Oleh: edratna | Maret 16, 2010

Telepon umum, bagaimana riwayatmu kini?

Sore itu, waktu sudah menjelang Magrib,  si sulung tak kunjung pulang. Hati ini mulai terasa nggak enak, apakah dia aman-aman saja? Maklum, hidup di Jakarta terkadang penuh kejutan, dan saat itu masih sering terjadi tawuran antar pelajar SMU. Saya ingat pesan teman, bahwa seorang ibu tak boleh terlalu merasa kawatir karena akan tersambung pada anaknya. Saya langsung ambil air wudhu, dan saat selesai  sholat Magrib, berdoa mohon pada Tuhan agar membuka hati si sulung….ibunya menunggu di rumah. Dan mohon agar dijaga agar perjalanannya selamat sampai ke rumah. Saat itu, di sekolah SMU tempatnya belajar, sepulang pelajaran sering diadakan kegiatan ekstra kurikuler ataupun ada pelajaran tambahan, karena menjelang ujian kelas 3.

Tak lama kemudian, terdengar pintu pagar dibuka, dan langkah-langkah kaki memasuki garasi. Tak lama wajah si sulung muncul di depan pintu dan langsung menyapa…”Ibu, maaf tadi jalannya macet sekali, kalau saya turun dari bis dan telepon dulu melalui telepon umum, kawatir makin lama, apalagi telepon umumnya antre.” Entah kenapa, seolah-olah ada penghubung antara hati si sulung dan ibunya, dia merasa kalau ibu kawatir. Cerita ini tak terjadi saat ini, karena setelah tahun 2000 an, dikenal adanya handphone pra bayar, yang memudahkan komunikasi orangtua dan anaknya. Sebelumnya, jika kita sedang di jalan, dan memerlukan sesuatu, terpaksa mencari telepon umum.

Saya masih ingat, saat mau ke rumah salah seorang wali kelas anak-anak, sebelum sampai ke rumahnya telepon dulu, apakah beliau ada di rumah dan mau menerima kita. Dan saat itu, pesan telepon kabel lama sekali, karena harus antri, dan harus menunggu apakah perumahan yang kita tinggali dilalui fasilitas saluran telepon. Dan saat wilayah rumah saya di daerah Cimanggis akan mendapatkan saluran telepon, saya dan suami berangkat dari rumah jam 6 pagi untuk antri di Kandatel Jakarta Timur, yang saat itu terletak di daerah Pegangsaan Timur. Syukurlah saya berangkat pagi, karena setelah dua orang dibelakangku, saluran telepon telah penuh.

Namun, saat ini pemakaian telepon kabel di rumah juga makin menyusut, karena orang lebih suka menghubungi melalui handphone yang bisa kita bawa ke kamar, sehingga tak perlu berdering-dering jika malam hari, membangunkan orang tidur nyenyak. Tapi telepon kabel tetap perlu, karena kita sering ditanya berapa nomor telepon rumah jika pesan sesuatu, karena perusahaan yang mendapat pesanan lebih suka jika  alamat pemesan jelas.

Telepon umum di lobi sebuah kantor

Dan bagaimana nasib telepon umum? Mengapa saya menulis ini? Suatu pagi saya datang kepagian, karena sehari sebelumnya datang agak mepet karena jalanan macet, sehingga hari itu berangkat lebih pagi…..ternyata pramubakti lantai yang akan digunakan untuk mengajar belum datang di kantor, dan ruangan masih terkunci, akibatnya saya menunggu di lobi suatu kantor. Saat itu mata saya tertumbuk pada pemandangan telepon umum. Saya penasaran, masih adakah yang akan menggunakan telepon itu? Mungkin sudah tidak ada…atau masih ada? Saya mencobanya, ternyata masih berfungsi baik, mungkin karena terletak di suatu lobi kantor, dan untuk masuk ke lobi melalui pemeriksaan dari satpam, sehingga telepon umum tersebut aman dari gangguan tangan usil.

Di ruang tempat menunggu boarding di bandara juga ada telepon umum, namun tanpa koin, dan saya melihat masih banyak penumpang yang menggunakan telepon itu. Di satu sisi, kita makin familier menggunakan Hp, bahkan kita kadang ragu mengangkat Hp jika nomer panggil yang masuk  Hp tak kita kenal. Telepon umum ini juga masih bisa kita lihat di lobi hotel, namun biasanya hanya untuk menghubungi nomor kamar tamu, bukan untuk menelepon ke luar. Apakah anda kadang-kadang masih menggunakan telepon umum?

Iklan

Responses

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Jadi inget jaman SMA sukanya ngumpulin uang recehan buat ngobrol malem mingguan sama pacar dari prapatan yang ada telepon umumnya. Abis bapaknya galak buanget, ga berani aku…

    Ini komentar asli dari Alamendah, bukan kek orang yang ngaku-ngaku sebagai alamendah dan menuliskan fitnah dan provokasi sebagaimana baru saya posting

    Tadinya bingung, kenapa pake ditulis komentar asli segala….jika komentar melanggar etika kan langsung di delete….hehehe….
    Supaya tak diganggu, hindari aja kata pertama atau pertamax dan teman-temannya…lagipula fungsinya tak ada kan?

  2. sepertinya memang telf umum tidak dibutuhkan sekarang mba…banyak saya lihat dijalan-jalan telf umumnya malah dah karatan dan ga berfungsi lagi.hanya 1 atau 2 orang saja yang menggunakan, lagian sekarang harga hp pun terjangkau dan simple lagi bisa dibawa-bawa akhirnya saya yakin telf umum tidak akan ada lagi

    Hmm ini memang risiko perubahan teknologi yang merubah budaya dan gaya hidup masyarakat.
    Apalagi di indonesia beli hape sangat mudah, tanpa ditanya KTP…dan jika kurang uang, bisa beli seken.

  3. hmm..saya sudah jarang sekali pakai tlp umum. terakhir waktu masih SMP…fasilitas umum terkadang hanya dipasang begitu saja, karena tipe2 nya orang Indonesia yang kurang bisa merawat fasilitas umum…jadinya cepet rusak

    Hmm sayang sekali ya….padahal siapa tahu ketinggalan hape..saya pernah, agak kagok sih, tapi nyaman karena selama perjalanan tak diganggu deringan suara hape.

  4. Terakhir saya pake telp umum sekitar 2 bulan lalu, Bu. Di sini, telp umum adalah piranti yang sangat digunakan karena ada sbagian orang yang masih malas pegang HP (terdengar aneh ya..? :P)

    Don, ini yang saya perhatikan saat kunjungan ke Aussie…saat itu saya memotret pake hape..terus saya cuci cetak di pertokoan daerah Queen Street, Brisbane. Mereka malah memberi komentar tentang hapeku…rupanya orang sana tak terlalu memikirkan pake hape baru ya.

  5. waduh.. udah gak pernah lagi bunda..
    kayak alamendah aja.. dulu, pake telpon umum kalo mo telpon ‘gebetan’, takut kan kalo dari rumah.. hehe.. seperti halnya si ‘gebetan’ nelpon saya juga dari telpon umum 🙂

    Hahaha…dulu kalau si bungsu nelpon atau dapat telpon bisa berjam-jam….jadi kami suka gangguan…cepet..cepet..mau pake..penting….hehehe..
    Lha telpon dipake bahas PR dsb nya…

  6. Telepon umum sekarang cuma sekedar jadi hiasan saja. Operator telepon lebih asyik ngurusin biaya percakapan lewat HP dibanding menyiapkan telepon umum sebagai bentuk pelayanan publik.

    Re telepon umum saya pernah menuliskannya disini bu:

    http://arishu.blogspot.com/2009/09/telepon-umum.html

    Hehehe….saya sudah baca….saya juga pernah ketinggalan hape..jadi repot deh….
    Tapi ya terus dinikmati aja….

  7. telepon umum riwayatna kini menghilang tanpa jejak
    karena banyak dicuri oleh pihak2 yang tidak beratnggung jawab kok
    sungguh terlalu dikasih fasilitas tidak dimanfaatkan malah dirusak

    Ini yang memang kita sayangkan

  8. Sepertinya sih…. kalau telepon umum diletakkan di tengah kota atau di tempat2 pusat bisnis, sepertinya saat ini sudah kurang tepat lagi. Seharusnya mungkin harus diintesifkan untuk diletakkan di daerah pinggiran kota atau di desa2 atau di tempat2 di mana sinyal hp masih lemah. Itu sih kalau (baru) dilihat dari sisi demografisnya saja.

    Tapi siapa tahu loh, suatu saat telepon umum itu nantinya bisa berguna. Apalagi kalau telepon umum kartu. Mungkin bagi mereka yang hp-nya ketinggalan dan risih untuk meminjam hp teman karena ingin ngobrol lama. Yah, pokoknya suatu saat dan seseorang nantinya siapa tahu akan membutuhkan.

    Hidup memang berubah bu, dua puluh tahun yang lalu, awal tahun 1990an, di Bandung, saya masih mahasiswa, punya TV yang ditonton cuma TVRI aja, itu juga sudah bersyukur. Sekarang, kita dibanjiri puluhan channel TV swasta dan TV kabel. Banyak teman2 saya dan saya sendiri sudah tidak pernah nonton TVRI lagi, tapi toh TVRI tetap survive dan saya percaya TVRI masih punya penonton setia. Mungkin telepon umum kurang lebih juga sama barangkali, walaupun mungkin alasannya bukan karena “setia” pada telepon umum…huehuehue…

    Kang, lha sampai di ujung Indonesia sekarang sudah terjangkau hape lho…bahkan di Papua juga. Saat tahun 1995 di Sorong…saya bisa telepon jelas ke Jakarta, juga dari puncak gunung Dieng…cuma saat itu yang paling bagus sinyalnya dari Telkomsel…jadi Mentari saya tukar dengan Telkomsel milik suami, karena saya lebih sering dapat tugas sampai di pelosok-pelosok.
    Jadi, dipinggiran juga belum tentu membutuhkan..mungkin perlu survei dulu ya?

  9. Jadi ingat, telepon umum adalah salah satu sarana PDKT yang saya gunakan kala di Jogja dahulu. Kadang Saya dan istri kalo ingat masa2 itu jadi senyum2 sendiri, karena sekali nelpon bisa lama (saya sampai bawa puluhan koin), hehehe

    Saya membaca beberapa komentar di sini…ternyata banyak yang pedekate nya lewat telpon umum ya. Pantas dulu tuh sampai antri di luar box telpon….kecuali jika telponnya terbuka.

  10. Terakhir mencoba telepon umum, koinnya gak cocok untuk teleponnya.. hiks hiks.

    Mosok?
    Kemarin ibu coba masih bisa kok….tapi di dalam gedung, dan satpamnya senyum2 aja melihat…dikira aneh.

  11. sejak punya hp, meski butut, hehehe … saya jarang sekali menggunakan telepon umum, bu. seiring dg perkembangan teknologi di bidang komunikasi, gejala telepon umum yang mangkrak agaknya hampir nterjadi di berbagai daerah.

    Betul pak, adanya hape, terutama pra bayar memang sangat memudahkan komunikasi, bahkan sampai di pelosok tanah air.

  12. Telpon rumah? Masih digunakan, tapi hampir 90% utk menerima saja … dan tagihan telkom tiap bulan ‘kurang dari Rp 80 ribu … adanya HP harus membuat yg lain turun … ekonomiskan? 😛

    Telpon rumah digunakan jika menelepon antar rumah…..memang pemakaiannya menyusut.

  13. didaerah saya telp umum masih terus dipakai, karena yg suka HP disini hanya anak2 muda dan sebagian orang tua….banyak yg ngga pakai hp…
    teman2 saya banyak juga yg tak bawa HP…bahkan saya (seblom make iPhone) Hp saya sering tertinggal di mana2….bahkan pernah masuk ke mesin cuci….

    Masuk mesin cuci?
    hehehe….hape saya juga pernah ikut mandi rinso…ya tamat riwayatnya…hehehe
    Hmm di LN kayaknya telpon umum masih berfungsi ya

  14. buat telkom…
    tolong bisa bermurah hati dengan tetap mengadakan telepon umum ya…
    karena saya suka keseringan kehabisan batre hp.

    Komennya salah alamat kayaknya….kok ditujukan disini

  15. hahaha jadi inget dulu pas masih jaman sma, pas awal2 sebelum berhasil membujuk orang tua untuk beli telpon yang cordless (biar telp nya bisa dibawa ke kamar), kalo mau telp ke temen cewek, saya selalu ke telpon umum. pake kartu. huahahahaha… abis kalo telp di rumah kan gak asik ngobrolnya, orang tua bisa ikutan denger. 😛

    tapi masa2 jadi pengguna telp kartu itu gak lama sih karena trus orang tua saya mau beli telp yang cordless. hehe. sejak itu pake telp kartu jarang2 banget paling kalo pas lagi gak di rumah.

    sekarang disini pun kita gak pasang telp rumah (landline) karena ya itu ada hp. jadi pake hp aja lah. 😀

    Hahaha…ketahuan ya, kalau pacaran melalui telepon.
    Tapi itu wajar kok…yang punya anak ABG atau remaja..pasti biaya telpon membengkak.

  16. terakhir saya pake telp umum wkt masih SMA, sepertinya untuk saat ini telp umum ga penting lagi ya?

    Kayaknya memang perlu direview kembali, namun siapa tahu ada yang masih memerlukan….tapi mungkin penempatannya di daerah yang aman dari tangan usil


  17. Saya udah lupa buk, kapan terakhir pake’ telfon umum..
    ..
    Teknologi komunikasi pasti terus berkembang, dan yg usang akan ditinggalkan..
    🙂

    Jadi, setiap industri harus selalu mereview produknya, membuat produk baru atau tampilan baru agar tak kalah bersaing.

  18. Ada yang ingat nomer-nomer gratis yang bisa diakses dari telepon umum?

    103 – buat nanya waktu (kalau di ponsel bisa atau tidak yah?)

    Lewat ponsel? Udah dicoba apa belum?

  19. Tapi saya masih melihat ada yang menggunakannya sekarang juga hehe

    telkoin 🙂

    Masih ada kok…tapi sangat jarang

  20. Di Yogya, banyak box telepon umum yang ada di pinggir-pinggir jalan menjadi ‘peti mati’. Banyak juga yang menjadi korban vandalisme, dicoret-coret dan dirusak. Sedih melihatnya, Mbak. Padahal dulu, telepon umum pernah sangat berjasa melayani masyarakat. Wartel pun sekarang sepi. Yaah … teknologi hp memang membuat perubahan yang sangat besar dalam budaya masyarakat kita.

    Betul mbak Tuti…sama seperti jasa layanan melalui kantor pos, telepon umum….bahkan telepon rumahpun jarang digunakan.
    Makanya Telkom gencar memasarkan speedy, terus memsarkan pemakaian batas minimal tanpa abonemen bulanan dll, dalam upaya menarik pelanggan. Namun hape memang fleksibel, bisa dibawa kemana saja…jadi nilai tambahnya memang lebih tinggi

  21. sepertinya sudah tergusur dengan HP, apalagi yang untuk spesial pun HP lebih privasi

    Yup betul…..juga dari unsur fleksibilitasnya

  22. sy terakhir make telpon umum waktu hp ilang di metromini, langsung telpon ke rumah dari telp umum dan anak yg menghubungi papanya untuk menjemput saya,
    dari basement ketika tidak ada sinyal seluler sy tetap pakai telpon umum koin

    Memang masih banyak fungsinya mbak…dan yang di dalam gedung relatif lebih aman dari gangguan tangan usil

  23. Rasanya sudah lama sekali saya tidak pernah lagi menggunakan telepon umum. Mungkin sejak punya hand phone. Btw, ajaib juga melihat telepon umum saat ini masih terawat dengan baik.

    Salam saya Bu Enny…

    Hehehe…itu gambarnya di dalam gedung sebuah kantor, yang dijaga satpam 24 jam…

  24. didekat tempat tinggal saya sudah banyak telepon umum yg ‘bau bangkai’ alias sudah almarhum krn dirusak oleh tangan jail, dan keadaan yg menyedihkan.
    sejak ada hand phone ,gak ada lagi yg memerlukan telepon umum, jadi begitulah nasibnya.
    salam

    Menyedihkan ya…kita memang suka kurang bisa merawat barang…

  25. Saya terakhir pakai telp umum pakai koin waktu SMA. waktu kuliah, jadi pelanggan wartel.. sekarang kaena sudah ada HP nggak pernah lagi ke wartel.

    Saya lihat, banyak box telepon umum yang terbengkalai, hilang pesawat teleponnya karena dicuri orang, dicoret-coret, ditempelin poster dsb…menyedihkan keadaannya…

    Menyedihkan memang Nana…padahal tetap sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan kan?

  26. Hihi.. di Pekanbaru jadi mainan untuk ngiseng2 teman, nggak kepake… 😀

    Sayang sekali ya

  27. kalau menurut saya sih telepon umum sekarang banyak yang dirusak orang yang tak bertanggung jawab

    Ya betul..ini sungguh disayangkan

  28. iya bu.. setuju.. ditempat saya juga banyak telpon umum yg nasib nya tragis…. dirusak.. 😦

    tapi kalo diluarnegri masih banyak dipake..masih terawat dan lebih murah menelpon dari pada pake HP… makanya saya suka nlp pake public phone.. menghabiskan uang koin yang ada.. 🙂

    salam kenal 🙂

    Sayang ya…padahal sebenarnya telepon umum masih bisa bermanfaat.
    Salam kenal juga, makasih kunjungannya

  29. Telfon umum sekarang sudah tidak umum lagi. jarang ditemui, jarang dipakai juga. hehe

    salam kenal
    Andrik Prastiyono

    Salam kenal juga, makasih kunjungannya

  30. 108, 103, gak bisa diakses lewat ponsel.

    Hmm..begitu ya….memang bukan dimaksudkan untuk diakses dari hape

  31. Beberapa operator bisa kok telepon 103… tapi harus pakai kode kota. Kalau di Bandung pakai 022-103 kalau di Jakarta pakai 021-103. Indosat, Telkomsel sama TelkomFlexi (Flexi malah nggak perlu kode kota kayaknya) kayaknya bisa deh, tapi yang lainnya nggak bisa walaupun ditambah kode kota juga. Kalau 108, jikalau pakai kode kota, 022-108 (utk Bandung), 021-108 (utk Jakarta) dsb… kayaknya sih hampir semua operator bisa.

    O iya bu…. ada yang lupa saya komentarin. Orang Telkom aja banyak yang ngeluh kalau pendapatan dari telepon rumah menurun drastis terutama setelah diperkenalkannya FWA, hp CDMA yang berawalan sama dengan nomor telepon rumah yang memakai 021, 022 dsb, seperti Esia, Flexi, StarOne, dan Hepi. Jadi bukan telepon umum aja yg mulai ditinggalkan, telepon rumahpun sekarang juga mulai ditinggalkan. Bahkan pembantu2 RT aja sekarang sudah banyak yang punya hp. Saya sendiri telepon rumah sekarang hanya dibuat faks, namun sekarang, sejak 3 tahun terakhir jarang ngefaks jadinya line telepon rumah saya “tidur” terus…. cuma bayar abonemennya aja tiap bulan. Untuk telepon keluar keluarga saya udah 100% pakai hp…

    Betul kang Yari..makanya banyak penawaran dari Telkom, jika kita mau bayar lebih murah, ada paket yang tak perlu bayar abonemen.
    Setelah ditanya, marketing tak bisa menjelaskan, apa pro’s dan con’s nya dengan paket yang biasa, malah rada cenderung agak ngotot cara pemasarannya. Lha saya cuma ketawa, mereka mestinya mempelajari dulu siapa pelanggan yang akan ditawarkan….lha begitu kita tanya…sekedar apa kelebihan dan kekurangan masing-masing paket, kok nggak bisa jawab..atau mereka hanya petugas marketing? Dan bagi saya, telpon kan sesuai kebutuhan, kalau telepon antar kota, saya masih sering pakai telepon kabel (rumah).

    Btw, gara2 si mbak udah punya hape (tiga lagi….)…telepon rumah malah aman dari deringan…

  32. Padahal telepon umum adalah sarana publik,kenapa malah publik merusaknya ya….??
    Metaforsa:Telepon koin>>Telepon kartu magnetik>>Kartu Chip>>>….Tinggal kenangan..

    Ya, itulah…masih ada sebagian dari masyarakat kita yang kurang bisa merawat barang

  33. Saya rasa pemakaian telepon umum terutama koin sudah gak banyak yang memakainya Bu.

    Selain alasan handphone yang sudah memasyarakat, rasanya orang pun banyak yang gengsi menggunakan telepon umum. Apalagi fasilitasnya pun sudah pada rusak, dari yang tak bisa cemplungin koin sampai yang tersisa hanya kabelnya doang. Padahal saya lihat para turis malah sering mencari2 telepon umum.

    Wahh…wahh…gengsi ini yang rasanya kurang pas ya….
    Tapi sebetulnya jika dirawat baik (oleh siapa? tentu masyarakat harus ikut merawat)…masih bisa digunakan

  34. Saya di rumah tidak punya telepon fixed line. Ketika ada pemasangan masal dari Telkom saya tetap tidak berminat. Lah, untuk apa? sehari2 kita jarang di rumah. HP bisa memenuhi segalanya. Paling2 kalau ada pengisian data2 tertentu suka ditanya telepon rumah. Awal2 masih mengalami masalah, tapi lama2 tanpa telepon rumah, segala urusan bisa lancar.

    Telepon rumah diperlukan untuk pembantu, agar kita bisa menghubungi sewaktu-waktu diperlukan.
    Memang, dengan adanya akses hape yang mudah, telepon fixed line menjadi kurang penting.

  35. jangankan telepon umum, telepon rumah saja sudah jarang bu

    Iya..orang lebih memilih menggunakan telepon seluler


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: