Jalan-jalan bersama si mbak

Dua orang si mbak di rumahku, telah ikut dalam keluarga kami lebih dari sepuluh tahun. Mereka sudah seperti anggota keluarga, mengenal semua keluargaku (adik-adik ku dan adik-adik suami, keponakan), juga para temanku. Mereka juga mengenal kebiasaan anggota keluarga, makanan apa yang disukai, dan makanan apa yang tak disukai. Bahkan jika anak-anak tak sempat menata lemari bajunya, si mbak ini akan selalu menata ulang, membersihkan, menambahkan kapur barus agar baju-baju itu tak dimakan ngengat.

Saat anak-anak masih kecil, si mbak berperan menjadi teman main, dan menjelang mereka remaja menjadi teman menonton film (kalau  ibu sibuk kerja dan tak punya waktu menemani nonton). Kepandaian si mbak juga bertambah, dari hanya punya ijazah SD, karena sambil sekolah ijazahnya meningkat, bisa mengetik di komputer sehingga bisa membantu suami mengetik naskah, serta salah satu si mbak jagoan nyopir. Dia sudah pernah di ajak keliling Jawa, dari Serang sampai Kediri, dan dia lah yang menyopir (padahal saya tak berani nyopir..hahaha). Jika ada kondangan (ngaku nih) dan lagi tak ada sopir cowok, maka si mbak ikut berdandan dan menemani saya serta teman datang ke kondangan. Sebelumnya saya pesan, jangan banyak komentar ya, senyum saja sambil memberi ucapan selamat……dan jika dia berbaur dengan para tamu, tak ada satupun yang menyangka kalau profesi dia sebagai PRT….. memang kami sekeluarga tak menganggap dia sebagai PRT lagi. Lebaran yang lalu, seusai sholat Idul Fitri, kami langsung datang ke tetangga, dan tetangga kami (kami masih baru di kompleks ini) bertanya ..”Ini putranya?” Melihat kami menggeleng, beliau bertanya lagi..”Putro mantu?” (maksudnya anak menantu?). Serba salah memang, kalau bilang keponakan, bukan..tapi kami tak menganggap orang lain, tapi bagian dari keluarga….. si mbak ini wajahnya memang manis, bahkan saat disuruh ke Yogya menemui si sulung yang saat itu sempat kuliah disana, kakak kelas si sulung naksir si mbak, karena dikira kakak perempuan  si sulung.

Jika saya membutuhkan sesuatu, dan tak cukup waktu, maka si mbak ini keliling dulu cari informasi, sehingga nanti ada beberapa pilihan dan saya tak perlu berkeliling semua. Dan si mbak ini, andaikata orangtuanya pandai, sebenarnya pandai, karena dia cepat tanggap dan bisa menerima pesan asalkan ditulis agar tak lupa. Suatu ketika suami saya pulang memberi kuliah..dirumah dia melihat si mbak asyik diskusi dengan mahasiswa…..Oh …rupanya mahasiswa itu malah bertanya bimbingan ke si mbak..dan  si mbak  dengan pede nya menjawab pertanyaan mahasiswa sambil memberikan contoh apa yang dijawabnya dari buku tertentu yang diambil dari perpustakaan suami. Sampai sekarang si mahasiswa tersebut tak tahu apa dan siapa posisi si mbak ini dalam keluarga kami.

Libur Lebaran kemarin, yang bertugas membantu di rumah adalah si mbak yang bisa nyopir ini, karena yang lain pulang kampung bergantian. Saya selama bulan puasa ini kondisi badan kurang fit, entah kelelahan atau apa, tapi flu kemudian diikuti batuk.  Berdasar pengalaman saya, jika sudah terlanjur kena batuk, memerlukan waktu cukup lama menyembuhkan batuknya. Adik saya menyarankan, yang penting lehernya diberi syal…namun malam-malam saya nyaris terjerat syal tsb….walaupun batuk hilang. Dan bayangkan….. ,tinggal di Jakarta (walau sedang musim hujan), mesti tidur pakai kaos kaki, baju hangat plus leher pakai syal. Benar-benar nggak nikmat, tapi anehnya batuk menghilang…dan muncul lagi jika badan saya terasa dingin, walau rumah saya tanpa AC.

Tak lupa beli pop corn

Akhirnya, seminggu setelah Lebaran saya mengajak si mbak  ke tukang pijat….setelah itu badan agak enak. Rasanya pengin makan enak di luar, kok sendirian nggak nyaman, apalagi suami sudah harus memberi kuliah di kota lain.

Jadilah pada saat harus ke bengkel untuk mengganti oli mobil,  setelah selesai,  si mbak saya ajak jalan-jalan ke Mal. Kebetulan film “Sang Pencerah” masih diputar,  saya ingat pesan si bungsu, dia ingin diceritakan jalannya film tersebut. Saya mengajak si mbak untuk menonton film….dan sepanjang pemutaran film saya menjelaskan kepada si mbak latar belakang dan filosofi film tersebut. Film tersebut menurut saya bagus sekali, tapi si mbak agak kurang memahami, apalagi karena dia lebih mengenal NU daripada Muhamadiyah.

Soal resensi film, karena saya kurang ahli, anda dapat melihat ulasannya yang menarik di blog nya Uda Vizon. Dan saat saya telepon si sulung, saya baru tahu, rupanya set alun-alun keraton Yogya bukan dilakukan di Yogya, namun di kota Bogor. Padahal benar-benar terlihat seperti di alun-alun Yogya. Saya termasuk pengagum Hanung, beberapa filmnya yang pernah saya tonton, bisa menggambarkan masa kejadian saat cerita tersebut….yang berarti tim artistik nya telah bekerja keras. Akibatnya beberapa film dari Hanung yang diangkat dari novel, yang kemudian diganti sutradaranya hanya sekali saya tonton, setelah itu tak berminat lagi menonton lanjutannya. Hanung memang berani memberi warna, sehingga film itu bisa membuat rasa dan situasi yang seolah kita berada di sana. Saya tak pantas sebetulnya mengatakan ini karena saya bukan ahlinya, tapi menurutku, saya bisa memberikan ini sebagai opini pribadi. Selain Hanung, sutradara untuk film Indonesia yang saya suka adalah Riri Riza dan Mira Lesmana.

Mie bakso GM

Pulang menonton mampir makan dulu di PIM, baru kami pulang. Si mbak komentar…”Saya baru nonton film sekali ini bersama ibu,” katanya. Hahaha..selama ini kan dia menonton bersama anak-anak saat libur sekolah di Bandung dan saat itu anak-anak masih kecil, jadi filmnya adalah film anak-anak. Saat anak-anak ABG dan remaja, ganti mbak Ti yang tinggal di Jakarta, yang sering diajak si bungsu menemani nonton film kalau tak punya teman menonton.

Hmm senang rasanya mengajak si mbak menonton, daripada menonton sendiri. Selama ini saya banyak melewatkan film bagus hanya karena males menonton sendiri. Jika nanti ada VCD nya, saya ingin mengirimkan pada si bungsu agar dia bisa menikmati filmnya, tak sekedar hanya mendapat cerita lewat telepon atau membaca ulasan di beberapa  blog.

Iklan

27 pemikiran pada “Jalan-jalan bersama si mbak

  1. senang sekali kalau mempunyai mbak yang sudah seperti keluarga sendiri ya.
    Kami juga dulu mempunyai mbak Dyah yang cukup lama membantu kami, tapi terpaksa keluar karena menikah dan mempunyai anak. Tapi meskipun dia sudah tidak bekerja bersama kami lagi, dia selalu mengirim kartu Natal dan menelepon setiap ada yang berulang tahun. Anaknya lahir berdekatan dengan Riku (Ricky dalam bahasa Inggris), dan dia menamakan anaknya Ricki…padahal kami tidak saling memberitahu nama apa yang kami berikan untuk anak kami.
    Sayangnya setelah dia, tidak ada mbak yang tahan lama atau berdedikasi tinggi seperti Dyah.

    EM

    Imel, memang tak mudah mencari seseorang yang bisa sesuai dengan budaya keluarga kita, tanpa mereka juga kehilangan jati dirinya.
    Dan itu diperlukan hubungan timbal balik antara majikan dan bawahan….Saya bersyukur mendapatkannya, setelah melalui proses berganti-ganti sebelumnya.
    Saya sebetulnya masih kalah sama temanku, dia punya si mbak yang sebetulnya anaknya mbok yang ikut ibunya. Saat menikah, anak si mbok diajak ikut dia, dan bertahan sampai sekarang, sampai kedua anaknya sudah besar.

  2. Wah senangnya. ,
    apapun itu, apapun pekerjaannya, kita harus menghargai
    saya suka bacanya,

    Maaf ya mas, jika terpaksa di edit. Lain kali jangan disingkat-singkat dan pakai huruf besar kecil lagi ya. Btw, makasih kunjungannya

  3. Enak ya Bu punya hubungan yang sangat dekat dengan pembantu yang bisa kita sebut sebagai Mbak/Bibi itu…

    Kalau boleh saya tebak, mbaknya Ibu pasti asalnya dari Jawa Timur karena kebanyakan lebih mengenal NU hehehehe

    Yang satu dari Jawa Timur, dan kampungnya tetanggaan sama kampung suami (dekat Jombang).
    Sedang mbak satunya dari Jawa tengah, dan cenderung ke Muhamadiyah…
    Indahnya perbedaan ..disinilah asyiknya

  4. wahhh, punya embak yg kayak gitu bikin mupeng Bu 😦

    Iya, tapi melalui proses yang bertahun-tahun..ada pasang surutnya…
    Pada dasarnya ada dua pihak yang saling berkepentingan, tak bisa jika hanya salah satu aja.
    Mencari si mbak yang berdedikasi juga tak mudah….apalagi zaman sekarang

  5. Enak banget punya si Mbak kek gitu. Btw, acaranya banyak juga, ya?

    Si Mbak sih sibuk banget…kan dia yang mengelola urusan Rumah Tangga, dari kebersihan rumah, mengatur uang belanja (saya hanya seminggu atau dua minggu sekali kasih uang belanja)….membayar tagihan listrik, telepon, mengurus STNK, asuransi…nyaris seperti asisten pribadi deh, tapi untuk urusan rumah tangga. Jadi saya bisa mengerjakan lainnya, yang lebih bermanfaat untuk orang lain dan diri sendiri.

  6. kebetulan kami juga punya mbak2 di rumah yang sudah kami anggap spt keluarga sndiri…..mmg enak sgala sesuatunya sudah tanpa pakai di perintah…sudah mengeti apa yg jadi tanggung jawabnya…
    dan kami semua menyayanginya….

    salam n
    mohon maaf lahir batin..

    Ya…kalau sudah baik, mereka seperti keluarga sendiri….
    Saya juga mohon maaf lahir batin

  7. saya sangat salut dengan cara anda memperlakukan si mbak, sebab nyatanya tidak banyak yang bisa menghargai si mbak seperti anda …

    Di sekeliling saya, banyak para keluarga yang memperlakukan si mbak seperti saya dan keluarga. Si mbaknya juga awet, gajinya juga lumayan besar (sesuai ketentuan)..karena tanpa mereka, kami tak bisa meneruskan karir, tak bisa membimbing anak, menemani membuat PR, mengajak jalan-jalan anak dsb nya.
    Dan si mbak ini mirip asisten pribadi….dan dia juga memberikan kesetiaan yang luar biasa…kalau pulang kampung, keluarganya titip oleh-oleh makanan untuk kami sekeluarga.

  8. hehehe….baksonya kaya’nya enak nih…..
    Wadugh…..kalo punya si mba’ kek gitu emang perlu ekstra sabar ya Bu…..

    Ekstra sabar? Apa maksudnya?
    Kami biasa-biasa aja kok…
    Dan si mbak juga memahami kelebihan dan kekurangan kita masing-masing….
    Dan sabar..bukankah untuk menghadapi apapun, bukan hanya pada si mbak?

  9. Aseek yah klo mbak dirumah bisa menjadi anggota kluarga dan sangat ngerti akan tugas dan tanggung jawabnya
    Lebih salut lagi pada kluarga mbak Eny yg memperlakukan ” mbak2. ” dengan sangat baik

    Wieda,
    Yang lebih asyik..mereka juga memberikan kesetiaan yang luaar biasa.
    Dan saya bisa melakukan kegiatan luar rumah yang menyenangkan, bisa lebih dekat pada anak-anak saat mereka kecil…karena urusan lainnya sudah dipegang si mbak. Dan saat anak-anak dewasa, si mbak juga berkembang kemampuannya…

  10. Tetangga saya, mempunyai seorang si mbak yang sudah sangat lama mengabdi kepada keluarga itu. Kabarnya, sejak anak-anaknya masih balita. Sekarang anak-anak itu sudah berumahtangga, dan si mbak itu masih di rumah itu. Kami memanggilnya “si mak”. Antar beliau dan pemilik rumah sudah tak terlihat lagi jarak, benar-benar sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan, anak-anak di lingkungan kami menyebut rumah tersebut dengan “rumah si mak”, bukan rumah si empunya rumah. Itu menunjukkan bahwa rumah itu sudah sangat identik dengan beliau… Sebuah teladan yang patut dicontoh, baik si pemilik rumah maupun si mak tersebut… 🙂

    Saya ingat bude suami….maknya sampai dikasih uang pensiun dan tetap tinggal di rumah bude sampai meninggal. Setelah tak kuat kerja, si mak ini tugasnya mengajari para mbak yang baru….
    Ada salah sattu PRT nya (laki-laki) disekolahkan, kemudian diterima di BI…dan saat putranya bude lulus kuliah dan mau test cari kerja di Jakarta, dia tinggal di rumah mantan PRTnya yang udah jadi pegawai BI. Dan PRT ini kalau ketemu para mantan ndoro kecilnya ini, masih membungkuk dan memanggil nya den… (den Ipung, Den Anto…panggilan hormat), walau bolak balik dimarahi….

  11. wah mbak nya pinter banget ya bu… enak tuh ya kalo dapet mbak yang begitu. kita nya juga seneng jadinya ya… 😀

    Yup…betul..
    Meninggalkan rumah juga tenang….

  12. saya kagum ama ibu yang tentunya bisa mengerti kelebihan dan kekurangan dari si mbak ini sehingga kalo dua2nya pengertian jadi awet hubunganya.

    Sebetulnya kunci bisa nyaman adalah masing-masing saling menghormati dan tahu apa tugasnya. Juga memberikan waktu untuk istirahat, membantu biaya jika mereka sakit dsb nya

  13. dari tulisan ini banyak sekali contoh yg bisa diambil, bagaimana kita sebaiknya memperlakukan orang2 yg ngenger dirumah kita, dgn rasa comfort dan dihargai, merekapun merasa seolah dlm keluarga sendiri ya Bu.
    terimakasih utk tulisan yg meberikan inspirasi ini Bu 🙂
    salam

    Wahh ternyata bunda juga kenal istilah ngenger ya…?
    Ini umum terjadi di masa lalu, masa kecil saya, banyak orang yang ikut ayah ibu, tanpa dibayar, hanya numpang makan tidur, namun membantu pekerjaan rumah tangga.
    Jika mereka baik, nanti menjadi anak asuh, disekolahkan, dikursuskan ketrampilan dll.

  14. Mbak Enny beruntung sekali memiliki asisten yang canggih begitu, awet pula. Saya yakin si mbak kerasan, karena dia diperlakukan dengan baik, dan merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Mbak Enny. Ohya, mengingat dia sudah begitu lama ikut Mbak Enny, mungkin usianya sudah dewasa sekali ya. Wah, kalau suatu saat nanti dia menikah, mungkin Mbak Enny akan kehilangan sekali …

    Saya juga pernah memiliki asisten yang manis, masih remaja. Kalau suami tidak bisa menemani ke resepsi pernikahan, dia saya suruh pakai baju saya yang sudah lama (dan sudah tidak saya pakai) lalu saya ajak menemani ke resepsi. Kalau ditanya kenalan dia siapa, saya jawab, “oh, ini anak saudara”. Dengan demikian orang tidak meremehkan dia (kan orang sering begitu ya), si anak sendiri besar hati.
    Sayang, setelah bekerja sekitar 3 tahun, anak ini pamit. Yah, namanya anak muda, dia pengin mencoba kerja yang lain. Meskipun sedih, saya tak bisa mencegah kepergiannya. Biarlah dia mencari masa depan yang lebih baik …
    Waktu pamit, dia juga nangis, karena sebenarnya dia pun suka bekerja pada saya.

    Usia nya memang sudah dewasa sekali…beberapa kali memang pamit mau nikah (dijodohkan) tapi entah kenapa, dia balik lagi ke rumah, jadi sempat ada 3 mbak di rumah gara-gara kami udah terlanjur terima yang baru. Namun karena saat itu si bungsu masih kuliah, juga ada keponakan dan sepupu yang tinggal di rumah Bandung, tambahan si mbak tak jadi masalah (dan saat itu belum pensiun…)
    Masalahnya memang disitu mbak Tuti…..mereka berpikir kayak kita, melihat plus minusnya, karena di rumah sudah seperti keluarga, uangnya cukup…kalau pasangannya tak sesuai malah jadi susah. Tapi saya tetap berharap, suatu ketika mereka menemukan pasangan yang tepat.

  15. Saya jadi teringat di mbKa yang merawat kakek kami, setiap hari dia membaca 3 koran, kompas, Jawa Pos dan Malang Pos. Pengetahuannya sangat luas. Meskipun dia hanya SDTT (Sekolah Dasar Tidak Tamat).

    Alhamdulillah, dia mau mengambil kursus menjahit di sore hari bergantian dengan saya merawat kakek. Setelah kakek meninggal, mBak bekerja pada beberapa desainer kondang di Malang kemudian hijrah ke Jakarta.

    Saat ini dia menjadi penjahit ternama di kotanya. Saya bangga padanya.

    Kalau ada orang yang pernah ikut kita, kemudian sukses, kita ikut bangga karenanya, telah berhasil mendidiknya

  16. Apakah mbak ini yang saya temui dulu, meski hanya beberapa menit ya, Bu?
    Titip salam ya… 😀
    Seru banget persahabatannya, sampe jago nyupir segala 😀

    Yang ditemui Akin tak bisa nyopir…tapi suka mencoba resep berbagai kue. Tapi dia bisa melakukan yang lain, mengirim paket, mengurus perpanjangan STNK, pesan tiket kereta api dan lain-lain.
    Dia juga, saat anakku ABG, sering diajak menemani nonton, menemani ke warnet (begitu tahu, saya langsung pasang internet di rumah karena kawatir)

  17. ah..jadi itu mungkin resep awet / setianya si mbak pada keluarga ibu ya? karena keluarga ibu memperlakukannya seperti anggota keluarga sendiri…

    Sejak dulu, alm ayah ibu memperlakukan orang yang ikut kami seperti keluarga sendiri.
    Tapi kami juga bikin aturan yang disepakati bersama, sehingga masing-masing orang saling menghormati. Anak-anak juga tak boleh asal menyuruh, namun minta tolong

  18. salam kenal ….ini merupakan kunjungan perdana saya di tempat ini, wow keren sekali nih blognya dan informasinya sangat bagus……kalo ada waktu mampir ya ke tempat aku…..

    Terimakasih, salam kenal juga.
    Komentar ini tak sesuai dengan judul tulisan

  19. wah..
    mungkin memang sudah seharusnya memperlakukan para asisten ini seperti Bunda Enny…
    memperlakukan mereka selayaknya sodara.. karena mereka jugalah orang2 yang berada di belakang layar kesuksesan keluarga kita..

    tanpa kehadiran mereka tentunya akan sangat repot dalam pekerjaan sehari2..

    Betul Anna, tanpa mereka saya tak bisa berkarir dengan tenang.
    Dan adanya mereka meramaikan rumah kami, selain juga banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka.

  20. senengnya punya mbak yang awet gitu di rumah Bu.. 🙂

    Iya, alhamdulillah…
    Sama-sama senang Chic, jadi ya seperti me manage perusahaan bagaimana agar para karyawan betah di perusahaan…bedanya ini perusahaan rumah tangga….hehehe

  21. ibu dekat sekali dengan si mbak. si mbak pasti senang sekali bisa kerja di keluarga ibu 🙂

    Si mbak sudah menjadi bagian keluarga kami, Fety
    Dan senang, apalagi sekarang, anak-anak sudah tak ada yang satu rumah…semuanya jauh

  22. tini

    senangnya punya mba yang baik begitu ya bu…semoga mbak baru yang dirumah saya bisa seperti mbak ti dan mba sopir itu ya bu…amin.

    Semoga berhasil mendidiknya Tini..
    Karena tetap diperlukan keinginan dari kedua belah pihak…
    Sama seperti karyawan di perusahaan kan? Walau perusahaan baik, kalau karyawan nakal kan tetap tak bisa dilanjutkan.

  23. Sayangnya mencari Asisten seperti yg bu Enny punya itu sekarang susaaah sekali..kalo yg masih ABG,dia nganggepnya pegang anak itu coba2 saja.atau sperti yang saya alami,megang anak tapi pasifnya bukan main..anak saya dicuekin deh

    Laily,
    Itu juga melalui proses coba-coba, dan berkali-kali gagal.
    Akhirnya, berdasar pengalaman…..karena ternyata mempunyai pengasuh dari nol sulit mendidiknya padahal kita butuh langsung kerja, belum kadang etika nya sangat kurang, kami memutuskan:
    -Mencari yang sudah pengalaman
    -Cukup umur (tidak lebih tua dari majikan, namun sudah dewas dan bertanggung jawab)
    -Kita harus menghargai pengalamannya, dan memberikan gaji sesuai pengalaman. Kita uji 2 bulan…yang penting jujur dan mau dididik.

    Risikonya….. gaji saya di awal karir, sepertiga untuk gaji si mbak…sediih…tapi mau bagaimana lagi. Tapi kita berdoa mendapatkan rejeki, dan syukurlah taraf kehidupan juga meningkat. Dan si mbak yang ikut, setiap tahun juga ada kenaikan gaji…..jadi sebetulnya berat bagi saya, untuk kondisi saat ini…makanya masih nambah kerja lagi, Laily, agar si mbak tetap bisa ikut, karena dia juga menanggung keluarganya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s