Oleh: edratna | Mei 2, 2010

“Bisakah kita mempertahankan api cinta sampai tua?”

Belakangan ini seiring dengan semakin banyaknya undangan, saya dan suami lebih memilih datang pas acara akad nikah. Acara akad nikah biasanya ada ceramah atau pesan kepada pengantin, yang juga bermanfaat untuk para hadirin. Mengamati dan mendengarkan berbagai macam ceramah yang pernah saya dengar sebelumnya,  ceramah yang disampaikan oleh bapak Haidir Bagir pada akad nikah yang saya hadiri pada tanggal 1 Mei 2010 di Gedung Kautaman TMII,  membuat saya merenung. Beliau mengatakan, bahwa pernikahan untuk saat ini adalah lebih sulit dibanding beberapa tahun lampau, dengan semakin banyaknya godaan, oleh karena itu diperlukan kekuatan cinta dari sepasang suami isteri,  untuk tetap menjaga,  supaya bara api cinta tidak pernah padam barang sedetikpun.

Bapak Haidar Bagir, merupakan alumnus Teknologi Industri ITB 1982, mengenyam pendidikan pasca sarjana di Pusat Studi Timur Tengah Harvard University, AS 1990-1992, dan S-3 Jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI) dengan riset selama setahun (2000 – 2001) di Departemen Sejarah dan Filsafat Sains, Indiana University, Bloomington, AS. Beliau lebih dikenal sebagai Direktur Utama penerbit buku-buku Islam terkemuka di Indonesia, PT Mizan Publika.

Beliau menjelaskan bahwa sampai saat inipun, beliau masih tetap belajar, bagaimana menjaga api cinta itu tetap menyala di hati  beliau dan isteri. Pada saat menikah, kedua pasangan membawa family matters masing-masing, yang sangat berbeda, baik dari cara hidup, sensitivitasnya, maupun cara mengungkapkan perasaan. Pada saat ada pernikahan, umumnya orang akan mendoakan  semoga pernikahannya menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan wa rahmah.

Arti mawadah: cinta, harapan

Mawadah ini biasanya berkobar-kobar saat kita masih muda. Dan rasa cinta ini diharapkan bisa berlanjut sampai tua, saat bentuk badan sudah berbeda, sudah banyak kerutannya, dan fisik sudah tidak menarik.

Arti wa-rahmah adalah kasih sayang

Perasaan cinta kasih yang tak ada hubungannya dengan fisik. Diharapkan suami isteri tetap menjaga penampilan sampai tua, agar pasangannya dapat menemukan rasa cinta yang terus menyala, namun jika mawadah hilang, diharapkan masih ada wa rahmah atau rasa kasih sayang. Dengan mawadah dan warahmah, diharapkan akan mewujudkan keluarga yang sakinah, yaitu keluarga yang tenang dan tenteram.

Keluarga yang tenang dan tenteram akan dapat menaungi anak-anak yang dilahirkan, membuat anak-anak bahagia,  merasa aman dan nyaman. Karena pada dasarnya, rumah yang indah adalah rumah yang semua anggota keluarga (ayah, ibu dan anak-anak) merasa aman dan nyaman.

Bapak Haidir Bagir memberikan contoh, bahwa Rasulullah pernah berkata “Laki-laki yang baik, adalah laki-laki yang baik pada isterinya, serta laki-laki yang siap membantu isterinya.” Beliau juga menceritakan, bahwa majalah Time pernah membuat laporan utama dengan judul “Revolusi Viagra”. Biasanya, dua minggu kemudian, majalah tersebut akan mengumpulkan surat pembaca yang memberikan komentar tentang laporan utama. Ada komentar yang menarik, dari seorang isteri yang mengatakan: “Viagra saya adalah saat saya melihat suami saya membantu saya kerja di dapur. Dengan demikian saya tak membutuhkan Viagra.” Kita harus selalu memperbaiki diri, bahkan sampai tua, namun at the same point, kita harus menerima pasangan hidup kita apa adanya. Dengan demikian, api cinta dapat dipertahankan untuk terus menyala.

Ceramah pak Haidir Bagir singkat dan padat, namun banyak sekali point yang diperoleh dan menjadi inspirasi kita. Saya ingat pendapat Mario Teguh dalam suatu acara di TV, bahwa hubungan suami isteri yang bertahan lama adalah hubungan yang bersahabat. Bukankah jika kita bersahabat, kita rela membantu sahabat kita, membahagiakan sahabat kita, bahkan kalau perlu mengorbankan nyawa kita.

Catatan:

Saya pernah mendapat email dari sahabat muda yang saat itu baru menikah, kedua suami isteri  melanjutkan S3 di luar negeri,  berbeda negara dan lintas benua. Sahabat muda tadi mengirim email, agar saya mau menulis di blog,  cara mempertahankan api cinta suami isteri sampai akhir hayat. Saat itu saya tak berani menyanggupi, karena saya pun masih belajar, walau perkawinan saya telah berlangsung 29 tahun lebih. Namun, mendengarkan ceramah pak Haidir Bagir, dimana beliau juga telah menikah lebih dari 28 tahun, namun masih merasa harus belajar, saya memberanikan diri menulis artikel ini, yang saya ambil dari ceramah pak Haidir.

