Oleh: edratna | Maret 27, 2010

Berpikir panjanglah, sebelum menilai

Disadari, situasi saat ini sudah relatif tenang dibanding ingar bingar yang ada sejak bulan Desember 2009 s/d awal Maret 2010. Bagi orang yang setiap kali terpaksa menelusuri jalanan Jakarta, yang sudah macet setiap hari, tanpa hingar bingar apapun, keributan menjadi masalah tersendiri, karena jalanan akan lebih macet. Hari ini, saya membaca sebuah artikel di Kompas, yang mencerahkan. Selama ini, jika ketemu teman-teman, karena saya dianggap paling tidak “agak mengerti”, pertanyaan mereka bertubi-tubi. Tentu saja saya hanya bisa menjawab sebatas sesuai aturan dan perundangan yang berlaku. Mengapa? Tentu saja saya tak bisa menjawab banyak hal, yang saya sendiri tak tahu bagaimana kondisi riil nya dilapangan, data-data yang ada dan sebagainya.

Kompas hari Jumat,  tanggal 26 Maret 2010 hal 21, menayangkan artikel berjudul ” Dirgantara: Masa Depan Maskapai Indonesia,” yang ditulis oleh Rhenald Khasali, Pakar Manajemen dan Pemasaran. Memang, jika saya perhatikan masyarakat kita ini sangat menarik, segala sesuatu selalu melahirkan pro dan kontra, bahkan terkadang  seolah-olah setiap orang bisa berbicara apa saja. Saya ingat sekali petuah dan cerita alm ibu saat saya masih kecil, bahwa padi itu makin berisi makin merunduk. Melihat kondisi sekarang, pepatah itu kelihatannya sudah berbeda arah, setiap orang bisa berbicara dan bersuara, apapun latar belakang pendidikannya.  Hal ini yang kadang mengkawatirkan, karena sebetulnya, kita akan lebih baik jika bicara berdasarkan fakta dan landasan atau dasar hukum yang ada.

Tulisan Rhenald K mengupas, pada saat gunjang ganjing dunia penerbangan, Garuda Indonesia justru meraih untung di atas Rp. 1 triliun (Kompas, 18 Maret 2010). Dari berbagai pemberitaan media, kita bisa membaca, bahwa di sepanjang kawasan ASEAN, bahkan juga di Australia, hampir semua maskapai penerbangan berbendera nasional terancam krisis. Krisis penerbangan nasional, yang pada umumnya padat modal ini, mengkawatirkan. Singapore Airlines rugi 428 juta dolar Singapura, MAS rugi 117, 5 juta ringgit Malaysia (Januari-September), Thai Air rugi 1,57 miliar bath Thailand (Jan-Sept), dan Quantas rugi 93 juta dolar Australia (Jan-Juni 2009). Berita tentang Japan Airline (JAL), beberapa kali muncul di media karena rugi, demikian juga Air India.

Sedangkan di masyarakat kita, setiap pemberitaan disikapi secara kritis, maksudnya baik, namun terkadang menjadi berlebihan. Rhenald K. juga menulis, bagaimana pada zaman yang penuh kecurigaan ini, ada baiknya semua pihak meningkatkan kapasitas pengetahuan dan tak sekedar asal bicara. Atau seperti pesan almarhum ibu, agar makin berisi kita makin rendah hati. Karena Indonesia memerlukan orang yang profesional dalam mengelola perusahaan, pilot untuk menerbangkan pesawat, aktivis untuk menggerakkan perubahan, profesional manager untuk memimpin perusahaan (Rhenal, K. Kompas, 26 Maret 10 hal 21).

Saya sependapat dengan pak Rhenald, sebaiknya kita memperhatikan perlakuan akuntansi dalam menilai persoalan apakah suatu perusahaan berkembang atau ada permasalahan. Dan para akuntan ini hendaknya mau menulis di media, berdasarkan data dan fakta yang ada, agar kami-kami ini bisa ikut belajar berdasarkan data yang ada.  Di Indonesia, setiap perusahaan harus tunduk pada Standar Akuntansi Keunangan, yang berlaku umum, tak hanya pada jasa usaha penerbangan, namun juga berlaku untuk Perseroan Terbatas lainnya. Bahkan para karyawan, dan Serikat Pekerjapun juga harus memahami angka-angka yang disajikan sesuai SAK ini, agar bisa melakukan kajian dan penilaian secara wajar. Bagi perusahaan yang sudah go public maka akan lebih mudah, karena penyajian laporan keuangan disajikan secara lengkap, sehingga kita dapat menilai bagaimana perkembangan kinerja perusahaan tersebut didasarkan pada laporan keuangan. Laporan keuangan ini juga bisa menunjukkan seperti apa perlakuan akuntansi yang digunakan perusahaan, misalkan apakah perusahaan dalam mendapatkan barang modalnya dilakukan secara leasing, atau dibeli langsung. Dalam leasing atau sewa maka penyusutan tidak diperhitungkan, karena akan langsung dibebankan pada biaya. Jika barang modal tadi menjadi milik sendiri, maka akan diperhitungkan penyusutan. Kita juga akan bisa menilai apakah perusahaan efisien? Ini bisa dilihat dari perkembangan BOPO (Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional). Dan jika diurai, maka akan terlihat mengapa suatu perusahaan biaya nya sulit ditekan, dengan pemahaman ini, kita bisa memahami dan tak mudah saling menyalahkan.

Saya tertarik pendapat pak Rhenald, yang mau tak mau saya harus setuju, yaitu : “Say no to bail out, no to conflict and to be one team, one spirit: Indonesia.” Bagaimana dengan anda? Bagaimana kalau kita menjadi orang yang bisa menilai, memberikan solusi masalah, bukan kok malah meributkannya?

Bahan bacaan:

  1. Rhenald Khasali. “Dirgantara: Masa depan Maskapai Indonesia.” Kompas, Jumat, 26 Maret 2010, hal 21.
  2. Pengalaman penulis dibidang analisis keuangan.
Iklan

Responses

  1. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Senengnya orang Indfonesia adalah membuat pro dan kontra. Meributkan sesuatu yang seharusnya biasa sehingga malah menjadi luar biasa. Dan ini biasanya bukan menyelsaikan masalah tetapi justr menciptakan masalah baru. Paling tidak, mengalihkan dari masalah yang ada.

    Jangan lupa untuk ikut ambil bagian dalam “Earth Hour” malam ini. Cukup mematikan lampu dan peralatan listrik (termasuk BERHENTI NGEBLOG) selama 1 jam mulai pukul 20.30. Mari; ubah dunia dalam satu jam

    Mungkin mereka lupa, bahwa pemirsa TV tidak bodoh, justru mereka yang membodohi diri sendiri…akibatnya penonton memindahkan saluran TV ke acara menarik..atau mendengarkan berita yang dipancarkan dari LN.

  2. (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!

    Komen saya ketangkap satpam. Mau ngetik lagi kelamaan. Hehehehe

    Jangan lupa untuk ikut ambil bagian dalam “Earth Hour” malam ini. Cukup mematikan lampu dan peralatan listrik (termasuk BERHENTI NGEBLOG) selama 1 jam mulai pukul 20.30. Mari; ubah dunia dalam satu jam

    ??? Apa hubungannya dengan artikel ini?

  3. Benar Bu…
    Efek demokrasi yang kebablasan adalah semua orang merasa berhak untuk berbicara. Yang bukan ahlinya juga ngomong. Semua pengen tampil. Akibatnya, kita tersendat2 menuju tinggal landas…Ada saja penumpang yang berdiri saat pesawat sudah mulai take off…

    Bang Hery, saya sudah lama pengin nulis ini…..dalam demokrasi setiap orang berhak mengatakan pendapat, namun harus fair…jangan ngomong tanpa fakta, karena akan memperkeruh situasi. Padahal kita sedang jadi penonton, kan sama seperti nonton sepakbola, kita komentar macam-macam, padahal kalau disuruh didalam lapangannya…jangan-jangan nendang bola pun tak bisa.
    Kelihatannya ilmu padi perlu dibudayakan lagi, sehingga yang bicara adalah orang yang memang memahami persoalan, latar belakang pendidikan dan atau pengalamannya mendukung.

  4. Itulah bu yg juga saya sesali..
    Banyak bngt orang2 kita yg suka berkomentar (no action talk only) yg justru memperkeruh suasana..
    sehingga yg ada kondisi makin carut marut.. 😦

    Kapan ya bu kita bisa lebih baik lagi ? speechless

    Saya masih percaya di Indonesia banyak yang berpikir positif, namun mereka males muncul. Seperti dikatakan pak Rhenald Khasali….akuntan akan bisa menjelaskan berdasarkan fakta…bukan opini. Membaca tulisan di media cetak atau mendengarkan TV (sering langsung saya matikan) kadang malah bikin pusing..lha yang bukan bidangnya bisa komentar..padahal penonton memahami masalah yang didiskusikan, rasanya aneh kok orang tsb tak malu ya.

  5. Jadi ingat kemarin di ajak diskusi oleh teman yang menolak datangnya Obama. Dalam fikirannya seluruh Indonesia sebagai satu bangsa harus sama arah tujuan dengan organisasi dia. Padahal bangsa Indonesia punya banyak organisasi, banyak kepala, dan banyak keinginan.
    Menjadi satu Indonesia adalah pekerjaan yang sulit. Karena itu mari semua berlomba-lomba mewujudkan keinginannya dengan cara yang baik dan benar. Semoga yang terbaiklah yang menjadi pancaran cahaya satu Indonesia.

    Gambaran masyarakat Indonesia, seperti gambaran masyarakat dunia, terdiri dari berbagai etnis, keyakinan dan budaya. Yang semua harus bisa saling menghormati dan menghargai perbedaan. Tanpa itu, maka akan sulit tercapai kedamaian.
    Betapapun, Indonesia masih banyak belajar, …dan kita harus menjaga agar perbedaan bisa dinyatakan dalam situasi damai, tanpa bentrokan yang mempersulit kehidupan masyarakat.


  6. Lebih bijak kalau kita memilih apa yang akan kita katakan dibanding mengatakan apa yang kita pilih..
    🙂

    Kata-katamu sungguh bijak, Septa…..

  7. ya Bu, saya lebih baik mempelajari dulu dari pada turut memvonis dan ternyata salah 🙂

    Betul Achoy…karena ada tugas masing-masing…dan siapa yang bisa menjatuhkan vonis, seperti hakim, diharapkan sudah mempelajari dari semua data, bukti dan fakta yang ada.

  8. Sebenarnya saya dari dulu kurang setuju dengan pendapat yang mengatakan “yang bukan bidangnya jangan berkomentar…..”. Karena apa?? Pertama “bukan bidangnya” di sini harus didefinisikan dengan jelas dulu… Apakah cuma mereka yang profesional… atau berpendidikan sesuai dengan bidangnya atau yang lainnya. Kedua, semua orang tentu berhak berbicara tentang segala sesuatu yang bukan bidangnya. Namun begitu, saya setuju jikalau berbicara harus dengan etika dan jangan memfitnah dan jangan “subyektif”.

    Jikalau semua orang harus berbicara sesuai bidangnya tentu nanti orang awam tidak boleh berbicara tentang film atau sinematografi. Orang yang bukan penulis tidak boleh berkomentar tentang karya sastra, orang yang bukan fotografer tidak boleh berbicara tentang fotografi, orang yang bukan ahli informasi tidak boleh berbicara tentang komputer dst…. dst…. Sepertinya dunia akan terasa “monoton” pada seseorang, karena seseorang tersebut hanya boleh berkomentar tentang bidangnya.Di sini sekali lagi, seseorang sah2 saja berbicara tentang sesuatu yang bukan bidangnya asal tetap beretika dan “seobyektif” mungkin…

    Kang Yari…kalau orang mau bicara sesuatu, tentu dalam kapasitas dia bisa memahami….kan banyak orang tahu tentang masalah film, walau bukan latar belakang perfilm an. Namun, yang penting adalah seperti yang dikatakan pak Rhenald K, agar ada baiknya semua pihak meningkatkan kapasitas pengetahuan dan tak sekedar asal bicara.
    Saya sependapat pada paragraf terakhir komentar kang Yari….orang boleh berbicara namun tetap beretika dan obyektif..

  9. saya setuju buu…kebanyakan orang cuma bisa menghujat tapi ngak tau jelasnya apa yang di hujat. rasanya lebih baik diam daripada meributkan sesuatu yang belum jelas

    Setuju Idana…marilah kita berbuat kebaikan ….

  10. oh ya…sekalian saya mau promo buu…kunjungi kami yaa ada tantangan menarik 🙂

    http://jelita.blogdetik.com/2010/03/22/vip-very-iseng-person/

  11. jangan terlalu gampang menilai seseorang 😀

    Memang sebaiknya tidak mudah menilai seseorang…apalagi menyebarkan hal yang belum tentu benar

  12. Jika setiap bidang usaha dipenuhi orang-orang profesional yang bekerja secara IKLHAS (bukan hanya bekerja KERAS), niscaya kesuksesan suatu usaha akan datang secara bertubi-tubi…

    Tidak hanya orang yang bergerak di bidang usaha, bahkan orang lain yang di luar kalangan tersebut, hendaknya tiodak mudah melakukan penilaian tanpa melihat semua hal secara akurat

  13. Oleh karena itu, akan lebih bermanfaat jika kita mau memfungsikan telinga hati-pikiran kita lebih banyak, untuk kemudian baru berbicara.

    Kenyataan yang terjadi di bumi pertiwi ini memang bertolak belakang, banyak orang yang begitu rupa memberi pernyataan. Dan, sering pernyataan itu menimbulkan “kekeruhan”.

    Hampir di setiap elemen kehidupan di tanah pertiwi ini dapat ditemukan, dilihat, seperti misalnya di lembaga dewan terhormat kita, yang “keramaiannya” baru saja beristirahat.

    Itu semua menjadi hidangan sehari-hari seluruh warga bangsa ini, yang disadari atau tidak, dapat meneladan di generasi kemudian. Memprihatinkan, bukan?

    Segeralah muncul insan-insan pencerah Indonesia! Kami sungguh menanti.

    Ini juga harapan kita pak, semoga kita semua makin menebalkan iman, mendidik lingkungan di sekitar kita dengan budi pekerti yang baik, memberi contoh yang baik.
    Apalagi jika kita termasuk orang yang ditua kan atau dianggap pimpinan, ucapan dan perbuatan kita harus dipikirkan secara masak-masak

  14. Akhirnya…
    Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil..dan mulailah sekarang ya Bu 🙂

    Marilah kita menggerakkan, melakukan hal-hal yang baik, memberi contoh perilaku, budi pekerti yang baik…dan berhati-hati dengan ucapan kita.

  15. Potensi pengembangan ekonomi Indonesia selain dari sektor agraris, yaitu pengembangan potensi transportasi maritim dan dirgantaranya.. ini perlu dukungan kita semua, dari sisi grass-roots agar senantiasa bisa setia dengan maskapai nasionalnya, seperti yang dilakukan oleh mereka di Jepang, meski sedang dilanda krisis keuangan – tetap saja mereka terbang dengan JAL.

    Budi pekerti bangsa Indonesia, perlu ntuk dikembalikan kepada tatanan ketimuran yang senantiasa bijaksana, euphora demokrasi kebablasan ini adalah sebuah penyakit yang akan menajdi akut bila tidak ada penggagas yang mulai mengerem perilaku lempar batu sembunyi tangan, ceplas-ceplos asbun apalagi pribadi yang berada pada tampuk kekuasaan dan/atau pejabat negara, itu mencoreng muka sendiri pada forum multi-lateral, sudah cukup sepak terjang ala sontoloyo ini merugikan kemajuan kita..

    Kekeruhan ini senantiasa tidak akan menaikan Human capital Index Indonesia yang terus bertengger di urutan ke seratus sekian – malu atuh!

    Get all teh facts right, get your speech correct and set your mind straight.. therefore no misspelled statement nor counter-productive gestures. Enough is enough..

    Saya setuju banget dengan kalimat terakhir kang Luigi…..
    Semakin tinggi jabatan seseorang, dan apalagi jika yang diucapkan akan didengarkan oleh banyak pihak, selayaknya semakin berhati-hati dalam memberikan pernyataan atau pandangan. Jika belum memahami secara benar, belum mengkajinya, tak perlu diungkapkan dulu pada khalayak….

  16. “Mulutmu adalah harimaumu”

    Kayaknya peribahasa yang satu ini juga berkorelasi dengan tulisan Ibu, ya. Terlebih yang saya cermati adalah memudarnya rasa malu untuk ber-statement salah. Yang penting kasih statement, mau nanti gak nyambung atau salah kutip, itu urusan belakangan. Padahal, kapasitas dan intelegensia seseorang juga diukur dari apa yg keluar dari mulutnya. Apa yg terjadi skrg benar-benar memprihatinkan.

    Satu lagi, sikap dan cara pembawa acara / moderator di TV yg seringnya menambah bensin ke api. Duhh…!! *tepok jidat*

    semakintidaktertariknontonprogramtvkita.com

    Hmm saya juga sering mematikan TV atau pindah channel lain, jika diskusinya sudah aneh……
    Karena pada dasarnya penonton kan ingin tahu seperti apa pandangan dari latar belakang yang berlainan, tentu didasarkan faktanya…lha kalau opini (walau atas nama demokrasi…konon orang bebas berpendapat dan beropini)…membuat pusing.

    Jadi…enakan nonton yang lain.

  17. kadang mengamati lebih baik dari pada memberi sebuah komentar yg gak jelas dan gak bisa dipertanggung jawabkan, apalagi kalau semua ingin bicara, lalu siapa yg mendengarkan?
    mendadak semua orang menjadi ahli 😦
    salam

    Betul bunda, lebih baik mendengarkan..bukankah telinga kita dua dan mulut satu?

  18. saya sih berpendapat, orang Indonesia sudah terlalu banyak dicekoki berita2 negatif, jadinya kalo ada masalah selalu saja mencari solusi yang lebih mudah dan cepat dilaksanakan..

    padahal, dengan pemikiran yang mendalam dan pemilihan waktu yang tepat, tentu kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia akan terasa lebih baik

    Hmm ya..kadang kita terlalu banyak dicekoki berita, sampai bosan

  19. saya segera pindah saluran kalo di TV muncul acara2 seperti itu, semua mau nomong sih, penonton awam sptku ini tambah bingung…he…he.., pindah saluran malahan sinetron semua, udah jadinya bw aja bu

    Hehehe..sama bu..mendingan BW ya….

  20. kebanyakan org2 yang banyak omong justru semakin memperkeruh suasana, alih2 memberi solusi

    Yup betul..dan yang mendengarkan tambah pusing

  21. Kalau melihat acara debat di TV, saya lihat kok seolah semua ingin terlihat paling pintar, lawan bicara belum selesai bicara sudah dipotong, jadi pusing dan sebel dengernya, mending ganti channel saja…
    Sedangkan saling berbantah /polemik di media massa tertulis, menurut saya rasanya kok lebih sopan ya? apakah karena telah melalui proses editing ya?
    salam hangat selalu, Bu…

    Atau kalau di media tulisan telah melalui proses editing? Dan ada Pemimpin Redaksi yang bertanggung jawab?

  22. sekedar bicara saja engga membawa kemana-mana.. apalagi sampai ribut-ribut engga jelas..
    yang penting tindakan realnya seperti apa..

    salam kunjungan perdana nih

    -rully-

    Makasih kunjungannya….salam hangat

  23. asal jangan asal bunyi alias asal komentar. salam untuk semua pengunjung blog ini dan sambil baca baca dulu, blognya bagus

    Ehmm..maksudnya komentar di blog?

  24. Jangan terlalu cepat menilai sesuatu, memang seharusnya dipegang oleh orang yg lebih dewasa.

    Kita seharusnya bertanggung jawab atas apa yang kita sampaikan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: