Oleh: edratna | April 18, 2010

Orangtua memang tak boleh lengah

Melewati seminggu, hati ini masih merasa miris jika mengingat, betapa seorang anak umur 10 tahun sudah menjadi korban narkoba. Perjalanan panjang ke Pondok Pesantren Suryalaya, menyisakan juga renungan panjang, introspeksi diri sendiri atas perjalanan kami sekeluarga. Dan pada akhirnya bersujud syukur setelah sampai di rumah, betapa banyak karunia yang telah diberikan Allah swt bagi kami sekeluarga. Dari mengobrol bersama suami, betapa setiap kali kami nyaris salah melangkah, sepertinya Tuhan mengirimkan seseorang membantu entah dalam memberikan saran atau apapun, yang menyebabkan kami bisa memperbaiki langkah tersebut. Saya dan suami menyadari, betapa sebetulnya kita mudah sekali tergoda, dan hanya iman lah yang menyelamatkannya. Ada beberapa hal, yang kalau diceritakan saat ini terlihat mudah karena semua sudah berlalu, tapi masa-masa itu, nyaris saya hampir patah semangat, dan syukurlah dengan pasrah kepada Nya selalu  ada  jalan keluar.

Saat itu suami mendapat tugas mengikuti kursus paten yang diselenggarakan oleh Fak Hukum UI,  di kampus Salemba. Si sulung masih usia SD, kalau tak salah kelas 4 SD. Saat saya menemui wali kelas, saya sebulan sekali menemui wali kelas anak-anak untuk me monitor apakah tak ada masalah, pak Guru mengatakan kalau anakku sempat di hukum karena tak mendengarkan pelajaran. Di hukumnya dengan menyuruhnya keluar kelas, karena saat ditanya, dia menjawab kalau sedang mengamati pergerakan tanaman dan angin melalui jendela kelas. Saya protes, kalau anak saya salah, dihukumnya jangan disuruh keluar kelas, tapi disuruh berdiri di depan kelas, agar dia tetap mendengarkan pelajaran hari itu. Lha kalau di luar kelas, anaknya akan tidur apalagi angin sepoi-sepoi dan dia rugi tak mendengarkan pelajaran. Guru anakku sepakat, namun masih menyisakan kepedihan di hati saya. Mengapa anakku melakukan itu, dan saat sedang santai di rumah, dia menjawab saat ditanya, bahwa dia ingin memahami tentang alam di sekitarnya. Tidak salah, tapi jam pelajaran di kelas, seharusnya mendengarkan guru.

Suami, yang mendengar keluhanku, cerita ke temannya. Kebetulan dari teman kursusnya, ada yang lulusan Psikologi UI. Mbak Lia (kalau tak salah namanya), menyarankan agar membawa anakku ke psikologi terapan UI. Saya ijin dari kantor untuk menemani anakku ke psikolog, karena Lembaga Psikologi Terapan UI, buka hanya pagi sampai siang hari. Kedua anakku saya ajak, saya deg-deg an juga, karena selama ini kenal psikolog hanya saat wawancara melamar pekerjaan. Ternyata kekawatiranku tak beralasan,  ruangan untuk pemeriksaan psikologi anak-anak sangat menyenangkan. Saat menunggu panggilan, kedua anakku bisa bermain di ruangan, yang dindingnya dipenuhi gambar-gambar boneka, lukisan komik yang disukai anak-anak. Juga disediakan beraneka permainan anak-anak. Saat si sulung dipanggil (tak boleh didampingi ibu), dia dengan tenang mengobrol di ruangan itu sambil melihat adiknya bermain. Psikolog hanya mengobrol kegiatan anakku sehari-hari, terus ditanyakan apa kesukaannya…terus disuruh menggambar. Anakku menggambar sebuah rumah bercat putih, dan didepan rumah ada perempuan berambut sebahu. Saat ditanya psikolog, apa maksud gambar ini? Anakku menjawab, itu adik yang sedang siap bermain dengan temannya. Si sulung cerita, kalau adik sekarang sudah sulit diajak main, karena telah punya teman main yang juga teman sekelasnya. Dari obrolan semacam ini, psikolog bisa menggali latar belakang anakku, keinginannya, kesenangannya dan apa yang nggak disukainya.

