Oleh: edratna | Mei 16, 2010

Ayah ibuku seorang Guru

Menyandang jabatan Guru, saat itu sangat dihormati dikampungku. Tetangga memanggil ayah, pak Guru atau mas Guru (kalau umurnya hampir sama atau lebih tua). Anehnya aku nyaris tak mendengar orang memanggil ibuku, mbakyu Guru…hanya bu Guru. Sebagai keluarga guru, maka ayah ibu sangat disiplin mendidikku beserta adik-adik, kata ibu, karena segala tingkah laku kita akan disorot orang, dan keluarga Guru dianggap panutan. Saat itu kampungku masih banyak pepohonan, tak ada pagar pembatas berupa tembok antar rumahku dan rumah tetangga, paling-paling pohon kemlandingan (petai Cina) yang dibuat pagar, selain berfungsi sebagai pagar, buahnya bisa dipakai bahan baku makanan “botok”.

Diantara kami bertiga, adik keduaku yang paling bandel. Jika sebagai anak tertua banyak larangan, seperti “Jangan memanjat pohon, nanti jatuh”, dan aku menepatinya, namun buat adikku semua itu justru menarik untuk dicoba. Jadilah pepohonan di sekitarku dan di rumah tetangga menjadi ajang percobaannya untuk memanjat dan menikmati jatuh dari pohon. Namun, biasanya ayahku hanya tersenyum, mungkin kebandelan adikku dalam urusan memanjat pohon sama seperti sifat ayah waktu muda. Ayahku juga punya suara yang menggelegar, oleh karena itu jangan membuatnya marah, suaranya akan terdengar sampai jauh, apalagi rumahku berlangit-langit tinggi membuat suara seperti bergema. Ayah juga senang mengajar  kami menyanyi, lagu-lagu Jawa maupun lagu perjuangan. Tentang menembang lagu Jawa (uro-uro) ini, adik bungsuku yang menurun, dan bisa menembang dengan baik….dia pernah mendapat juara umum saat SMP di kota kecilku, yang dinilai antara lain juga bisa menembang, dan adik bungsuku, anak laki-laki satu-satunya di keluarga ayah ibu, menembang “dandang gulo” dengan suara lantang.

Aku dan adik-adikku  tak boleh bersekolah dimana ibuku menjadi Kepala Sekolah, karena kawatir aku dan adik-adik tak mentaati aturan. Saat itu, fasilitas air dirumahku dari air tanah (belum ada air pam), melalui timba dengan cara mengereknya. Masing-masing anak mendapatkan tugas, tugasku antara lain menyiram tanaman, dengan gembor (dalam bahasa kampungku, atau watering bucket), yaitu ember bermoncong panjang dan tutupnya berlubang kecil-kecil sehingga kalau disiramkan, air keluar seperti air mancur. Cara menyiram ini, menurut ibu akan membuat tanaman dapat menerima air merata dan tak langsung. Maklum di kampungku jika musim kemarau, air jauh berkurang, untuk menimba membutuhkan tenaga ekstra karena sumur menjadi lebih dalam. Tanahpun mulai  pecah (istilah nya “nela”)….namun tanah jenis grumusol ini sangat cocok untuk tanaman mangga jenis Gadung dan Manalagi. Agar anak-anaknya senang, ayahku menanam buah-buah2an di pekarangan rumah, ada pepaya, pisang, jeruk Bali, jeruk pecel, kelapa hijau, dan 4 batang pohon mangga yang jika berbuah bisa mendapatkan berkarung-karung mangga, yang oleh ayah ibu dibagikan ke tetangga dan saudara yang lain.

Ibu sering mengajak kami bertiga (aku mempunyai dua adik) memasak, sambil mengobrol (yang setelah besar baru tahu, ini cara ibu mendidik moral kami secara tak langsung), walau sebenarnya ibuku termasuk tidak bisa memasak, sama sepertiku. Berbeda dengan adikku yang nomer dua, masakannya terasa sedap, walau bumbu yang digunakan sama dengan yang kugunakan. Jadi, pada musim menjelang Lebaran, adikku bertugas memasak, sedang aku bertugas menjahit baju baru untuk seisi rumah…entah kenapa ya, Lebaran saat itu sama artinya dengan baju baru. Dan saat itu, membeli baju tak bisa sering seperti sekarang,  selain ongkos jahitnya mahal, juga karena nyaris semua orang di kota kecilku bajunya itu-itu saja. Jika sedang ada tren kain yang sedang “in“, maka nyaris seluruh kota memakai baju dengan kain sama, hanya berbeda warna…saya geli mengingatnya,  situasi sekarang memang sudah sangat jauh berbeda.

Kedisiplinan merupakan yang ditanamkan ayah ibu sejak dini. Setiap pukul 3 atau 4 dinihari, ibu sudah membangunkan anak-anaknya untuk belajar, ibu juga sudah menyediakan teh manis panas….kami belajar sampai 1-1,5 jam, kemudian mulai bertugas masing-masing sesuai jadualnya, sebelum mandi dan pergi ke sekolah. Ibu juga mendidik agar anak-anak tiap hari mesti belajar, kecuali hari libur. Belajar juga tak boleh sampai lebih dari jam 11 malam, karena sudah nggak efektif…dan besok pagi ibu akan membangunkan kami bertiga untuk memulai jadual baru. Kedisiplinan ibu serta kasih sayangnya ini, membuatku sulit menyesuaikan diri di masa awal kuliah, jauh dari orangtua dan terbiasa belajar sambil ditunggu ibu. Jika janji dengan seseorang, ayah ibu akan hadir sebelum waktunya. Begitu pula jika mau naik kereta api, jauh sebelum waktunya kami sudah ada di stasiun, kata ayah…”Lebih baik menunggu daripada telat, karena kereta api tak akan menunggumu.” Kebiasaan ini membuatku menjadi orang  yang menyukai pagi hari…betapapun lelahnya,  membuatku sulit untuk bangun siang, karena kalau bangun siang akan pusing. Jika terlalu lelah, nanti tidur lagi jika ada kesempatan. Namun malam hari,  menjadi tak terbiasa belajar sampai pagi….akibatnya aku harus menyiapkan diri jauh sebelumnya, dibanding dengan teman-teman yang lain.

Kebiasaan sejak masa kecil ini terpatri sampai sekarang, yang di awal pernikahan menjadi bahan perdebatan. Suami tentu saja menganggap datang di stasiun satu jam sebelumnya terasa sia-sia, padahal buatku itu hal biasa. Aku sendiri tak bisa jika datang terburu-buru, dan nyaris ketinggalan kereta. Jika datang terlambat, membuat hari itu tak senyaman jika datang lebih pagi, bisa mempersiapkan diri jauh sebelum orang lain berdatangan. Sekarang aku sudah mulai bisa menyesuaikan, namun tetap lebih menyukai kehidupan yang tenang, datang lebih pagi, di jalan tak terburu-buru…dan persiapan jauh sebelumnya. Yang menyenangkan lagi, adalah ayah punya perpustakaan yang terdiri dari berbagai karya sastra, dari bahasa Indonesia, Belanda dan Inggris. Ada beberapa buku yang dilarang baca saat aku dan adik-adik masih kecil…dan kadang mencuri baca saat ayah belum ada. Namanya juga anak kecil, bingung juga kenapa tak dibolehkan membaca…walau setelah sekian tahun kemudian, aku mencoba kembali membaca buku itu, dan baru memahami arti kata ayahku. Buku sastra, walau dibaca berulang akan menimbulkan sensasi yang berbeda, sejalan dengan perkembangan umurku saat membacanya. Jadi, satu buku bisa mempunyai pemahaman yang berbeda saat aku membaca lagi saat usia SMA, kemudian mahasiswa dan setelah lulus. Mungkin, ini perasaan yang pernah dikatakan oleh pak Jacob Sumardjo, karya sastra yang bagus, akan memberi sudut pemahaman dan interpretasi yang berbeda dari setiap pembacanya, dan masing-masing pembaca bisa mengeksplore sendiri dari bacaan tersebut.

Catatan:

Kali ini, tulisan menggunakan kata ganti aku, agar sesuai dengan judulnya

Iklan

Responses

  1. bu ratna, kita samaan punya ibu seorang guru ternyata 🙂

    Wahh iya?
    Berarti kita mengalami pendidikan dan nilai-nilai yang sama ya….

  2. mbak Enni, ternyata menurun juga ……pada saat akhir di bank jadi “kepala sekolah” juga ya mbak….

    Hehehe…walau yang berkarir sejak awal sebagai guru adalah adik keduaku (dosen UDIP), tapi ternyata adik bungsu dan saya akhirnya berkecimpung di dunia pendidikan…awalnya berkaitan dengan tugas kantor…sekarang malah jadi profesi.
    Iya….justru karena ditunjuk jadi kepala sekolah..atau kata pak SB, sebagai Rektor….saya malah jadi mengenal orang2 yang berkecimpung di dunia pendidikan dan memahami bagaimana cara mendesain program pelatihan, membuat program, mengontrol kualitas dsb nya.
    Dan tentu saja banyak belajar dari Laeli

  3. Bu, om saya guru dan dapet tante yang guru juga.
    Anak mereka, dua2nya pintar2 semua… tapi kok ya akhir2nya jadi guru lagi hahaha :))

    Satu hal yang saya pelajari dari cara hidup mereka adalah kesederhanaan dan disiplin yang tinggi.. kuyakin ini karena mereka adalah hasil didikan guru 🙂

    Oh ya, nenek dan kakek saya juga dulu guru 🙂

    Makanya Donny juga punya bakat mendidik….dan sekarang bakatmu terlihat melalui tulisan-tulisanmu

  4. Saya tidak pernah berada posisi yang sedisiplinan itu. Pasti tidak mudah. Tapi jika telah terbiasa sedari kecil menerapkan kedisiplinan itu, Insya Allah akan bermanfaat pada suatu waktu nanti seperti yang juga telah ibu rasakan sekarang ini 😛

    Ahh rasanya senang aja kok…..karena ayah ibu tanpa banyak komentar, langsung melatih dan memberi contoh…jadi anak-anaknya juga mengikuti
    Membuat anak tak tergantung TV? Itu juga mudah..jika orangtua dan lingkungan di rumah juga tak suka di depan TV terus menerus…dan anak-anak ku lebih memilih membaca dibanding nonton TV.
    Jadi, yang penting memberi contoh nyata dalam bentuk perilaku….

  5. menjadi kebanggaan ber ayah ibu yang berprofesi guru,,

    Yup…
    Saya tentu saja bangga atas didikan ayah ibu, yang membuat kuat dalam menghadapi apapun

  6. punya orang tua menjadi guru.. memang banyak sisi positifnya.. ayahku juga seorang guru. melalui beliau.. aku banyak diajari bagaimana pentingnya ilmu itu.. dan karena ilmu.. kita bisa menjadi manusia yang lebih berguna.. n bernilai

    Yup…betul…
    Ilmu dan ketrampilan….bukan harta….

  7. Saya amsih mengalami masa-masa ketika seorang guru benar2 emnjadi tokoh panutan dan pembimbing tidak hanya di sekolah tetapi juga di lingkungan ia berada.
    Agak berbeda sekarang ketika posisi guru mulai bergeser hanya sebatas sebagai profesi belaka alih-alih untuk sebuah profesionalisme.

    Saya masih melihat, bahwa menjadi guru saat ini tidak mudah. Orangtua cenderung mengharapkan bahwa keberhasilan anak-anaknya karena pendidikan di sekolah..ini tak betul, karena orangtua ikut bertanggung jawab atas berhasilnya pendidikan itu..begitu juga masyarakat dilingkungan sekitarnya.
    Dan saya masih melihat, bahwa guru masih profesi yang sama, yang membanggakan…karena selama anak-anak sekolah SD s/d SMA, sampai Universitas…saya mengenal dekat beliau yang berperan serta mendidik anak-anakku.

  8. saya dan isteri saya guru, apakah anak saya juga merasa kami disiplin ya, dalam mendidiknya

    Sebetulnya latihan disiplin yang benar, kalau diikuti dengan contoh nyata, dan anak tidak terpaksa saat menjalankannya.
    Dari obrolan bersama teman, mereka juga mengalami pendidikan yang sama jika orangtua nya guru

  9. wah kita sama yah. ayah ku guru, ibubku guru, bahkan tante ku guru. eh sekarang akupun jadi guru 🙂

    Guru memang profesi yang menyenangkan…bahagia jika anak didik kita memahami apa yang kita ajarkan..ikut bangga jika mereka sukses….

  10. Hehehe…
    Kalau aku lain. Aku hanya seorang anak petani, tapi sungguh aku bangga sebagai anak petani.

    Lho! Profesi petani justru harus dihormati…tanpa petani kita tak bisa makan..pak Tani lah yang berjasa menyiapkan bahan pokok bagi kita

  11. iya mbak .. bangun pagi memang nyaman … kita sama .. kedisiplinan yang di tanam oleh orang tua terbawa hingga saya kuliah .. namun ada yang berubah ,,, disini saya tidur selalu larut malam padahal waktu kecil max jam 10 malam harus dah tdur …

    Yup…betul..
    Setelah kerja ceritanya jadi lain…kadang malah terpaksa nginep di kantor menyelesaikan pekerjaan..
    Pulang jam 11 malam sudah biasa

  12. Bapak-ibu saya seorang petani. Tapi begitu ibu meninggal ketika usia saya 5 tahun, paman-bibi saya yang seorang guru mengangkat saya menjadi anak angkat beliau karena memang kedua putranya putri.
    Lantas, kini, saya jadi guru.

    Ah… masa-masa kecil dulu ketika ikut paman dan bibi duh displinnya bukan main. Kami, anak-anaknya, hampir tak punya waktu untuk bermain. Salam kekerabatan.

    Iya pak..faktor disiplin itu saat masih kecil kayaknya berat…tapi kebetulan ayah ibu memberi contoh nyata sehari-hari, sehingga secara tak langsung sudah tertanam dalam benak kita…..

  13. Bu, maka kau pun terlahir manjadi sosok yang bijak. Ya, karena mereka yang membesarkanmu tentulah sosok-sosok yang bijak.

    Indahnya 🙂

    Iya Achoy..saya bersyukur…apalagi setelah saya besar dan melihat berbagai ragam situasi di sekelilingku…
    ternyata didikan disiplin waktu sangat menguntungkan dalam pekerjaanku saat dewasa

  14. Kita sama Bu, Ibu saya juga guru kok Bu. Tapi guru SD yang nyaris selama pengabdian beliau selalu ditugaskan mengajar di kelas 1.
    Bahkan saya dan adik-adik say juga pernah diajar beliau sendiri ketika kelas 1.
    Sekarang dihari tua beliau tinggal bersama adik perempuan saya di Batam, sambil mengawasi cucu-cucu.
    Setahun sekali beliau berkunjung ke tempat kami di Jakarta.

    Kami malah tak boleh untuk belajar di sekolah SD dimana ibu menjadi Kepala Sekolah nya…jadi malah belajar di sekolah lain.

  15. wah kedua orang tua saya pegawai Pertanian (PPL) kedua mertua saya guru … saya dan istri saya seorang guru … Gimana dengan anak saya yah bu .. ??
    heee…

    Anaknya Bayu, biarkan mereka yang akan memilih jalannya…saya juga tak tahu kok, kedua anak saya akan berkarir ke arah mana. Yang satu kerja di perusahaan software development…satunya yang masih melanjutkan kuliah setelah lulus S1.

  16. Salam hangat dari Kalimantan Tengah bu …

    Salam hangat juga Bayu…

  17. hidup guru!!!!!
    Salam Kenal

    Hmmmm?

  18. kebetulan sekali ibuku juga adalah seorang guru Bu Ratna.
    memang kedisiplinan dan ketekunan menjadi ‘makanan’ kami kakak beradik sehari2. 🙂
    salam

    Dan kedisiplinan itu tak terasa kaku kan bu…? Karena dicontohkan dalam perilaku sehari-hari, sehingga telah menyatu dengan diri kita sendiri

  19. menyenangkan punya orang tua guru..
    karena belajarx 24 jam (dirumah & disekolah)..

    yg hebat dr ayah mbak adalah punya perpustakaan sendiri dirumah, dimana anda bisa ikut membacax…

    warisan harta boleh habis, tp ilmu tak akan ada habisnya…

    terima kasih buat semua orang tua diseluruh dunia yg mengutamakan pendidikan bagi anak2nya…

    Yang menyenangkan memang perpustakaannya…

  20. matur nuwun sanget postinganipun, bu. kisah bapak yang tertuang dalam tulisan ini menjadi inspirasi buat saya yang kebetulan seorang guru dan suka sastra.

    Sama-sama pak..tanpa didikan Guru saya tak berarti apa-apa. Dan saya juga merasa berterima kasih pada guru-guru anakku…yang bisa memahami saat mereka lagi bandel-bandelnya di sekolah

  21. papa mama saya juga guru… tapi bukan di sekolahan, melainkan guru buat kita anak2nya. hahaha. 🙂

    Wahh betul itu Arman…semua orang tua adalah guru pertama kali buat anak-anaknya

  22. Guru di sini masih merupakan status yang membanggakan dan mencukupi secara ekonomis. Masyarakat menghargai guru.

    EM

    Seharusnya memang seperti itu Imel

  23. sorry, agak OOT: wah kangen bothok nih…!!! udah lama banget gak makan bothok 😦

    memang guru dulu sangat di-gugu lan di-tiru, tapi sekarang kok kayaknya penghormatan terhadap guru semakin kurang yach…

    tabik bagi semua guru…

    salam,

    Nana…tuh bro Neo kangen bothok 😛
    Di Makassar ada penjual kelapa muda kan..cuma mungkin sulit untuk cari petai cina (kemlandingan ya)…tapi bisa aja diganti bothok tahu tempe, dan teri Medan.
    Guru saat ini situasinya memang berat, terutama di kota besar. Namun saya kira hal tsb hanya pada jabatan guru namun juga jabatan lain…memang culture sudah berubah, mau tak mau mesti mencari cara agar pendidikan dan pengajaran dapat berjalan dalam kondisi yang selalu berubah ini.

  24. pengen juga deh jadi guru hehe,ternyata salah satu hasrat terpendam saya itu bu enny 😉

    Menjadi guru kan bisa kapan aja….seperti Didot punya usaha, kemudian menjelaskan usaha itu ada orang lain..itu mirip dengan mengajar kan?

  25. bapak ibu saya juga Guru Bu. bapak guru di MAN dan ibu guru SMP. sewaktu kecil sering sekali diajak main ke SMP/MAN dan saya dijadikan ‘mainan’ kakak-kakak itu. 😀

    saya sekarang sering membandingkan pola kerja saya dengan pola kerja bapak ibu dulu. walaupun dua-duanya bekerja namun maksimal pukul 3 sore sudah sampai di rumah. sekarang saya bekerja dan belajar dari pagi sampai larut malam. jadi khawatir kalau nanti berumah tangga pola ini tetap terbawa.

    Syafik…menjadi guru memang kehidupan akan teratur. Ayah ibu sudah pulang jam 3 sore, apalagi di daerah tak kenal macet…tapi ayah saya melanjutkan kuliah, jadi juga jarang ada di rumah.
    Namun kondisi itu tak sama..saat mencari kerja setelah lulus S1, di Jakarta, kantor yang pulang cepat adalah jam 3 sore..dan macet sehingga sampai rumah jam 5 sore.
    Saat kerja di Bank, jam 16.00 wib sudah pulang, namun setelah deregulasi perbankan, persaingan makin ketat, maka kantor masuk jam 7.30 s/d 16.50 wib….kenyataannya pulang jam 9 malam dianggap masih sore. Belum kemacetan yang merajalela, memutar jembatan semanggi saat pulang kerja, pernah memerlukan waktu dua ja….Jadi, kami memutuskan tinggal di rumah dinas sampai pensiun, agar di dalam kota, anak-anak terjamin keamanannya…karena tetangganya satu kantor semua. Dan semua bisa diatasi kan? Syafik bisa tanya anakku kesan2nya punya ibu yang sangat sibuk….walau sibuk, untuk anak-anak tetap prioritas.

  26. Kakek dan nenek saya guru, mama saya guru, papa saya guru agama di gereja. Saya pernah menjadi guru, kedua adik saya guru.

    Sedikit banyak kita punya pengalaman yang sama “dididik guru di rumah”, Bu Enny..

    salam hangat selalu…

    Nana..ternyata kita punya pengalaman yang sama ya?
    Dididik untuk keteraturan dan kedisiplinan (walau disiplin ini akhirnya menyatu pada diri kita sendiri…sehingga tak terasa)

  27. ketika pertama kali saya menjadi guru juga dipanggil Mas Guru oleh pemilik warung makanan yang sudah langganan dan tak jauh dari tempat saya ngontrak

    Kayaknya di daerah, panggilan ini masih umum ya

  28. Hampir sama ibu …
    Ayah saya dosen
    Ibu saya guru SMA

    Dan ya …
    Saya tidak mau bersekolah di SMA yang diajar oleh Ibu …
    Namun karena akhirnya sekolah saya dan sekolah tempat ibu mengajar di satukan …
    mau tidak mau saya jadi satu sekolah dengan ibu …

    Untungnya saya tidak di ajar oleh Ibu saya …
    Jika sempat diajar … waaaahhh … tak taulah seperti apa kami …
    Nilai jelek … salah
    NIlai Bagus … pun juga dicurigai …

    Salam saya Bu …

    Hahaha…itu baru kalau kita sekolah dimana ayah ibu menjadi guru.
    Lha si bungsu tak mau sekolah di SMA yang sama seperti kakaknya..karena saat SD dan SMP selalu dibandingkan dengan kakaknya…padahal kakaknya bandel setengah mati saat itu, keingintahuannya besar, jadi saya dan suami bergantian dua minggu sekali ke sekolah.. untuk mengabsen kebandelan apa yang dilakukan anak itu pada bulan ybs.
    Dan karena nilai saat kelas tiganya bagus, maka kenakalan itu menguap…guru hanya mengingat kelucuan dan kepandaiannya…jadi kasihan si adik yang selalu dibandingkan.

  29. aku jadi ingat ayahku yang kini pensiunan guru sd

    mm..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: