, bahwa persaingan usaha semakin ketat, sehingga diperlukan kerjasama semua pihak agar perusahaan tetap tumbuh dan dapat bersaing. Pertumbuhan perusahaan tak sekedar hanya dapat meraih laba, namun juga pertumbuhan yang sustainable, yang terus menerus berkelanjutan. Untuk  memahami, apa yang tepat untuk disampaikan kepada jajaran para manager perusahaan tersebut, saya mencoba menggali visi dan misi perusahaan.

Visi perusahaan adalah: Menjadi hotel resort yang terpandang, terpilih dan unggul di kawasan wisata X.

Misi perusahaan: 1) Menyediakan produk  bermutu, dan layanan terbaik/profesional untuk menjamin kesetiaan pelanggan, 2). Memanfaatkan aset perusahaan secara maksimal dan seefisien mungkin untuk memperoleh revenue yang dapat memberikan kontribusi bagi pemegang saham serta kesejahteraan bagi karyawan.

Bagi perusahaan di bidang jasa perhotelan, kepuasan pelanggan sangat penting agar pelanggan yang pernah datang akan kembali lagi. Dan karena hotel ini termasuk hotel wisata, maka hotel akan penuh pada hari-hari libur terutama libur panjang untuk dua bulan ke depan. Untuk itu manajemen perlu mengusahakan agar pada hari-hari biasa hotel tetap terisi, misalnya dengan tamu grup. Dan yang paling memungkinkan adalah mencoba menarik tamu-tamu grup, untuk pelatihan, outbound, yang dilakukan pada hari kerja. Untuk itu, hotel perlu mempunyai ruang meeting, ruang konvensi, juga sport & recreation. Bagaimanapun, karena fokusnya pada pelayanan, maka pelayanan pada pelanggan haruslah menjadi suatu budaya kerja perusahaan tersebut, yang menjadi satu dengan nilai-nilai perusahaan tersebut. Budaya kerja organisasi adalah keseluruhan kepercayaan (beliefs) dan nilai-nilai (values) yang tumbuh dan berkembang dalam suatu oragnsisasi, menjadi dasar berpikir, berperilaku dan bertindak dari seluruh insan organisasi, serta diturunkan dari satu generasi ke generasi insan organisasi tersebut.

Peranan budaya kerja ini dapat sebagai daya dorong yang efektif dalam mencapai tujuan sesuai visi dan misi perusahaan. Budaya kerja yang efektif dilaksanakan dalam suatu perusahaan dapat: a) Menyatukan cara berpikir, berperilaku dan bertindak seluruh insan organisasi. b) Mempermudah penetapan dan implementasi visi, misi dan strategi dalam organisasi, c) Memperkuat kerjasama tim dalam organisasi, menghilangkan friksi-friksi internal yang timbul, d) Memperkuat ketahanan dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal.

Program budaya kerja ini harus setiap kali diingatkan bagi seluruh insan organisasi, karena merupakan program yang tak pernah berakhir (never ending), karena kebutuhan organisasi yang selalu berubah, manusia yang berada dalam organisasi juga berkembang dan berganti, dan penerapan budaya kerja dalam organisasi perlu diingatkan terus menerus agar konsisten, yang nantinya menjadi satu kesatuan dalam bertindak, berpikir dan berperilaku.

Dari pengalaman, peran pemimpin untuk mengawal budaya kerja perusahaan ini sangat penting, karena pemimpin dianggap sebagai panutan. Dan setiap kali Pemimpin harus menyiapkan generasi berikutnya untuk memimpin, dengan budaya kerja yang telah dilakukan sejak perusahaan tersebut mulai tumbuh serta dikembangkan agar sesuai dengan perkembangan masa kini.

Sumber Bacaan:

Diperoleh dari berbagai sumber (tulisan si atas merupakan draft bahan ceramah tahun 2004 yang tercecer), sehingga ada beberapa sumber yang tidak tercatat, karena tulisan aslinya terselip.

Iklan

Responses

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
    Pemimpin emang punya peran urgen termasuk sebagai panutan dalam menciptakan budaya kerja yang meningkat

  2. Kalau hal yang negatif sudah membudaya dalam sebuah lembaga atau organisasi tentu sangat sulit untuk mengubahnya. Pemimpin memiliki peran penting sebagai panutan bagi bawahannya. Kalau pemimpin bertindak seenaknya tentu saja bawahan pun akan bertindak sama.

    Justru seorang Pimpinan salah satu tugasnya membangun budaya kerja yang baik di perusahaan yang dipimpinnya. Buadaya kerja yang sadar risiko, yang berbasis pada kinerja, serta fokus pada pencapaian kinerja.

  3. Salam kenal…. Benar sekali pemimpin peranannya sangat besar, apalagi seperti di Indonesia yang budaya paternalistiknya sangat kuat.

    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  4. izinmengamankan yang ke-2 bunda

    sudah jadi hukum alam bahwa setiap kemajuan suatu organisasi sangat tergantung pada sistim kepemimpinan yang diterapkan, hal ini juga akan mempengaruhi etos kerja masing2 individu yang kemudian akan menghasilkan pelayanan yang baik terhadap konsumen

    Betul…namun budaya organisasi yang kuat, akan tetap berjalan walau ditinggalkan pemimpinnya secara mendadak…seperti contohnya pada Astra int’l

  5. Bu, mungkin perlu dipaparkan dalam contoh konkret soal penerapan budaya kerja itu.

    Dan, saya punya ide, Ibu kan bilang kalau budaya kerja itu penerapannya neverend, nah gimana tuh cara terus memupuk supaya tetap neverend? :))

    Wahh bahasannya sangat panjang Don…kapan-kapan saya posting tersendiri ya, dan kita bisa saling sharing pengalaman….karena penerapan budaya kerja yang bagus ini memang sangat menentukan, dan membedakan antara perusahaan satu dan lainnya. Dan banyak perusahaan yang selamat dari kerusuhan karena dijaga oleh anak buahnya, karena mereka merasa memiliki perusahaan…dan mereka berjuang agar perusahaan tetap hidup dan berkembang. Dan perasaan ini diperlukan oleh seluruh jajaran manusia yang ada dalam organisasi itu.

  6. saya mendapatkan ilmu manajemen yang berguna, terima kasih mba ratna.. 🙂

    Sama-sama bunda Arun..syukurlah jika bermanfaat

  7. dapet pelajaran berharga lagi..
    🙂

    Syukurlah jika bermanfaat

  8. Betul mbak..
    peran pemimpin dengan wewenangnya yang luas sangat penting untuk memberikan influence kepada anak buahnya untuk tujuan bersama pula.

    Yup…betul

  9. Saya pernah bekerja di bawah seorang boss yang sangat bossy tapi sebenarnya dia tidak mumpuni. Parah sekali sistem kerjanya, lha wong saya sebagai anak buah yang masih belia saja bisa menilai kinerjanya nggak becus, dan hal ini diamini oleh rekan kerja lainnya.
    Dari situ saya selalu meragukan keputusannya, dan saya lebih suka berkonsultasi dengan sesama rekan kerja yang jauh lebih senior dan lebih bijak. Jujur saja, saya pribadi jadi meremehkannya meskipun saya tidak mengekspresikannya dengan berlebihan.

    Nah, sewaktu dia mengundurkan diri (mungkin ahirnya sadar kompetensinya memang kurang) anak buahnya nggak ada yang “nggondheli” malah bisa dikatakan bersukacita. Unit yang dipimpinnya menjadi keteteran selama berada di bawah pimpinannya, dan sudah menjadi rahasia umum, unit tersebut sangat parah, hingga dihindari calon konsumen.
    Menjadi tugas sangat berat bagi pimpinan baru beserta staff untuk mengembalikan image unit tersebut, dan kembali meraih kepercayaan calon konsumen.
    Sekarang saya masih sering kontak dengan rekan-rekan saya di unit tersebut, syukurlah sekarang kinerja unit tersebut membaik, dan herannya, mantan boss masih saja dibicarakan (yg negatif lagi).

    Saya jadi lebih mengerti, betapa berat tugas seorang pimpinan, harus bisa memberi teladan, ngayomi, mengarahkan, sekaligus juga membina hubungan baik dengan bawahannya. Menurut saya sendiri, susah sekali menilai bawahan secara obyektif.

    Nana, saat saya awal masuk bekerja, selalu di pesan, pelajari lalu lintas pekerjaan di bagianmu. Terus, pelajari dulu peraturan nya….setelah itu kita bisa mempelajari bagaimana manusia saling berinteraksi, antar bagian (antar pekerja), dan bagaimana hubungan dengan klien.
    Saya juga bertahap belajarnya…ternyata dari semua aturan, sistem yang ada…tetap manusia yang paling berperan dalam melaksanakan tugas, dalam membuat situasi menyenangkan

  10. Iya bu, budaya kerja memang harus terus berkembang atau lebih tepatnya adalah beradaptasi, untuk itu inovasi, kreativitas serta ketajaman dalam melihat/menganalisa lingkungan eksternal yang mempengaruhi entitas sangat menentukan perkembangan budaya kerja tersebut. Namun begitu faktor2 internal staff seperti faktor2 psikologis, kepercayaan, sikap dan sebagainya juga harus diperhatikan agar tidak terjadi gesekan2 dengan faktor2 eksternal yang berpotensi mengancam kelangsungan budaya kerja yang baik dan ‘berkembang’…

    Betul kang Yari..justru itulah perlunya pemahaman tentang budaya kerja ini agar tetap terjaga..Di perusahaan tempatku bekerja dulu, setiap tahun, masing-masing unit kerja harus mengadakan Forum Komunikasi, yang dihadiri seluruh jajaran pegawai di unit tsb. Agar konsentrasi, acara diadakan di akhir pekan, tidur di hotel, ada ceramah, outbound dsb nya…yang dipandu oleh tim budaya kerja (terdiri dari berbagai jajaran unit kerja…dan selalu mengup date ilmu dan di implementasi langsung di lapangan). Disinilah di bahas segala macam masalah, atasan juga dinilai (kuestioner dibagikan dua minggu sebelum acara)…dan mau menerima jika ada kritikan langsung dari bawahan. Awalnya memang ter kaget-kaget…ternyata banyak bawahan yang berani mengkritik atasan, namun memang dimaksudkan untuk perbaikan…nah di sini atasan menjelaskan mengapa hal tsb harus dilaksanakan…dan pada akhirnya tranparansi ini membuat atasan dan bawahan memahamai mengapa prosedur, aturan main itu perlu ditegakkan.

  11. Wah… komentar saya yang di sini tertelan akismet 😦

    Sudah dimunculkan lagi kang

  12. tidak sengaja kesasar ke blog ibu, salam kenal !, tulisan ibu memotivasi kami dalam mengembangkan budaya kerja di tempat usaha kecil kami, kami tunggu tulisan-tulisan ibu selanjutnya, terutama budaya kerja dan peningkatan etos kerja

    Semoga sempat menulis lagi tentang kaitan budaya kerja ya

  13. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Budaya kerja tidak akan terwujud bila hanya sebatas wacana saja. Hal ini terbukti dalam lingkungan kantor saya.
    Salam kenal dari saya.

    Budaya kerja memang harus dilakukan terus menerus….

  14. Sambil makan nasi goreng dan mie kuah…. Nemu blog ini dan sudah 10 tulisan yang saya baca… 😀
    Salam kenal Bu

  15. Budaya kerja, bukan melulu masalah kepemimpinan. Butuh wkt yg relatif panjang untuk menumbuhkembangkannya dalam sebuah organisasi. Maka memang benar, jika budaya kerja yg baik telah tertanam dalam setiap anggotanya, apa pun yang terjadi, budaya kerja akan tetap ada. Bahkan menjadi warna dalam kehidupan kerja organisasi itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: