Oleh: edratna | Mei 10, 2010

Saat si kecil lebih dekat dengan mbak

Saat itu usia si kecil baru menjelang 2 (dua) tahun, sedang lucu-lucunya. Jika ibu mau pergi ke kantor, dan mobil jemputan datang, si kecil melambaikan tangan dengan riang. Begitu pula, jika dia mendengar suara mobil jemputan yang mengantar ibu pulang, dia melonjak-lonjak ingin segera ke pintu pagar, menjemput ibu yang turun dari mobil jemputan. Kami memang tinggal di kompleks, sehingga setiap hari bisa diantar jemput bersama teman satu kantor. Dan peserta mobil jemputan rata-rata karyawati, sehingga obrolan di jemputan tak jauh-jauh soal masalah anak sulit makan, anak sakit dsb nya.

Pagi-pagi bos memanggilku, beliau menunjukkan surat dari Divisi HRD, bahwa saya ditunjuk untuk mengikuti pendidikan selama 3 (tiga) bulan, dan harus sudah masuk asrama paling telat besok sore. Waduhh…pikirku, bagaimana ini, karena si kecil belum berumur 2 (dua) tahun.  Dalam hati berat, namun saya tak bisa menolak penunjukan ini, karena karir dikantorku ditentukan oleh beberapa kriteria, dan kenaikan pangkat antara lain didasarkan atas telah lulus dari pendidikan yang telah diakui oleh perusahaan.

Malam itu saya diskusi dengan suami, saya bersyukur mempunyai suami pengertian dan  terus mendorongku untuk meningkatkan karir.  Besok sore saya diantar ke asrama, membawa koper untuk perlengkapan selama pendidikan. Kebetulan pula, asrama nya tak jauh dari rumah, masih di wilayah Jakarta Selatan. Dan tetanggaku, yang sama-sama karyawati juga ditunjuk untuk ikut pendidikan yang sama, sehingga akhirnya kami sepakat untuk tiap hari pulang ke rumah, karena kebetulan temanku ini bisa mengendarai mobil. Begitulah, saya pergi pagi-pagi, setelah mempersiapkan makanan untuk kedua anakku, kemudian mulai pendidikan. Pendidikan ini menyita waktu, selain harus mendengarkan kuliah, juga banyak PR dan  membuat makalah. Praktis, setelah sampai rumah, waktu yang saya gunakan untuk bermain dengan anak menjadi jauh berkurang. Awalnya saya masih bisa membagi waktu seperti biasa, namun lama-lama keteteran, karena setelah anak tidur saya baru membuat PR…dan akhirnya baru tidur sejam sudah harus bangun. Suami yang tak tega melihatku, apalagi kadang dia harus mengajar di Bandung, menyarankan agar saya rela untuk membiarkan si kecil tidur ditemani si mbak. Kebetulan si mbak ini memang bisa dekat dengan anak-anak saya, sehingga saya tak kawatir.

Selama pendidikan, si mbak tidur dengan si kecil, dan mungkin saya lengah atau karena tak tega melihat anak menangis, akhirnya saya merelakan si kecil tidur terus  dengan si mbak. Saat jalan-jalan atau pergi ke rumah saudara, si mbakpun diajak. Lama-lama saya merasa si kecil makin dekat dengan si mbak….bahkan memilih digendong si mbak dibanding oleh ibunya. Saya mulai merasa ada hal yang salah. Apalagi saat diajak ke rumah saudara, si kecil cuek saja, tak mau lepas dari si mbak, dan tak mau bermain dengan saudara sepupunya yang juga seumur. Malam itu saya mengajak suami diskusi, bagaimana caranya agar si kecil dekat lagi dengan orangtua nya. Lagipula si mbak bisa sewaktu-waktu keluar, karena menikah atau hal lain, nanti bagaimana si kecil?

Akhirnya saya dan suami merancang untuk pergi wisata, si mbak saya minta membantu menyiapkan makanan, namun kami hanya pergi bersama si kecil. Si mbak tanya, apa dia nggak diajak? Saya menjawab, bahwa kali ini bapak ibu ingin jalan-jalan sama anak sendiri, karena di pertemuan memang tak boleh ada pendamping. Seharian itu si kecil rewel, tapi saya berusaha terus untuk mendekatinya, mengajak main, pergi ke arena wisata…dan akhirnya si kecil mau main bersama ibu.  Saya dan suami lega….saat pulang ke rumah si kecil tidur dipelukanku…..

Malam itu, si kecil mulai tidur lagi ditemani ibu. Bagaimana dengan si mbak? Kadang-kadang si kecil tidur dengan si mbak, tapi si kecil juga banyak bermain dengan ayah ibu, sehingga akhirnya si kecil bisa melihat, bahwa ada perbedaan antara ibu dan si mbak. Dengan ibu, dia bisa menjelajah lebih jauh, sehingga dia akan dengan senang hati jika sewaktu-waktu diajak ayah ibu untuk bepergian tanpa mengajak si mbak.

Catatan:

Tulisan ini diilhami tulisan Omiyan di blognya

Iklan

Responses

  1. Adik saya, Citra, waktu kecil seperti lebih akrab dengan pembantu…

    Untung di Australia tidak ada pembantu, kalaupun ada akan sangat mahal….

    O, iya Don…jadi Odi sekarang di rumah sama siapa? Atau Joice masih cuti?
    Saya juga mikir kalau tinggal di LN, jasa pembantu jam-jam an dan mahal

  2. kedekatan dengan anak itu emang harus dari kesadaran ortunya ya.. good for you karena langsung menyadari dan berusaha untuk mendekatkan diri dengan si anak.

    jangankan para wanita karir, lha yang ftm aja saya liat banyak yang gak deket sama anaknya karena walaupun gak kerja pun si anak dikasih ke pembantu aja terus seharian. ya gimana gak jatohnya si anak lebih nempel ke pembantu ya? hehe.

    saya sendiri juga melalui proses untuk lebih dekat sama andrew. sebenernya saya cukup dekat sih ama dia. cuma gak dekatnya kalo pas mau tidur. hehe. si andrew kebiasaan tidurnya harus nempel mamanya. kalo tidur ama saya? ogah dia.. hehe. tapi sekarang udah bisa dia. karena ya dibiasain kalo malem tidurnya ama saya.

    yah balik lagi emang anak itu masalah kebiasaan aja sih ya. dia merasa biasanya ama siapa ya dia deket ama orang itu… 😀

    Hmm…Arman, katanya justru ibu yang bekerja di luar rumah yang lebih sensitif terhadap perubahan perilaku anaknya…ya nggak semua sih.
    Saat itu memang terpaksa karena saat pendidikan, harus tidur di asrama..saya nekat tiap hari pulang, tapi ya tetap harus ada bantuan si mbak…
    Yang penting, kemudian harus segera diperbaiki hubungan dengan anak…dan anak kecil mudah kok, asal kita telaten

  3. untung kami tidak pernah dekat dengan pembantu. Apalagi sampai tidur bersama. Karena memang jarang juga ada pembantu di rumah kami yang luas itu.

    EM

    Tidur bersama saat itu terpaksa dilakukan karena saya harus masuk pendidikan….walau tiap hari pulang ke rumah masih bawa PR dll…tidurpun hanya sedikit, sedang si kecil masih sering pipis, minum susu dll….Ya, syukurlah segera dapat diperbaiki, tapi ada juga temanku yang malah cuek aja….kemana-mana si mbaknya (suster) diajak.
    Saya yang melihat tak tega rasanya.

  4. ya bu, saya sendiri berencana seperti itu, memang beda banget memey dengan kakaknya …., semuanya butuh proses tapi Insya Allah apa yang dijalankan sekarang bisa terlaksana dan membuahkan hasil ….

    Salam

    Setiap anak memang punya karakter yang unik….jadi orangtua memang pendekatannya juga berbeda

  5. hmm.. saya langsung teringat mamanya anak-anak. Bukan maksud menyombongkan istri, tapi Alhamdulillah perlu saya syukuri. Meskipun ada bibi dirumah, tapi tidak melepas pengasuhan sepenuhnya.

    Sebaiknya bibi hanya membantu, ibu tetap harus terlibat secara aktif. Ibu yang kerja di kantor harus bisa menyisipkan waktu yang berkualitas untuk tatap muka dengan anak.

  6. untung pembantu di kamboja jarang ada yang mau nginep bu..jadi si kecil tetap dekat dengan ayah ibunya

    Masalahnya kalau kedua orangtua bekerja, agak sulit mas Boyindra…atau seperti EM, ada penitipan anak selama dia mengajar

  7. ..
    bagaimanapun orang tua harus pandai2 memanfaatkan waktu untuk dekat dengan anak ya Buk…
    karena masa anak-anak cepat berlalu.. 🙂
    ..
    salam..
    ..
    -AtA-

    Betul Ata…tapi orangtua juga harus bisa mengelola waktunya agar lebih berharga, karena ibu yang bahagia, akan membuat anaknya bahagia

  8. dilema menjadi ibu pekerja yah, bu. tapi solusinya mantap, bu. dan kyknya mbak narpen semakin sayang dengan ibu klo udah jauhan kayak gini.

    Mungkin karena ayah ibu ku juga bekerja, demikian juga keluarga bude/pakde, serta om dan tante…..maka di keluarga kami, perempuan disarankan tetap bekerja, tanpa melupakan anak-anaknya.
    Dan nyatanya bisa…bukankah semakin sibuk, kita justru semakin bisa memanage waktu? Dan anak-anak juga akan mandiri, jika ada keadaan darurat, ibu bisa diihubungi di kantor atau dimanapun…
    (Jadi pesan ke sekretaris…telpon agar di handle, tapi jika telepon dari anak, betapapun sibuknya harus diterima…itu kuncinya
    )

  9. 😐 muka datar
    makin takut punya anak :((

    Eka,
    Punya anak itu sungguh menyenangkan
    Betapa pusingnya masalah di kantor, begitu sampai rumah dan ketemu anak, semua akan hilang…
    Hanya ada kebahagiaan….itulah karunia Tuhan

  10. Ngebayangin perasaaan bunda kala itu..
    pasti sedih ya bun… buah hati lbh deket sama mbak..

    hiks… bunda emang hebat!
    Tangguh banget jd wanita karir dan ibu…

    *berjingkat pergi, mempertanyakan kemampuan diri sendiri :(( whooaaa

    Eka,
    Sedih sih tidak, karena itu risiko yang harus dihadapi, tapi mencari strategi yang pas agar anak kembali dekat dengan ibu
    Dan, kenyataannya
    Semakin besar, dia semakin memahami bahwa ibu bekerja untuk kepentingan keluarga, dan mereka bangga pada ibunya.
    Kadang mereka saya ajak ke kantor, ada juga acara jalan-jalan di kantor, acara rekreasi yang melibatkan seluruh karyawan/karyawati….

  11. sepertinya memang begitu tantangan bagi perempuan yang bekerja di luar rumah. saya ingat, saya dulu jg dekat dg pengasuh saya waktu kecil, karena ibu saya sering tugas ke luar kota.

    Ya, itu risikonya..
    Tapi semakin besar, anak juga makin bisa membedakan….
    Dan kita tak perlu kawatir

  12. ibu tipsnya kyknya msh oke kl dipraktekin skrg soalnya dilema ibu pekerja ga jauh dr anak yg lebih deket ke si mbak.

    Tenang Ida…mudah kok mengatasinya…bukankah kita ada hubungan batin dengan anak
    Tapi memang perlu trik, agar semua sama-sama senang

  13. Sewaktu saya parajabatan selama 3 minggu, si kecil lupa pada saya saat saya pulang. Saya menangis dalam kamar. Sampai-sampai keponakan saya yang tinggal serumah dengan kami, bertanya, “kanapa om kok sesenggukan?”

    Aku sangat malu saat itu, tapi tetap kujawab bahwa si kecil “sementara” lupa padaku, ia lebih senang ikut yang momong, De Sulami, kami biasa memanggil. Salam kekerabatan.

    Tapi lupanya hanya sebentar kan…nggak sampai sehari…pasti si kecil bolak balik memandang, dan akhirnya mau mendekat.

  14. apa kabar makcik?
    salam kenal 0_0

    ???

  15. itu yg dialami anak temanku yg ditinggal selama 2 th ambil S2 dinegri orang….
    waktu pulang anaknya ngumpet dibelakang bapaknya dan ngga mau memeluk ibunya karena ngga biasa sama ibu….salaman sama ibunya saja malu2…
    sedih…..pasti itu yg dialami setiap wanita karier yah mbak??

    Teman-teman yang ambil S2 di luar negeri banyak yang menngalami seperti itu…
    Perlu waktu untuk pendekatan…dan nantinya anak pasti mengerti juga, apalagi jika selama ditinggal dia berada di tangan orang yang menyayanginya

  16. kalau si kecilku meskipun lebih sering saya tinggal, masih lebih dekat kepadaku daripada ke mbak, bahkan dengan ibunya sekalipun, entah saya sendiri tidak mengerti kenapa begitu

    Berarti bapak punya jurus tertentu yang membuat si kecil lebih merasa dekat dengan ayahnya.

  17. anak2 kami dulu sewaktu masih kecil, walaupun kami berdua bekerja, tetap saja lebih dekat dgn kami dr pada dgn si mbak, krn si mbak tdk menginap dirumah, hanya pulang hari,hingga sampai salah satu dr kami pulang.
    salam

    Adik saya yang jadi dosen juga seperti itu…sayangnya hal itu tak mungkin saya lakukan.
    Karena saya kadang harus tugas ke luar kota/negeri, demikian juga suami…untungnya kami tinggal di kompleks rumah dinas, jadi si kecil punya teman main seumur anak-anaknya tetangga yang akhirnya menjadi seperti saudara.

  18. Sebenarnya problematika ayah ibu bekerja sudah merupakan “isu” global/umum, anak saya juga begitu, bahkan seluruh keponakan saya juga begitu “ditinggal” orang tuanya bekerja. Solusinya bermacam2 ada yang mempekerjakan si “mbak” ada juga yang menitipkan di daycare centre, dsb.

    Namun begitu kita sadar, waktu yg sempit untuk bertemu dengan anak harus dimaksimalkan, walaupun capek pulang dari kerja (itulah resikonya jadi org tua) harus mau “direcoki” oleh anak. Namun begitu, semakin besar, biasanya, secara alamiah, apalagi jikalau si anak sudah bisa berfikir dengan sendirinya akan mengerti mana orang yang harus didekati (yaitu orang tuanya) karena semakin besar semakin ia mengerti bahwa ia adalah bagian dari sang ayah dan ibunya dan ia juga akan sadar bahwa betapa ia lebih sangat bergantung kpd ayah ibunya dibandingkan kepada orang lain termasuk kepada “si mbak”..

    Betul kang Yari…itu cobaan yang harus diatasi..jika kita akhirnya berhenti kerja, itu bukan solusi. Semakin besar usia anak, dia semakin paham mengapa ayah ibu bekerja, apalagi jika mereka diajak sesekali ke kantor, mereka akan tahu di kantor ibu ngapain aja..demikian juga jika diajak ke kantor ayah.

  19. Bunda apa kabar, duh kangen lama tak berkunjung ke sini 🙂
    Alhamdulillah, anak-anak masih dekat dengan saya. Caranya, ya belajar dari pengalaman orang-orang yang lebih tua, dan sudah makan asam garam sebagai orang tua, seperti Bunda Enny 😀

    Iya, saya juga jarang berkunjung ke teman-teman nih….waktu kok sempit sekali.
    Dan akhir pekan, sibuk kondangan hahaha..menunjukkan udah jadi pinisepuh

  20. jadi inget hegel, kemaren sempet pergi 6 hari dan dia tersapih, tapi yang bikin aku lega dia tetep inget bundanya.
    yang pasti walau bekerja kita tetap memiliki waktu bersama anak secara ekslusif, secapek apapun (kalau saya) harus disempet2in dan dikuat2in

    Betul Chan, anak tahu kok kalau ibu terpaksa pergi bekerja atau ada perlu lain.
    Yang penting adalah kualitas, walau kuantitas juga perlu

  21. saya sedang mengalami hal yang ibu alami, sy baca ternyata masih ada jalan yang harus saya tempuh demi anak saya bisa dekat lagi dengan saya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: