Oleh: edratna | Juni 25, 2010

Makan-makan untuk acara perpisahan

Tim inti IRPA

Zaman dulu (untuk orang-orang usianya  di atas setengah abad), makan enak (dalam arti makan daging), adalah saat ayamnya sakit atau anaknya sakit, atau ada hari bahagia di keluarga. Saat itu rata-rata setiap rumah mempunyai ayam peliharaan, karena  rata-rata rumah di kota kecil halamannya cukup luas, sehingga ayam-ayam itu dibiarkan begitu saja, hanya disediakan dedak,  dan umumnya makan dari remah-remah nasi dari makanan kita sehari-hari. Dan namanya maling ayam, itu sering terjadi, biasanya karena memang kehidupannya sulit, maling untuk bisa memberi makan keluarganya. Selain itu, yang juga sering terjadi adalah maling jemuran, karena bahan kain dihargai paling tinggi, maklum, punya baju baru hanya pada saat Lebaran, setahun sekali. Karena yang ada hanya ayam kampung, maka jika ingin beli telur, harga telor juga mahal, jadi di keluargaku sering mencampur telur ayam dengan telur bebek untuk lauk makan. Syukurlah, karena halaman cukup luas, sayur mayur bisa  ditanam di halaman belakang rumah dan di kebun samping rumah, yang memang khusus ditanami sayur-sayuran seperti: labu siam, kacang panjang, bayam, kangkung, jagung dan sebagainya. Buah-buah an cukup banyak di halaman, sehingga beli buah di pasar hanya jika ada acara penting. Saya lupa kapan di negara kita mulai banyak dipelihara ayam negeri, seingatku sekitar tahun 70 an. Sejak itu, makan dengan telor menjadi hal yang biasa. Untuk daging sapi, kami di keluarga punya langganan penjual daging. yang sering mampir ke rumah. Walau ibu hanya bisa makan daging dari binatang berkaki dua, beliau tetap bersedia masak daging sapi (kaki empat) untuk anak dan suaminya.

Saat saya sekolah SMA sampai mahasiswa, jika ada acara ketemu teman-teman dan mengobrol bersama, tak lupa bikin rujak bersama. Temanku dari Cirebon, suatu ketika membawa petis setelah pulang kampung, teman seangkatan membantu membeli bahan mentah di pasar, dan jadilah kami makan rujak petis. Bahkan teman yang belum pernah merasakan rujak petis ikut mencicipi. Sepupuku (cowok) yang kuliah di Bandung bilang, kenapa ya acara makan-makan selalu diprakarsai cewek, dan selalu ada acara rujakan…dia kayaknya sebel banget. Namun entah kenapa, teman-teman cowok di angkatan kuliahku senang dengan acara rujakan ini, bahkan saat ada acara panen di ladang, kami membawa bekal rujak asinan satu panci besar, dan makannya pakai pincuk daun pisang dan sendoknya suru (dari daun pisang, memegangnya agak di tekuk, seperti menyuru). Sayang saya sulit mencari foto lama, saat kami makan asinan ini, lengkap dengan caping pak tani nya.

Vivi dengan pilihan nasi Begono

Dimas dengan pilihan nasi kuning

Pilihanku, nasi liwet: ternyata porsinya masih terlalu besar

Sekarang, acara makan-makan bisa di cafe, restoran atau apa pun namanya. Acara makan ini biasanya dipakai untuk acara perpisahan (farewell party), acara perkenalan, ataupun sekedar mengobrol ketemu teman lama. Kadang makan dari restoran ke restoran ini untuk mencoba menu baru, terutama buat saya yang berkecimpung di pelatihan, untuk nantinya dipakai guna pesan makan siang pas pelatihan. Lokasi kantor yang dekat dengan pertokoan, Mal, serta tempat makan yang enak memudahkan semua ini. Kali ini, atasan, saya dan teman-teman merayakan perspisahan Dimas yang telah bergabung di perusahaan ini dua tahun lebih. Sekaligus “selamat datang” untuk Oie, pengganti Dimas. Dari beberapa pilihan, akhirnya kami memutuskan untuk makan-makan di restoran yang lokasinya dekat kantor.

Oie, Nur, Dimas, Vivi

Restoran ini terkenal dengan sate nya, selain menu masakan khas Jawa lainnya. Saya memilih menu nasi liwet, rasanya enak, sayang kebanyakan buat saya, seharusnya mesti sharing dengan orang lain. Atasan saya, yang ketat dengan program dietnya (rendah kolesterol) hanya makan lontong dan gado-gado..jadinya saya menyesal, mungkin lebih baik saya pilih menu yang sama karena porsinya tak terlalu banyak. Oie lebih memilih nasi cobek, mungkin karena disajikan di atas cobek…kalau zaman dulu jenis masakan seperti ini disebut nasi rames, yaitu nasi dengan berbagai lauk pauk yang diletakkan mengelilingi nasi yang ditaruh dalam piring. Dimas memilih nasi kuning, sedang Vivi memilih nasi Begono. Nur dan Kus sama-sama memilih sate, yang memang masakan khas restoran ini.

Sayangnya, baterei kameraku habis….jadi saat memotret nasi liwet menggunakan kamera dari hape. Dan sayangnya lagi, saya tak bisa ngecek di kamera apa saja yang telah di foto dengan baik…..apa boleh buat, foto nasi cobek dan lainnya tak bisa ditayangkan disini.

Catatan:
Akhir2 ini saya banyak menulis catatan…maklum ini postingan yang sangat ringan, gara-gara badan masih kecapekan setelah perjalanan minggu lalu. Disamping itu, mohon maaf jika terlambat membalas komen ataupun belum sempat BW ke blog teman-teman.

Iklan

Responses

  1. hmmm biasanya kalau acara makan-makan di luar/ di restoran saya paling menhindari makan nasi (ngga begitu suka). Jalan keluarnya gado-gado atau sate yang pakai lontong … Kalau ada jajanan yang terbuat dari Kanji malah lebih welcome 😀

    Di sini yang paling murah adalah daging ayam (lebih murah dari ikan) atau daging babi. Jadi deh ayam terussss. Saya sudah males masak dan makan ayam 😀 Pengennya sashimi/sushi tapi muahal sih

    EM

    Kemarin agak pusing karena kelelahan baru pulang mudik, jadi pengin makan yang agak mantap…ternyata kapasitas perutku terlanjur kecil

  2. Bu, kenapa kalo anak sakit malah makan enak?

    Btw saya malah seneng baca tulisan yg ringan2 gini soalnya blogwalking buat saya tuh buat relaxing… Jd malah males kalo bacaannya yg berat dan serius… Hehe. Dasar sayanya pemalas ya… :p

    Anak sakit harus makan enak, agar cepat sembuh. Adik bungsuku dulu, jika sakit dibikinkan telor rebus satu, maklum zaman itu satu telor dimakan rame-rame. makin besar ternyata tak mempan lagi, baru sembuh setelah dibelikan soto pak Djan (warung soto di depan SD Diponegoro, yang terkenal enak).
    Di Jawa, sudah terbiasa ada ungkapan, jika anak sakit, belehno pitik (anak sakit, silahkan sembelih ayam…dan si sakit boleh memilih bagian mana yang akan dimakan). Maklum saat itu harga ayam babon mahal sekali….saya pernah dikasih ayam babon dari nenek saya, setelah dipelihara beranak pinak menjadi lebih dari 30 ekor, dan diberi nama masing-masing.

  3. nasi begana (begono) itu yg enak di cilandak 1 no 15 bu enny,namana nasi bogana milka (udah pernah saya ceritain belum ya?? ) ,kalau mau pesan pagi sampai jam 2 siang,kalau lewat dari itu udah habis 😀

    jadi kepengen makan nasi bogana 😛

    Kok kayaknya rumah di jl. Cilandak I no.15 sepi ya Didot, saya setiap kali lewat sana kok pagarnya tutup…jadi ragu apa betul masih jualan nasi begono

  4. wah, kalau sudah bicara makanan jadi lapar.. 😀 apapun acaranya saya pikir makanan itu bikin lapar. 😀 terimakasih

    Apalagi jika melihat foto makanannya ya

  5. Waw, aku plg suka dengan nasi liwet, mantaph, jd laper aku, haha

    Nasi liwet memang enak….

  6. jadi laperrrrrrr
    🙂

    Yuk…mangga..kapan Afdhal ke Jakarta, kita ketemuan, sekalian kenalan dengan nyonya Afdhal…dan makan-makan…

  7. nasi liwetnya mengundang selera kok bu,
    paruhan sama aku aja yuk

    Iya bu, harusnya paro an….masalahnya tak boleh pesen separo…..hehehe

  8. Waduuuuh, saya mau dong yang ada ikannya, :-D..salam saya kunjungan perdana

    Kayaknya yang ada ikannya..sate deh….lainnya nggak ada ikan (seperti nasi liwet)

  9. jadi pengen ke sate khas senayan

    Mangga..silahkan…

  10. Saya kalau ketemuan dan makan-makan berusaha untuk menghindari nasi apalagi kalau belum tahu seberapa besarnya porsinya, soalnya pasti sisa… sayang kan kalau nasi terbuang..
    Mendingan cari menu yang lain.

    Wah, sudah lama saya nggak dengar kata “suru” apalagi menggunakannya…hehe…sudah lama sekali..

    Hehehe…pernah makan pakai suru? Biasanya untuk makanan berkuah, seperti bubur sungsum dsb nya

  11. Kesehatan adalah yang utama

    semangat Bunda

    Yup…..

  12. membaca tulisan Ibu, saya jadi ingat masa kecil saya dulu 🙂

    sekarang selalunya jika ada yang istimewa, acara makan bersama jadi pilihan paling gampang

    biasanya saya menghindari makanan dengan kolesterol dan lemak tinggi

    Semoga sehat selalu ya Bu..

    Memang seharusnya saat makan memikirkan hal itu..tapi sesekali boleh juga, asal tak kebanyakan.

  13. Kalau makan bersama, kayak Imel saya menghindari nasi supaya tetap meluangkan perut untuk banyak lauk hahaha

    Sayangnya kalau nasi liwet, ya lauknya nasi itu…hehehe…
    Lainnya hanya sayur krecek dan sayur jipan

  14. Meskipun hanya catatan, tapi cukup lengkap kok hehee…
    Tapi suasana jaman dulu itu dirindui juga sometimes, yah ketika kita masih punya cukup halaman untuk pelihara ayam dan kolam ikan sendiri, lalu menanam sayuran sendiri pula. Makanya dulu makan ayam goreng itu suatu kemewahan rasanya, tetapi sekarang kapan saja bisa makan ayam goreng…. tinggal beli saja di resto, mau yg cepat saji or goreng kering. Lengkap.

    Betul Zee…dulu kalau kita datang ke rumah orang, dijamu makan plus disembelihkan ayam, untuk dibuat ayam goreng…artinya kedatangan kita benar2 dihormati….
    Hal yang saat ini sulit terjadi, karena semua sudah instan, tinggal beli ayam dipasar untuk digoreng sendiri, atau bahkan sudah beli ayam gorengnya sekalian. Namun di satu sisi, masakan yang dibeli tak dijamin minyaknya masih bagus (bukan minyak yang digunakan untuk memasak berulang-ulang…), tanpa vetsin… Pada dasarnya kalau disuruh memilih, saya masih suka masakan rumah, terjamin tanpa vetsin, dan lebih suka dikukus, pepes, tanpa minyak

  15. Akh.. ini perpisahan yg membuat lapeerrr Bunda + nambah gendut aku. Untung aku gak ikutan.. Hahaha.. 😀

    Hahaha..entah kenapa perpisahan kok selalu dengan acara makan-makan…
    Mungkin dengan makan, perut kenyang, persoalan dapat diselesaikan dengan mudah …..hehehe

  16. Saya belum pernah makan nasi liwet bu. Jadi nggak tahu rasanya seperti apa. Hmm..mengenai makan enak pada waktu sakit itupun berlaku juga di keluarga saya

    Ntar kapan-kapan mencoba nasi liwet ini…sekarang sudah banyak dimana-mana, terutama di kota besar.
    Makan enak waktu sakit, dimaksudkan agar si sakit doyan makan…jika si sakit makan banyak, istirahat cukup, makan obat, maka akan segera sembuh.
    Atau sakitnya sekedar masuk angin atau kelelahan…terus nggak doyan makan

  17. kenapa ya Bu kok kalau anak pas sakit lalu makan enak?
    nasi bogana aku juga suka , tapi porsinya memang banyak ya Bu, lauknya juga komplit.
    salam

    Kan kalau sakit nggak doyan makan (terutama anak-anak di keluargaku, termasuk saya sendiri)…jadi ayah ibu membuat makanan enak (istimewa) agar si sakit mau makan. Dengan makan, istirahat cukup dan makan obat, diharapkan sakitnya cepat sembuh.

  18. Kalau acara perpisahan selalu ada makannya, entah berat entah ringan. Seperti anak saya beberapa hari yang lalu perpisahan sekolah juga makan-makan. Tapi, ada juga tangisnya (karena anak-anak 6 tahun berkumpul, lantas berpisah).

    Tampaknya di acara perpisahan Ibu dengan teman-teman Ibu, tak ada yang menangis serupa anak-anak, ya.

    Salam kekerabatan.

    Soalnya pisahnya hanya berganti pekerjaan, yang masih memungkinkan untuk ketemu.
    Harapannya, yang pindah bisa berkarir lebih baik lagi…jadi ya nggak ada yang sedih…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: