Serba serbi Puasa dan Buber

Dalam setiap bulan Ramadhan, selain kesibukan beribadah, kesibukan menyiapkan makanan berbuka dan sahur, mempersiapkan rencana mudik, yang juga banyak dilakukan adalah buka Puasa bersama. Jika buka puasa bersama dilakukan di kantor atau rumah, setelah berbuka, biasanya dilanjutkan dengan sholat Tarawih. Setelah sholat Tarawih, ada lagi makan-makan, agar perut  yang belum banyak diisi (atau sekedar makan untuk membatalkan puasa), bisa lebih kenyang dan acara ini biasanya baru selesai menjelang tengah malam. Pada saat anak-anak masih kecil, rasanya ingin sekali tak menghadiri acara buka bersama seperti ini, namun kewajiban atas sosialisasi dengan masyarakat, lingkungan kantor, pertemanan, membuat saya menghadiri acara buka puasa bersama ini, walau saya benar-benar memilih mana yang memang patut dihadiri. Bagaimanapun, buka bersama keluarga di rumah merupakan karunia yang patut kita syukuri, karena sekaligus kita bisa mendidik anak-anak untuk berpuasa secara benar, kemudian sholat Tarawih berjamaah.

Puasa kali ini, anak-anak sudah terpisah jauh ribuan kilometer dari saya, bahkan suami juga sibuk bekerja di luar kota, melakukan penelitian sehingga harus pergi ke beberapa tempat untuk kegiatan penelitiannya. Saya sendiri, walau tak aktif sekali, masih bekerja secara paruh waktu.  Kegiatan yang saya lakukan dengan penuh syukur, karena lalu lintas kota Jakarta sekarang makin macet…. jadi setiap kali harus pergi keluar rumah,  selalu bawa aqua botol atau teh kotak sehingga jika waktu buka puasa masih di jalan, paling tidak saya bisa minum untuk membatalkan puasa dan tetap bisa melanjutkan perjalanan.

Ramadhan kali ini saya membatasi buber di luar rumah, karena kesehatan kurang mengijinkan (faktor *U*). Saya hanya janjian buka bersama berdua saja dengan Yoga di Citos pada hari Jumat, sekaligus mengobrol mengobati rasa kangen karena sudah berbulan-bulan tak mengobrol. Hari Minggu malam, saya buka bersama dengan Imelda (blogger yang tinggal di Tokyo dan sedang mudik ke Jakarta), Kai yang lucu, mas Din dan salah seorang temannya. Dan tentu saja, EM yang tahu kesukaanku dengan teh, membawakan oleh-oleh teh dan makanan  khas dari Jepang (maaf..nggak bisa baca tulisan huruf kanji nya). Terimakasih Imel…..sayang kita tak sempat mengobrol banyak ya….Sebetulnya masih ingin mengobrol dengan Imelda di waktu berikutnya, namun setelah itu saya ambruk, mungkin karena kelelahan, dan setelah flu berkurang, batuk malah muncul sampai saat ini. Dan kalau sudah batuk, rasanya tak bisa mengharapkan sembuh dengan cepat. Syukurlah aktivitas puasa tetap berjalan, walau rasanya badan memang kurang fit.

Minggu ini saya diundang untuk buka bersama di Pacific Restoran and Lounge, Hotel Ritz Carlton. Setelah kesasar karena turun nya di depan Mal, kami berputar-putar di Mal terlebih dahulu dan baru menyadari kalau undangannya sebetulnya di hotel…maklum hotelnya tersambung dengan Mal. Kami segera tutun ke P1, kemudian mencari Lift yang ke arah lobi hotel….ya ampuun bau apa ini….rupanya septic tank bocor sehingga baru tidak enak menyebar kemana-mana. Syukurlah setelah dialihkan melalui lorong-lorong (terbayang seremnya kalau sendirian), kami bisa mencapai lobby hotel dan langsung naik lift untuk mencapai tempat acara. Sampai di tempat acara, tempatnya sudah penuh, kami minum sedikit untuk membatalkan puasa, dan segera bergegas menuju tempat sholat yang berada di lantai 8. Disini tak sengaja ketemu teman-teman lama, sehingga bisa mengobrol dengan asyik. Pulang buber, hujan mengguyur dengan deras, dan batukku makin menjadi-jadi….sampai rumah hanya sempat membersihkan badan, sholat dan langsung terkapar tidur…bangun-bangun mendengar suara si mbak membangunkan untuk makan sahur.

Rasanya perjalanan pulang ke rumah di bulan Puasa ini  makin melelahkan, sehingga jika mengobrol dengan sopir taksi  yang menyenangkan bisa mengobati rasa bosan di jalan. Kemarin sopir taksi yang mengantar saya pulang termasuk sabar, setelah mengobrol lama, dia cerita berasal dari kota Malang, tepatnya di daerah ke arah Blitar. Anaknya dua orang dan semua telah mandiri, saat saya tanya keluarganya dimana, pak sopir bilang kalau semua keluarga di Malang, jadi dia pulang sebulan sekali naik  KA Matarmaja jam 3 sore dari Jakarta dan sampai Malang jam 8 pagi. Yang penting besok paginya sampai Malang bu, jangan dipikirkan berapa kali kereta api berhenti, karena jika kita mengomel, kita juga akan merasa sangat lelah. Dengan berpikiran positif, asal besok pagi sampai kota tujuan, ketemu keluarga, hati ini akan tenang. Isteri saya punya warung dan kami punya sepetak tanah sawah yang ditanami padi dan palawijo, pak sopir melanjutkan ceritanya. “Jika mencari uang enak di Jakarta bu, tapi kalau untuk tempat tinggal dan sekolah anak, lebih baik di kota kecil,” kata pak sopir lagi. Pantas pak sopir ini tenang, karena keluarga mendukungnya, dan dia mempercayai isteri dan anak-anaknya.

Kalau nyopir bu, yang penting dinikmati, kalau puasa seperti ini, saya selalu menyediakan makanan kecil dan minuman, agar bisa berbuka di jalan sambil nyopir…karena dengan menikmati, maka perjalanan yang macet ini tak terasa berat, ” katanya lagi. Betapa senangnya kehidupan pak sopir dan keluarganya ini, mereka orang-orang sederhana, tapi mandiri, dan tak berkeluh kesah.

Iklan

25 pemikiran pada “Serba serbi Puasa dan Buber

  1. kegiatan buber memang menjadi bagian yang tak terpisahkan di bulan puasa, terutama bagi kita yang memiliki jaringan pergaulan yang cukup luas. meski jujur saya akui, bahwa berbuka dengan keluarga di rumah adalah jauh lebih nikmat, namun kegiatan buber tetap tidak bisa diabaikan begitu saja.

    dalam puasa kali ini, saya beberapa kali harus mengisi ceramah jelang buka puasa, berat memang, tapi seperti yang dikatakan pak supir tadi, semuanya harus dinikmati dan dijalankan dengan ikhlas. bukan begitu bu enny? 🙂

    Betul Uda…karena kita juga makhluk sosial…walau kalau boleh memilih tetap suka buka di rumah dengan makanan yang sederhana.
    Dan hidup di Jakarta harus makin sabar, dimana-mana makin macet jadi memang harus dinikmati dan ikhlas menjalaninya

  2. Walaupun saya gak berpuasa, tapi biasa ikutan buber juga mbak, hihihi…
    Tapi emang deh, kalo buber nuansa keakrabatannya asik banget, jadi betah berlama2, ngobrol sana ngobrol sini 😀
    Selamat berpuasa mbak 🙂

    Biasanya acara buber memang untuk siapapun, terutama jika buber ini dilakukan oleh lingkungan pekerjaan
    Walau nggak puasa, teman2 di kantor menghargai yang puasa, tak makan di depan orang yang puasa…sebetulnya jika kita saling menghargai, sungguh indah

  3. Ah,, satu lagi pelajaran luar biasa dari orang2 yang sering kita anggap biasa saja…

    kesabaran pak sopir itu pantas menjadi teladan..

    trims sudah menuliskan ini mbak ed,,
    menyejukkan di siang puasa ini…

    salam.. 🙂

    Hehehe…karena lalu lalang menggunakan taksi, saya banyak mendapat cerita yang menyentuh, dari yang menerima (ikhlas), sampai yang menggerutu karena situasi akhir-akhir ini. Hal ini juga membuat saya makin bersyukur, setidaknya kehidupan saya lebih baik dari yang menggerutu itu.

  4. BUKBER harusnya malam hari setelah tarawih artinya buka bersama wakakaka buka sama sama
    ini intermezo aja bunda wakakaka
    yah mestiny saya sangat bersukur setelah membaca tulisan ini dan bisa mengambil sisi hikmahnya
    salam dari keluarga gunungkelir bunda

    Mas Totok….
    Memang menyenangkan, jika kita bisa mendengar cerita dari orang ybs, yang kita anggap orang biasa, tapi dia bisa memberikan pelajaran pada kita…
    Saya akhir-akhir ini jadi suka mengobrol dengan sopir taksi, dan banyak belajar dari kehisdupan mereka. Salam untuk keluarga Gunung Kelir…kapan ya bisa sampai ke sana?

  5. Bu, kalau batuk yg lama, mungkin alergi, spt adek, minum air kelapa hijau, tambahin garam sedikit. Atau perasan daun saga dan sirih.

    Makasih infonya mbak Monda…akan saya coba…

  6. Seingat saya, saya baru sekali buber karena memang saya tidak puasa. Tapi saya mempersilakan suami saya untuk menghadiri buber di kantor atau kalau ada undangan buber di luar kantor..

    Wah, rupanya Bu Enny kecapekan setelah berhari-hari travelling ya… semoga lekas pulih ya Bu…

    Acara buber ini di Jakarta menjadi umum…
    Setelah minum untuk membatalkan puasa, biasanya dilanjutkan sholat Tarawih. Yang tidak sholat bisa duduk-duduk melanjutkan makan minum…nanti setelah sholat, maka bisa mengobrol lagi, sambil makan-makan.
    Kebiasaan ini sekaligus mendekatkan hubungan pertemanan di kantor, antara atasan dan bawahan.
    Kadang saat buber ini juga sekaligus mengundang anak yatim….

    Iya, saya mungkin capek, terus tak sempat istirahat…masuk angin…maklumlah udah balung tuwo….hehehe

  7. subhanallah sopir taksi itu, semoga dapat belajar dari dia…

    Dari perjalanan saya, yang sering menggunakan taksi, saya bisa melihat, bagi para sopir yang melaksanakan KB (Keluarga Berencana), dan kemudian selalu ikhlas dalam menjalankan pekerjaannya…..maka kehidupan mereka akan tenteram.
    Walau ada juga yang pengeluh…kalau yang seperti ini, umumnya disebabkan keluarganya kurang mendukung.
    Dengan ikhlas, maka kita akan bekerja dengan hati senang, apalagi jika keluarga mendukung, maka bekerja adalah ibadah.

  8. Wah coba ada saya di sana …
    saya akan tunjukkan lika-liku gedung itu bu …
    hehehhe …

    Ya …
    jujur saja … kelemahan gedung tersebut adalah “aroma” di area parkiran …
    Kadang di P1 …
    kadang yang keras itu di P3 Bu …

    Salam saya

    Saat itu septik tank bocor, dan air yang bau berceceran di lantai 1 (beberapa orang sibuk mengepel dan tamu yang lalu lalang menutup hidung dengan sapu tangan), persis di depan toko-toko…waduhh…kayaknya memang harus diperbaiki.
    Saya tak terlalu mengenal Mal ini, biasanya hanya jalan kesana kalau mau makan-makan dengan teman…..
    Sebetulnya…jika melihat undangan dengan benar..di dropnya persis depan Artha Graha, di lobby hotel..tinggal naik lift…
    Gara-gara keliru masuk Mal, jadilah masuk lorong-lorong yang serem itu….

  9. seru ya bu kalo ketemuan ama temen2 untuk buber… 😀

    btw sopir taxi yang ibu ceritain itu hebat bener ya… bener2 nyari uang di jakarta dan keliatan ada hasilnya di kampung. kadang kan ada orang2 yang merantau ke jakarta tapi gak bisa nabung. uangnya selalu diabis2in…

    Iya, saya juga merasakan dia termasuk orang yang langka..
    Dan dia tak melepaskan tanggung jawab di kampung, masih memandu isterinya dalam mengelola sawah ladangnya.
    Dan isterinya juga membantu dengan punya warung di kampung…
    Tak heran anak-anaknya sudah mandiri dan bekerja semua, pada saat pekerjaan sulit seperti sekarang.

  10. Meski saya tak berpuasa, kemarin hari jumat, saya ikut anak-anak tetaer sekolah buber di sekolah.

    Ada nilai-nilai kebersamaan yang tinggi terpraktikkan di sana. Mempersiapkan makanan dan minuman, tempat, bersih-bersih sehabis buber dilakukan bersama. Indah dan menyejukkan.

    Salam kekerabatan.

    Betul pak, di Indonesia ini sangat terlihat kebersamaan umatnya pada saat suasana seperti sekarang…walau berbeda kepercayaan, tetap saling menghormati

  11. Wah, buber puasa bersama keluarga memang paling menyenangkan. Paling tidak menyatukan anggota keluarga yang pada hari2 biasa sibuk dan belum tentu bisa ketemu. Dan yang pasti ini akan menjadi momen yang akan mempererat rasa cinta dan kasih sayang antar anggota keluarga.

    Mengenai sopir taksi pada cerita diatas, kita patut belajar dari bapak tsb tentang arti sabar dan menerima segala sesuatu dengan ikhkas. Insya Allah, hal2 yang tadinya penuh kerumitan, akan dimudahkan oleh Allah dengan jalan keluar yang tidak kita sangka2.

    Akhir2 ini, terutama jika hidup di Jakarta, benar-benar orang dituntut lebih ikhlas. Kemacetan yang makin menjadi, membuat semakin lama jarak yang harus ditempuh…
    Dengan ikhlas kita tetap bisa bekerja dengan baik….dan juga menyenangkan bagi orang lain yang berhubungan dengan kita

  12. wah..bijak sekali pengendara taksi itu bu….
    menikmati hidup meski beban itu berat…

    berbuka puasa dengan keluarga memang sesuatu yang sangat berharga, apalagi sepertinya tahun ini saya tidak dapat merasakan sahur bersama keluarga, dan berbuka mungkin sekali di hari terakhir..

    salam

    Ya, betul….
    Kita sendiri juga harus makin bijak, karena dengan sabar dan ikhlas kita bisa menjalani semua dengan hasil baik.
    Berbuka, bagaimanapun tetap lebih nyaman di rumah

  13. arka

    itulah kebersamaan di bulan ramadhan. beruntng bunda memiliki keluarga yang concern pad pendidikan. kita akan diuji dengan bulan diluar ramadhan. dibulan ramdhan, memberi mkan seringnya mereka sudah punya. jangankan makan hasil pemberian tetangga, makanan sendiri saja tidak habis. di luar ramadhan harusnya masih ada “BUBER” Buka Bersama hati kita untuk saudara kita yg masih kekurangan

    Ya, makna bulan Ramadhan antara lain agar kita tak sekeda mendapat lapar dan haus, namun juga memberikan kebahagiaan bagi orang lain, yang masih kurang dibanding dengan kita

  14. Bu kalo saya sendiri kurang nyaman berbuka di luar itu karena masalah sholatnya ya. Kita kayak terburu2 mengejar waktu dan rebutan tempat sama pengunjung lain, jadilah saya malas klo harus berbuka di luar.
    Ditambah juga emg enakan di rumah hehee.. faktor U juga ini bu..

    Betul Zee….apalagi jika berbuka nya di Mal, dan tempat sholatnya terbatas.
    Namun, ada kalanya lingkungan sosial memaksa kita untuk tetap bisa bersosialisasi…
    Kemarin di Pasific Restoran and Lounge tempat sholatnya bersih, sehingga nyaman….
    Biasanya kita ingin berbuka yang tempat sholatnya memadai…
    Memang lebih menyenangkan lagi, jika buka puasa bersama di rumah, bisa sholat bareng, sholat Tarawih, ceramah, dan makan-makan….tapi jika sering-sering juga tetap enak di rumah ya…

  15. Selamat berpuasa dan kontrol makan justru saat buka, Bu..

    Teman saya bilang, saat puasa malah dia bisa menimbun gula banyak bener…

    Eh iya, selamat menjelang Lebaran juga!

    Saya kebalikannya Don…
    Lha hari biasa aja, suka malas makan, kecuali jika ada temannya
    Masalah saat puasa, adalah ..saat berbuka, minum segelas teh manis hangat aja udah terasa kenyang.
    Sahur juga harus dipaksakan untuk menelan makanan.
    Kalau sakit batuk..mungkin karena kelelahan, lupa faktor “U”, habis sahur nggak tidur lagi, ini itu nggak ada habisnya….tahu-tahu pagi.

  16. Iya, memang perjalanan panjang dengan teman yang menyenangkan itu ga terasa bisa terlewati dengan cepat..

    Di kantor saya juga banyak acara bukber, dan senang juga sih bisa bertemu orang2 lain bagian yang selama ini terpisah gedung dan lantai 🙂

    Wah, sampai jatuh kecapaian Bu.. jaga kesehatan Bu..

    Sekarang udah mendingan kok Clara, tinggal batuknya yang kadang masih muncul.
    Bukber ini memang menyatukan para karyawan di sebuah perusahaan karena juga mengundang seluruh karyawan….

  17. ..
    Maaf Bu, mungkin yang di maksud KA Gajayana, kalo matarmaja berangkat dari pasar senen siang nyampek malang siang berikutnya..
    ..
    Semoga batuknya cepet sembuh ya Buk..
    ..
    Salam saya..
    ..

    Tapi dia bilang Matarmaja kok….
    Bukankah kereta ini ada ya?

  18. Saya jadi ingat betapa stress-nya mengalami kemacetan di Jakarta 😀
    Semoga lekas sembuh ya, Bu…
    Sangat nggak nyaman bila di saat berpuasa selalu ada lendir di tenggorokan 😦

    Makasih doanya..sudah agak mendingan..walau kadang masih terbatuk-batuk…
    Lha tiap kali keluar, ketemu sopir taksi juga batuk…mungkin musim ya…
    Ditambah karena macet, dijalan dan ketemu orang, makin lama

  19. yang lucu bu, temen-temen SMP mau reuni sekaligus buat acara bukber. Tapi yang hadir malah semuanya yang kristen….lucu sekali waktu itu.

    Terima kasih waktu itu sudah meluangkan waktu untuk bertemu ya bu. Rupanya jumatnya bertemu dengan Yoga.

    EM

    Imel..sayang kondisi fisikku lagi nggak baik saat itu, padahal pengin ngobrol lagi dilain hari.
    Hari Jumat sebelumnya sempat ketemu Yoga..itupun juga tak lama..Yoga pengin ngajak ngopi lagi..tapi saya tak kuat (mungkin saat itu udah ada gejala mau flu).
    Dan pulangnya…naik taksinya kebablasan karena saya sempat tertidur..pak sopir sampai ketawa, terpaksa muter balik lagi

  20. Wah mbak Enny tetap energic dibulan puasa
    Klo saya setiap puasa sering merasa sepi, apalagi sendiri berpuasa, buka sendiri, sahur sendiri setelah itu lebaran whiling arah, ngga tau Sholatnya dimana, cuma ada teman Indonesia yg selalu menemani berlebaran jadi saya masak2

    Saat ini kue saya bertumpuk dimeja, saya buat banyak…. coba klo di Indonesia……..

    Yahh…coba Wieda di dekat saya..pasti kuenya udah habis deh….
    Wied, saya juga sering sahur sendiri, karena anak-anak jauh, suami lebih sering di luar kota…memang ada si mbak
    Seminggu sebelum Lebaran, saat suami masih sibuk…saya juga sahur dan buka sendiri…wahh benar2 nggak enak, cuma harus bertahan kan, dan harus dinikmati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s