Semoga bermanfaat bagi kita semua, walau saya tak sempat mencatat semua ceramah bapak Haidir Bagir (maklum  hadir di undangan, kan hanya bawa tas kecil).

Sumber Bacaan:

Ceramah pernikahan oleh bapak Haidir Bagir

http://hauzah.wordpress.com/2007/08/31/wawancara-haidar-bagir-membantu-temukan-momen-a-ha/

http://ariana-myjourney.blogspot.com/2009/04/sakinah-mawadah-wa-rahmah.html

Iklan

Responses

  1. Harus bisa….. harus…
    soalnya kalo nggak, urusannya bisa runyam…

    Amien

  2. benar sekali bunda, desya pernah baca, anggaplah pasangan hidup itu sebagai sahabat dan patner, biar hubungan tetap harmonis sampai tua gitu 🙂

    owh iya, kemaren sudah nanya alamat bunda sama temen, insyaallah kalau ntar acaranya gag jadi mo maen ke tempat bunda 🙂 tapi kalau acaranya jadi mungkin lain waktu bunda 🙂

    terima kasih ya bunda 🙂

    Nggak apa-apa Desya, kabari jika jadi ke rumah ya…tapi kayaknya hari ini nggak kemana-mana…ada kerjaan yang harus diselesaikan, jadi di rumah saja

  3. dengan menghayati secara baik makna pernikahan, insya Allah api cinta itu akan bertahan selamanya. 🙂

    Amien
    Saya juga berharap seperti itu, Uda

  4. Pernikahanku sudah berjalan 18 tahun lebih, dan aku masih terus belajar Bunda. Makasih untuk pencerahannya… 🙂

    Betul mas Nug, seperti yang dikatakan pak Haidir Bagir, kita terus menerus belajar, mengenal pasangan kita

  5. terima bu, atas postingannya, salah satu yg bikin saya belajar utk menapaki kehidupan selanjutnya 😉

    Iya Arul, bagi-bagi pengalaman…..
    karena sayapun masih terus belajar

  6. Suatu hari aku melihat seorang kakek tua dituntun oleh seorang nenek. Walopun si nenek belum terlalu tua, tapi kakeknya udah kelihatan lebih tua…

    mungkin mereka sedang menikmati cinta di usia senja.

    Mungkin…

  7. wah, saya ingin banyak belajar dari ibu tentang bagaimana cara mempertahankan kasih sayang hingga lanjut usia, yang dikatakan pak haidar bagir memang benar, bu, saat ini godaan hidup berumah tangga jauh lebih berat jika dibandingkan dengan masa2 sebelumnya.

    Setiap hari masih terus belajar pak….mengenal pasangan, dan juga belajar mencintai dengan cara yang berbeda sesuai perkembangan usia pernikahan

  8. Benar-benar saya harus belajar dari “pendahulu-pendahulu”, sebab usia perkawinan kami yang baru 12 tahun tentu sangatlah membutuhkan “energi” dari banyak sumber, termasuk tulisan Ibu ini. Terima kasih. Salam kekerabatan.

    Walau sudah lebih dari 29 tahun, saya tetap masih belajar pak….karena setiap tahun, masalah yang dihadapi berbeda, perkembangan fisik juga berbeda….

  9. usia perkawinan kami sudah 25thn, alhamdulillah, kami masih sama2 mau terus belajar agar awet sampai usia senja.
    Terimakasih banyak Bu Ratna telah menurun kan tulisan ini, sangat berharga utk bekal kami sekeluarga.
    Dan ceramah dr Pak Haidar Bagir itu, benar2 indah ya Bu.
    salam hangat utk keluarga
    semoga selalu sehat.
    salam

    Iya bu, sering mendengar ceramah pas akad nikah, namun ceramah pak Haidir Bagir ini padat dan indah….tak bertele-tele

  10. Tantangan terberat dari apapun itu adalah mempertahankannya, Bu 🙂

    Betul Don..biasanya orang semangat saat mengejar, tapi lupa saat mempertahankan dan merawatnya.
    Semoga saya, Donny dan teman-teman lain tak lupa merawat apa yang telah kita miliki ya

  11. Bu, semoga saya bisa
    postingan ini pas buat saya yg hendak menikah 🙂

    Hehehe…iya, kapan nih resminya?
    Selamat ya….

  12. Eh buat yang udah nikah juga cocok lho.

    Justru untuk yang sudah menikah

  13. ibu, apakah seorang remaja yang menyukai lawan jenisnya selama lebihdari 4 tahun itu wajar? atau seperti anak yang “tua terlalu dini”?

    Saya tak paham pertanyaanmu dan bukan wewenang saya untuk menjawab…bisa tanyakan pada psikolog

  14. Dulu sempat mewaspadai yang namanya setahun pertama, lima tahun pertama, dan tahun-tahun kritis selanjutnya.
    Tapi ternyata waktu berjalan begitu cepat, tak terasa sudah bertahun-tahun menikah.

    Ternyata…lama-lama bisa menjadi teman seiring, sepenanggungan dan sahabat dikala suka dan duka ya pak…
    Semoga sukses pak….

  15. penasaran juga apakah nantinya kami bisa mempertahankan api cinta dalam rumah tangga, bukan sekedar menunaikan kewajiban atau ibadah saja 😀 mudah2an ya bu.. insyaAllah

    Amien

  16. iya harus sama2 berusaha untuk mempertahankan ya…

    dan mesti banyak belajar juga.. ya dari pengalaman2 orang…. kayak baca postingan ini… 🙂

    thanks for sharing!!

    Kita memang tak pernah berhenti belajar….

  17. 🙂

  18. Saya juga tidak tahu pasti bisa menjaga api cinta pada istri, karena selama ini saya dalam menunaikan hak-hak istri masih kurang.

    Semoga bisa memperbaiki setelah ini

  19. Saya sering “mbrebes mili” Bu bahkan saat mendengarkan pembawa acara menghantarkan acara akad nikah, apalag saat ceramah / khutbah nikah …

    Batul pak, sering sangat menyentuh…
    Tapi ada juga yang menurut saya kurang pas…atau saya yang pemilih ya

  20. subhanallah..

    Ibu bagus tulisannya, mudah2an akan selalu mengingatkan saya untuk terus belajar dalam berbabagai hal ketika mengarungi hidup berumah tangga ..

    Betul Aldi, sayapun masih belajar terus

  21. saya baru mau mulai… moga-moga ke depannya bisa mempertahankan

    Amien

  22. yup..tiap hari harus ada “kemauan” untuk belajar…tiap hari harus dikuatkan berapa lamapun kita menikah….
    dan belajar ttg “cinta” adalah hal yg tersulit…yg kadang membuat putus asa.
    kata sahabat saya, setiap hari kita harus berjuang untuk membuat “cinta” tetap menyala.

    Yup …setuju…setiap hari kita harus belajar dan berjuang untuk mempertahankan cinta kita

  23. Dengan saling pengertian dan terus menjalankan peran masing-masing dengan baik tanpa tekanan, insya Allah sebuah pasangan akan awet selamanya… 🙂

    Betul Uni…saling pengertian, itu kuncinya

  24. thx ibu, tulisannya bgitu simpel untuk dimengerti. mawadah warohmah. amiin buat kita semua.

    Syukurlah, jika bermanfaat

  25. Saya dan suami masih harus terus belajar mempertahankan api cinta kami mengingat usia pernikahan kami yang masih belia, dan perjalanan kami masih lah sangat panjang, dan kami butuh satu sama lain untuk saling menguatkan dalam setiap kendala.

    Terima kasih sharingnya , Bu Enny…

    Betul Nana…kita tak pernah bisa berhenti belajar….


  26. saya pernah menonton acara TV satu jam bersama Krisbiantoro..
    meski sudah berumur tapi masih mesra dan becandaan dengan istri..
    masa’ di acara live suami istri itu masih aja cubit-cubitan..
    lucu banget…
    ..
    jadi kepengen nanti punya pasangan yang teteup mesra dan hangat terus sampai Tua..
    ..
    mungkin kuncinya komunikasi ya Buk..
    😉
    ..
    -AtA-
    ..

    Komunikasi memang kuncinya Ata

  27. Poin di atas benar jika kita akan terus belajar karena kita memang tidak sempurna. Mendengarkan, bukan hanya mendengar, pasangan kita adalah tidak mudah, tapi kalau latihan terus kan menjadi sesuatu yang natural. Semoga langgeng terus ya..

    Betul Barry…kedua belah pihak harus belajar terus untuk saling memahami…dan belajarnya juga sepanjang usia kedua suami isteri tsb.

  28. menikah = toleransi seumur hidup.
    saling memahami, saling mengisi, saling memotivasi.
    dari awal saya ga percaya tentang pembagian2 tahun ke berapa akan ada guncangan dalam RT, dari pada mikirin itu mending menjalankan segalanya dengan sebaik-baiknya…

    tfs bu

    Betul Chan…kedua belah pihak harus terus belajar untuk saling memahami.
    Belajar ini tak pernah berhenti…dengan belajar bersama, maka akan tahu bagaimana cara mengatasi masalah yang muncul.

  29. Membentuk suatu pernikahan haruslah didasari oleh cinta dan kasih sayang untuk menuju kebahagiaan yang diinginkan,selanjutnya tinggal kita untuk membina dan memupuknya berdasarkan prinsip agama kita menjalani itu semua untuk hidup.

  30. trims atas postingnya. dengan harapan baik anda dan para pembaca posting tsb bisa memahami arti sebuah keluarga walau kita masih belajar. smoga tidak bosan memposting tentang keluarga agar tahan, wujud kasih sayang tetap terjaga. karena semua info yang ada baik media tv ato radio, banyak menampilkan berita yang salah satunya ttg keluarga yang dinilai saya banyak mudaratnya. trims


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: