Makan-makan untuk acara perpisahan

Tim inti IRPA

Zaman dulu (untuk orang-orang usianya  di atas setengah abad), makan enak (dalam arti makan daging), adalah saat ayamnya sakit atau anaknya sakit, atau ada hari bahagia di keluarga. Saat itu rata-rata setiap rumah mempunyai ayam peliharaan, karena  rata-rata rumah di kota kecil halamannya cukup luas, sehingga ayam-ayam itu dibiarkan begitu saja, hanya disediakan dedak,  dan umumnya makan dari remah-remah nasi dari makanan kita sehari-hari. Dan namanya maling ayam, itu sering terjadi, biasanya karena memang kehidupannya sulit, maling untuk bisa memberi makan keluarganya. Selain itu, yang juga sering terjadi adalah maling jemuran, karena bahan kain dihargai paling tinggi, maklum, punya baju baru hanya pada saat Lebaran, setahun sekali. Karena yang ada hanya ayam kampung, maka jika ingin beli telur, harga telor juga mahal, jadi di keluargaku sering mencampur telur ayam dengan telur bebek untuk lauk makan. Syukurlah, karena halaman cukup luas, sayur mayur bisa  ditanam di halaman belakang rumah dan di kebun samping rumah, yang memang khusus ditanami sayur-sayuran seperti: labu siam, kacang panjang, bayam, kangkung, jagung dan sebagainya. Buah-buah an cukup banyak di halaman, sehingga beli buah di pasar hanya jika ada acara penting. Saya lupa kapan di negara kita mulai banyak dipelihara ayam negeri, seingatku sekitar tahun 70 an. Sejak itu, makan dengan telor menjadi hal yang biasa. Untuk daging sapi, kami di keluarga punya langganan penjual daging. yang sering mampir ke rumah. Walau ibu hanya bisa makan daging dari binatang berkaki dua, beliau tetap bersedia masak daging sapi (kaki empat) untuk anak dan suaminya.

Lanjutkan membaca “Makan-makan untuk acara perpisahan”