Oleh: edratna | Juli 5, 2010

Liburan untuk apa?

Minggu-minggu ini adalah waktu libur anak sekolah, namun hal ini  tak  terasa dijalanan Jakarta (tetap macet), entah mungkin karena makin banyaknya kendaraan bermotor, sehingga kemacetan tetap terjadi terutama di sore hari saat orang-orang pulang kerja. Padahal biasanya, saat libur panjang sekolah, jalanan agak lancar. Mungkin segala sesuatu saat ini makin tak dapat diprediksi, seperti kata pak sopir taksi “Sekarang mah sulit bu memperkirakan jalan mana yang tidak macet” Saat ini, begitu kita masuk taksi dan mengatakan arah tujuan kita, sopir taksi (BB atau E) akan menanyakan “Ibu mau lewat mana?” Rupanya sopir taksi memilih yang aman, agar tak di komplain oleh penumpangnya. Dan karena terbiasa, akhirnya saya selalu menjawab..”Lewat mana aja pak, yang penting sampai dengan selamat ke rumah.”

Ternyata Liburan ada riwayatnya

Pagi ini saya membaca artikel di Kompas, dengan judul “Untuk apa hari libur?”. Dari artikel ini saya baru tahu tentang sejarah hari libur, yang sebagian cerita artikel tersebut akan saya kutip disini.

Hari libur dalam sejarah kita sebenarnya merupakan pengaruh kedatangan bangsa Eropa, sekitar abad ke-18, yang berdasar pada adat atau aturan hidup modern. Kita meniru, kemudian ikut memberikan makna. Konon, pengenalan hari Minggu sebagai hari libur dimulai dari kebiasaan orang-orang Eropa di Batavia yang pergi beribadah dan pada hari itu tidak bekerja seperti hari-hari biasa. Masyarakat Eropa itu juga menikmati hari Minggu dengan bepergian ke suatu tempat, pelesir.

Saya masih mengingat kehidupan di kampung, yang penduduknya rata-rata para petani, maka tidak ada hari libur. Hari liburnya sangat tergantung dari umur tanaman yang ditanam, dimana petani dapat agak bersantai saat menunggu panen. Saya juga masih ingat, hari libur, seperti halnya tidur siang, hanya dilakukan oleh kaum priyayi dilingkungan masa kecilku. Dan sore hari, di rumah kaum priyayi, disediakan nyamikan berupa teh panas, atau kopi dan kue-kue. Saya masih mengingat dengan jelas komentar teman sekamarku yang dilahirkan di Jabar, saat itu kami kost di tempat orang Jawa, karena bude (panggilan saya pada ibu kost) akan selalu menyajikan nyamikan di sore hari. Dengan nyamikan ini, perut kita agak terganjal, sehingga makan malam bisa diadakan agak  malam (sekitar jam 8 malam). Kata temanku..”Mbak, ini kan kebiasaan orang Jawa, para bangsawan, yang saat itu meniru Belanda.” Saya merasa agak deg juga mendengar komentar temanku, namun dia tak salah menurutku….karena memang kebiasaan itu saya lihat ada dilingkungan priyayi di lingkungan masa kecilku. Saat saya mendapat tugas ke Indonesia Timur, perilaku ini juga menghinggapi penduduk asli, sehingga kontraktor mengeluh. Selepas makan siang, mereka pulang dan nanti tidur siang, kembali lagi jam 4 sore…akhirnya kontraktor mengambil kebijakan untuk mencampur pegawai dari berbagai etnis agar pekerjaan bisa sesuai target yang ditetapkan.

Liburan masa kecilku, yang saya ingat adalah banyak membantu ibu belajar membuat kue, ataupun menjahit atau menyulam. Karena hanya pada hari libur, ibu yang berprofesi sebagai guru, ada di rumah. Hari-hari lainnya, masing-masing penghuni rumah sibuk, ayah ibu bekerja, dan anak-anak sejak pagi sudah berangkat ke sekolah. Dan libur ini jarang digunakan untuk piknik, mungkin karena saat itu, bahkan di kota kecilku, mobil pribadi tak sampai 20 kendaraan, sehingga piknik ke luar kota atau ke tempat wisata merupakan barang mewah, atau hanya dilakukan sesekali kalau ada keperluan keluarga. Untuk mengirit biaya, biasanya patungan dengan keluarga lain. Saat ini, jika pulang kampung, si mbak bisa menyewa mobil dan mengajak seluruh keluarganya (kakak, adik, ibu, keponakan) berwisata, karena dengan menyewa Rp.400.000 s/d Rp.500.000,-  sudah plus sopir, dan bensin untuk 24 jam,  bisa keliling daerah Semarang-Muntilan-Yogya. Liburan ini saya kedatangan tamu, adik dan ponakan si mbak,  si mbak kemudian meminta ijin  agar hari Sabtu Minggu boleh  mengajak ponakan dan adiknya yang datang dari Jateng untuk keliling Jakarta, termasuk mengunjungi Monas.

Libur yang produktif

Pak Rohadi menuliskan, dulu saat hari libur, siswa mendapatkan tugas mengarang apa yang dilakukan pada hari libur. Tugas ini sebetulnya sangat baik, mendorong siswa untuk meningkatkan kemampuan menulis, bercerita, bisa mengenal berbagai alam dan budaya Indonesia dari saling bertukar cerita dengan temannya.  Kebiasaan ini sudah jarang dilakukan, namun saat anak-anak saya masih kecil, mereka memang diharuskan menulis karangan ini, walaupun kemungkinan saat liburan tidak pergi kemana-mana. Dengan diharuskan membuat tulisan, paling tidak anak akan menggali apa saja yang dilakukan selama liburan, mungkin hanya sekedar bermain dengan adik, pergi mengunjungi saudara, atau  bermain dengan anak tetangga.

Karena saya dan suami keduanya bekerja di luar rumah, bahkan sering berpisah kota, saat liburan, anak-anak diminta memilih ingin melakukan apa. Biasanya mereka akan berlibur di kota tempat ayah  bertugas, dan si mbak yang bertugas untuk mengantar keliling kota atau  ke tempat bermain. Kadang saya bisa cuti sehari, untuk mengajak anak-anak mengunjungi tempat wisata di Bandung dan sekitarnya. Atau bisa juga melakukan kegiatan, entah berupa kursus privat piano, bahasa ataupun renang. Saat ini ada libur bersama yang diatur oleh pemerintah. Di satu sisi menyenangkan, karena kita bisa menikmati hari Lebaran dengan tenang, karena dulu mesti antri cuti, dan saya sering mengambil jatah hari setelah Lebaran. Akibatnya, sehari sebelum Lebaran saya masih berkutat di kantor…sedang si mbak sudah mulai pulang kampung. Bisa dibayangkan betapa repotnya. Namun libur bersama ini juga mengacaukan jadual cuti bagi karyawan yang belum berkeluarga, apalagi karyawan yang masa cutinya maksimal hanya 12 hari kerja dalam setahun. Mereka yang sebetulnya tak ingin cuti, terpaksa mengambil cuti karena ada cuti bersama yang harus diperhitungkan dengan masa cutinya.

Liburan, menurut hemat saya, memang diperlukan agar setelah bekerja keras, kita bisa rehat sejenak, introspeksi diri, apalagi jika bekerja di kota besar yang setiap hari pulang malam. Saat berlibur, bisa disempatkan mengajak anak mengunjungi tempat wisata edukatif, bisa diajak ke berbagai tempat unik, bersejarah, museum yang semuanya akan memperkaya pengalaman dan pengetahuan anak. Pada saat liburan, hubungan keluarga bisa lebih dekat, bisa melakukan kegiatan bersama, walau tak harus ke luar rumah. Liburan juga bisa dilakukan secara produktif serta biaya yang murah. Bagaimanapun pengaturan masa liburan, memang tergantung keperluan pribadi masing-masing, yang juga tergantung dari jenis pekerjaannya.

Sumber Bacaan:

Rohadi Budi Widiyatmoko. “Untuk Apa Hari Libur?” Kompas, 3 Juli 2010, halaman 12.

Iklan

Responses

  1. Berlibur merupakan sebuah kebutuhan, akan halnya pokok2 kebutuhan yang lain, sebab tak dipungkiri hidup di kota besar dengan beban kerja yang luarbiasa diiringi dengan kemacetan dan segala hiruk pikuknya pasti setelah liburan paling tidak bisa merefresh kepenatan dan munculnya ide2 baru.

    Kalo sekarang saya ada bayi, liburannya ya main dengan dia dan istri, lumayan melegakan kepenatan.. hehehe

    Wahh kalau ada bayi, apalagi jika sudah bisa berinteraksi, rasanya udah nggak ingin kemana-mana lagi selain main dengan anak

  2. eh pertama…..

    Iya….tumben

  3. libur juga pny sisi lain, capek 😀

    Libur kok capek..mungkin capek setelah piknik?

  4. paling enak libur waktu orang lain tidak libur, jadi sepi di mana-mana. Asal jangan hari Senin, karena museum banyak yang libur hari senin.

    Kalau di sini sih liburannya mengikuti cuaca. Duh ngga kebayang deh belajar di musim panas. Ngga konsentrasi…. Panasnya lain dgn panas Indonesia sih.

    EM

    Iya ya…di Tokyo kalau panas pasti panas sekali…nyampe 40 derajat ya?
    Kalau di jakarta, syukurlah masih sekitar 33 derajat C, itupun terasa panas sekali.
    Akhir2 ini karena hujan terus, malah enak terasa adem…..

    Liburan enaknya yang sedeng aja…kalau terlampau sepi jadi sulit cari makan….

  5. wah jika ada libur yg panjang blue mau banget mengisinya.heheh
    salam hangat dario blue

    Blue mau ngisi dalam bentuk apa? Sharing ilmu? Boleh juga…

  6. Setuju, bu. Libur tetap harus produktif. Walau mungkin juga kita memerlukan waktu untuk penyegaran. 🙂

    Libur memang bisa digunakan untuk hal produktif

  7. Terima kasih telah di sharing mengenai sejarah libur (hari Minggu) …

    Yang enak itu sebetulnya …
    Everyday is a holiday …

    Tetapi bekerja tetapi suasanya rileks riang gembira … seperti hari libur …
    walaupun tidak mengurangi keseriusan …

    salam saya Ibu …

    Hmm betul, kalau kita senang, bekerjapun terasa nyaman…
    Kadang saya justru bisa kerja di rumah saat hari Minggu karena tak ada pos dan yang lain2nya, sehingga bisa konsentrasi

  8. Saya juga membaca artikel liburan yang ibu sebutkan di harian kompas tersebut. Ternyata memang liburan itu adalah adat dari barat sana ya bu yang kemudian diadopsi di Indonesia. Berbicara tentang liburan memang menyenangkan terutama bagi anak2. Tapi tambagan bagi mereka adalah harus membuat karangan seusai libur oleh guru bhs indonesia mereka.

  9. liburan ternyata ada juga yg produktif ya..baru tau saya mba, soalnya dalam pikiran saya kalo liburan ya liburan,ga da kegiatan yg bersifat produksi

    Liburan bisa dimanfaatkan untuk macam-macam…bisa berlibur sambil mendapatkan pengetahuan dan pengalaman

  10. liburan
    identik dengan penghamburan waktu
    asal gak kebablasan

    Saya tak sependapat dengan anda…
    Jika telah bekerja keras, berhak untuk menikmati liburan…dan liburan ini bukan menghamburkan waktu, karena badanpun perlu istirahat..dan libur ini kadang malah bermanfaat.
    Saya suka menghabiskan libur akhir pekan ke toko buku, atau ke tempat lain yang menambah ilmu, seperti museum di Kota Tua…atau hanya mengobrol bersama keluarga tercinta

  11. kalau saya liburan ya main sama sikecil, lagi lucu2 nya jadi ya seneng… tapi tidak meninggalkan ‘aktivitas’ biasa…menuangkan ide dan slaturahmi sama teman2 lewat dunia maya… 😀

    Wahh kalau masih ada anak kecil, mendingan main dengan si kecil…kecuali jika si kecil sudah bisa diajak jalan-jalan…

  12. wah baru tau saya,ternyata libur itu budaya dari barat toh? lalu secara islam gimana dong ya??

    kalau saya mencari ilmu gak pernah libur bu 😛

    Betul Didot, prakteknya liburan digunakan untuk melakukan hal yang selama hari kerja tak bisa dilakukan.
    Bahkan bengkelpun penuh dipagi hari, karena banyak orang memasukkan mobil untuk di cek saat hari liburan….

  13. terimakasih utk sharingnya ttg sejarah hari libur ini,bu
    kita butuh liburan , utk refreshing, agar ketika kembali bekerja dgn semangat baru yg lebih baik.
    liburan adalah kebutuhan, khan Bu ? 🙂
    salam

    Betul..libur merupakan kebutuhan, badanpun perlu istirahat kan?

  14. hmm..
    berarti pada saat Hayam Wuruk memerintah Majapahit belum ada hari libur ya Bu?
    … kasian sekali nenek moyang kita

    ehehehehe becanda Bu ^^

    soal liburan, lagi rada2 kagok nih Bu sekarang…
    mau maen kemana?
    klo waktu masih berdua mungkin bisa kemana aja kita mau, tapi pas sekarang punya bayi 6 bulan .. ehehe rasanya bingun mau kemana, ujung2nya mall lagi, mall lagi (aldi sbtulnya males sih dan enggan tapi mau kemana lagi?)
    mau ke Kebun Binatang, anaknya jg kayanya blum ngerti…
    mau ke luar kota, aduuu bawaannya seabreg-abreg ternyata klo punya bayi.. hahahah..

    boleh nanya Bu?
    Ibu dulu ketika Narpati masih balita liburannya apa?

    Saat anak-anak sudah bisa diajak main, saya berlibur yang dekat-dekat saja, agar anak tak terlalu lelah…juga liburan yang menambah pengalaman buat anak….sebelumnya saya membeli buku cerita tentang lokasi yang akan dikunjungi sehingga anak akan tertarik mendengar riwayatnya.

  15. Ingat masa kecil, jika libur sangat menyenangkan karena “bebas” dari belajar dan leluasa bermain dengan teman. Sekarang, anak saya juga merasakan hal yang sama.

    Salam kekerabatan.

    Betul pak, libur berarti bermain di alam (ini juga saya alami saat masa kecil). Kondisi yang berbeda dengan anak saya, karena kami tinggal di kompleks perumahan yang jarang ada pohon tinggi dan jauh dari sungai.

  16. Bener mbak, paling enak liburan produktif seperti kata mbak. Jadi terasa lebih nikmat…
    Yah setahun sekali libur produktif bersama keluarga, rasanya jgua sudah cukup.

    Betul Zee…tak berarti tiap akhir pekan harus ke luar rumah, kadang bersantai di rumah, sudah sangat menyenangkan

  17. wah ternyata jaman dahulu kala ga ada libur ya..
    trmakasih untuk infonya bu..
    salam

    Sama-sama Selly

  18. wah iya dong liburan itu penting banget… kalo gak sih bisa pada stres ntar. hehe.

    orang eropa emang paling menghargai liburan banget. sekarang malah negara2 eropa tuh weekday nya cuma 4,5 hari lho. hari jumat mereka cuma kerja setengah hari. gitu juga dengan annual vacation days nya paling banyak dibanding negara2 di benua lain. setau saya rata2 perusahaan di eropa itu ngasih jatah cuti ke karyawannya sekitar 30-40 hari dalam setahun.

    Iya Arman…setelah kerja keras, pulang malam-malam…kita berhak berlibur

  19. Setau saya, liburan itu mengacu ke kisah penciptaan dunia dimana Tuhan pun buuth istirahat di hari sabat, Bu…

    Saya merasakan liburan weekend terasa menyenangkan itu ya di sini Bu. Waktu di Indonesia dulu, barangkali karena perusahaan sendiri jadi setiap weekend dan liburan malah kesal karena artinya pegawai ndak pada masuk.. tapi sekarang, weekend dan holidays adalah hal yang kutunggu tunggu hehehe

    wolak waliking jaman 🙂

    Hehehe…wirausaha memang berat Donny, karena nyaris tak ada hari libur, pikiranpun harus kreatif untuk bisa mengembangkan perusahaan.
    Selamat menikmati liburan ya Don…engkau udah bekerja keras selama ini

  20. ..
    Sebagai petani liburan saya gak jelas Buk..
    Tergantung sama alam..
    Kalo ujan ya meliburkan diri..
    Ngendon di toko.. 😀
    ..

    Yup betul Septa..petani agak longgar saat tanaman sudah mau panen…ntar sibuk lagi.
    Tapi petani bahagia jika tanaman umbuh baik, dan hasil panen melimpah….
    Salut Septa, masih bekerja dibidang ini

  21. Saat saya masih kecil, keluarga saya selalu mengupayakan setidaknya sekali dalam setahun untuk piknik bersama, terutama di liburan panjang kenaikan kelas. Kata nenek saya, piknik itu perlu agar fresh dan tidak bosan, serta dapat pengalaman baru.
    biasanya sih, piknik itu dirancang seminggu menjelang masuk tahun ajaran baru… jadi waktu masuk lagi, ceritanya masih “fresh” juga…hehe…

    Betul Nana…masa kecilku juga seperti itu…
    Liburan itu penting, saat seperti ini keluarga kumpul, bisa jalan bareng, ngobrol bareng…sungguh menyenangkan

  22. salut untuk edratna yang sering update blog dan balas tanggapan. saya jadi rindu kota Madiun ketika membaca blog anda tentang masa kecil. saya juga dibesarkan di sekitar Madiun juga (SMP St. Bernardus ’77/’78-’81) yang banyak pabrik gulanya. Thanks for sharing tentang pengalaman anda.

    Sama-sama

  23. aah ya saya baca juga artikel itu Bu, tapi ga kepikiran bikin postingan kayak Ibu.. hihihihihi 😆

    satu-satunya yang terpikir dibenak saya saat itu adalah betapa mahalnya harga liburan saat ini, bahkan untuk liburan di dalam kota sekali pun :mrgreen:

    Yup betul…harga2 memang makin mahal…dan sebentar lagi akan makin mahal karena sudah hampir mulai puasa.
    Dan kalau sudah naik, tak turun lagi….

  24. wisata hati aja bu^^

    Hmm maksudnya?

  25. Saya agak terberkahi Bu Eny karena bisa ngambil libur hari apa saja. Meski terkadang harus kerja ekstra keras juga di saat orang lain libur, hehehe…

    Bener juga tuh libur bersama itu ada nggak enaknya bagi yang masih single karena terpaksa harus libur [padahal mungkin tak ingin].

    Mungkin seperti saya sekarang ini..kadang bisa istirahat (enggak juga sih, karena kerja di rumah), namun ada kala sibuk banget
    Yang penting dinikmati ya

  26. Saya hanya terdiam dirumah untuk mengisi liburan, menulis beberapa posting dan hang-out seperlunya 🙂

    Salam kenal,
    Deny

    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  27. saya pernah denger istilah Vakansi..
    berlibur.

    memang itu bagian dari budaya barat / eropa.
    tapi dalam budaya Islam pun juga ada.

    yaitu hari Jumat,
    hari istimewa bagi umat Islam.

    bagi lelaki terutama, untuk sholat Jumat. disarankan untuk menggunakan pakaian yang terbaik dan wangi2an.

    🙂
    sekaligus menjawab komen didot di atas

    Anna,
    makasih jawabanmu.
    Saya masih istilah vakansi ini…ingat ibu alm sering mengatakan kata itu…juga ada di buku cerita (sastra, novel) jaman dulu…..

  28. mirip dengan donny yang dulu kerja sendiri, kadang hari libur sedikit menyebalkan. karena semua jadi tertunda (termasuk aliran cash flow di bank). tapi bagaimanapun harus dihadapi. toh setelah dinikmati, waktu bekerja lagi jadi segar pikirannya.

    Hmm kita memang harus pandai mengatur cash flow, baik kerja kantoran (gaji sekali sebulan) dan kerja wirausaha…juga semua ada plus minusnya. Kerja kantoran, sebagian kantor hari Sabtu Minggu libur (sekarang..dulu Sabtu masuk setengah hari), tapi maksimal cuti hanya 12 hari kerja setahun

  29. Mumpung hari Minggu, mendingan blogwalking deh. Mencari ilmu baru dan tambah teman . Salam Kenal dari saya ya. Semoga anda berkenan juga melakukan kunjungan balik be blog saya

    Makasih kunjungannya…tapi, apa hubungan komentar ini dengan artikel diatas?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: