Oleh: edratna | April 27, 2010

Kondangan

Kapankah anda mulai mendapat undangan untuk menghadiri acara pernikahan? Maksudnya undangan buat kita sendiri, bukan karena menemani ayah ibu atau lainnya. Saya sendiri sudah lupa kapan tepatnya pertama kali mendapat surat undangan untuk menghadiri pernikahan teman, kemungkinan sejak mulai bekerja. Kebetulan teman satu angkatan saya, semuanya  menikah setelah lulus kuliah dan bekerja, dan karena lokasi kerjanya terpencar, maka di awal bekerja undangan berasal dari rekan kerja, bukan rekan kuliah.

Sebulan ini saya mondar mandir Jakarta Bandung karena banyaknya undangan, tentu prestasi ini membuktikan bahwa saya sudah kena faktor “U” besar.  Bahkan ada beberapa yang bertumpuk pada jam dan hari yang sama, jika demikian maka saya akan memilih hadir pada acara akad nikah. Tapi bagaimana jika tabrakan nya pada kedua lokasi yang jauh, antara Bandung dan Jakarta, misalnya. Apaboleh buat, akhirnya memilih siapa yang paling dekat dengan kita, entah karena hubungan kekerabatan, sahabat atau kita terlanjur sudah komitmen sebelumnya. Saya menyadari, bahwa bagi yang mengundang, kedatangan tamu saat ini benar-benar harus disyukuri karena untuk bisa hadir di sela kesibukan benar-benar menyempatkan waktu, belum kena macet di jalan.

Akhir-akhir ini saya terpaksa memilih mana undangan yang bisa saya hadiri, karena kalau diikuti nyaris setiap akhir pekan acaranya hanya kondangan, agak lega jika bulan puasa, tapi di bulan Ramadhan kesibukannya padat. Mungkin hanya di bulan Suro agak sepi, sehingga bisa bernafas lega. Duhh..kok segitunya ya….Entah kenapa, rasanya memang karena faktor “U” pula, menyebabkan badan mudah lelah. Bolak balik Jakarta Bandung, yang dulu paling tidak bisa dilakukan dua minggu sekali tanpa lelah, sekarang terasa sekali mudah capek, walau sudah pakai kendaraan sendiri dan ada sopir. Apalagi kota Bandung di akhir pekan, depan rumah saya yang dulu sepi, sekarang jika Sabtu Minggu menjadi rame, karena banyak pengendara yang mencoba mencari jalan alternatif, agar tidak  kena macet. Akibatnya, jika orang lain ke Bandung  untuk jalan-jalan, saya hanya istirahat, selain datang ke acara kondangan.

Kebetulan akhir pekan kemarin, ada dua undangan yang kebetulan dari sahabat dekat. Salah satunya merupakan sahabat adik saya sejak SMA, yang berkelanjutan sampai sekarang. Istrinya merupakan sahabat adik bungsu saya, sedang kakaknya teman saya saat kecil. Nahh, jadi saat hadir ke acara, semua menjadi saling kenal…dan yang mantu kenal suami karena satu alumni, anaknya seangkatan dengan si bungsu. …ribet ya, dan saling berkelindan (meminjam istilahnya Yoga, yang sudah lama tak aktif lagi ngeblognya). Jadi kondangan pada hari Sabtu malam adalah untuk acara Madiunan, sekaligus reuni teman SMA I, sedang pada hari Minggu undangan datang dari saudara jauh, yang merupakan adik kelas suami semasa kuliah, dan sahabat satu SMA dengan adik bungsu saya. Berhubung hari Senin ada acara di Jakarta, akhirnya diputuskan, kami hadir pada acara akad nikah pada Minggu pagi….dan rupanya ibu teman tadi kenal baik dengan alm ibu saya. Waduhh, ini namanya saudara yang ternyata ketemu di kota lain yang jauh dari kampung. Juga ketemu Ardianto, blogger yang selama ini hanya kenal melalui blognya. Dan suami ketemu teman lama, yang telah 28 tahun tak ketemu. Sedangkan saya sendiri, ketemu teman yang terakhir ketemu adalah 42 tahun yang lalu.

Kalau dipikir, sebetulnya jika yang punya gawe teman dekat atau saudara, lebih menyenangkan jika datang saat akad nikah, karena suasananya lebih sakral, serta kekeluargaan. Disamping itu kita lebih punya kesempatan mengobrol dengan teman yang mengundang, juga teman2-teman yang hadir. Setelah tidak aktif bekerja, acara kondangan kadang menjadi ajang reuni, pernah saya ketemu mantan tetangga satu kompleks yang sekarang semua telah pindah ke rumah sendiri, dan jarang ketemu. Obrolanpun menjadi asyik, karena kenangan tennis bersama, senam, dan acara-acara yang melibatkan warga kompleks yang dulunya mungkin dirasa biasa-biasa saja, sekarang menjadi indah untuk dikenang.

Acara kondangan di Bandung juga mengakrabkan saya dan adik kandung, maklum setelah berkeluarga dan sama-sama sibuk bekerja, kami menjadi jarang ketemu. Jika saat anak-anak masih kecil, kedua adik saya selalu berlebaran dan tidur di rumah saya, sebagai kakak tertua, setelah anak-anak besar menjadi sulit ketemu apalagi saat anak-anak dan keponakan juga telah bekerja bahkan ada beberapa yang sudah menikah. Jadi, acara kondangan kemarin, juga kesempatan saya untuk mengobrol dengan adik, syukurlah suami memahami sehingga membiarkan saya dan adik mengobrol tak henti-henti, hanya diseling tidur. Rencana jalan-jalan di Bandungpun menjadi batal, dan akhirnya hanya jalan kaki ke mal di dekat rumah. Pulangnya ingin naik becak, sambil menikmati indahnya kota Bandung saat malam…..entah kenapa rasanya kok becak Bandung terasa tinggi ya sekarang. Dan menyenangkan masih ada becak dari Mal ke rumah saya.

Dan ini pertama kalinya buat adik saya, yang tinggal di Semarang, untuk menikmati perjalanan melewati tol Cipularang. Bagi yang pertama kali lewat tol ini, pemandangan sungguh indah, dan semoga keindahan ini tak dirusak dengan bertambahnya pom bensin, lengkap dengan sarana untuk istirahat dan makan. Jalan yang meliuk-liuk, dengan pepohonan dan gunung dibaliknya sungguh menyenangkan. Dan keindahan ini hilang saat memasuki Tol Cikampek, yang ruwet dan banyak kendaraan truk yang jalan pelan di tengah. Betapapun, adanya Tol sangat menolong perjalanan Bandung-Jakarta dan sebaliknya, walau berakibat kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta dihentikan karena rugi.

Iklan

Responses

  1. saya mulai mendapat undangan setelah lulus kuliah bu….
    memang kalau untuk keluarga dekat sebaiknya hadir pada saat akad nikah. karena biasanya yang diundang hanya lingkaran terdekat saja. berbeda dengan resepsi yang biasanya lebih banyak yang diundang.

    Betul Ira…kita lebih akrab jika datang ke akad nikah, terasa lebih sakral. Biasanya yang diundang saat akad nikah hanya teman dekat atau keluarga

  2. seinget saya undangan nikah waktu saya masih kuliah…., karena sahabat saya menikah waktu masih kuliah n panitianya temen2nya semua deh

    Paling seneng kalo dateng ke pernikahan bisa jadi ajang silaturahmi…… dan pastinya sambil mencicipi hidangannya donk mbak…..

    Iya, kalau masih kuliah, tentu teman2 bisa jadi panitia dan bisa datang semua…

  3. undangan kawinan pertama yang saya dapet tuh pas sma. yang married itu kakak temen saya. kalo undangan kawinan pertama yang bener2 temen yang married tuh pas awal kuliah. temen kuliah saya ada yang married muda… karena MBA. haha. 😛

    setelah masuk umur 25 tuh undangan kawinan jadi membanjir. emang kalo lagi musim, bisa tiap weekend ada undangan. dan bisa barengan juga harinya. kalo saya seringnya sih walaupun sama2 di jakarta, tetep saya datengin 1 aja. males dateng ke 2 tempat. soalnya kalo lagi musim kawin, biasa jakarta jadi macet banget juga.

    gara2 saking banyaknya undangan, saya jadi paling males lho ke kawinan orang. hehehe. apalagi sejak udah married. 😛 kalo sebelum married kan ya kudu dateng, supaya pas saya married orang2 juga dateng. pas setelah married, jadi males dateng, soalnya kan kita udah married ini. huahahaha. jahat ya mikirnya… 😛

    saya males ke kondangan karena harus pake kemeja, pake jas. males banget dah. 😛

    tapi sejak pindah kemari, jadi gak pernah dapet undangan kawinan (so far baru pernah dapet 1 undangan kawinan disini, selama 2 th tinggal disini! gile ya :P), jadinya miss juga lho ama acara2 kawinan di indo. hahaha. soalnya sebenernya asik juga ya kalo ke acara kawinan, bisa ketemu ama temen2 lama… sodara2… 😀

    Di Indonesia, acara pernikahan memang heboh banget ya….kayaknya memang perkawinan antara dua keluarga, jadinya ajang reuni.
    Cuma kok rasanya saya lebih suka jika tamu terbatas, tak berdesakan, sehingga lebih nyaman

  4. dah lama nggak pernah kondangan.. wekekke.. beruntung juga sih bu .. soalnya sering ditanya “kapan nyusul? 😆

    nahh bingung kan jadinya lia 😀

    Kalau ditanya kapan nyusul, dijawab aja dengan senyuman, atau bilang bagaimana kalau dicarikan…hehehe…padahal udah punya pasangan…

  5. ..
    Saya belum banyak dapat undangan buk..
    Jadi tambah seneng kalo dapet, karena bisa ketemu teman2 lama..
    🙂
    ..

    Itu tanda Septa masih muda hehehe

  6. Wah …. istilah faktor ‘U’ makin populer nih … 😀

    Iya Mbak, saya juga agak (cuma agak lho) selektif menghadiri undangan pernikahan. Soalnya sering menerima undangan dari orang yang rasanya kurang kami kenal. Padahal untuk menghadiri undangan resepsi kan perlu waktu dan tenaga, apalagi kalau tempatnya jauh. Kalau yang mengundang tidak begitu kenal, rasanya kehadiran kita juga tak banyak berarti bagi dia maupun bagi kita … 😦

    Tapi kalau Mbak Enny besok ngundang mantu, pasti saya datang! Gimana kabar Ari dan Ani? Semoga sehat dan bahagia semua ya 🙂

    Bener ya mbak…..cuma saya sendiri belum tahu kapannya, lha masih asyik kuliah lagi…

  7. Undangan pernikahan yang saya terima pertama kali waktu saya masih duduk di kelas 1 SMA.

    Waktu itu teman sekelas saya menikah dan ketika kami bertanya-tanya kenapa ia begitu cepat menikah.. oh ternyata istrinya sudah hamil duluan hehehe..

    Uniknya sesudah itu semakin banyak teman mengundang saya menikah baik yang nikah normal maupun nikah terburu-buru hehehe

    Wahh hebat dong Don, karena berani undang-undang…
    Temanku menikah diam2 saat SMA..bilangnya pindah sekolah, jadi ya nggak tahu kalau menikah…baru belakangan tahu sebabnya

  8. Setamat sma waktu aku kuliah sudah diundang acara pernikahan kawan. ketika berfoto sama pengantin kebetulan pengantin perempuannya kawanku pas kita foto 3 orang bersama suaminya. eh orang tua yang pengantin laki2 malah bilang wah jangan bertiga di foto nanti diambil , haaaaaaahhhhh

    wah emang mau aku ambil apa pengaten wanitanya. *kok komentnya malah ngomongin futu seeh*

    Met pagi menjelang siang ya

    Bagi beberpa orang memang kawatir jika difoto bertiga..tapi selama ini saya aman-aman aja foto bertiga

  9. Saya mulai mendapatkan undangan yang ditujukan atas nama saya sendiri ketika saya mulai bekerja. Habis, gimana ya? Kalau yang dirumah, banyak sih undangan, tapi semuanya ditujukan kepada ortu dan saudara yang udah nikah. Kasihan banget sih saya 😦

    Hehehe…memang biasanya mulai dapat undangan saat telah bekerja

  10. Benar juga, Bu, akhir-akhir ini undangan terus mengalir dan mengalirlah sebagian “berkat dari Tuhan” untuk yang mengundang.

    Tapi tetap dapat dinikmati karena nilai kekerabatan dan pertemanan di dalam hidup ini ternyata sangat penting, ya Bu. Salam kekerabatan.

    Kalau udah mulai banyak undangan…berarti faktor U nya makin naik pak….hehehe

  11. pertama kali dapet undangan kawinan untuk diri sendiri kapan ya? kayaknya sih jaman-jaman pertengahan kuliah gitu deh Bu 😀

    Berarti saat kuliah, teman Chic udah ada yang menikah?

  12. kalo saya sih kayanya pas udah kerja deh bu.. soalnya pas kuliah, belum banyak temen-temen sepantar yang menikah, jadi ndak dapet undangan deh hehehe…

    Teman kuliah saya juga menikah setelah lulus dan bekerja…jadi selama kuliah tak pernah ada undangan untuk menghadiri pernikahan

  13. saya termasuk orang yg “malas” datang kondangan. malasnya karena jadi merasa asing dengan si penganten, karena mereka biasanya toh hanya “dipajang” di pelaminan. saya lebih suka datang waktu pemberkatan atau akad. dan kalau teman dekat, saya datang waktu malam midodareni atau malah sesudahnya. biar bisa ngobrol. hehehe. tapi kalau hubungannya tidak terlalu dekat, saya ya datang pas resepsi.

    Resepsi pernikahan kayaknya hanya sekedar menulis daftar hadir, salaman dan segera cari makanan….
    Jika zaman dulu ada istilah USDEK, karena makanan diantar pada para tamu yang duduk di kursi dengan urutan Unjukan (minuman), Sop, Dahar (makan nasi dan lauk pauk), Es podeng, dan Kondur (pulang)…..

  14. Iya nih, aku termasuk orang yang kurang suka jalan, tapi kalo ke kondangan aku suka, *makan makan, ehehhee ngga seh, cuman ya sayang ya, aku jauu banget, jadi untung untungan waktunya…

    Hmm berarti Raffael masih muda, karena masih jarang dapat undangan nikah

  15. teman kuliah pertama yang menikah nggak ngundang2, Bu, mungkin karena waktu itu dia masih kuliah. teman2 tahunya malah belakangan hehe.

    btw, kalau ke Bandung memang lebih cepat via Cipularang, tapi soal bagusnya kok saya masih lebih suka Puncak ya.. asal nggak macet, gitu 😀

    Saya kok males ya lewat Puncak, keindahannya jauh berkurang…apalagi di kebun teh Gunung Mas, banyak warung-warung yang menutupi keindahan perkebunan tsb.

  16. saya agak jarang dapet undangan mbak.. paling2 temen sekantor aja kl ada yg mau nikahan. di luar itu, teramat jarang. soalnya saya termasuk yg masih baru dalam dunia paska pernikahan hehe., ditambah lagi banyak temen2 yang lost kontak. akhirnya.. ya kondangannya jarang jarang gt..

    Malah enak dong…yang bingung kan kalau dapat undangan bertumpuk, di tempat beda, dan semuanya teman….

  17. setuju Bu, dgn umur yg makin merambat ini, undangan teman2 utk mantu pun makin sering ya.
    apalagi kalau masuk bulan haji, duh, bingung melihat undangan yg banyak , dan akhirnya juga akan ada dana ekstra yg mengikuti 🙂
    Tapi bahagia sekali, masih bisa hadir di undangan teman dan kerabat 🙂
    salam

    Banyaknya undangan memang sejalan dengan naiknya faktor “U”…hehehe
    Namun senang, karena mereka masih mengingat kita, dan berharap kita hadir

  18. Dapat undangan pertama ya pas lulus kuliah. Sejak saat itu semakin banyak undangan nikah entah dari teman sekolah, kuliah, ataupun teman kerja. Solusinya, saya sedia sekotak penuh amplop kosong untuk jaga-jaga… 🙂

    Lulus kuliah memang periode dimana banyak teman langsung menuju jenjang pernikahan…walau ada juga yang cari kerja dulu, apalagi pekerjaan yang mensyaratkan tidak menikah dulu selama pendidikan.

  19. bunda…selalu dateng undangan buatku setiap minggu 😀 bahkan ada teman2 yg mengirimkan seragam kawinan jauh2 dari jakarta buatku…hahahahaha…

    kondangan itu menyenangkan bun, aku setuju karena bisa bertemu teman lama, reunian tanpa biaya 😛 *ehhh masukin amplop deng :P*

    Undangan kadang mirip ajang reuni ya…atau ketemu teman lama yang tak disangka-sangka

  20. pertama dapat undangan nikah dari temen kampus, di Padang…dan semua transport disediakan (maklum org kaya) tapi karena waktu itu saya juga tidak ada di Indonesia, tidak bisa pergi, sesudah itu banyak dapat undangan dari kakak kelas.
    Kalau di sini sih saya ngga mau dapat undangan bu, soalnya kawinan di sini mahal, amplopnya sudah ditentukan. Kalau di hotel minimum 30.000 yen (3 juta rupiah) hehehehe

    EM

    Mahal sekali ya…..berarti orang hanya datang kalau benar-benar sahabat dekat.
    Kenapa mahal sekali ya Imel?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: