Oleh: edratna | Oktober 1, 2010

Manajemen Risiko sebagai Pilar Pendukung Ilmu Manajemen

Seminar yang diadakan oleh IRPA (Indonesian Risk Professional Association) dan didukung BSMR (Badan Sertifikasi Manajemen Risiko), di Hotel Sari Pan Pasific, pada tanggal 29 September 2010, dimaksudkan sebagai ajang diskusi dan  sosialisasi dengan kalangan Akademisi (Perguruan Tinggi). Seminar ini sekaligus menjadi forum diskusi untuk lebih memahami tentang BSMR, karena dari hasil kunjungan ke beberapa daerah, terlihat bahwa dari kalangan akademisi, ilmu Manajemen Risiko telah banyak dilaksanakan di beberapa Perguruan Tinggi, dari yang sebatas merupakan mata kuliah pilihan, sampai ada yang telah menjadi mata kuliah wajib di S1, S2 maupun S3 sejak 5 (lima) tahun yang lalu.

Pertemuan ini dapat dikatakan sebagai kick off meeting, yang akan ada kelanjutannya. Awal mula munculnya pemahaman bahwa manajemen risiko harus lebih dipahami, menjadi bagian suatu industri agar tata kelola industri tersebut menjadi lebih baik, dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda negeri Indonesia. Pada saat krisis ekonomi tahun 97/98 menerpa Indonesia, para asosiasi mulai duduk bersama, yang anggotanya antara lain, terdiri dari Akademisi, Bankers, Professional, untuk menilai mengapa krisis di Indonesia yang merupakan bagian dari krisis global, hasilnya lebih parah dibanding Negara lain? Dari hasil diskusi ini kemudian disimpulkan, bahwa : 1) Krisis terjadi karena kurangnya praktek dan pemahaman tentang GCG (Good Corporate Governance), 2) Kurangnya modal, 3) Kurang memahami Manajemen Risiko. Dari kesimpulan ini dapat dipahami mengapa akibat krisis tersebut di Indonesia sangat parah, sehingga diperlukan perbaikan-perbaikan.

Kemudian Bank Indonesia mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia pada tahun 2003, yang mengharuskan agar setiap Bank mempunyai Satuan Kerja yang terdiri dari satuan pekerja (SDM) yang kompeten dalam Manajemen Risiko. Kompetensi Manajemen Risiko ini perlu dilakukan standarisasi untuk para banker. Pada perkembangan selanjutnya, disadari bahwa Manajemen Risiko ini memang perlu dilakukan pada bidang atau industri apapun, bahkan juga di bidang pendidikan.

Pada saat ini, sebagian besar perusahaan atau korporasi telah memahami pentingnya melaksanakan penerapan Manajemen Risiko dan ERM (Enterprise Risk Management). ERM (Enterprise Risk Management), merupakan kerangka kerja yang komprehensif dan terintegrasi dalam manajemen risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, serta economic capital dan risk transfer guna memaksimalkan nilai perusahaan (James Lam). Manajemen Risiko adalah “serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan sebuah organisasi dalam mencapai sasarannya.” Tujuannya, adalah menjaga agar aktivitas operasional dan penerapan program kerja perusahaan tidak menimbulkan kerugian yang melebihi kemampuannya untuk menyerap kerugian tersebut, atau membahayakan kelangsungan hidup perusahaan.

Manfaat Manajemen Risiko:

  1. Ketahanan terhadap krisis, stabilitas, dan kelangsungan hidup perusahaan.
  2. Mengurangi surprise dan fluktuasi keuangan dan operasional
  3. Menambah nilai perusahaan melalui peningkatan kualitas putusan strategis
  4. Mendorong peningkatan inovasi dan kreativitas (produk, pelayanan dan jasa)
  5. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemanfaatan sumber daya perusahaan.
  6. Memastikan aspek kepatuhan dan enforcement.
  7. Membuka peluang perusahaan karena fleksibilitas proses strategic management.
  8. Memenuhi akuntabilitas keuangan dan memperkuat kinerja.
  9. Meningkatkan reputasi.

Pada sesi diskusi, dilakukan diskusi kelompok antara para peserta, untuk mendiskusikan berbagai hal dalam rangka kerja sama lanjutan, apa saja yang sangat penting dilakukan sebagai tindak lanjut dari acara ini. Dalam hal ini Perguruan Tinggi menyambut baik tawaran kerjasama, agar ilmu manajemen risiko yang diberikan di Universitas, tidak sekedar teori, namun dapat diaplikasikan dilapangan. Disadari, bahwa ilmu Manajemen Risiko sangat erat kaitannya dengan sektor riil, dan saat ini Perbankan telah memulai dengan pemberlakuan penerapan Manajemen Risiko, yang mengharuskan agar setiap Bank mempunyai Satuan Kerja yang terdiri dari satuan pekerja (SDM) yang kompeten dalam Manajemen Risiko.

Sumber bahan bacaan:

  1. Gayatri, R.A. “Pentingnya Manajemen Risiko bagi Perbankan”. Sebagai bahan forum diskusi, Sosialisasi Manajemen Risiko bersama Perguruan Tinggi, yang diadakan oleh IRPA (didukung BSMR). Jakarta, Hotel Sari Pan Pasific, Jayakarta Room, Lt.4, 29 September 2010.
  2. Penulis, sebagai peserta tamu dalam seminar tersebut.
Iklan

Responses

  1. nak akhirnya yang aku tunggu dari Ibu keluar juga
    makasih postingan ini jadi nasehat bagi saya

    Iya mas Totok, banyak hal yang ingin saya tulis, cuma harus dikemas dulu…akibatnya suka jadi lupa nulisnya….
    (ngeles.com)

  2. Bicara manajemen resiko… hmm rasanya hanya untuk menenangkan hati. beberapa kali saya sempat berbicara dengan para entrepreneur mereka justru menantang resiko dalam arti yg sesunguhnya(namun bukan bunuh diri).

    Yah, mungkin kalau tujuan resiko ini bermaksud mengambil langkash perlahan dan mencoba coba alias A/B test dari yang resiko rendah ke resiko tinggi. Layaknya suatu perusahaan ‘besar’

    Dalam dunia bisnis, manajemen risiko merupakan bagian dalam proses bisnis, perusahaan harus menggalakkan budaya sadar risiko ini, karena jika terjadi kesalahan, risikonya bisa pada risiko operasional, risiko hukum, risiko pasar (jika perusahaan mempunyai usaha yang berkaitan dengan berbagai currency), ….dan yang berbahaya adalah risiko reputasi. Risiko reputasi akan menyangkut nama baik..dan memerlukan waktu lama, biaya besar untuk memulihkannya.
    Jika anda bergerak dibidang usaha riil, entah usaha jasa (hotel, pendidikan, perbankan) ataupun industri yang lain…mau tak mau harus memahami dan mengelola risiko ini. Banyak contoh usaha yang gulung tikar karena tidak me manage risiko ini, memang bukan dihindari tapi dikelola…sehingga setiap keputusan telah memperhitungkan berapa maksimal perusahaan dapat mentolerir risiko yang dihadapi….dan ini bisa diprediksi, dan bisa dihitung.

  3. saking pentingnya sampe sekarang pun ada Divisi khusus yg membidangi hal tsb.. *grin*
    yg ada di bawah penulis sumber bacaan tulisan Ibu *grin lebar*

    tapi isinya kompleks juga ya Bu, MR ini?
    waktu denger2 pertama kali soal MR saya pikir cuman masalah operasional doank, tapi ternyata cangkupannya luas sekali ..

    Aldi,
    Udah ikut sertifikasi manajemen risiko? Mestinya udah ya…..udah level berapa?
    Bagi orang yang bergerak di bidang perbankan, yang termasuk industri yang high risk… diterapkan asas prudential banking, mau tak mau kita harus mengelola risiko ini. Dan Perbankan di Indonesia, agar bisa masuk/diterima dalam standard int’l, harus mengikuti aturan sesuai Basel II (sekarang sudah Basel III)…antara lain menerapkan Manajemen Risiko dalam setiap proses bisnisnya. Di Indonesia diatur oleh aturan Peraturan Bank Indonesia (PBI) sebagai Bank Sentral Indonesia.
    Bidang IT sendiri (bidang yang digeluti Aldi sekarang), juga mempunyai SOP, disitu sebetulnya terletak bagaimana cara dan prosedur untuk meng manage risiko.
    Saya pernah ikut sharing vision yang diadakan oleh ITB di Bandung……disitu kita diskusi dan memahami bagaimana risiko yang disebabkan oleh kesalahan pada IT ini…..dalam hitungan per jam bisa merugikan miliar rupiah, apalagi jika itu terjadi dalam industri perbankan.

  4. jadi ingin tahu lebih banyak tentang manajemen resiko ini…

    Menarik untuk dipelajari, karena dapat diterapkan dalam bidang apapun.
    Bukankah kita harus sadar akan risiko? Risiko bencana, risiko kejadian tak menyenangkan, dsb nya…

  5. Saya belajar dan berharap bisa memperkuat kemampuan bisnis saya yang masih rendah ini
    makasih ya Bu 🙂

    Justru bisnis yang dimulai dari kecil yang bagus, karena pemiliknya masih bisa mengontrol, melihat sendiri proses bisnisnya, memperbaiki jika ada masalah, tahu kendalanya. Dengan demikian tahu dimana titik-titik risiko bisnis yang digelutinya, tahu segmen pasarnya, tahu perilaku pembelinya.
    Sukses ya Achoy…

  6. setelah membaca disini, baru tau ternyata MR ini cakupan nya luas banget ya Bu.
    terimakasih utk tulisan yg detail dan mudah dimengerti .
    salam

    Iya bunda…
    Bisa juga diterapkan dalam industri jasa penerbangan…
    Saya yakin Garuda dan jasa penerbangan lainnya telah menerapkan manajemen risiko ini.
    Seperti yang dikatakan oleh kang Luigi (komentar di atas), ada penerapan safety & security standard PBB …bahakna kalau kita baca blognya ada personal security…dan traveling safety.

  7. Ya makasih ya Bu.
    Senang saya bisa belajar banyak dari sini.

    Sama-sama Achoy…
    Syukurlah jika tulisanku ada manfaatnya

  8. Woww … … 🙂
    kita ikut nyimak aja dehh …

    Hmm…maaf komentar ada yang diedit

  9. Bagaimana dengan dunia pendidikan ?. Mohon petunjuk. Terima kasih sebelumnya.

    Wahh …diskusinya mesti japri kali ya bu…dan perlu beberapa sesion tersendiri….

    Misalkan saja masalah anak DO….berapa banyak anak yang DO di universitas tsb. Agar bisa menilai secara benar…perlu Bank data, minimal 5 tahun. Nanti diteliti sebab2nya..misal: karena yang DO sebagaian besar kurang biaya..solusi: dicarikan beasiswa, tapi tentu saja nilai anak ada batas minimal agar bisa dapat beasiswa. Atau DO. karena komunikasi dengan dosen sulit? Bisa diperbaiki komunikasinya…dsb nya.
    Jadi semua harus dimulai dari identifikasi dulu…proses pendidikan dan pengajaran di sebuah universitas.
    Kemudian diadakan pengukuran…jadi harus punya data lengkap, minimal 5 tahun agar hasil penguluran bisa dijadikan pegangan atau penilaian.
    Setelah ada hasilnya dianalisa…..(contoh misal DO karena kurang biaya)…kemudian dilakukan pemantauan jalan keluarnya….apakah benar bahwa setelah diperbaiki dengan pemberian beasiswa, tak ada yang DO?
    Yang terakhir adalah pengendalian….disini termasuk mengendalikan proses semuanya, aturan yang sudah disepakati, dan jalan keluarnya agar sesuai dengan tujuan.
    Ini hanya salah contoh masalah DO…lha kita tingga menilai, masalah apa dari awal s/d akhir yang ada di dunia pendidikan….baru bisa dinilaidan kemudian setelah dibandingkan dengan banyak sekolah/universitas lain (memenuhi kriteria suatu hasil penelitian)….bisa disimpulkan hasilnya.

  10. ..
    Apa bisa diterapkan untuk usaha kecil Buk..?
    ..

    Seperti pernah saya katakan..apa di postingan sebelumnya ya? ..manajemen risiko bisa diterapkan di semua bidang usaha.
    Usaha kecil, usaha besar, semua ada risikonya….seperti apa risikonya, tentu sangat berbeda antara usaha satu dan lainnya.
    Agar tak panjang jawabannya, japri aja ya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: