Oleh: edratna | Juni 27, 2010

10 Things about Jakarta

Membaca tulisannya Arman disini, kok jadi pengin juga menuliskan kesanku tentang kota Jakarta. Kota Jakarta memang kota yang mengasyikkan, menyenangkan, menyeramkan (jika sedang ada demo, kawatir jadi rusuh), menyebalkan (jika sedang macet)…pokoknya segala ada deh. Dari yang baik-baik, sampai yang menyebalkan. Dan saya ingin menulis kesan dan pengalaman saya tentang kota Jakarta, mumpung Jakarta sedang ber ulang tahun,  diawali sejak pertama kali saya menjadi anggotanya.

1. Kota yang ingin saya hindari pada awalnya. Kuliah di Bogor membuatku sering berkunjung ke Jakarta, atau setiap kali pulang kampung, kalau tak lewat Jakarta pasti lewat Bandung. Biasanya saya naik bis ke Jakarta dari Bogor, nginep semalam di saudara, baru besok paginya ke stasiun Gambir…..dan baru sampai 15 jam kemudian (kalau kereta apinya tak telat) ke kota kelahiranku. Akhirnya saya lebih suka lewat Bandung, tidur di Bandung, baru naik kereta api dari Bandung, dan kereta api dari Bandung lumayan jarang telat, dan 12 jam kemudian sampai di kotaku. Menurutku kok Jakarta kurang ramah, sopir bisnya ugal-ugal an, baru saja kaki naik, bis sudah dikebut.  Awalnya, saya setiap kali jatuh jika bis meliak liuk, membuat sepupuku malu, akhirnya saya diajari bagaimana caranya berdiri di bis, agar tak menjatuhi orang lain yang sedang duduk, jika bis bergoyang kencang.

2. Kota tempatku mencari nafkah. Pada awalnya, saya ingin kerja di Jawa Timur agar dekat dengan orangtua. Dengan ijazah S1  saya melamar ke beberapa kantor di Surabaya, ternyata semua mengatakan kalau lamaran harus ditujukan di Kantor Pusat Jakarta. Akhirnya mau tak mau, saya harus melamar ke Jakarta, di Kantor Pusatnya instansi-instansi itu…dan takdir membawaku untuk diterima bekerja di sebuah BUMN. Di BUMN ini, saya harus melalui pendidikan 2 (dua) tahun,  bergiliran job training di Kantor Pusat dan Kantor Cabang. Pertama kali job training di Kantor Pusat di Jakarta, perasaanku sangat sengsara. Mesti bergelayutan di bis kota, gaji (karena masih Tenaga Bulanan Lepas, atau honorer) sangat kecil. Jadi saya mesti ngirit banget, padahal Jakarta kota yang sungguh menjanjikan banyak acara menarik.

3. Kota tempat saya menjadi isteri dan ibu. Di Jakarta ini pula saya menikah dan kemudian punya anak. Dan merasakan bagaimana rasanya deg-deg an dikejar hantu kontrak, apalagi kontrak rumah di Jakarta, terutama buat karyawan baru sepertiku sangat mahal. Syukurlah akhirnya kami bisa menempati rumah dinas di daerah Jakarta Selatan. Saat itu untuk mendapatkan rumah dinas perlu antri lama, dan saat si sulung berumur 10 bulan, saya sekeluarga pindah ke rumah dinas.

4. Kota yang penuh kejutan. Tinggal di Jakarta ternyata harus punya jantung yang kuat, hari yang tenang dan damai bisa berubah menjadi kejutan.  Sekitar tahun 1982, saat itu ada acara penggalangan salah satu  parpol di Lapangan banteng. Kantorku yang saat itu berlokasi di daerah jalan Veteran, sangat dekat dengan Lapangan Banteng. Rumahku masih mengontrak di daerah Rawamangun, dan biasanya saya naik bis dua kali, dari jalan Juanda ke Lapangan Banteng, kemudian dari Lapangan Banteng ke Rawamangun. Pulang dari kantor, saya melihat asap hitam mengepul di arah Lapangan Banteng, jadi saya memutuskan naik bis yang ke jurusan Pasar Senen, dan nanti naik metro Mini ke arah Rawamangun. Mendekati pasar Senen jalanan macet, saya kawatir dan saat melongok  keluar dari jendela, saya melihat banyak kendaraan memutar arah menabrak pembatas jalan. Saya segera turun, berlari dan meloncat ke bis Metro Mini yang datang pertama ke arah Pulo Gadung entah Rawamangun, yang penting semakin mendekati rumah. Di Metro Mini, kami jongkok di bawah sambil menutupi kepala, karena batu-batu beterbangan diiringi suara tembakan. Saya benar-benar deg2an..akhirnya turun di daerah Pulo Mas..untung ada Marinir yang baik hari, mengantar saya bersama teman sampai ke terminal bis Rawamangun yang udah dekat rumah.

Saya segera menghubungi suami lewat telpon, pesan jangan pulang dulu, karena jalanan rusuh. Suami pulang jam 2 (dua) malam, mengitari kota Jakarta, dan menemukan beberapa bangkai kendaraan dipinggir jalan Gatot Subroto. Sejak itu saya selalu waspada untuk melihat situasi jalanan Jakarta, karena setelah itu beberapa kali pernah terjebak dalam situasi yang hampir serupa.

5. Terjebak banjir saat mau ke kantor. Saat itu saya masih kost di daerah Kebon Pala, dekat pasar Tanah Abang. Suatu pagi saya naik bemo dari jalan KH Mas Mansyur ke arah pasar Tanah Abang, tak seperti biasanya antrean bis mengular, rupanya ada beberapa daerah banjir. Dan saat saya telah menaiki bis, rupanya daerah di dekat Sarinah, Gedung Jaya,  tak bisa dilewati bis…begitupun jalan lain yang menuju kantor. Akibatnya hari itu saya tak jadi ngantor, dan kantor sepi walaupun kantornya sendiri tidak banjir.

6.Kota yang ibarat pelangi, semuanya ada. Hidup di Jakarta, asal bisa menyiasati banyak memberikan peluang untuk meningkatkan karir, maupun mendapatkan rejeki. Asal mau capek bisa mendapatkan barang bagus dengan harga murah, maka kita bisa berbelanja di pasar Tanah Abang, Mangga Dua,  asalkan bukan barang ber merk. Walau sekarang ada juga barang ber merk yang dijual di sana. Di belakang kantor lamaku penuh penjual kaki lima, dan nyaris di belakang  semua gedung perkantoran hal ini umum terjadi. Dari penjual makanan maupun barang keperluan sehari-hari, lengkap ada di pasar kaget belakang kantor tersebut, asal kita rela berpanas-panas sambil menikmati istirahat siang. Banyak pula para expatriat yang juga jalan-jalan di pasar kaget ini, bahkan saya sering ketemu para bule asyik menanggalkan dasinya dan makan di pasar Benhil. Karena bekerja di bidang keuangan, pakaian kerja harus konservatif, warna gelap, dan untuk jabatan staf ke atas harus memakai blazer dan atau jas.

Untungnya setelah tahun 2000 an para perempuan boleh memakai celana panjang ke kantor, karena jika pakai rok, kurang fleksibel jika sewaktu-waktu ada tugas lapangan. Para penjual pakaian tak mau kalah, di Benhil Plaza (alias pasar Benhil) ada dua toko langganan para karyawati yang menjual baju kerja ini, ada yang impor dari Hongkong atau Singapura, dengan harga murah. Jika dipakai di luar tak ada yang mengira bahwa itu dibeli di pasar Benhil. Encik yang jualan sering memberi tahu sekretaris lewat telpon kalau ada kiriman baju baru, dan biasanya saya cuma nitip sama cleaning service (CS) untuk membawakan ke kantor…lumayan, mencobanya tak perlu berpanas-panas. Transaksi dapat dilakukan melalui telpon, jika setuju saya tinggal menitip uang ke mbak CS untuk disampaikan pada encik penjual baju tersebut. Di pasar ini juga ada beberapa penjahit, dan karena malas, saya akhirnya hanya menitip baju dan anak buahku yang memilihkan modelnya, nanti saya tinggal bayar. Penyakit males belanja ini sampai sekarang tak bisa hilang, sehingga di luar kantor saya lebih suka memakai jeans dan blouse kaos…belakangan karena mengajar, saya punya beberapa blouse dari bahan kain. Jadi seneng  sekali saat menemani mbak Tutinonka jalan-jalan ke PIM, karena saya bisa ikutan belanja, kalau sendiri sudah bisa dipastikan kembali dengan tangan kosong.  Jakarta juga penuh acara atraksi kesenian dan kebudayaan. Saat masih belum punya buntut, saya sering diajak suami melihat pertunjukkan di TIM, makin lama makin sulit mencari waktunya, karena anak-anak juga menuntut perhatian.

7.Kota yang semakin macet. Jakarta rasanya makin macet saja, apalagi bis makin berkurang, metromini kurang terawat dan suka ngetem, malah kata anakku lebih mahal naik metro mini dibanding biaya naik sepeda motor, karena selain ngetem juga sering mogok. Akibatnya makin banyak sepeda motor, apalagi uang muka sepeda motor makin terjangkau.  Menurut sopir taksi, kemacetan semakin tak bisa diprediksi, dulu hanya terjadi kemacetan tiga kali sehari, saat jam pergi sekolah/ke kantor, jam makan siang, dan jam pulang kantor. Belakangan, muter jembatan semanggi kadang perlu waktu lebih dari satu jam. Dan saya pernah nyaris tiga jam dari Semanggi ke rumah, yang jika terjadi saat jam sepi hanya perlu waktu 20 menit. Mungkin sebaiknya kita nikmati saja kemacetan seperti ini, dengan melihat pemandangan kota Jakarta, yang penuh lampu kelap-kelip. Bagaimanapun macetnya Jakarta, saya menyukai kota ini yang nyaris tak pernah tidur sehingga perasaan tetap aman walau pulang sendirian jam 12 malam, dan senang sekali melihat lampu jalanan di malam hari.

8.Merasakan suasana yang mencekam di tahun 1998. Kantorku sewaktu masih aktif tepat disebelah jembatan semanggi, di depan Universitas Atmajaya. Jadi saat rame-rame demonstrasi, satpam akan menutup pintu masuk kantor, karena banyak demonstran maupun orang-orang yang berlarian untuk sembunyi masuk ke dalam kantor. Pernah saat itu saya sedang ke kantor tetangga, tak bisa pulang karena terjebak demonstran yang memenuhi halaman kantor karena jalan Sudirman sudah penuh orang. Suatu pagi, selesai rapat, sekretaris menyampaikan kabar agar saya segera telpon temanku yang rumahnya di Jakarta Barat. “Penting bu,” kata sekretaris. Tumben nih, pikirku. Begitu saya nelpon, dia langsung bicara…”Hati-hati di Jakarta Barat sudah ada pompa bensin terbakar, katanya juga di daerah lain..anak buahmu yang rumahnya jauh agar segera dipulangkan, apalagi yang cewek dan punya anak kecil,” kata temanku. “O, iya, cepetan, ada kemungkinan telpon di acak, ” kata dia lagi.

Saya kaget, sekretaris yang ikut mendengarkan juga terlihat panik. Akhirnya saya harus ambil keputusan, anak buah yang rumahnya jauh saya suruh pulang,…tapi yang rumahnya dekat kantor terpaksa harus menemani saya, termasuk wakilku saat itu. Saya melihat dari jendela, jalanan terlihat sepi senyap… Pada jam 14.30 siang, bos menilpon, meminta saya menyuruh anak buah pulang satu persatu, saya hanya mengiyakan padahal nyaris semua anak buahku sudah pulang, tinggal dua orang yang rumahnya dekat kantor, wakil saya dan saya sendiri. Akhirnya saya tak tahan, saya ijin bos untuk pulang, dan saya pulang bareng tetangga…jalan benar-benar sepi tak ada orang satupun, saya berdoa sepanjang jalan…sampai rumah segera saya peluk anak-anakku.

Anak buahku yang saat itu rumahnya di Bekasi, besoknya cerita, dia ditanya oleh suaminya kenapa kok masih siang  sudah pulang..dia hanya menjawab kalau disuruh pulang. Suaminya, yang sedang cuti, mengambil sepeda motor, dan pergi ke pertokoan, ternyata sudah rame terjadi kerusuhan. Syukurlah saat itu keputusanku tepat, kalau tidak, anak-anak tak bisa pulang ke rumah. Salah satu staf yang kost di daerah Benhil bosen di rumah, dia balik lagi lihat demonstrans, nggak tahunya saat itu terjadi kerusuhan dan dia ikut disuruh jongkok dengan tangan di kepala sejak jam  3 siang sampai jam 10 malam.

9.Kota yang akhirnya menjadi tempat menetap, membesarkan anak-anak. Tinggal di rumah dinas, anak-anak mempunyai banyak teman main yang seumur. Lingkungannya masih hijau, serta dekat dengan SD, SMP maupun SMA. Si bungsu lahir di kompleks rumah dinas ini, dan saya sekeluarga baru keluar rumah dinas 23 tahun kemudian, setelah merasakan pindah rumah tiga kali, masih di dalam lingkungan kompleks rumah dinas tersebut. Pertama kali pindah ke rumah sendiri,  si sulung protes, karena setiap kali keluar masuk pagar harus dikunci, padahal selama  di rumah dinas  pagar rumah nyaris tak pernah dikunci karena ada satpam yang berjaga 24 jam. Pada akhirnya saya memang harus pindah ke rumah sendiri, syukurlah tetangga baik semua, dan masih akrab satu sama lain, dan terutama si mbak juga betah, karena telah ikut arisan sesama si mbak di tempat yang baru. Pada akhirnya saya menikmati tinggal di rumah sendiri, walau rumahnya kecil, namun dekat kemana-mana (dekat pasar, rumah sakit, sekolah, kantor bank), namun cukup sepi karena berada di jalan buntu.

10. Ingin menikmati masa pensiun di kota ini. Jika banyak temanku yang setelah pensiun ingin pindah ke kota asalnya, saya dan suami menetapkan kota Jakarta ini juga merupakan tempat kami menikmati pensiun.  Membayangkan pensiun di Jakarta akan menyenangkan, karena dekat dengan mana-mana. Dan bisa menikmati kehidupan sosial yang beragam….pada akhirnya saya dan suami jatuh cinta pada kota ini, yang dulunya bukan merupakan kota yang saya inginkan untuk menetap dan tinggal sampai tua.

Ya, kota Jakarta memang kota yang beragam,  yang awalnya benci bisa menjadi tumbuh rasa cinta pada kota ini. Kota yang tak pernah tidur, walau warganya sibuk, namun masih ada rasa tolong menolong diantara warga kota. Kami masih mengenal nama tetangga satu RT, saling menyapa saat ketemu, saling berkirim makanan jika ada rejeki berlebih. Kota yang indah…berjalan-jalan lah di pagi hari, melalui jalanan yang merupakan maskot kota Jakarta, akan terlihat kota yang indah, pepohonan di jalur tengah dan gedung bertingkat di kiri kanannya. Dan di malam hari, lampu-lampu menambah keindahan kota ini. Jenis makanan? Tak dapat saya hitung, dari masakan seantero nusantara,  beberapa masakan internasional, semua ada di kota ini, tinggal memilih sesuai selera dan tebal tipisnya kantong.

Jakartaku memang indah..marilah kita jaga keindahannya.

Ayoo….siapa lagi yang punya kesan tentang kota Jakarta, dari sudut pandang pengalaman sendiri…pasti menarik

Iklan

Responses

  1. jakarta emang penuh kenangan ya bu…

    walaupun banyak dikeluhkan orang terutama karena macetnya, banjirnya, dan trauma kerusuhannya, tapi toh tetep pada cinta bener ama jakarta. hehehe.

    saya sendiri sih sejak pindah ke jakarta langsung jatuh cinta ama kota ini. 😀 abis semua juga ada di jakarta. gimana gak jatuh cinta ya. hahaha. rasanya gak ada bosen2nya dah kalo tinggal di jakarta itu… 🙂

    yah moga2 aja jakarta bisa lebih baik ke depannya…. i love jakarta full banget dah! 😀

    Saya juga mencintai Jakarta….
    Dan Jakarta adalah kampung besar, dengan beragam karakter manusia….merupakan gambaran wajah Indonesia..

  2. ..
    Saya belom pernah tinggal di djekartah Buk..
    Cuman bebera kali aja singgah..
    Jadi kesan saya djekartah is just another big city..
    Maaf ya kalo pendapat saya salah..
    Karena penduduknya yg majemuk, saya ngerasa djekartah kehilangan identitas..
    Budaya betawinya semakin tersingkir..
    Beda dengan jogja ato Bali, yg kalo kita disana terasa budayanya, ciri khas masyarakatnya dan arsitekturnya..
    ..
    Tapi suka patung2 yg menghiasi jalanannya .. 😉
    Djekartah is not bad at all…!!
    ..

    Jakarta memang kota yang merupakan berbagai perpaduan suku bangsa…..
    Budayanya pun beragam….
    Namun jika lebih mengenal sudut-sudut kota Jakarta, banyak keindahan yang belum dieksplorasi…yang menunjukkan karakter warganya

  3. Apapun adanya Jakarta saya pikir patut disyukuri, kalau istilah ‘dagelan’ mengatakan daripada tidak ada… Semoga kedepan Jakarta lebih baik lagi, apalagi habis Ul-tah…. terimakasih

    Saya bingung dengan komentar “daripada tidak ada”
    Jika dari sejarah, kota Jayakarta (yang nanti menjadi cikal bakal Jakarta) sudah ada sejak dulu kala…perpaduan berbagai etnis, karena terletak di pesisir, tempat pertemuan berbagai bangsa

  4. Saya sebenernya mencintai Jakarta, Bu…
    Tapi, saya ogah untuk berjuang dari awal lagi di sana hehehe…

    Paling lama saya tinggal di Jakarta cuma sebulan, itupun saat sebelum pindah kemari…

    Saya mencintai Jakarta terutama di malam hari, hujan, lampu merkuri yang sinarnya berpendar di aspal jalanan yang basah….

    Hmmmm…..

    Ya, itulah Jakarta Don..
    Menyeramkan dan membuat gamang bagi pendatang (seperti saya dulu, jika diterima di kota lain, tak akan kerja di Jakarta)
    Namun, dengan berlalunya waktu semakin mencintai kota ini

  5. jakarta emang bikin kangen…walaupun lebih sering bikin saya sebel 😀

    Istilahnya, seperti kurang lebih….benci tapi rindu….

  6. macetnya itu lho,bikin kangen selalu 😀

    apalagi banjir tahunannya ,bikin senyum2 sendiri bu enny 😛

    Kalau lagi jalan…terus jalanan sepi, padahal biasanya rame..pasti “agak deg2an”…ada apa ya…jangan-jangan….
    Hehehe…atau kebalikannya.
    Saat anak-anak kecil, saya pernah naik taksi di PIM menuju Tarogong…benar-benar sepi..saya langsung perintah sopir untuk memutar. Sopir tanya, kenapa bu? Saya bilang, “biasanya rame pak, jadi mesti ada apa-apa…jadi mendingan balik lagi, lewat jalan Kartini-Simatupang…Ternyata benar, ada sesuatu disana….

    Banjir memang menyedihkan, walau rumah saya nggak kebanjiran, tapi banyak cerita seru tentang banjir ini..adik saya malam-malam terpaksa naik ojek untuk jemput putrinya, karena depan Sarinah sampai stasiun Gambir banjir….padahal dia tak pernah sekalipun naik ojek.Saya juga sempat terjebak banjir, maksudnya menjemput di bandara…ternyata jalan ke sana banjir…dan saya seharian mencari jalan untuk balik ke rumah lagi…hahaha..
    Di Jakarta kita harus selalu siap mendengarkan radio, untuk mengetahui kondisi jalan raya Jakarta.

  7. Ya Ibu …
    Jakarta mau tidak mau juga memberi warna pada diri saya …

    menghabiskan masa kecil remaja dan pra dewasa di Jakarta membuat banyaknya pelangi di benak saya

    salam saya Ibu

    Ayoo om, menulis kesannya tentang Jakarta…pasti seru deh, apalagi sejak kecil ada di Jakarta

  8. Buat saya, Jakarta adalah kota masa depan saya, yang sama sekali gak pernah terbayangkan akhirnya akan hidup di sini, cari makan di sini, berkeluarga di sini….dan sebagainya dan sebagainya…
    Tadinya mah saya pikir Jakarta cuma enak buat belanja kalo lagi liburan hehe..

    Hidup di Jakarta memang harus pandai-pandai menyiasati…karena sebetulnya menyenangkan, asalkan kita menikmatinya

  9. jadi sekarang jadi suka jakarta ya mbak?

    Wah itu harus…dan akhirnya memang jatuh cinta sama Jakarta

  10. Akh.. Bunda. Aku cuma bisa bilang setuju banget dengan semuanya itu, kecuali yg No. 3 aku juga setuju tapi kebalik. AKu kadi suami dan ayah untuk anak2ku.. 🙂

    Hahaha…tentu saja.
    Jakarta memang ibarat lampu terang bagi laron-laron..namun yang tak hati-hati gosong tersengat panasnya…

  11. Kesan saya waktu pertama kali ke Jakarta adalah terperangah melihat secara langsung gedung2 pencakar langit. Secara di daerah saya, gedung bertingkat paling2 sampai tingkat 5 atau 6 dan itupun bisa dihitung dengan jari

    Ya, Jakarta memang identik dengan gedung tinggi, terutama di jalan protokolnya…
    Tapi secara keseluruhan mirip kampung…yang besar sekali

  12. Hmm…. cerita 10 things about jakarta ini paling lengkap dan paling mengena.
    hihihi…. biarpun busuk, kita tetap butuh Jakarta, dan lama2 saya bisa juga cinta sama Jakarta ini.

    Jakarta memang ngangeni, walau terkadang menyebalkan, jika macet dan jika banjir

  13. mba jujur sih, sayapun sebenarnya ga terlalu suka dengan jakarta…cuma bagaimana ya , jkt merupakan t4 buat saya cr nafkah….tp setidaknya saya ga tinggal di jkt…hehe..

    Hmm..kalau sekarang saya sudah betul an jatuh cinta dengan Jakarta, rumahpun di Jakarta…tak membangun rumah di kota kecil kelahiranku

  14. ya bu, jakarta memang kota yg berarti sekali bagi saya, sejak kecil, remaja , dewasa, bekerja hingga menikah, sudah tau ttg segala keburukan dan yg baik2 ttg ibu kota ini.
    walaupun macet dan banjir dimana2, saya tetap cinta jakarta .
    Dirgahayau Kota Jakarta .
    semoga kedepannya lebih baik lagi,amin
    salam.

    Wahh..pengalaman bunda pasti lebih lengkap dari saya, jika sejak kecil ada di Jakarta
    Ayoo..tulis bunda, kenangan akan kota Jakarta, mumpung baru ulang tahun

  15. Saya pernah tinggal di Jakarta dan enjoy-enjoy saja hidup di sana. Saat teman saya mengeluh tentang Jakarta, ya saya (maaf) tak terlalu menanggapi karena menurut saya, hidup saya di Jakarta nggak terlalu sulit dan juga nggak terlalu “wah”.. biasa-biasa saja, saya bisa menikmati hal-hal baru, mall-mall mewah, banjirnya, macetnya…

    Bahkan saat sudah meninggalkan Jakarta 3 tahun ini, kadang saya kangen pada suasananya…. ah..Jakarta, Jakarta…..

    Memang semua dilihat dari sudut padang kita sendiri Nana..apakah kita mudah beradaptasi atau tidak.
    Dulu, karena hanya sesekali ke Jakarta, bayangannya serem, dan saya memang ingin kerja yang dekat orangtua karena beliau makin sepuh. Ternyata Tuhan menakdirkan lain…apa boleh buat, akhirnya saya terdampar di Jakarta lebih dari 30 tahun…jadi sudah bisa bilang kan kalau saya warga Jakarta?

  16. 10 things about Jakarta??

    1. Hot and sticky
    2. The traffic is heavily gridlocked
    3. The air is polluted with the emission gas from carbon-based fuel
    4. Almost no comfy mass transports..
    5. flood during monsoon
    6. Besides Bandung, this is the only city in Indonesia that I had ever lived in for years… hehehe…
    7. A bustling city with nearly 10 million people… to be honest I’d rather like a slower city… 😛
    8. But today it only takes less than two hours to reach the city from the place I live now in Bandung. That’s a good thing indeed! Hehehe…
    9. It seems that it would be the only city where the annual event of Pesta Blogger is held.
    10. The place where first I enjoyed home broadband connection in this country. Huehehe again…

    I actually agree…….hehehe

  17. mending rumahnya bangun lg atau beli diluar jakarta mba..sepertinya lebih bagus…kalo saya setiap ke kntor trus pas pulang kerumah kotoran di hidung byk lho..itu tandanya kan udara udah ga bersih..sedangkan kalo saya dirumah jalan2 dikompleks… biasa aja tuh gada kotoran idung dll.. itu kan membuktikan betapa tingginya polusi yg telah terkadi di jkt ini..

    Hmm…gitu ya…
    Lingkungan rumah saya masih sejuk, bahkan banyak burung gereja dan burung2 lain suka datang di pepohonan dekat rumah.

  18. Uhoo.. Uho.. kunjungan PERTAMAXXX kalinya 😀 I waaaaw, sepertinya Jakarta sudah menjadi koota yang melekat di hati kawan yak?? Terlihat tulisan kawan, semua unek-unekmya dilkeuarin semuanya 😛 baidewei, salam kenal dari Ayas

    Salam kenal juga

  19. Jakarta? hmm..di kota ini dulu saya menggantungkan banyak harapan dan cita2. seperti pengen ikut upacara 17an di istana negara dan ketemu pak SBY, pernah nyaris mimpi saya terwujud bu, kurang satu langkah lagi..tapiiiii karena nasib kurang mujur tak jadilah salaman ma pak SBY, hehe..cuma nyaris aja.
    Ah Jakarta…sepertinya bukan kota impian saya untuk menetap menghabiskan hidup saya.
    Jogja teteplah is the best…

    Wahh Yogya memang kota yang menyenangkan, saya pernah ditempatkan selama satu tahun di Yogya….tapi kan organisasi melihatnya berdasar kepentingan organisasi dalam menempatkan staf nya

  20. hihihi
    ngebaca cerita Ibu jadi membayangkan diri sendiri “jalan masih panjang nih kayaknya di Jakarta”

    dan karena sdikit mirip kayak Ibu, jadinya mengiyakan smua poin (kecuali no.8 keatas tentunya.. smoga jg yg no.8 tidak kejadian lagi, smoga Jakarta aman dan tentram selalu

    Tapi…karena Aldi udah pindah ke daerah Ragunan..lingkungan masih nyaman, dan kemungkinan risiko macet dan huru hara agak jauh ya….mudah2an Jakarta akan aman selalu, para warga nya harus saling mengenal lingkungannya dan saling menjaga

  21. panjang banget curhatnya….hehehehe…..kota jakarta emang segalanya ada…mau cari apa saja ada di jakarta…

    Lha kan 10 things…sesuai tulisan di blog nya Arman

  22. Saya tertarik dengan no. 10, sebab di dalamnya ternyata termuat unen-unen (ungkapan) bahasa Jawa “jalaran saka kulina terus tresna” (lantaran telah terbiasa akhirnya mencintai). Jadi, benci akhirnya sirna berganti rindu menyatu hingga masa tua. Begitu kan, Bu?
    Salam kekerabatan.

    Hehehe..ya betul pak..soalnya jika kembali ke kampung, udah nggak ada yang kenal lagi. Tetangga seumuran ayah ibu sudah banyak yang nggak ada…teman2 masa kecil juga sudah pindah mencari nafkah ke kota lain. Beberapa minggu lalu sempat nyekar, yang kenal hanya satu dua orang…

  23. Setiap kota pasti mempunyai keistimewaan dan terkadang kenangan terindah selalu terbayang dan tak jua bisa dilupakan. thx slm kenal

    Yup setuju..
    Salam kenal juga

  24. semua kota yang pernah saya tinggali sama2 saya cintai bu, semuanya mempunyai keunikan sendiri2,
    banyak kok orang ramah di jakarta ini

    Setuju mbak Monda
    Setiap daerah pasti punya keunikan sendiri-sendiri

  25. yang bikin aku kangen sama jakarta sekarang adalah macet 😀

    disini gak ada macet bun…hehehehehe

    Hahaha…Ria…kangen kok macetnya
    Justru mungkin itu uniknya.
    Kalau saya kangen rame dan uniknya, biar tengah malam masih rame, membuat kita merasa aman dan nyaman.
    Jika tugas ke luar kota, sering kangen setelah 3 hari…Bandung pun kalau malam sudah sepi….padahal rumahku di Bandung…hehehe

  26. Kota yang mendorong saya akhirnya berlabuh di tempat yang sekarang ini (waktu itu pengin sekali kabur dr Jkt :D), seandainya masih di Bandung mungkin lain ceritanya…

    Jakarta memang kota yang membuat kita terdorong pada persaingan, jika kita bisa melihat secara positif…maka persaingan tsb akan berakhir dengan meningkatkan prestasi.
    Seperti Andi sekarang, yang melanjutkan kuliah di Belanda…demikian juga teman anak-anakku yang lain, rata-rata melanjutkan kuliah ke LN dengan beasiswa.

  27. KANGEN jakarta
    tempat aku dilahirkan…ngga pernah ke mana-mana s/d usia 24 th, langsung ke Tokyo hihihii

    EM

    Jakarta memang ngangeni ya….hayoo kapan ke Jakarta? Awal Agustus? Pas puasa ya

  28. bawa aku ke Jakarta, Bun 😦 belon pernah ke sana nih :((

    Lho! Angel kotanya dimana? Saya pikir di jakarta

  29. hm.. Jakarta..

    saya nggak tinggal di Jakarta Bund..
    hanya beberapa kali saja.

    yang jelas, terasa betul padatnya, terasa betul berkejaran dengan waktu.

    Jakarta dalam kondisi normal memang macet sekali…tapi jika long week end, Jakarta lengang ditinggalkan penghuninya yang sebagian besar ke luar kota…..jadi kemacetan pindah ke kota lain.
    Di saat sepi dan lancar seperti ini terlihat keindahan Jakarta, kita bisa jalan-jalan, berkendara, dan melihat sudut-sudut Jakarta yang jika macet tak bisa kita nikmati..

    yah, mungkin itu hanya sekelumit saja.. baru permukaannya saja.

    pasti tetap ada hal2 indah yang belum sempat saya rasakan di Jakarta.

    Kapan ya, jalan2 ke Jakarta lagi 🙂

  30. Wahhh mbak, suamiku itu suka ngedumel dengan jakarta 😦
    apalagi sekarang macetnya gila-gilaan ya 😀 karena dia nyetir sendirian, tipikal orang yang eksplosif, jadinya di sepanjang jalan itu pasti harus bersabar mendengar dia mengeluh. untung kalau sudah tiba, keluhannya hilang sama sekali.

    Jakarta di satu sisi mengajar orang untuk bersabar dan disiplin (buat orang yang memang mau belajar hehehe…)

    Aku sendiri sebenarnya senang di jakarta, teman-teman juga banyak di jakarta, akses untuk mengembangkan diri juga banyak di jakarta. Pernah kami mencoba meninggalkan kota ini, eh ternyata balik lagi. Jadi, sejelek-jeleknya Jakarta, tetap kota ini banyak membawa kesan 🙂

    Waduhh kalau nyopir mengeluh terus berbahaya tuh..harus dinikmati, supaya tak tekanan darah tinggi.
    Dengan dinikmati, kita tak terlalu lelah

  31. nyetirnya sih dinikmati sih, tapi kalau sudah sepanjang hari nyetir sampe total di jalan bisa 4 jam lebih, pastinya my hubby udah capek banget. alhasil cara menghibur dirinya emang ngedumel hahaha…

    kami sering ke arah luar kota, pulangnya terjebak macet. pernah dari semarang, suami nyetir sendiri. biasa durasi 10 jam sampe jkt, minggu lalu sampe 14 jam! 6 jam sendiri macet hanya dari cikampek ke jkt. ya saya maklum aja kalau orangnya udah letih, diajak asik2an juga udah gak asik hahaha

    Pasti menyebalkan kalau macet….tapi Fekhi kan bisa mencairkan suasana, nyetel lagu, ngajak menyanyi…atau di mobil selalu siap makanan kecil (kue kering, minuman kotak/kaleng) lengkap….mobilku udah kayak rumah berjalan….

  32. iya betul mbak
    aku juga sediain semua. walaupun bete, paling gak ada yang bisa diutik2 hehehe…

    Paling nggak mengurangi bete…..tapi memang kita harus berdamai dengan kemacetan yang diprediksi makin parah dari tahun ke tahun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: