Oleh: edratna | Juli 16, 2010

MOS

Akhir-akhir ini saya banyak membaca wall maupun status teman-teman di Facebook, yang berkaitan dengan tiga huruf di atas. Maklum teman-temanku senewen dengan permintaan agar setiap kali anaknya harus membawa hal-hal yang aneh, dan siapa lagi yang menyiapkan kalau bukan orangtuanya? MOS atau singkatan dari Masa Orientasi Siswa ini maksudnya baik, agar siswa mengenal lingkungan dan kegiatan di sekolah barunya, namun tanpa pengawasan yang ketat,  ada risiko terjadi kecelakaan bahkan mengorbankan nyawa. Jika dulu Pekan Orientasi Studi, atau Ospek atau mapram, atau apalah namanya hanya untuk mahasiswa, maka sekarang hal-hal yang bernama orientasi studi ini merambah sampai ke SMP…….untungnya belum merambah ke SD. Tak terbayangkan jika anak-anak kecil ini harus ikutan MOS dan segalanya, yang kadang lebih banyak meresahkan orangtua dibanding manfaatnya.

Saya mencoba menuliskan pengalaman saya, saat memantau anak saya saat mengikuti acara MOS dan sejenisnya. Saya pertama kali ikut MOS saat memasuki SMA, saat itu disuruh mendapatkan tandatangan sebanyak-banyaknya dari kakak kelas, tentu tujuannya agar kita mengenal para kakak kelas itu. Dan hukumannya paling-paling hanya menyanyi, itupun sudah cukup membuat malu, sebelum mendapatkan tanda tangan. Di siang hari, sepulang sekolah, kami bersepeda (tak terbayangkan yang tak punya atau tak bisa mengendarai sepeda) keliling kota, mendatangi  rumah guru SMA satu per satu untuk minta tanda tangan. MOS tahun berikutnya, acara minta tanda tangan guru ini ditiadakan, karena guru-guru merasa terganggu, dan kasihan pada anak-anak yang tak punya sepeda, maklum kota kecilku merupakan ibukota karesidenan, jadi banyak dari anak-anak dari kota kabupaten, kecamatan, sekitar kotaku yang sekolah di ibukota karesidenan, yang saat itu baru punya dua SMA, dan SMA 3 malah baru mulai penerimaan siswa baru bersamaan dengan saya masuk kelas 1 SMA.

MOS yang kedua saat masuk Perguruan Tinggi, karena saya datang terlambat, saya ikut MOS pada tahun berkutnya, ini ada untungnya karena saya sudah mendapat kost dan mengenal lingkungan sekitar. Dan bersyukur, di Fakultas ada dosen yang juga pemerhati pendidikan, alm Prof DR Andi Hakim Nasution…beliau nyaris setiap hari menunggu para mahasiswa senior yang sedang menggojlok adik-adik nya. Kedatangan beliau ini terasa sekali, karena ditengah-tengah acara bentakan-bentakan, tahu-tahu senior menyuruh seorang teman memimpin nyanyi..ini artinya beliau sudah datang. Pak Andi alm memang sangat concern pada acara yang berkaitan dengan kemahasiswaan, karena pada saat yang sama Pekan Orientasi Studi ini memakan korban mahasiswa Institut teknologi di kota lain, yang terkena cairan kimia. Dan karena acara berlangsung dari pagi sampai malam, maka Fakultas menyediakan nasi bungkus untuk sarapan, makan siang dan makan malam…. saya berusaha untuk mencatat ceramah di kertas bagus, agar nanti tak perlu menulis lagi malamnya, sehingga waktu yang tersisa sedikit bisa dipakai untuk tidur. MOS di Fakultasku ini saya akui berjalan baik, seminar-seminar yang diadakan memang untuk kepentingan mahasiswa dan kami tidak disuruh membawa hal yang aneh-aneh. Jika acara sampai malam panitia memastikan, agar kami memakai koran yang dimasukkan dalam blouse (atasan) agar tidak terkena radang paru-paru. Disamping itu, ternyata diam-diam om tempat kost ku yang juga seorang dosen, sering datang melihat kami, maklum di tempat kost ada tiga orang yang sedang mengikuti pekan orientasi ini.

Bagaimana saat anakku mengikuti ini? Saat si sulung pertama kali mengikuti MOS adalah di SMP, dan saya sibuk banget serta tak membayangkan jika MOS bisa aneh-aneh. Saat itu saya mengomel karena setiap hari anak-anak diminta membawa bekal yang lauknya aneh-aneh…bagaimana jika orangtuanya tak mampu? Anakku sekolah di SMP Negeri dekat rumah, teman-teman nya beragam, dari anaknya tukang bajaj sampai dengan anak orang kaya. Bagi orang kaya paling repot hanya mencari atau menyiapkan lauk pauk sesuai yang diminta, namun anak orang tak mampu bisa dihukum gara-gara orangtua tak mampu menyediakan permintaan yang aneh-aneh karena tak punya uang. Dan saat MOS inilah si sulung menuai masalah…yang akhirnya saya mendapat cerita dari gurunya (yang kebetulan cukup menyayangi anakku). Anakku memberontak  kepada kakak kelas yang dinilai melakukan hal tak benar, sehingga pertengkaran didengar guru dan saat ditanya, anakku protes mengapa seharusnya seorang senior memberi contoh ke adik kelasnya, namun yang terjadi adalah mereka justru mempermainkan adik kelasnya, memberi contoh tidak baik, mengguyurkan coca-cola, yang harganya lumayan menurut kantong anakku. Saat SMA, si sulung  tak selalu  mau cerita apa yang terjadi di sekolah, namun akhirnya kami dipanggil lagi masalah yang lain….duhh kayaknya sebagai orangtua, saya kenyang deh dipanggil ke sekolah karena pemberontakan anakku jika menemui hal-hal yang menurutnya melanggar peraturan. Namun, jika karena saking stres, saya konsultasi dengan psikiater, beliau malah tertawa terbahak-bahak, dan memuji tindakan si sulung…duhh ..bagaimana ini??? Saat mahasiswa (si sulung sempat di UGM), saya terharu sekali mendengar ceritanya. Dia kost dengan makan, namun karena saat pekan orientasi studi harus berangkat pagi-pagi, saat itu tak boleh pakai sepeda motor, maka dia harus jalan kaki dari tempat kost ke universitas tanpa makan. Nanti makannya pas siang hari karena ada pembagian nasi bungkus, dan malamnya tak sempat makan lagi. Saya nyaris menangis mendengar ceritanya yang hanya sesekali, itupun sulit dipancing untuk keluar…kadang orangtua memang sulit untuk melihat hal-hal seperti ini.

Entah kenapa, saya tak terlalu melihat masalah pada si bungsu, entah karena dia perempuan atau apa, atau memang dia lebih mudah menyesuaikan diri. Walau, sebetulnya SMA nya juga termasuk rawan tawuran, rawan percecokan, bahkan ada murid perempuan yang di silet hanya gara-gara bersaing naksir cowok. Saya tahunya belakangan (dari media),  dan menjadi memahami kenapa tetanggaku yang anaknya laki-laki, seangkatan dengan si bungsu, diantar jemput oleh sopir untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan. Anakku? Cukup naik angkot, kadang2-kadang naik bajaj jika sedang agak sakit atau capek. Saat dia masuk Perguruan Tinggi, kebetulan seangkatan dengan sepupunya (anak adik bungsuku) yang juga tinggal di rumahku. Karena sering membaca hal-hal menyeramkan, suami tidak berani ambil risiko, sehingga diam-diam dia membuntuti anak dan keponakannya saat ada pekan orientasi studi, dari jarak jauh namun tetap bisa mengawasi. Ternyata banyak orangtua yang punya pemikiran serupa, akibatnya para orangtua ini saling kenalan,  membuat kalangan (lingkaran) sendiri, di luar lingkaran mahasiswa yang ikut pekan orientasi studi, malah akhirnya menjadi ajang reuni. Penjagaan oleh suami ini dilakukan terus menerus, kalau dia harus memberi kuliah, maka diganti oleh si mbak…..bayangkan seperti apa ramainya hal ini. Rektornya sendiri akhirnya tahu, dan ketawa melihat fenomena ini, namun siapa yang berani mengambil risiko, karena di institut ini beberapa tahun lalu ada anak dari jurusan Fisika yang meninggal akibat dari pekan orientasi studi…mungkin si anak sudah punya penyakit, tapi tak berani bilang sama seniornya…

Entah kenapa, sepertinya Pekan orientasi studi, atau MOS ini jarang atau saya belum pernah mendengar memakan korban di fakultas kedokteran, karena mungkin calon-calon dokter yang menjadi senior lebih memahami kekuatan tubuh seseorang. Suatu ketika keponakanku, yang sedang mengikuti pekan orientasi untuk masuk himpunan mengirim sms…”Bude, dadaku agak sesak, asmaku kumat, bude bisa kesini?” Syukurlah saya lagi ada di Bandung, langsung mendatangi ponakanku di fakultasnya dan menemui para senior. Ternyata para senior itu berkeras, tak membolehkan keponakanku dibawa ke dokter…akhirnya saya marah..”Mas, keponakanku, boleh atau tak boleh akan saya bawa ke dokter, dokternya juga isteri dosen disini. Nanti biar diperiksa dulu, apa kah dia mampu untuk  meneruskan ikut acara ini atau harus istirahat dulu…kalau kalian tak membolehkan, dan terjadi apa-apa, kalian akan saya gugat. Maukah kalian ada risiko dikeluarkan dari institut ini, sekolah yang kau impikan sejak muda, hanya karena anda tak mau bertenggang rasa menghadapi mahasiswi yang sakit? Saya akan pastikan itu...”, kata saya. Mereka saling berbisik, dan akhirnya keponakanku bisa saya bawa ke RS dan ke dokter. Dan susahnya, ternyata menurut Dekan, kegiatan ini bukan merupakan tanggung jawab Fakultas. Waduhh bagaimana sihh..lha kalau nggak ada tanggung jawab fakultas, dan dilepas ke para senior yang kadang bisa melakukan kesalahan, maka jika terjadi apa-apa risiko juga akan terkena pada institut ini. Malah Dekan itu menyarankan ke suami, agar keponakanku nggak usah ikut aja kegiatan tsb…padahal kalau nggak ikut kegiatan ini, maka mahasiswa merasa tak punya teman, tak punya jejaring. Akhirnya saya hanya menasehati keponakanku, yang penting istirahat dulu, besok diantar bude untuk ikut kegiatan lagi…dan untungnya panitianya mau berdamai….

Masalah MOS ini sebetulnya harus ada tanggung jawab dari sekolah, karena bisa berisiko fatal, sehingga sekolah atau universitas tak bisa lepas tangan begitu saja. Saya bersyukur, saat ada Pekan Orientasi Studi, para dosen di fakultas ku menjaga para mahasiswa bergantian, memastikan tidak terjadi hal-hal yang berlebihan, membuat posko kesehatan, sehingga jika ada yang sakit dapat diantisipasi. Bagaimana dengan sekolah atau universitas yang lain? Apakah POS atau MOS atau apapun namanya, bukan diluar tanggung jawab sekolah atau universitas?

Iklan

Responses

  1. MOS atau apa namanya adalah tanggungjawab pihak sekolah, jadi perlu adanya pengawasan yang baik, kemarin tetangga saya saat MOS kepalanya bocor gara2 kegiatan yang tidak terkontrol. Diusahakan kegiatannya yang bermanfaat dan tidak membahayakan.

    Seharusnya memang begitu…

  2. saya gak pernah abis pikir dengan MOS ini. apa gunanya sih?

    membuat anak baru lebih kenal dan dekat dengan kakak kelas? gak cocok juga… karena dengan cara yang suka menindas malah yang ada anak2 baru jadi kesel ama kakak kelas…

    membuat anak baru lebih kuat mentalnya? gak jelas juga… emangnya dengan ditindas, dimarah2in, dikerjain bisa bikin mental orang jadi lebih kuat? gak juga… belum lagi apa hubungannya dengan sekolah? emangnya sekolah militer.. kan enggak…

    jadi menurut saya MOS atau ospek atau mapram atau apapun itu gak pernah ada gunanya. tujuan MOS dari taun ke taun seperti yang semua orang udah tau ya hanya untuk lucu-lucuan aja, sudah tradisi, untuk balas dendam kakak2 kelas… gitu aja. tujuan yang picik.

    herannya kok ya disetujui sama sekolah ya… itu yang bener2 gak abis pikir. apalagi udah sering ada korban, kok ya masih diterusin. orang jelas tradisi gak bener kok diterusin, itu kan aneh. malah mencoreng lembaga pendidikan itu sendiri kalo menurut saya.

    dan kalo menurut ibu sekarang malah udah ada dari sejak smp, waduh… gak tau mesti ngomong apa lagi deh tentang ini. cuma bisa ngelus dada kali ya…

    saya sendiri ikut mos ini dari sma. kalo sma emang harus ya. wajib. dan sebenernya gak parah2 amat lah ngerjainnya, ya paling minta tandatangan doang. itu juga kan bisa kita palsu. hahaha. toh gak ada yang ngecek kan asli gak nya… 😛

    yang saya sesali adalah kenapa saya begitu bodohnya mau ikut ospek pas masuk kuliah. dulu sih karena katanya kalo gak ikut ospek bakal disusahin sekolahnya, bakal gak bisa lulus lah apa lah.. yang semuanya adalah BOHONG belaka!!

    jadi sekalian menghimbau nih, siapa tau ada calon mahasiswa baru yang ngebaca komen ini. jangan takut untuk gak ikut MOS!! jangan ikut!! kalo ada yang bilang karena gak ikut MOS nanti gak bisa lulus, itu BOHONG!!! gak pernah ada syarat kelulusan itu harus ikut MOS. gak pernah dan gak akan ada!!

    MOS itu useless, dan hanya diadakan oleh orang-orang hopeless!

    Sebetulnya, dulu hanya untuk mahasiswa baru…..
    Saat SMA cuma mengumpulkan tanda tangan, itupun pas jam istirahat.
    Sekarang malah aneh2, kemarin lihat TV malah ada MOS atau MOPD untuk anak masuk SD…memang sih anak-anak bawa bendera kecil, diajak jalan-jalan ke sawah di dekat lingkungan sekolah….tapi kenapa istiahnya jadi MOS atau MOPD?
    Mestinya dikembalikan untuk universitas aja, tapi mahasiswa bebas untuk ikut apa tidak..padahal nggak ikut juga tak mempengaruhi kelulusan

  3. (Maaf) izin mengamankan KETIGAX dulu. Boleh, kan?!
    Sekarang istilahnya MOPD. Pihak sekolah dan PT (ospek) musti membuat regulasi yang jelas agar kegiatan ini tidak salah jalur

    Apapun istilahnya perlu dikaji kembali, perlukah ospek, MOS, MOPD atau apapun namanya ini?

  4. MOS memang tidak ada gunanya sama sekali bunda Ratna. Karena kalau dinilai dari azas manfa’atnya kecil sekali bhakan nyaris nggak ada.

    Bukannya untuk orientasi malah akan membuat hal-hal yang tidak sepatutnya, bahkan membahayakan keselamatan jiwa anak2 didik.

    Saya sangat menentang MOS ini. Apalagi pihak sekolah atau kampus lepas tangan bila terjadi hal2 yang tidak diinginkan. Ajang ini seringkali hanya sebagai ajang balas dendam semata.

    Krn saya penah punya pengalaman buruk sa’at MOS di SMA. Yang akhirnya saya lebih memilih untuk pindah dari SMA tsb dan masuk ke SMA yang jauh lebih bagus dari SMA semula itu, dan tidak ada MOS yang aneh2.

    Mungkin dari pihak-pihak terkait spt Guru, Dosen, Fakultas bahkan dinas P&K harus ada aturan dan tindakan tegas masalah MOS ini, sehingga tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri.

    Bbrp hari lalu sa’at mengantar anak sekolah, saya melihat ada siswi di sebuah SMP dikuncir banyak dgn pita warna warni yang banyak setiap harinya, kaos kaki yang dikenakan juga warna beda2 antara kaki kiri dan kanan, tulisan2 yang berarti buruk tertempel di dada mrk. Mereka memakai tas kresek dengan tali rapiah, dan membawa berbagai perlengkapan yang pasti membuatanya tidak gampang, seperti rumbai2 tali rapiah yang disisir halus.

    Saya pikir kegiatan MOS seperti itu hanya buang2 waktu, uang dan tenaga. Kasihan anak2 ini. Awal masuk sekolah sudah disuruh yang aneh2 dan ortu mrk pasti dibuat pusing akan hal ini. Belum lagi ada lagi sejumlah PR yang akan mereka kerjakan hingga larut malam dengan hal2 yang terkadang tidak masuk akal. Hem…benar2 keterlaluan menurut saya bunda.

    Beloum lagi bentakan2 senior mrk yang bikin kuping ini jadi panas, jika kita mendengarnya langsung.

    Ah…MOS apaan seperti ini. bukannya harusnya mengajarkan tatakrama yang baik, malah sebaiknya.

    Pokoknya saya say “NO” buat MOS bunda, masih trauma akan MOS yang pernah alami sa’at SMA dulu dech. Kenangan pahit itu masih terkenang sampai sekarang, bahkan mungkin selamanya bunda nggak bakalan lupa.

    Ok, sekian dulu sharingnya bunda.
    Nice day for us 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Saya sepakat dengan Bintang, bahkan kalau acara untuk mahasiswa pun universitas/institut harus tetap bertanggung jawab, serta tujuan harus jelas dan bermanfaat.
    Dan untuk SMA ke bawah tak ada gunanya…kan nanti juga kenal sendiri sama teman dan seniornya….

  5. ..
    Di kampus saya dulu, Ospek diganti BakSos..
    ..
    Mos pas Sma emang nyebelin, tp tak terlupakan.. 😀
    ..

    Rasanya banyak kegiatan yang membuat tak terlupakan Ata, tak perlu yang harus bersifat plonco

  6. RAIHLAH “JATI DIRI MANUSIA”.. untuk

    MENGEMBALIKAN JATI DIRI BANGSA INDONESIA

    Salam Cinta Damai

    Apa hubungannya dengan artikel yang ditulis?

  7. seharusnya dikembalikan ke awal, namanya saja orientasi, harusnya materinya adalah pengenalan sekolah dengan seluk beluknya, tapi praktek selama ini cuma ajang balas dendam dari senior yang dulu pernah diperlakukan sama oleh yang lebih senior lagi. kalo perlu diputus saja rantainya, 3 tahun gak perlu ada MOS, setelah itu baru diadakan MOS dengan format baru.

    saya pernah denger cerita dari temen saya yang anaknya pendidikan di AAU, antara senior dan junior ruang makannya dipisah. alasannya karena waktu makan sering dijadikan ajang ploncoan senior ke junior. wong pendidikan militer yang identik dengan kekerasan saja meminimalisasi perploncoan kok kita yang sipil murni malah ditradisikan.

    saya sendiri pernah ikut OSPEK di sebuah perguruan tinggi kedinasan, di hari pertama kami dijemur di lapangan sambil dibacakan tugas yang harus dilakukan. begitu mendengan tugasnya ndak masuk akal, sorenya saya langsung kabur, saya pikir kalo tugasnya ndak masuk akal pasti ini cuma guyonan senior untuk ngerjain juniornya. dan ternyata saya masih bisa kuliah sampe lulus, ikut ndak ikut OSPEK ndak ngaruh.

    Saya sepakat…seharusnya ospek tak perlu untuk SMA ke bawah, apalagi saat menonton TV ada acara MOS untuk siswa kelas 1 SD..bayangkan, kekonyolan kita.
    Untuk mahasiswapun harus jelas tujuannya, dan universitas/institut bertanggung jawab dalam memantau penyelenggaraannya

  8. kalau tujuannya untuk saling mengenal kan bisa membuat makrab,gak perlu orientasi segala,apalagi sampai fisik digojlok ,kadang2 dilecehkan pula. saya sendiri mengalaminya juga bu enny,dan terus terang memang kalau diingat2 cuma buat lucu2an aja.

    buat para seniornya,kalau gak mau tanggung jawab jangan buat apapun…

    ” berani berbuat berani bertanggung jawab ”

    Saya berpikirnya kasihan anak dari luar kota (untuk Perguruan Tinggi), belum kenal medan, udah disuruh bawa yang aneh-aneh. Buat senior sih lucu2an, tapi kan kasihan buat yang tak mampu

  9. kadang MOS cuma dijadikan sarana bales dendam aja sih bun.
    sepertinya akan semakin nggak terkontrol jika tujuan bales dendam-nya malah lebih besar daripada tujuan mengenalkan anak baru pada lingkungan barunya.

    apalagi seperti cerita bunda di atas.
    bahwa MOS bukan tanggungjawab fakultas. wah.. kalo ada apa2 gimana tu?

    mendingan MOS diisi dengan pengenalan kepada kegiatan2 yang dimiliki sekolah. jadi si anak baru bisa memilah dan memilih eskul apa yang akan dia ikuti nantinya…

    apalagi eskul kan juga manfaat bunda, bisa nambah nilai jika berprestasi.

    Memang itu kenyataan yang ada, jadi mau tak mau seharusnya Dikti dan Diknas harus bisa menerapkan aturan dan dapat memantau pelaksanaannya

  10. SMP.. ngelawan senior. Aku malah lupa alasannya apa.

    SMU cenderung damai.. (paling ada tragedi sandwich isi selai strawberry dan telor).

    UGM..
    “Kurang hukumannya, Kak!!”
    (beneran.. UGM itu santai banget ospeknya).

    UI..
    Berantem dengan wakil panitia PSAU.
    Membentak panitia waktu ospek tingkat fakultas

    Berarti…UI paling parah ya….
    Dan seharusnya SMP tak perlu ada Ospek, juga SMA

  11. Wah, kalau MOS di SMA saya nggak ada yang aneh-aneh deh… kakak kelas ya bener-bener membimbing. Mungkin karena sekolah swasta yang sangat ketat dan kepala sekolahnya tegas, nggak ada tradisi kakak kelas yang mempermainkan adik kelasnya. Jadi saat saya dengar teman saya yang sekolah di SMA lain dikerjain ini itu oleh kakak kelasnya, saya sempat bersyukur bahwa saya nggak ngalamin hal serupa..

    Memang diperlukan pemimpin yang tegas Nana..masalah yang terjadi karena pihak sekolah dan universitas kurang memantau sehingga jika ada masalah baru bingung

  12. Waktu saya kuliah, ospek sedang jadi kasus, sehingga ditiadakan.. syukurlah.. setelah saya sudah jadi senior, kalo ga salah ospek mulai lagi, hehehe.. selamet bener deh angkatan saya.. tapi tetep akur kog antar angkatan..

    Padahal tanpa ada yang namanya Ospek juga tetap kenal dengan teman seangkatan kan?

  13. Jaman saya baru masuk kampus, ospek diadakan sampai 3x: kampus, fakultas, jurusan. Oalah.. selama ini saya sudah mengalami 5x ospek 😀

    MOS paling ngeselin perasaan waktu smp. Setiap hari dimulai dan diakhiri dengan upacara bendera, aneh.. :p adahal waktu itu saya udah apal tata cara upacara sejak masuk SD, rasanya gak perlu diulang-ulang kayak gitu 😦

    Lima kali ospek? Betapa membosankannya….

  14. Menurut saya Masa Orientasi Sekolah …
    atau OSPEK saat kuliah …
    itu perlu …

    namun memang caranya yang harus ditinjau kembali …

    Setuju bahwa sopan santun dan tata nilai di sekolah /kampus itu harus ditegakkan …
    tapi saya pikir ada cara lain yang lebih OK …

    Saya takut … MOS/OSPEK ini hanya jadi ajang petantang petenteng para senior saja … nafsu untuk menguasai … nafsu untuk feeling dominan terhadap yang lebih muda …

    Salam saya

    Tujuannya memang harus jelas dulu, dan harus dipantai oleh pihak sekolah atau universitas

  15. Istilah MOS, kini, diganti MOPD (masa orientasi peserta didik). Di sekolah kami, sebuah SMP, justru dibangun semenarik mungkin untuk calon peserta didik baru. Sampai-sampai anak saya berseloroh pada saya, “ingin ada MOPD lagi”.

    Tanggung jawab sekolah tetap ada, terutama urusan kesiswaan. Kemanfaatan MOPD adalah di samping membangun keakraban antarsiswa baru, juga mengenalkan peserta didik baru pada lingkungan jasmaniah dan batiniah sekolah.

    Iya pak, istilah setiap kali berubah, namun yang perlu disadari adalah, sekolah harus bertanggung jawab penuh atas pelaksanaannya sehingga tak terjadi penyimpangan oleh senior

  16. Menurut saya sih memang perlu diadakan masa orientasi, Bu. Supaya bisa lebih mengenal lingkungan baru sih 🙂
    Namun memang tata caranya sih yang perlu lebih baik lagi dan pengawasan dari guru mutlak perlu 🙂

    Manfaat sih memang ada, cuma memang harus diluruskan kembali tujuannya agar tak disalahgunakan

  17. Saya paling tidak suka diintimidasi maka ketika kuliah saya menolak ikut MOS.
    Puji Tuhan, pihak kampus mengerti 🙂

    Sebenarnya MOS ini todak wajib, herannya banyak yang takut nggak punya teman

  18. Kalau di kampus, bukan sekedar takut gak punya teman sih. Kadangkala ada “gosip” bernada ancaman ntah datang darimana, kalau gak ikut mos ntar gak bisa diwisuda, ha3..

    Sebenernya gosip yang kurang masuk akal, tapi tetep aja mahasiswa baru ma takut ama yang gituan. Satu hal yang pasti, emang ada organisasi menyaratkan sertifikat oskep untuk mereka yang ingin bergabung.

    Ancamannya kok masih sama ya, sejak sepur lempung…seperti awal saya masuk ke institut itu? Hehehe….

  19. saya tidak ikut ospek tahun pertama. Kemudian pacaran dengan kakak kelas, sehingga waktu ikut ospek tahun kedua “dijagain”. Sebetulnya tidak ikut juga tidak apa, tapi kebetulan saya harus jadi ketua himpunan mahasiswa, sehingga terpaksa ikut di tahun kedua.

    EM

    Saya juga opek tahun kedua, agak lumayan kenal dengan beberapa senior.
    Saya dulu juga jagain adikku, yang masuk kuliah dibawahku…dan temanku berbisik-bisik…”Awas jangan ganggu adiknya, ntar malah kakaknya yang shock”…hahaha

  20. Saya juga mengalami MOS waktu SMA dimana disuruh meminta tanda tangan senior. Yang paling parah waktu kuliah. Masa Ospek disuruh bawa balon yang masih bisa terbang subuh2 hari. Repotnya minta ampun. Ditambah lagi jarak dari pintu gerbang ke kampus saya lumayan jauh dengan gunung yang tinggi dan disuruh jalan jongkok. Pokoknya ada2 saja dan kurang kerjaan. Tapi tetap dijalanin gara diancam bakal dipersulit ini itu yang ternyata cuma palsu belaka.

    Maksud senior memang hanya lucu2an tapi dia nggak memikirkan proses mencari barang2 yang sulit itu. Dulu ada teman satu angkatan yang akhirnya keluar dari universitas, gara2 pas Ospek dia berontak sama senior…sayang sebetulnya, padahal mestinya dia lebih kuat, kan senior tak ada pengaruh apa2 dalam pembelajaran….

  21. kalau menurut saya MOS atau OSPEK itu perlu , namun mungkin cara penyelenggarannya yg harus dirubah.
    krn selama ini kelihatannya hanya sebagai ajang balas dendam kakak kelas terhadap anak baru atau adik kelas, tdk terlihat adanya unsur pendidikannya.

    Tentu sja pihak sekolah hrs secara otomatis terlibat dlm kegiatan ini.
    salam

    Tujuan awal memang bagus, namun dalam penyelenggaraan tetap harus diawasi agar tak melenceng dari tujuan, atau hanya sekedar lucu2an (buat senior) tapi sengsara (dari sisi yunior).

  22. saya juga mau ikut mos perguruan tinggi nih,, hehe
    mudah-mudahan saya bisa tambah akrab dengan teman2 baru seangkatan.

  23. Dan yg saya rasakan sekarang,MOS hanya membuat saya pusing,harus membawa barang” yg susah untuk di cari dan di tebak,berdandan kayak orang gila membuat saya malu,menghabiskan uang orang tua saya untuk membeli keperluannya!

    Jadi menurut saya mos hanya merugikan siswa/siswi baik dalam keuangan maupun mental!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: