Ayah ibuku seorang Guru

Menyandang jabatan Guru, saat itu sangat dihormati dikampungku. Tetangga memanggil ayah, pak Guru atau mas Guru (kalau umurnya hampir sama atau lebih tua). Anehnya aku nyaris tak mendengar orang memanggil ibuku, mbakyu Guru…hanya bu Guru. Sebagai keluarga guru, maka ayah ibu sangat disiplin mendidikku beserta adik-adik, kata ibu, karena segala tingkah laku kita akan disorot orang, dan keluarga Guru dianggap panutan. Saat itu kampungku masih banyak pepohonan, tak ada pagar pembatas berupa tembok antar rumahku dan rumah tetangga, paling-paling pohon kemlandingan (petai Cina) yang dibuat pagar, selain berfungsi sebagai pagar, buahnya bisa dipakai bahan baku makanan “botok”.

Lanjutkan membaca “Ayah ibuku seorang Guru”