Dari hasil obrolan dengan saya, psikolog mengatakan bahwa sebetulnya si sulung tak masalah, namun anakku memang lebih suka berpikir diluar kemampuan anak-anak seusianya. Sedang gurunya, kemungkinan masih seperti guru ibunya zaman dulu….disini psikolog menyarankan pendekatan orangtua dengan guru, karena guru juga akan belajar bersama orangtua dalam menghadapi anak. Dari sini saya memahami, betapa sebetulnya kita, sebagai orangtua, sering tidak tahu apa yang sebetulnya ada dipikiran anak. Psikolog tadi juga wanti-wanti, bahwa saya harus waspada saat anak saya usia ABG (12-13 tahun), kemudian yang paling berat adalah saat usia remaja, anak  sedang mencari jati dirinya, belum dewasa namun sudah merasa mampu mengatasi segalanya sendiri.

Pulang dari psikolog, kebetulan suami saya masih kursus, jadi saya mengajak anakku ke pertokoan Megaria untuk makan siang. Ternyata di bioskop Megaria sedang diputar film anak-anak “Home Alone“. Ini pertama kalinya saya mengajak kedua anakku menonton di bioskop, sebelumnya saya lebih suka membeli CD (dulu belum ada CD ya…tapi rekaman Betamax) yang akan ditonton rame-rame di rumah. Kedua anakku sangat menikmati menonton film ini di bioskop, saya sungguh menyesal kenapa nggak sejak dulu saya mengajak mereka nonton film anak-anak di bioskop. Sampai seminggu kemudian, cerita tentang nonton film ini tak habis-habisnya. Sungguh suatu pelajaran yang berharga, dengan mengajak menonton, makan diluar, banyak sekali hal baru yang bisa saya petik dari kedua anakku. Celotehan mereka, bahan percakapan mereka, menarik untuk diamati. Dan ini sebetulnya kunci bagi orangtua, agar selalu bisa memahami anak-anak, tak boleh lengah, sekecil apapun, bahkan  perubahan gesture tubuhnya yang diluar kebiasaan, harus kita perhatikan.

Saran psikolog terus mengiang-ngiang ditelingaku, dan ternyata apa yang diperkirakan memang benar terjadi. Saat-saat si sulung masuk kelas 1 SMP masalah mulai muncul….suatu ketika saya mendapat telepon dari Kepala sekolah, kalau anakku tertidur di kelas, dan diperkirakan kena narkoba. Hati saya miris, kebetulan saat itu saya sedang tugas ke luar kota…..bisa dibayangkan semalaman itu saya menangis dan memohon ampunan pada Allah swt. Ya, Allah…apa salahku, kenapa anakku sempat terkena? Hari Senin pagi saya segera menemui Kepala Sekolah tempat anakku belajar, ternyata ibu Kepala SMP malah memelukku sambil ketawa-ketawa. Sambil masih kebingungan saya terduduk di kursi dan ibu kepala sekolah mohon maaf karena terburu-buru menelpon saya. Siang hari Sabtu itu, setelah anakku terbangun, dia dipanggil Kepala Sekolah dan ditanya apakah lapar dan apakah mau ditraktir ibu Kepala Sekolah? Dasar si sulung, tentu saja dia mau ditraktir…..dan rupanya dia malah menambah makanan. Saat ditanya mau minum apa, jawaban nya tegas…coca cola. Dari situ, ibu Kepala Sekolah menafsirkan kalau anakku memang hanya mengantuk, bukan karena narkoba.

Saya terbengong-bengong, dan di rumah masih berpikir mengapa ya anakku tertidur di sekolah. Sebetulnya ini awal gejala narcolepsy atau sleeping disorder yang tak saya pahami (yang pernah saya tulis disini), namun saat itu saya belum paham. Dan tentang narcolepsy ini, anakku merupakan  pasien termuda yang diketemukan di Indonesia. Saya sibuk berpikir, soalnya si sulung rasanya tak tidur terlambat akhir-akhir ini karena sakit. Saya seperti diingatkan, ada kemungkinan obat dari dokter mengandung obat tidur. Saya segera ketemu dokter anak yang merawat si sulung, benar juga ternyata memang ada obat tidurnya, karena memang dimaksudkan agar anakku beristirahat total, supaya segera sembuh. Dokter anak sangat prihatin, sehingga beliau bersedia memberikan pernyataan bahwa sebetulnya anakku tertidur karena minum obat yang mengandung obat tidur, dan kebetulan sekali, anakku sudah masuk sekolah walau seharusnya masih istirahat 2 (dua) hari lagi. Anakku memang paling sulit kalau disuruh nggak masuk sekolah, walau dalam keadaan sakit, karena takut tertinggal pelajaran.

Apakah masalah anak-anak ini pernah selesai? Jawabannya jelas tidak, dan seperti yang diramalkan psikolog tsb setiap masa dalam perkembangan anakku, selalu memunculkan masalah. Dan mau tak mau saya selalu siap menerima apapun,  tetap merangkul anak-anakku, untuk mencari jalan keluar. Jika awalnya hanya psikolog yang saya kunjungi, sampai suatu titik saya akhirnya pergi  ke psikiater dan malah diketawain….”Bu, sebetulnya yang perlu mendapat pertolongan psikiater ini ibu, bukan anaknya. Anak ibu memang bukan anak biasanya, dan dalam hal ini diharapkan orangtua kuat menghadapi banyak kejutan, jadi ibu harus kuat, dan terus berdoa pada Tuhan ya bu. Tapi yang jelas, saya berani taruhan potong leher, anak ibu aman dari narkoba. Saya sudah banyak berdebat dengan dia, namun yang harus dijaga adalah fanatisme…. Jika ibu kuat, Insya Allah anak ibu akan menjadi orang besar” Itu tadi pesan psikiater, yang kemudian menjadi teman keluarga saya, setiap saat jika pusing, saya curhat ke beliau….daripada curhat pada orang lain, yang belum tentu bisa memberikan jalan keluar. Beliau mempunyai pengalaman yang sangat banyak, pernah menjadi Direktur RS KO (Ketergantungan Obat), dalam  menghadapi remaja seperti menghadapi teman sendiri.

Dan syukurlah si sulung akhirnya juga bisa mengelola sleeping disordernya,  bisa menyelesaikan kuliah dan bekerja seperti orang lain. Dan semoga dia juga menikmati pekerjaannya yang sekarang. Ya, itu tadi cerita tentang si sulung, yang suka memberi kejutan buat ibunda…..namun si sulung juga sering memberikan kejutan manis. Bagaimana dengan si bungsu? Mungkin karena si bungsu melihat ibu sudah pusing, dia tak banyak masalah…atau karena ada kakak yang selalu menjaga nya. Pernah dikatakan oleh ibu psikolog…”Bu, kedua anak ibu jangan dipisahkan ya, karena si bungsu ini sangat dekat dengan kakaknya.” Saya yang tak paham bertanya, apa maksudnya, ternyata maksudnya sebelum lulus SMA, sebaiknya kedua kakak beradik tetap tinggal dalam satu rumah dan sekota. Dan saat obrolan santai denagn si bungsu, ternyata si bungsu sering kena ekor masalah akibat mempercayai kata-kata si sulung. Si sulung yang suka baca, dari kecil sering menafsirkan sesuatu dan membuat hipotesa. Sayangnya, hipotesa maupun impian itu diceritakan kepada adiknya, yang menganggap si kakak tahu segalanya. Jadilah saat ada pertanyaan guru di SD, si bungsu mengangkat tangan tinggi-tinggi dan menjawab pertanyaan seperti apa yang pernah diucapkan kakak nya. Dan tertawalah pak Guru…sejak itu si bungsu berpikir dulu, dan lama-lama memahami bahwa kakaknya memang suka diskusi, dan apa yang dikatakan dimaksudkan untuk bahan diskusi, yang mesti dicari kebenarannya.

Si sulung juga menyayangi adiknya, suatu ketika dia terucap.”Saya sekarang paham, mengapa ibu kawatir kalau selewat Magrib aku belum pulang. Ternyata, jika Magrib adik belum pulang, aku juga deg-deg an.” Saya hanya tersenyum mendengar komentar si sulung. Sepulang dari Suryalaya,  saya menelepon si sulung. “Nak, ibu bersyukur, karena selama ini keluarga kita dijaga oleh Allah swt. Di saat yang diperlukan ada saja orang yang menolong kita, menyarankan hal yang sebelumnya tak pernah kita pikirkan. Dan ibu berterima kasih padamu ya nak, engkau menjadi anak-anak ibu yang baik, dan membuat ayah ibumu tersenyum, betapapun kenakalanmu saat itu, namun itu hanya karena keingintahuanmu, bukan nakal yang berbahaya.” Anakku hanya menjawab…”Bu, saya sudah tak ingat saat diajak ketemu psikolog, tapi saya ingat sekali saat diajak menonton film di bioskop…..dan itu pengalaman pertamaku bu. Makanya saya sedih jika Megaria mau digusur atau diganti bangunan lain, karena itu merupakan kenangan masa kecilku.”

Cerita ini, antara lain diilhami percakapan dengan si sulung, berharap agar sharing pengalaman ini menambah wawasan teman-teman yang masih muda, bahwa menjadi orangtua tidak mudah. Narkoba tidak datang  dengan sendirinya, perlu bekal iman yang kuat, keluarga yang bahagia, yang membuat anak senang tinggal di rumah dan bergurau bersama ayah ibu. Semoga kita semua menjadi orangtua yang bisa membahagiakan dan menjaga anak-anak kita, yang merupakan titipan Tuhan. Amien.

Iklan

Responses

  1. thanks a lot for sharing!!!!
    saya aja yang anak saya masih 4 th, suka kadang kepikiran ntar takut kalo dia abg gimana… hehee.

    sering2 ya cerita tentang anak2nya… 😀

    Arman,
    Sebetulnya saya juga belajar bersama anak-anak, serta mendengar pengalaman orang lain……perjalanan yang juga tidak mulus, terutama berhadapan dengan anak laki-laki (karena saya perempuan, sehingga tak tahu ukuran yang pas dalam menghadapi anak laki bagaimana)..
    Syukurlah saya selalu dilindungi oleh Nya…saya setiap hari cium pipi, walau apek habis main atau pulang sekolah dan naik bis…namun itu salah satu cara, apakah hari ini ada bau yang lain….(pls nak, jangan marah…ini cara ibu untuk menjagamu…dia bisa baca ini..hehehe)
    Perjalanan ke Suryalaya minggu lalu, membukakan hatiku, untuk banyak share disini, hal2 sederhana yang harus selalu kita perhatikan…namun tetap dalam koridor tidak mencurigai, dan menerima keadaan anak kita betapapun kondisinya.

  2. amiin.

    terima kasih sekali atas ceritanya bu, banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik yang semoga masih saya ingat nanti kalau saya jadi orang tua. jadi miris membayangkan seperti apa dunia yang akan dihadapi anak-anakku nanti. semoga diberi kekuatan.

    dari pengalaman berteman dengan si bungsu, sifat mudah percayanya masih ada loh bu, apalagi kalau kita ngomong dengan penuh percaya diri, walau se absurd apapun dia bisa percaya, hahaha

    Saya cerita pengalaman, justru setelah bisa semakin melihat betapa banyaknya karunia yang diberikan Allah swt pada keluarga kami.
    Memang perjalanan yang tidak mudah, nanti Syafiq bisa tanya sendiri pada si bungsu…namun saya percaya semua karena Allah. Dan kita hanya terus berusaha berjalan dijalan yang baik, sambil terus berdoa dan berbuat baik pada sesama.
    Iya..generasimu nanti makin sulit, globalisasi dunia tak bisa dihindari, ortu tak boleh gaptek, agar dapat terus berteman dan bersahabat dengan anak.

  3. Kok dulu waktu SMP-SMA, tak pernah ada yang nawari aku buat ngobat yah? Paling banter cuma merokok doang..

    Sssst..syukurlah nggak ada
    Dan kata om Al, kau tahan godaan…..ehh jangan besar kepala dulu…buktikan tetap jadi anak baik

  4. Waktu nonton Home Alone saya sudah mahasiswa Bu. Jadi, kalau anak ibu saat menonton masih anak2, berarti sekarang umurnya sekitar menjelang 28 ya?
    Pengalaman yang menarik Bu…
    Megaria sekarang nggak jadi digusur kok. Malah direnov menjadi XXI yang lebih bagus. Terus, ada kafe Garden lagi….
    Btw, si sulung tinggal di mana sekarang Bu? Di Jakarta juga kah?
    Salam Bu….

    Umur si sulung sekitar 27 tahun bang….dan sekarang bekerja di Denpasar, makanya saya kehilangan teman menonton.
    Jadi, sekarang saya dan suami kembali pokok, tinggal berdua saja..anak-anak jauh…hehehe

  5. makasih atas ceritanya dan banyak pelajaran yang bisa saya petik dan diambil hikmahnya
    mampir balik ya bu saya tunggu di padepokan

    Sama-sama, syukurlah kalau bermanfaat.
    Setelah mengunjungi ponpes kemarin, saya sadar bahwa orangtua tak boleh lengah sedikitpun, karena gejala anak yang kena pengaruh buruk bisa diamati sejak dini, dengan menjaga anak, mengetahui siapa teman mainnya, dekat dengan guru2nya (dalam arti bisa memonitor anak, sehingga tak terlambat mengatasi jika ada masalah)…juga memberi kebebaan agar anak mandiri dan penuh tanggung jawab. Pelatihan ini tak bisa hanya diserahkan kepada sekolah, justru dasar pendidikan di rumah, suasana rumah sangat menentukan.

  6. Terima kasih, Ibu, tulisan ini sungguh memberi pembelajaran bagi saya untuk menjadi ortu yang lebih berarti bagi anak-anak saya, apalagi yang sulung kini menjelang masuk SMP. Salam kekerabatan.

    Saya ingat pesan Kepala SMP saat ada pertemuan ortu, jangan sampai anak mau ditraktir oleh senior nya di luar komplkes sekolah. Jadi kalau mau jajan di kantin. Karena ditraktir anak merasa berhutang budi, suatu ketika tak bisa menolak jika diajak kegiatan di luar sekolah. Walau sibuk bekerja, hubungan saya dengan guru anak-anak sangat intens, kalau ada perubahan sekecil apapun terhadap anak saya, guru sudah melapor…dan saya sangat bersyukur karenanya

  7. Bu, dari judulnya aja aku udah diingatkan…:) terima kasih banyak karena berbagi pengalaman dan ilmu….

    Sama-sama Henny, syukurlah jika bermanfaat

  8. thanks for sharing Bu.. Saya juga sering terlalu cemas memikirkan apakah cara saya mendidik Vio sudah benar atau belum, cemas bagaimana kehidupan Vio waktu sekolah nanti, gimana kalo dia sudah besar dan lain sebagainya yang sebenernya ga perlu itu 😆

    perjalanan saya masih panjang ternyata Bu :mrgreen:

    Chic,
    Percayalah dengan kedekatan hubungan antara anak dan orangtuanya, maka Chic akan tahu jika ada suatu masalah, sekecil apapun masalah itu. Dan kita harus mau menerima kritikan orang berhubungan dengan perilaku anak kita, karena orang (tetangga, sahabat, teman kantor, guru dll), karena kritikan itu yang membuat kita waspada. Dan, saya lihat seringnya anak yang bermasalah, adalah hubungan di rumah yang kurang baik, ayah sibuk bekerja, padahal untuk anak laki-laki setelah umur 10 tahun perlu figur ayah, sering mengobrol dengan ayah, ada acara jalan-jalan sendiri dengan ayah atau kegiatan antar laki-laki (ini bisa dilakukan pada hari libur).
    Dan, jangan takut untuk minta bantuan ahli jika kita sendiri tak tahu….saya menjadi sering ketemu psikolog…hehehe….sambil belajar, mengurangi stres…juga untuk mengetahui apakah cara mendidikku sudah benar, pendekatan pada anak-anakku telah tepat.

  9. Melihat judulnya, saya tertarik untuk membaca sampai habis. memang dalam mendidik anak selalu diliputi rasa khawatir akan keseharian mereka. Sharing ibu dalam tulisan ini menambah wawasan saya untuk tetap menjadi terbuka akan kegiatan dan keseharian anak saya nantinya 😀

    Memang benar pak, hati ini (walau anak saya sudah besar semua, sudah lulus S1 dan S2) tetap saja masih kawatir..lha yang S3 dari Amrik aja bisa terkena, begitu juga anak umur 10 tahun.
    Tapi….kita tak boleh panik, tetap dekat anak-anak (ini kuncinya…dan juga saran psikolog/psikiater), sehingga kita tahu ersis langkah anak kita.
    Dan segera mencari pertolongan jika perasaan tidak enak…dan orang ini sebaiknya memang ahli sesuai umur anak kita….
    Terakhir, adalah berdoa setiap waktu (jika muslim setiap habis sholat….dan sholat malam), agar anak kita selalu dilindungi dan dijaga oleh Nya, dan berada di jalan yang benar.

  10. menjadi orang tua memang susah susah gampang ya bu? yang paling bikin kuatir kalo sekarang2 ini ya soal narkoba dan cara bergaul mereka yang memang beda dari jama ibunya dulu. mudah2an saya jg bisa jadi ibu yang baik buat anak2 saya. gak usah sempurna, baik aja cukuplah buat saya..

    thx for sharing 🙂

    Iya Venus….kalau dulu kita berpikir paling berat adalah anak usia balita, ternyata anak sudah besar pun masih ada risiko

  11. kalau orangtua lengah
    anak2 pun menjadi pongah
    dan menjadi salah kaprah……
    ah, jangan sampe lah…..:)

    Mudah2an tidak ya…
    Semoga kita bisa menjadi orangtua yang bisa bersahabat dengan anak

  12. Sepakat, Bu!
    Menjadi orang tua tidak mudah….
    Ada begitu banyak rasa yang kurasakan sejak jadi orang tua.. Bangga, sayang, cinta, kawatir… duh… tapi yang terbesar dari itu adalah bersyukur! 🙂

    Itu yang priceless!

    Iya Don…harus tetap bersyukur dan mohon dilindungi oleh Nya
    Namun kita juga harus terus berusaha, memberi lingkungan keluarga yang nyaman buat anak

  13. *peluk-peluk Bu Edratna*

    Makasih sharingnya ya, bu. Anak katanya adalah sumber kebahagiaan dan ujian. Jadi, tetap sabar ya, Bu 😉

    Ah, Lee sok tahu… *peluk-peluk lagi*

    Lee…kata orang2 yang lebih tua, jika kita mendapat cobaan, itu karena Tuhan akan meninggikan derajat manusia yang bisa mengatasi cobaan itu. Anak memang titipan Tuhan, yang harus kita sayangi dan diberi pendidikan yang baik, diberi lingkungan yang nyaman dan aman

  14. Bu,…banyak sekali yg saya petik dari tulisan ibu, terutama hal2 yang menyangkut tumbuh kembang anak.

    Saya ikutan jejak ibu, ikut konsultasi ke UI, dan hasilnya, Alhamdulillah…ditambah pula dengan membaca buku2 parenting.

    Juga kali ini kembali di ingatkan oleh ibu, thanks a lot for sharing bu…jangan bosan ya bu.

    Syukurlah kalau bermanfaat Tini

  15. jadi penasaran, bu, kalau mbak narpen dan mas ari baca tulisan ini gimana yah reaksi keduanya? he..he..
    kasih ibu memang sepanjang jalan yah, bu..

    Lha itu Ari (kunderemp) sudah memberi komentar…
    Kalau Narp biasanya cuma baca, jarang memberi komentar

  16. alhamdulillah, hr ini saya membaca tulisan Bu Ratna yg sarat dgn segala macam pengalaman berikut solusinya.
    Komunikasi dg anak dan gurunya memang sangat diperlukan,terlebih lagi dlm masa2 puber mereka, kita hrs bisa menjadi ortu sekaligus teman mereka ya Bu.
    Terima kasih banyak utk sharing yg indah ini Bu Ratna.
    salam hangat utk keluarga.
    semoga selalu sehat
    salam

    Benar, saya ingin berbagi…semoga bermanfaat
    Syukurlah guru, teman banyak memberi masukan selama anak-anak kami tumbuh kembang sampai dewasa, dan syukurlah keluarga kami terhindar dari narkoba. Namun komunikasi dengan guru, belajar dari pengalaman orang lain, dapat menambah wawasan…dan yang lebih utama, anak harus merasa nyaman jika di rumah sehingga dia tak mencari kenyamanan di luar sana

  17. Terima kasih, untuk pengalamannya, setiap kesusahan di akhiri kebahagiaan, setiap kebahagiaan di awali kesusahan, karena kesusahan itu yang membuat kita merasa bahagia

    Iya, saya bersyukur……

  18. Salam Takzim
    Mohon izin menyampaikan Award dirumah dijemput ya terima kasih
    Salam Takzim Batavusqu

    Terimakasih..
    Mohon maaf…masih di luar kota
    Dan akhir2 ini sibuk sekali, tak sempat blogwalking…..

  19. Ini kayak roda, dulu orang tua kita sendiri juga cemas sama kita, tapi hasilnya kita juga tetap hidup dan menghasilkan sesuatu. Jangan terlalu cemas lah . hehehe

    Lho!
    Ini kan cerita pengalaman…
    Memang tak perlu cemas berlebihan, tapi juga tak boleh diabaikan

  20. wah saya pasti jadi orang tua nanti, ternyata begitu sulitnya, pantas sering diomelin, mantab om articelnya Traveling free

    OM????

  21. […] (Bundadontworry), Om NH (The Ordinary Trainers), Pak Akhdian, Ariyanti (Saus Kecap), mas Abu Ghalib, Bu Ratna, Hari Mulya, Pak Sunarno Sahlan, Ciwir (Kaum Biasa), dan Yuli (Orange Float) Maaf ya kalau ada […]

  22. sharing yang bermanfaat, kekhawatiran itu sering muncul selaku sebagai orang tua. apalagi memiliki anak perempuan… 🙂

    Tak hanya anak perempuan lho,
    Anak laki-lakipun ada risiko….
    Zaman dulu memang yang lebih berisiko punya anak perempuan

  23. Waduh, awalnya saya kaget kirain beneran anak ibu kena narkoba. Saya punya sodara sepupu yang jadi korban narkoba akibat ketidaktahuan. Iya bu, ga tau. Hanya karena ikutan pesta ulang tahun di rumah teman, dijebak oleh kawan-kawannya untuk mencoba (tanpa diketahui), eh ga taunya ga lama kemudian jadi ketagihan.
    Mudah-mudahan Allah selalu melindungi dari kejahatan makhluk ya bu. Ternyata yang jahat itu ada juga disekitar kita.

    Syukurlah, kami masih dilindungi oleh Nya

  24. Mbak mengatakan di blognya Mbak Yani kalau tulisan mbak itu ecek2. Ecek-cek apa? Menulis dengan hampir 3 halaman membutuhkan suatu keterampilan mbak. Saya aja mungkin paling banter 1 halaman. Ah….mbak terlalu merendah. Tulisan mbak membuktikan bahwa mbak adalah penulis yang handal bukan ecek2. 😛

    Syukurlah kalau bermanfaat
    Lha iyalah ecek-ecek..lha cuma cerita pengalaman sederhana

  25. jd orang tua emang harus bener2 put they eyes on their child ya buw, thanks for sharing..

    Yup betul…..

  26. their eyes maksud saya *typo*

    Nggak apa-apa Gita…thanks kunjungannya
    Saya akhir2 ini sibuk, jadi jarang blogwalking, menulis blog juga keteteran

  27. Ibu… memang sulit ya menjadi orang tua, tapi saya selalu melihat kekuatan di keluarga ibu adalah komunikasi. Saya juga menginginkan komunikasi yang baik dgn ke dua anak saya. Dan memang benar orang tua harus alert terus, pandai membaca raut muka juga.
    Wah jalanku masih panjang nih bu

    EM

    Imel, saya melihat Imel bisa menjaga anak-anak, karena Imel memahami bahwa anak-anak tak sekedar diberi uang namun juga perhatian penuh. Perhatian penuh ini juga tak sekedar memanjakan, memberi makanan dan pakaian yang bagus, namun memberikan nilai-nilai moral yang baik..justru disini kekuatan ibu untuk mendidik anak-anaknya.
    Dan komunikasi ini ternyata sangat penting, bahkan sampai mereka dewasa nantinya

  28. Iya bu.. memang tidak boleh lengah..
    apa pun bisa terjadi.. 😦

    Mudah2an adik2 lia semua masih bisa ditangani..
    makasih sharingnya

    Betul Lia, bahkan sampai mereka desawapun, harus tetap menjadi sahabat agar bisa berbagi cerita

  29. tak sekedar menafkahi tapi harus mendidik anak2nya….apalagi tugas seorang ibu…sangat berat…
    bagus banget….makasih udah share…

    Sama-sama

  30. wah yang komand para pakar semua…….jadi minder
    salam hangat dari blue

    Salam hangat juga Blue

  31. senang sekali baca tulisan bunda…, desya jadi ngebayangin keluarga yang lengkap dan saling perhatian, saling jaga, indah ya.. 🙂

    desya pernah diajak mama ke psikolog, lantaran suka ngerjain PR kakak, trus suka bertingkah aneh, saat sedang marah sama kakak tiba” bola lampu bisa padam gitu, trus kata psikolog ada aura yang keluar saat saya sedang marah…, sekarang semua sudah berlalu 🙂
    sekarang gag pemarah lagi koq

    ternyata menjadi orang tua itu tidak mudah ya bun…, salut deh sama bunda, bisa mendidik kakak dengan benar, bunda termasuk sosok yang desya kagumi lho 🙂

    Desya, orangtua memang wajib memahami sifat anak-anaknya, yang tak sama. Dan psikolog sangat membantu untuk memahami perilaku kita, melihat kekuatan dan kelemahan kita, serta bisa berdiskusi bagaimana solusinya. Jadi, orang yang ke psikolog bukan orang yang bermasalah, namun justru jalan untuk mengenal kemampuan diri sendiri.

  32. Habis Shalat Shubuh, saya iseng nyari bahan tulisan di website saya usahawansejati.net temanya tentang persiapan masa pensiun. eh… ketemu web ibu. Saya coba baca beberpa tulisan, ternyata tulisan ibu sangat luar biasa. Saya akan banyak belajar dari ibu.

    Terima kasih telah memberi banyak inspirasi.

    Sama-sama pak

  33. mbakkkkk…sampai mengalir air mata saya membaca tulisan indah mbak Eny…
    Saya ngga dipecaya Allah untuk mengasuh anak saya sendiri, tapi ponakan saya banyak..dan semua dekat sering curhat ke saya…

    sekarang mereka sudah besar2…dan tetap mencintai saya…
    Alhamcullilah mereka manis2…..seperti putra putri mbak Eny
    rasanya bersyukur sekali ya mbak???

    Saya bersyulur telah melewati masa-masa yang sulit. Masa anak-anak remaja adalah masa yang sulit, karena mereka sendiri sedang mencari jati dirinya.
    Dan mencintai keponakan sama seperti mencintai anak sendiri Wieda, bahkan saya juga punya beberapa anak asuh, yang sekarang menjadi seperti keluarga.

  34. bu,
    kok saya jadi terharu gini ya… nanti kalau saya jadi orang tua bagaimana ya… ngurus diri sendiri aja nggak becus 😀
    salut bu, sekarang putra-putrinya jadi semua.

    Hallo Ruth, apa kabar? Lama tak saling mengunjungi…
    Sibuk dan apa masih di Bandung?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: