Oleh: edratna | Oktober 23, 2010

Pindahan

Berapa kali anda pindah rumah? Atau pindah kantor? Ada banyak orang, yang karena pekerjaannya sering sekali di mutasikan (dipindahkan) ke berbagai daerah, yang mengakibatkan seluruh keluarga akan ikut pindah. Membayangkan hal ini tentu repot sekali, apalagi jika pindahnya rata-rata 2 (dua) tahun sekali, setiap kali harus mengepak barang, mengurus anak pindah sekolah, dan sebagainya. Beberapa tahun belakangan ini, banyak para karyawan yang dimutasikan ke daerah tanpa membawa keluarganya. Alasannya berbagai hal, karena isteri bekerja, atau karena anak-anak sudah senang sekolah di tempat semula. Namun hal ini juga menimbulkan masalah lain, apabila salah satu pihak tak tahan godaan, atau anak sakit.

Kebetulan saya termasuk beruntung, karena pindah kantor ini  hanya saat masih lajang,  saat sudah menikah,  pindahnya hanya seputaran Jakarta, sehingga tak menimbulkan masalah berarti. Rumah, karena belum memiliki rumah sendiri di Jakarta, selama 23 tahun lebih tinggal di rumah dinas, hanya pindah ke rumah yang lebih besar sesuai kenaikan jabatan, yang akhirnya juga malas pindah lagi sampai akhirnya pensiun dan harus pindah ke rumah sendiri. Pindah rumah, walaupun hanya beda jalan sangat merepotkan, namun di satu sisi, pindah rumah adalah kesempatan menata kembali barang-barang kita, mana yang perlu mana yang harus sudah dibuang. Pindah alamat, berarti juga mesti mengurus berbagai identitas baru, mulai dari KTP, Kartu Keluarga, paspor, SIM, alamat penagihan Kartu Kredit, telepon seluler dan berbagai hal lainnya……Dan repotnya, karena pindah dilakukan pada hari libur, dan Senin berikutnya sudah harus masuk kerja lagi..barang-barang yang masih di pak dalam kardus…begitu terus sampai kami harus pindah lagi….wahh ini penyakit yang tak boleh ditiru. Temanku tertawa, dia sudah mengalami pindah beberapa kali, dan sudah sangat pandai mengepak barang, karena sebetulnya ada jasa untuk mengepak barang. Tapi kok saya malah bingung ya membayangkan, karena nanti toh harus membuka dan selama belum sempat akan bingung jika mencari barang yang diperlukan. Maklum, sebagian harta terpendam saya yang berharga hanya buku-buku, semua dokumen penting sudah aman dalam Safe Deposit Box, sehingga tak berpindah-pindah.

Pindah kantor lain lagi ceritanya, mengepak barang ternyata relatif lebih mudah, yang sulit adalah mengatur barang di tempat baru, serta suasana baru. Yahh….pindah ke kantor baru, dengan suasana baru, berdasar pengalaman, baru terasa nyaman setelah berjalan 3 (tiga) bulan, setelah kita menyatu dengan lingkungan baru, suasana baru. Kali ini, sejak akhir September yang lalu,  kantor saya pindah dari daerah Jakarta Pusat ke Jakarta Selatan. Bagi saya kepindahan kantor ke lokasi baru lebih menyenangkan dalam hal transportasi karena lebih dekat, namun saat pulang ternyata tidak mudah. Karena kantor baru ini terletak bersebelahan dengan Mal, ada lorong yang menghubungkan dengan Mal tersebut, dan terletak di jalan yang padat sekali saat sore hari, sehingga saat pulang kantor, sulit mencari taksi yang masih kosong. Petugas jaga untuk memanggil taksi semuanya masih baru, sehingga kadang terpaksa harus memanggil ke jalan besar.

Hal yang menyenangkan adalah jika suntuk (lho! kok sudah membicarakan suntuk) bisa jalan-jalan ke Mal saat istirahat, dan yang menyenangkan , di Mal ini ada toko buku Gramedia yang menempati ruangan sangat luas. Dan jam istirahat menjadi lebih panjang karena kalau sudah masuk toko buku menjadi lupa akan waktu. Mal ini belum terlalu ramai, makanannya banyak dan sangat  bervariasi,  dari harga rendah sampai kelas mahal. Walau ditujukan untuk kelas menengah ke atas, berbagai jenis masakan tersedia, dari tradisional sampai modern. Saya baru mencoba 6 (enam) jenis cafe/restoran, karena kemudian saya agak kawatir juga jika setiap kali ke kantor makannya di Cafe, bisa-bisa kolesterol meningkat drastis. Akhirnya saya memilih membawa bekal dari rumah, berupa roti tawar dioles mentega, yang bisa ditawarkan ke teman lain untuk dimakan bersama-sama. Masalahnya, pindah ke tempat baru, melalui penyesuaian, dari sisi telepon (entah kenapa suara masih sering terputus-putus), internet, telex, serta kepindahan alamat ini juga harus diberitahukan kepada seluruh klien.

Walau saya tak bekerja full time, hanya ke kantor dua kali seminggu, kepindahan ini berpengaruh juga, dan yang tak tahan adalah debunya, membuat tenggorokan gatal dan sesak. Akibatnya selama ketidaknyamanan ini, mesti memakai masker selama di kantor, ternyata memakai masker ini, entah kenapa kok rasanya kurang nyaman ya, apalagi jika berkaca mata seperti saya, rasanya mengembun dan berpengaruh pada mata. Yang jelas, perubahan drastis adalah ruangan lebih kecil (maklum sewa per meter perseginya mahal sekali…jauh di atas kantor lama…yang akan dipakai sendiri oleh pemilik gedung), sehingga percakapan antar karyawan jelas terdengar. Hmm..memang hal baru…mesti saling menyesuaikan.

Saya jadi teringat, saat harus pindah ke kantor di daerah Ragunan, saya menempati ruangan yang luas di lantai dua, setengah lantai untuk  auditorium, dan sepertiga lantai untuk perpustakaan. Jika hari Jumat, sekretaris keluar, demikian juga wakil saya …..sepiii sekali. Saat saya mengatakan hal ini pada mantan bos yang berkunjung, beliau hanya tertawa dan berkata…”Kalau mau rame-rame ya nggak usah naik pangkat…jadi karyawan biasa saja….nyaman, aman, dan ramai dikelilingi teman (maksudnya cubikel nya bersebelahan).

Kembali ke cerita kantor baru, mungkin beberapa bulan lagi Malnya sudah ramai sekali, karena saya lihat sebagian besar toko sudah buka. Dan gara-gara dekat Mal ini, saya jadi tahu jika ada barang diskon an…..namun untuk belinya saya lebih memilih ke PIM (Pondok Indah Mal) karena lebih dekat rumah, dan pilihan yang sesuai kantong saya. Perpindahan ini juga cukup menyita waktu, apalagi pekerjaan terus berjalan, saya lebih banyak mengerjakan pekerjaan di rumah agar di kantor hanya koordinasi, maklum debu ini juga ternyata berpengaruh ke kelancaran otakku. Mohon dimaklumi jika lama saya tak BW, bahkan blog ini agak terabaikan. Dan kali ini terpaksa saya juga harus mengabaikan blog ini karena ada tugas lagi ke luar kota (Papua), …dan kemudian ada Pesta Blogger…bulan Oktober ini rasanya sibuk sekali.

Iklan

Responses

  1. Bunda datang ke PB kan, asyik bisa melepas rindu 🙂
    Pindahnya ke Gandaria Mall ? Hehehehe
    Waktu pindah rumah ke Bekasi, ada dus yg belum dibuka, dan baru teringat saat kami sdg merencanakan pindah rumah lagi 😀

    Penginnya sih, mudah2an tak ada halangan apa-apa. Tapi nggak punya teman nih…anak-anak sudah di luar rumah semua, dan tak mungkin datang karena diluar Jakarta.

  2. Memang pindahan itu repot ya bu. Untunglah rumah saya di Jakarta ada lah rumah sejak saya usia 7 tahun ya di situ terus. Lalu ke Jepang, awal nge kos dengan keluarga Jepang juga 4 tahun sampai lulus. Setelah lulus pindah ke apartemen sendiri sampai nikah. Dan apartemen sekarang sudah 11 tahun. Mau pindah bu….spt yang ibu bilang, membuang barang yg tidak diperlukan, dan memulai suasana baru. Tapi untuk pindah rumah di Jepang tidaklah mudah dan murah. Saya dan Gen termasuk org yang domestik, tidak punya keinginan untuk pindah. Sumeba miyako, kata org Jepang, yang artinya Jika kita lama tinggal di suatu daerah, itulah daerah kekuasaan kita. (Kerasan gitu)

    jaga kesehatan ya bu, di sini sudah mulai dingin shg kami flu terus bergantian.
    EM

    Pindahan memang repot..tapi kita dipaksa untuk beberes..
    Ssst rumahku sekarang belum beres juga, masih ada dus-dus belum dibuka…hehehe
    Saya penginnya nggak mau pindah-pindah juga…cuma karena dulu tinggal di rumah dinas…..jadi mesti pindah walau masih satu kompleks.
    Karena, semakin kita mengenal lingkungan, semakin nyaman

  3. lah pindahnya ke gandaria…. dekat kantor saya donk tante, saya kalo makan siang pulang… cuma kearen aja waktu si kecil dibawa mamanya ke kantor.. sehingga saya baru bisa jalan2 ke mall pas makan siang.
    Memang banyak positifnya jika kantor dekat dengan rumah sehingg banyak waktu yang bisa dimanfaatkan ketimbang terkena macet berjam2…

    Kantor Ario dimana? jangan-jangan dekat sekali ya….
    Kantor dekat rumah memang asyik, nggak terkena macet

  4. Yang selalu menyenangkan dari blog Bu Enny ini adalah spirit untuk selalu sibuk dan giat… luar biasa.

    Saya lumayan sering pindah rumah Bu, kalau pindah gedung kantor pernah sekali 🙂

    Hehehe…ini namanya orangtua sok sibuk…soalnya kalau di rumah ya upleg aja kok…baru diam kalau tidur atau sakit.
    Bagaimanapun banyak hal menarik yang masih bisa dikerjakan Don, dan semoga juga bermanfaat bagi oranglain.
    Kalau boleh memilih, saya terlalu pomah, nggak suka pindah-pindah..rasanya jika sudah tinggal di suatu tempat, saya berusaha membuat lingkungan nyaman, penginnya nggak pindah-pindah lagi

  5. (Maaf) izin mengamankan KELIMAAAX dulu. Boleh, kan?!
    Bisa membayangkan repotnya masa awal-awal pidahan kantor. Btw, bukankah segala sesuatu itu justi berubah. dan jika perubahan itu untuk menjadi lebih baik kenapa tidak.
    Tentunya seperti yang Mbak alami.

    Iya, perubahan mesti terjadi, dan kita selalu berusaha agar perubahan itu menjadi hal yang lebih baik, bagi diri sendiri maupun orang lain

  6. Saya pindahan kos beberapa kali, lumayan repot. waktu pindah dari Jakarta ke Balikpapan, repotnya minta ampun karena saya ngepak sendiri, suami sudah duluan pindah. akhirnya saya nggak sanggup dan minta bantuan tenaga orang tua hehe… *malu.

    Waktu pindah dari Balikpapan ke Sulsel lebih enak karena pakai jasa moving. Mereka yang pack di tempat asal dan unpack di tujuan.Tapi tetep, ngatur barang-barang di tempat baru juga perlu waktu 2 bulan baru kelar.

    Karena besar kemungkinan sering dipindah-pindah, saya dan suami sepakat untuk tidak membeli barang-barang besar lagi. takut repot kalau pindahan dan ada resiko hilang/rusak di tengah jalan.

    Betul Nana, karena kemungkinan sering pindah, beli barang seperlunya aja….
    Tapi kan tetap ada barang pribadi…yang kadang lumayan banyak juga, setiap kali pindah.
    Memang harus pakai jasa Moving….tapi kan kita juga yang mesti ngasih tahu, barang ini ditaruh dimana, dan bagaimana, kalau tidak, kita bingung nanti carinya…
    Dan setiap kali pindah…urusan dapur yang paling repot

  7. Kalau dihitung2 saya pindah rumah kira-kira udh 4 kali..hehe 😀

    Pasti repot ya

  8. Yang penting di Jakarta Selatan ya Bu …

    Aaahhh enak banget nih …
    Walaupun macet sedikit …
    tetapi tetap …
    Jakarta Selatan gitu loh …

    Salam saya Bu

    Hehehe…iya om, dan dekat Mal, malah jalan-jalan terus mampir toko buku..lirik kanan kiri, dan mesti ada yang dibeli. kalau nggak punya uang mendingan nggak mampir-mampir…

  9. Saya paling benci pindahan, baik rumah maupun kerja. namun kalau pindah ruang kerja di sekolah sudah biasa. Maklum hanya seorang guru …

    Pindah membutuhkan penyesuaian, juga biaya yang tak murah. Belum mengatur kembali…namun di satu sisi adalah kesempatan merapihkan barang

  10. wah.. pasti repot sekali…
    tapi simpan dokumen penting di deposit box adalah hal baru buat saya..
    iya yah.. kenapa nggak pernah terpikir? lebih aman dan terjamin terutama buat yang sering pindah2.

    kalo saya sih pindah rumah udah beberapa kali bunda.. tapi masih seputaran Jogja ajah.
    dulu sama ortu tinggal di rumah dinas (tempat bpk kerja). setelah pensiun kami pindah ke rumah pribadi.. wah.. repot.

    trus setelah nikah ikut rumah ortu suami.. nggak bawa apa2.. wong belum punya apa2.. hehe…
    trus.. dari rumah mertua pindah ke kontrakan.. nyari yang deket kantor.. udah mulai bawa barang2… 🙂

    nah.. setelah punya rumah sendiri.. pindah lagi…
    dengan barang2 yg mulai agak banyak…

    oh ya..
    di komplek saya ini pun byk yang suaminya kerja berpindah pindah.. karena anak2nya mulai sekolah.. akhirnya istri anak gak dibawa kalo mutasi.. mungkin repot kalo harus bw keluarga terus,,,

    Anna,
    Pindah memang ribet, namun bagi yang sering pindah akhirnya menemukan pola atau bisa memaintain kepindahannya.
    Yang paling repot adalah anak-anak, karena tak semua anak mudah menyesuaikan dengan teman sekolah yang baru.

  11. Salam Ibu, lama tak berkunjung 🙂

    Saya pindahan sudah beberapa kali Ibu

    Bener sekali ibu, perlu adaptasi terhadap lingkungan baru, apalagi kalo pindah kota dengan tata nilai dan budaya yang berbeda.

    Benar sekali pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya
    Dan kita harus berusaha agar dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung

    salam,

    Ahh senang sekali Broneo datang lagi…
    Saya membayangkan Afdhal, Broneo pasti sering pindah….dan lama-lama makin ahli ya dalam mengelola kepindahan itu.
    Sulitnya nanti jika telah ada anak-anak dan mulai sekolah….(pengalaman teman yang sering pindah, masalah terbesar adalah anak pindah sekolah)

  12. saya so far pernah 5 kali pindahan kantor (di kantor yang lama di jkt, di company yang sama pernah pindah lokasi 3 kali). tapi gak pernah berasa ribet sih kalo pindahan kantor karena biasanya saya gak naruh barang2 pribadi di kantor. jadi cuma ada berkas2 yang bahkan kebanyakan sebenernya gak berguna lagi tapi sayang untuk dibuang. huahahaha. terakhir pindah kantor pas di jkt bahkan itu kardus gak pernah dibuka sampe akhirnya saya resign. gile ya, berarti itu berkas2 bener2 gak berguna dah. hahaha.

    kalo pindahan rumah lain lagi ceritanya…
    1. 1990 pindah dari sby ke jkt. karena masih kecil, waktu itu gak berasa ribetnya pindahan rumah. tau beres dah pokoknya. gak ikutan packing, gak ikutan unpacking. tau2 udah beres aja. hahaha.
    2. 2005 pas married, pindah ke rumah sendiri. tapi berhubung rumahnya deket ama rumah ortu, jadi pindahan barang2nya bisa nyicil. jadi gak terlalu berasa ribet juga.
    3. 2007 pindah dari jkt ke SF. nah ini yang ribetnya bukan main. ternyata selama 2 th tinggal di rumah sendiri itu kita menimbun barang banyaknya bukan main. pas akhirnya mau pindah ke US, kita udah garage sale, barang2nya udah banyak terjual. tapi tetep aja, barang yang di keep juga banyaknya minta ampun. packing sampe sebulan gak kelar2. hehehe. bawa ke US nya nyicil2, nitip sana sini, bahkan sampe sekarang masih ada sekitar 10 kardus yang masih tertinggal di jkt. hahaha.
    4. masih di 2007, pindah dari SF ke Santa Monica. berhubung pas di SF tinggalnya masih nebeng, jadi kita gak beli2 banyak barang. jadi pindahannya cukup simple. dan kita pake mover juga, jadi gak ikutan ngangkat2.
    5. 2008, pindah dari Santa Monica ke West LA. nah ini yang juga super ribet dan cape. karena kita pindahan sendiri! kita nyewa mobil box (truk kecil). packing sendiri, ngangkat2 sendiri, nyetir mobil box sendiri, nurunin sendiri (ngangkat2 lagi), unpacking sendiri. capenya bukan main. hahahaha.

    gak kebayang dah kalo mesti pindahan lagi. udah 2 th disini, barang2 udah beranak pinak. kalo sampe kudu pindahan lagi kudu pake mover dah. mahal ya mahal… daripada encok! hahahaha.

    Hahaha…terbayang memang repotnya ya Arman….
    Dan pasti melelahkan, apalagi jika barangnya makin banyak.
    Saya juga nggak suka pindah-pindah walau kadang memang harus

  13. pindah kalimantan aja bu…….

    Ha!..
    Lha kerjanya bukan di Kalimantan…
    Ntar kalau ibukota pindah Kalimanatan, pasti banyak yang pindah kesana

  14. mari kedepok… 🙂

    Saya masih punya tanah di Depok….tapi belum ada apa-apanya.
    Dan karena tetangganya tenang-tenang aja..akhirnya cuma tanah aja, belum di apa-apakan.

  15. paling tidak ku sudah merasakan kalau pindah perusahaan adalah jalan yang terbaik

    Kalau memang untuk kehidupan lebih baik, kenapa tidak?

  16. Pindahan itu ribet bangett.. tapi yang paling penting dipindah keliatannya sih dokumen2.. waktu saya pindah dari Kslsel ke Jkt, saya cuma bawa 1 ransel dan 1 koper sedang.. saya beli barang2 lagi di sini dan buku2 saya yang dipaket dari rumah, soalnya suka bingung kalo nyari2 data apa gitu trus baru sadar bukunya di rumah lamaa.. ribet banget pindahan, saya sih kalo ga terpaksa ga mau Bu.. 🙂

    Sebetulnya memang paling ribet urusan dokumen, dan kalau sudah punya anak, soal mengurus pindah sekolah….
    Syukurlah saya cuma pindah antar wilayah di kota, tapi jauh atau dekat, repotnya sama….

  17. aduh aku kira mo pindah blog heheheheh

    Lha blog cuma satu aja udah repot kok

  18. Saya sering pindah dua-duanya repotnya minta ampun

    Hmm pindah memang repot kok

  19. Saya baru sekali merasakan pindah kerja. Sebelumnya kerja di kampus punya meja sendiri dan setumpuk berkas, trus pindah kerja ke puskesmas rawat inap. Nggak perlu meja, nggak ada berkas2…yang penting ada locker kecil tempat naruh mukena dll 😀

    Kalau masih bujangan, pindah tak terlalu repot, karena barang sendiri sehingga mudah dikelola

  20. gak apa2 bu, dunia nyata lebih utama

    saya kontraktor bu, jadi biasa pindah2 😀
    pindah2 kontrakan

    Hehehehe…dan sudah ahli dalam mengurus kepindahan ya

  21. pindahan kantor sih kadang gak punya pilihan ya bu, tapi kalo pengalaman pindahan rumah..aduuhh ngebayanginnya saja udah capek duluan…heee

    Dan tetap harus dilakukan kan?
    Pindah kantor, jika memang lebih baik tentu harus dijalani, untuk hidup yang lebih baik

  22. Betul..saya juga ga suka pindah2 karena males ngepak2 & menyamankan diri dg suasana baru. Tapi..kalo untuk karir, ga pindah2 berarti stagnan ya bu…jadi ya terpaksa dinyaman2kan ditempat baru klo bgtu… 😛

    Hehehe….pindah untuk keperluan karir memang harus dijalani, kalau tidak karirnya mentok.
    Dan biasanya juga langsung terkait dengan pindah tempat tinggal…namun karena ada harapan yang lebih baik, capek juga senang aja

  23. bu, fety juga termasuk orang yang malas pindahan. 5 tahun di yogya hanya satu kali pindah kos. 2 tahun di bandung juga satu kali pindah kos. 2.5 tahun di jepang juga baru satu kali pindah. itu aja udah merasa energinya besar sekali 🙂
    met menempati ruangan baru, bu.

    Pindahan kalau nggak terpaksa memang males kok…
    Lha rasanya bersih-bersih rumah, kalah dengan kecepatan debu yang masuk..apalagi di jakarta, debunya banyak sekali

  24. go bosen nich pindah-pindah mulu Bu?….

    Lho!…
    Saya malah bingung baca komentarmu

  25. makanya bun…aku 4 thn tinggal di duri aku belum pernah pindahan kost hehehehe…

    sebenrnya lagi nyari2 yang agak luas dan punya dapur sendiri, cuman ya kostanku itu udah enak banget.

    Kadang…kalau sudah nyaman, males pindah ya

  26. semangat ya Bun!!!Sayang untuk tahun ini kita blm bisa bertemu di PB dulu Bun, aku berhalangan dateng :(( pdhl pgn bgt ketemu Bunda

    Semangat juga..
    Akhirnya saya juga nggak bisa datang ke PB..selain lelah baru pulang dari Papua, juga mesti bikin laporan, sedang minggu depannya lagi jadual padat

  27. saya 2x pindahan kos selama di Bandung aja kok rasanya ribet banget (ribet tapi harus dilakukan)..padahal kamarnya cuma 3×3 m2.. apalagi kalo pindah rumah ya Bu.

    Mau tak mau, kita mesti pernah mengalami yang namanya pindah rumah ya..minimal dari rumah kontrakan ke rumah sendiri.

  28. bener bgt bu pindahan mmg repot tp ya itu pilihan sich bu, sy dl ngrasain resign dr pkerjaan yg sy rintis slm 2th, memutuskn ngikutin suami yg krjanya pindah2 (penempatan) plg dikit 7bln, plg lama min.2th. adaptasinya itu lho bu kdg bkin capede, hehehe.. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: