Berpikir panjanglah, sebelum menilai

Disadari, situasi saat ini sudah relatif tenang dibanding ingar bingar yang ada sejak bulan Desember 2009 s/d awal Maret 2010. Bagi orang yang setiap kali terpaksa menelusuri jalanan Jakarta, yang sudah macet setiap hari, tanpa hingar bingar apapun, keributan menjadi masalah tersendiri, karena jalanan akan lebih macet. Hari ini, saya membaca sebuah artikel di Kompas, yang mencerahkan. Selama ini, jika ketemu teman-teman, karena saya dianggap paling tidak “agak mengerti”, pertanyaan mereka bertubi-tubi. Tentu saja saya hanya bisa menjawab sebatas sesuai aturan dan perundangan yang berlaku. Mengapa? Tentu saja saya tak bisa menjawab banyak hal, yang saya sendiri tak tahu bagaimana kondisi riil nya dilapangan, data-data yang ada dan sebagainya.

Kompas hari Jumat,  tanggal 26 Maret 2010 hal 21, menayangkan artikel berjudul ” Dirgantara: Masa Depan Maskapai Indonesia,” yang ditulis oleh Rhenald Khasali, Pakar Manajemen dan Pemasaran. Memang, jika saya perhatikan masyarakat kita ini sangat menarik, segala sesuatu selalu melahirkan pro dan kontra, bahkan terkadang  seolah-olah setiap orang bisa berbicara apa saja. Saya ingat sekali petuah dan cerita alm ibu saat saya masih kecil, bahwa padi itu makin berisi makin merunduk. Melihat kondisi sekarang, pepatah itu kelihatannya sudah berbeda arah, setiap orang bisa berbicara dan bersuara, apapun latar belakang pendidikannya.  Hal ini yang kadang mengkawatirkan, karena sebetulnya, kita akan lebih baik jika bicara berdasarkan fakta dan landasan atau dasar hukum yang ada.

Lanjutkan membaca “Berpikir panjanglah, sebelum menilai”